← Surat Salah Alamat

Chapter Three

Target: Salsabila

POV: Kirana

Kantin Fakultas Ilmu Budaya punya reputasi. Katanya di sanalah tempat paling banyak mahasiswa yang menulis puisi di tisu, dan paling sedikit mahasiswa yang membayar utang gorengan tepat waktu.

Aku belum pernah ke sana. Anak FEB biasanya makan di kantin FEB, yang punya mesin kopi, colokan di setiap meja, dan menu salad yang tidak pernah dipesan siapa pun.

Kantin FIB tidak punya salad. Yang ada nasi kuning, gorengan, es teh dalam gelas plastik yang dindingnya berkeringat, dan seekor kucing oranye gemuk yang tidur di atas kursi seperti ikut membayar SPP.

Pukul dua belas lewat sepuluh, aku masuk dengan Gio di belakangku.

“Aku masih nggak ngerti kenapa aku harus ikut,” bisik Gio.

“Karena Ketua BEM FEB makan sendirian di kantin FIB itu mencurigakan. Ketua dan wakil ketua yang sedang meninjau lokasi program mentoring lintas fakultas itu profesional.”

“Kita beneran bikin program mentoring sekarang?”

“Kita akan bikin, kalau ada yang tanya.”

“Kir, itu artinya kita bohong di depan umum dengan konsekuensi administratif.”

“Itu namanya perencanaan ke depan.”

Gio mendesah panjang, lalu pergi mengantre nasi kuning. Setidaknya ia bisa menghibur diri karena di sini tidak ada risoles.

Aku menyapu ruangan dengan mata.

Aku tidak butuh waktu lama. Salsabila Wiratama duduk sendirian di meja paling pojok, dekat tong sampah dan jendela yang kacanya retak. Di depannya ada sepiring nasi kuning yang baru dimakan seperempat, dan sebuah novel yang ditopang botol kecap.

Ia jauh lebih mungil daripada di foto. Rambutnya masih diikat dua, kali ini dengan pita kuning. Ia membaca sambil menggerakkan bibir sedikit, seperti menghafal naskah drama, dan sesekali tersenyum sendiri pada halaman bukunya.

Ia tidak terlihat seperti orang yang punya pacar rahasia. Ia terlihat seperti orang yang tidak punya teman untuk diajak bicara soal buku yang sedang ia baca.

Dan di meja-meja sekitarnya, rombongan-rombongan mahasiswa tertawa keras tanpa satu pun menoleh padanya.

Aku merasakan sesuatu yang tidak kuinginkan. Sesuatu yang kecil dan tajam di bawah tulang dada.

Aku mengabaikannya. Tahap dua: infiltrasi.

Aku mengambil es teh, berjalan ke meja pojok, lalu berhenti di depan kursi kosong di seberangnya.

“Boleh duduk di sini?”

Sasa mengangkat kepala.

Ekspresinya berubah dalam tiga tahap yang sangat jelas. Pertama bingung: siapa ini? Lalu kaget: tunggu, ini kan... Lalu panik total: ini Ketua BEM FEB yang fotonya ada di mana-mana, kenapa dia di depanku, apa aku salah sesuatu, apa aku belum bayar iuran?

“K-Kak Kirana?”

“Kamu kenal aku?”

“Semua orang kenal Kak Kirana! Kakak yang pidato di pembukaan Pekan Ilmiah! Yang bilang ‘mahasiswa bukan penonton sejarah, mahasiswa penulis catatan kakinya’! Aku tulis kalimat itu di buku harianku!”

Aku mengingat pidato itu. Aku menulisnya jam tiga pagi, dan kalimat itu kucuri separuh dari kutipan di kalender meja Mama.

“Terima kasih,” kataku. “Boleh duduk?”

“Boleh! Boleh banget!” Ia buru-buru menggeser piring, novel, dan botol kecapnya. Botol kecap itu terguling, dan ia menangkapnya di udara dengan refleks yang mengagumkan. “Maaf, maaf. Silakan, Kak. Mejanya agak lengket. Bukan aku yang bikin lengket, tapi aku minta maaf atas nama meja.”

