Chapter Ten
Misi Rahasia Sasa
POV: Kirana
Aku tetap masuk kuliah. Tidak masuk kuliah bukan pilihan bagi orang yang namanya ada di papan Mahasiswa Berprestasi. Apalagi kalau ibunya punya informan di setiap lantai.
Tapi aku masuk dengan masker, topi, dan kacamata hitam. Gio melihatku di koridor FEB dan hampir menjatuhkan kopinya.
“Kir. Kamu kelihatan kayak artis yang ketahuan selingkuh.”
“Aku nggak selingkuh.”
“Aku tahu. Makanya lebih aneh.”
“Hapus foto itu dari grup.”
“Udah dihapus Tasya jam enam lewat sepuluh.” Gio menyesap kopinya. “Tapi udah di-screenshot tiga puluh dua orang. Dan udah nyebar ke grup panitia Dies Natalis. Dan grup angkatan. Dan kayaknya grup alumni juga, soalnya tadi Kak Dimas angkatan 2019 nge-chat aku, nanya ‘itu beneran Kirana?’”
Aku menarik topiku lebih rendah.
“Grup panitia Dies Natalis,” ulangku perlahan.
“Iya.”
“Sasa ada di grup panitia Dies Natalis.”
Gio berhenti menyesap kopi. Ekspresinya berubah dari geli menjadi prihatin, lalu menjadi sesuatu yang sulit dibaca. “Iya. Dia ada.”
Aku berdiri di tengah koridor dan merasakan lantai di bawahku berubah jadi lorong enam puluh senti yang tidak ada ujungnya.
Sasa sudah melihat foto itu. Sasa sudah melihat Rendra, cowok yang ia tunggu dan yang ia kirimi surat bergambar hati diarsir penuh, berjalan di bawah satu payung denganku. Dengan payung yang miring ke arahku dan bahu yang basah demi aku.
Aku sudah menyiapkan presentasi untuk banyak skenario, tapi tidak untuk ini. Tidak untuk wajah Sasa waktu melihat foto itu.
“Kak Kirana!”
Aku berbalik terlalu cepat sampai kacamata hitamku melorot.
Sasa berlari di koridor FEB dengan pita merah muda dan ponsel teracung tinggi-tinggi. Wajahnya merah, matanya berkaca-kaca, dan mulutnya terbuka lebar.
Ia berhenti di depanku, terengah-engah. Aku menguatkan diri untuk menghadapi apa pun: tangisan, tamparan, atau pertanyaan yang tidak bisa kujawab.
“KAKAK,” kata Sasa, “SAMA KAK REN???”
Lalu ia melompat-lompat di tempat seperti anak kecil yang baru dibelikan balon.
Aku butuh sepuluh menit dan satu gelas es teh di kantin FEB untuk menjelaskan bahwa aku tidak “sama” Kak Ren.
“Cuma payung,” kataku. “Dia nggak bawa payung. Aku bawa. Secara logistik...”
“Secara logistik!” Sasa menangkupkan kedua tangan di pipinya. “Kak Ren bahunya basah demi Kakak! Kak Ren! Yang kalau hujan biasanya nunggu di perpus sampai jam sembilan malam karena nggak mau repot!”
“Dari mana kamu tahu dia...”
“Tante cerita!” Sasa menggoyang-goyangkan lenganku. “Tante sering cerita soal Kak Ren. Katanya Kak Ren itu kayak kulkas: dingin, rapi, nggak pernah bawa orang pulang. Tapi Kakak diantar sampai mulut gang dua kali! Tante telepon aku tadi malam, Kak. Tante nangis. Nangis bahagia.”
Aku menatap Sasa dengan kebingungan yang sungguh-sungguh.
Gadis di depanku ini, yang menulis aku tunggu kamu pulang dengan tinta ungu, yang bilang dia orangnya, Kak, orang yang aku tunggu, dan yang punya ayah yang hafal Rendra tidak kuat pedas, sekarang sedang melompat-lompat bahagia karena cowok yang ia tunggu berbagi payung dengan perempuan lain.
Ini tidak masuk akal. Ini tidak ada di analisis risiko mana pun.
“Sasa,” kataku pelan. “Kamu... nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa kenapa?”
“Kamu bilang kamu nunggu dia. Kamu kirim surat ke dia.”