Aku duduk. Gio datang membawa dua piring nasi kuning, melihat situasi, lalu duduk di sebelahku dengan ekspresi orang yang sedang menonton film yang tidak ia pilih.

“Ini Gio, wakil ketua BEM FEB.”

“Halo,” kata Gio.

“Halo, Kak Gio!” Sasa membungkuk sedikit, hampir mencelupkan kuncir rambutnya ke nasi kuning. “Aku Sasa. Salsabila. Tapi Sasa aja. Salsabila kepanjangan, kayak nama sungai di surga.”

“Memang nama sungai di surga,” kata Gio.

“Makanya kepanjangan.”

Gio tertawa, tawa yang asli. Aku mencatat itu di kepala: Subjek S punya kemampuan membuat Gio tertawa dalam sembilan detik. Itu data yang tidak berguna, tapi aku tetap mencatatnya.

“Kita lagi keliling fakultas,” kataku, “untuk program mentoring lintas fakultas. BEM FEB mau kerja sama dengan mahasiswa dari prodi lain. Namamu direkomendasikan.”

Mata Sasa membulat. “Aku? Direkomendasikan? Sama siapa?”

“Senior.”

“Senior siapa?”

“Senior,” ulang Gio dengan wajah sangat serius. “Programnya masih rahasia.”

“Wah.” Sasa menempelkan kedua tangan ke pipi. “Aku belum pernah direkomendasikan buat apa-apa. Terakhir kali namaku disebut dosen, itu karena aku ketiduran di kelas Linguistik dan ngigau ‘ayam goreng’.”

Gio tersedak es teh.

Aku tidak tertawa. Aku sedang menjalankan operasi. Tapi sudut bibirku berkhianat sedikit.

“Jadi,” kataku, mengembalikan percakapan ke jalur, “aku mau kenal kamu lebih jauh. Kamu ada waktu makan siang bareng, misalnya, seminggu sekali?”

Sasa tidak menjawab.

Ia menatapku dengan mata yang pelan-pelan berkaca-kaca.

Aku panik. Operasi Rebut Hati tidak punya prosedur untuk subjek yang menangis di menit keempat.

“Sasa?”

“Maaf,” ia mengusap mata dengan punggung tangan, cepat-cepat, lalu tertawa sambil menangis. Itu kombinasi yang tidak pernah kulihat pada manusia dewasa. “Maaf, Kak. Aku cengeng. Cuma... Ini pertama kalinya ada yang ngajak aku makan siang sejak aku kuliah.”

Meja itu mendadak sangat sunyi. Bahkan kucing oranye di kursi sebelah membuka satu mata.

“Semester tiga,” kataku pelan. “Sudah setahun lebih.”

“Satu tahun tiga bulan.” Ia mengangguk sambil tersenyum. “Aku biasanya makan sama buku. Buku itu teman yang baik, nggak pernah ninggalin kita ke meja lain. Tapi buku juga nggak pernah bilang ‘boleh duduk di sini?’”

Gio meletakkan sendoknya. Di bawah meja, kakinya menyenggol kakiku, pelan, seperti bertanya: Kir, kamu yakin ini program mentoring?

Aku tidak yakin apa pun.

Yang aku yakin hanya satu: perempuan di depanku ini menulis surat dengan tinta ungu kepada cowok yang sudah tiga tahun kusukai, dan surat itu sekarang ada di dalam tasku, di dalam planner kulit cokelat, tiga puluh senti dari piring nasi kuningnya.

Rasa tajam kecil di bawah tulang dada itu kembali, dan kali ini tidak mau pergi.

“Setiap Selasa,” kataku. Suaraku keluar lebih lembut daripada yang kurencanakan. “Jam dua belas. Di sini.”

“Beneran?”

“Aku nggak pernah bilang sesuatu yang nggak kurencanakan.”

Itu, ironisnya, satu-satunya kalimat jujur yang kuucapkan hari itu.

Sasa tersenyum begitu lebar sampai pipinya naik dan matanya tinggal garis. Lalu ia menyodorkan satu tempe goreng dari piringnya ke piringku, seperti upeti.

“Buat Kakak. Tempe kantin ini paling enak se-UDB. Ini fakta ilmiah.”

“Sumbernya?”

“Aku. Satu tahun tiga bulan makan tempe di sini. Itu penelitian longitudinal.”

Gio tertawa lagi. Aku menggigit tempe itu, dan sialnya, itu memang tempe terenak yang pernah kumakan. Renyah di luar, lembut di dalam, dengan bawang putih yang tidak pelit.

“Gimana, Kak?” Sasa mencondongkan badan, menunggu vonis.

“Tujuh setengah dari sepuluh,” kataku.

Wajahnya langsung jatuh.

“Delapan,” ralatku.

“Delapan setengah,” tawar Sasa.

“Delapan.”

“Kak Kirana pelit nilai,” bisik Sasa pada Gio.

“Dia pelit nilai sama semua orang,” Gio balas berbisik. “Proposalku minggu lalu dikasih nilai enam, padahal aku begadang.”

“Proposalmu salah ketik di judulnya,” kataku.

“Satu huruf!”

“‘Pekan Olahraga’ kamu tulis ‘Pekan Olahraba’.”


Setelah dua puluh menit, aku berhasil mengarahkan pembicaraan ke tujuan sebenarnya.

“Sasa ada pacar?”

Aku menanyakannya sesantai mungkin, di sela-sela obrolan soal dosen Linguistik yang katanya mirip burung hantu. Gio menatapku dengan mata menyipit sekilas, lalu pura-pura sibuk dengan es tehnya.

Sasa berhenti mengunyah. Pipinya memerah dari tengah ke tepi.

“Nggak, Kak. Belum.” Ia memainkan ujung pita kuningnya. “Tapi ada seseorang yang lagi aku... tunggu.”

Tunggu. Aku tunggu kamu pulang.

“Tunggu gimana?”

“Aku kirim sesuatu ke dia. Minggu lalu.” Suaranya mengecil. “Dia belum balas. Mungkin dia belum siap. Mungkin dia masih marah. Atau...” Ia tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke mata. “Atau mungkin dia memang nggak mau. Nggak apa-apa. Aku bisa nunggu. Aku jago nunggu. Aku nunggu tukang bakso lewat depan kos setiap malam, kadang dia nggak lewat, tapi aku tetap nunggu.”

Aku lupa cara menelan tempe.

Dia belum balas.

Tentu saja dia belum balas. Suratnya tidak pernah sampai. Suratnya ada di tasku. Rendra tidak marah dan tidak menolak. Rendra bahkan tidak tahu ada yang menunggunya Sabtu jam tujuh.

Dan gadis yang menyodorkan tempe terenak se-UDB ke piringku sedang menyalahkan dirinya sendiri atas sesuatu yang kulakukan.

“Mungkin,” kataku, dan tenggorokanku terasa seperti ampelas, “suratnya... maksudku, kirimanmu itu, belum sampai.”

Sasa menatapku. Aku menahan napas.

“Kakak baik banget,” katanya. “Kakak nyari alasan biar aku nggak sedih. Makasih ya, Kak.”

Aku ingin menghilang ke dalam botol kecap.

“Maaf,” aku berdiri, “aku ke toilet sebentar.”

Aku berjalan ke belakang kantin dengan langkah cepat, berdiri di depan wastafel, dan menatap cermin berbintik-bintik di sana.

Perempuan di cermin itu cantik, rapi, Ketua BEM, dan calon mahasiswa berprestasi tingkat universitas.

Dan pencuri surat cinta.

Kembalikan, kata suara di kepalaku. Kembalikan hari ini. Selipkan di buku Rendra. Selesai.

Tapi kalau dikembalikan, kata suara lain yang lebih pelan dan lebih jelek, Sabtu ini dia pulang. Ke Sasa.

Aku membasuh tangan tiga kali, padahal tidak kotor.


Waktu aku kembali, meja pojok itu sudah tidak sama.

Sasa duduk dengan punggung kaku seperti papan setrika. Gio setengah berdiri, dan kepalanya menoleh ke arah pintu kantin.

Di pintu itu berdiri Rendra Mahesa.

Ia membawa map biru, sepertinya mengantar berkas ke dosen FIB. Matanya menyapu kantin dengan cara yang sama seperti ia menyapu halaman buku, lalu berhenti di meja kami.

Di Sasa.

Ekspresinya tidak berubah banyak, karena Rendra memang tidak pernah berubah banyak. Tapi aku sudah tiga tahun mempelajari wajah itu dari jarak lima meja, dan aku melihatnya: rahangnya mengeras sepersekian milimeter, dan jarinya mencengkeram map sedikit lebih erat.

Sasa menunduk dalam-dalam ke nasi kuningnya, seolah-olah nasi kuning itu tiba-tiba menjadi karya sastra paling penting abad ini.

Lalu mata Rendra bergeser ke aku, dan berhenti.

Alisnya naik sedikit. Kebingungan yang jujur, satu-satunya jenis ekspresi yang ia tunjukkan tanpa ditimbang dulu.

Ia berjalan ke meja kami. Sasa makin menunduk. Gio makin tegang. Aku makin lupa cara bernapas.

Rendra berhenti di samping meja. Ia tidak menatap Sasa. Dengan sangat sengaja, ia tidak menatap Sasa.

“Anindya.”

“Mahesa.”

“Kamu di FIB.”

“Aku bisa di mana saja. Aku punya kaki.”

“Anak FEB jarang punya kaki sampai sini.”

“Anak Matematika juga.”

“Aku ngantar berkas.” Ia mengangkat map biru itu sedikit, sebagai bukti. “Kamu?”

“Program mentoring lintas fakultas,” sahut Gio, dengan kecepatan dan keyakinan seorang saksi yang sudah dilatih pengacara.

Rendra melirik Gio, lalu melirikku lagi. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa kubaca. Curiga, mungkin. Atau geli. Atau keduanya, disatukan rapat-rapat seperti tutup pulpen.

“Program mentoring,” ulangnya.

“Rahasia,” tambahku.

“Belum diumumkan,” tambah Gio.

Rendra diam sejenak. Lalu, untuk pertama kalinya sejak ia masuk, matanya turun ke Sasa, hanya sedetik, lalu kembali padaku.

“Tempenya enak di sini,” katanya.

Itu saja. Lalu ia berbalik dan pergi.

Sasa baru mengangkat kepala setelah punggung Rendra benar-benar hilang di balik pintu. Wajahnya merah sampai telinga, dan matanya berkaca-kaca lagi.

“Kamu kenal dia?” tanyaku. Suaraku terdengar tipis bahkan di telingaku sendiri.

Sasa membuka mulut, lalu menutupnya. Membuka lagi.

“Itu... dia orangnya, Kak.” Ia berbisik seperti takut dinding mendengar. “Orang yang aku tunggu.”

Aku tahu. Aku tahu sejak surat lilac itu jatuh di lantai perpustakaan.

Tapi mendengarnya langsung, dari mulut gadis berpita kuning yang baru saja memberiku tempe terbaik se-UDB, rasanya berbeda. Rasanya seperti membaca slide analisis risiko dan menyadari bahwa satu-satunya risiko yang lupa kutulis adalah diriku sendiri.

“Kak Kirana kenal Kak Ren?” tanya Sasa.

“Sedikit.”

“Dia tadi ngobrol sama Kakak.” Sasa menatapku dengan kekaguman yang murni dan mengerikan. “Dia hampir nggak pernah ngobrol sama siapa pun. Kakak hebat banget.”

Di bawah meja, kaki Gio menyenggol kakiku lagi. Kali ini tidak pelan.

Aku tersenyum pada Sasa. Senyum yang sudah kulatih bertahun-tahun di depan cermin.

Untuk pertama kalinya, senyum itu terasa berat untuk diangkat.