Sasa berhenti bergoyang. Senyumnya tidak hilang, tapi berubah. Ada sesuatu di baliknya yang tipis dan rapuh, seperti kertas kado yang membungkus kotak kosong.
“Iya,” katanya. “Aku kirim surat. Dia nggak balas.” Ia memainkan sedotan es tehnya. “Mungkin dia memang nggak mau sama aku, Kak. Mungkin aku kebanyakan ngarep. Tapi kalau dia bisa bahagia sama orang lain...” Ia mengangkat kepala dan tersenyum lebar lagi. “...apalagi sama Kakak, orang yang paling baik yang pernah aku kenal, itu udah cukup buat aku.”
Es teh di tenggorokanku berubah jadi kerikil.
Aku membayangkan amplop lilac di planner-ku, di halaman belakang, di sebelah kertas bertinta merah. Amplop yang tidak pernah sampai, sehingga balasan yang tidak pernah datang pun bukan salah Rendra.
Sasa bukan sedang menyerah karena ditolak. Sasa menyerah karena aku mencuri kesempatannya untuk ditolak atau diterima.
“Sasa, aku...”
“Jadi!” Sasa menepuk meja dengan semangat. “Mulai sekarang aku punya misi baru!”
“Misi apa?”
Ia mencondongkan badan dan berbisik dengan nada seorang agen rahasia yang sedang membocorkan dokumen negara.
“Menjodohkan Kak Kirana sama Kak Ren.”
“Sasa, nggak...”
“Rahasia ya, Kak. Program rahasia. Kayak program mentoring lintas fakultas.” Ia mengedip, lalu berdiri. “Kak Gio!”
Gio, yang sedang mengantre bakso di seberang kantin, menoleh dengan waspada.
“Kak Gio, sini! Aku butuh partner!”
“Partner apa?”
“Misi rahasia!”
Gio menatapku. Aku menggeleng keras sampai topiku miring.
Gio menatap Sasa. Sasa menatap Gio dengan mata bulat seperti anak kucing yang minta diadopsi.
Gio meninggalkan antrean bakso.
Dalam lima hari berikutnya, aku belajar bahwa Salsabila Wiratama adalah perencana yang sangat buruk.
Itu bukan hinaan. Itu hasil observasi.
Senin, Sasa “salah kirim” undangan rapat evaluasi bazar ke Rendra. Undangannya berbentuk pesan WhatsApp yang dikirim ke nomor Rendra, lalu di-screenshot dan dikirim ke aku. Isinya: Rapat evaluasi bazar, Selasa jam 3 sore di kantin FIB. Yang hadir: Kak Kirana dan Kak Rendra. Yang lain nggak usah datang karena ruangannya kecil.
Kantin FIB bisa menampung dua ratus orang.
Selasa, di kantin FIB, Sasa datang bersama Gio sepuluh menit sebelum jam tiga. Ia menata dua gelas es teh di meja pojok, lalu mengumumkan dengan suara keras ke seluruh kantin: “Aduh! Aku lupa! Aku ada kelas! Kak Gio juga ada kelas! Kita harus pergi SEKARANG!”
Gio, yang tidak ada kelas, berdiri dengan ekspresi seorang aktor sinetron yang disuruh sutradara menangis tanpa obat tetes mata.
“Ya,” katanya datar. “Kelas. Sangat penting. Kelas... Linguistik.”
“Kamu anak Manajemen, Gi.”
“Lintas fakultas,” jawab Gio, lalu diseret pergi oleh Sasa.
Mereka tidak pergi jauh. Mereka bersembunyi di balik pot tanaman hias di sudut kantin. Pot itu berisi satu batang pohon palem kerdil yang tingginya tidak lebih dari lutut orang dewasa. Dari meja pojok, aku bisa melihat seluruh tubuh Gio dan setengah tubuh Sasa, dengan pita merah mudanya menyembul di antara daun palem seperti bunga yang salah tempat.
Rendra datang tepat pukul tiga.
Ia melihat aku di meja pojok, dua gelas es teh, dan pot palem kerdil yang di belakangnya ada dua orang dewasa berjongkok. Ia melihat semuanya sekaligus dengan satu sapuan mata.
Ia duduk di seberangku tanpa berkomentar.
“Rapat evaluasi bazar,” katanya.
“Iya.”
“Ruangannya kecil.”
“Sangat kecil.”
“Yang lain nggak usah datang.”
“Sesuai undangan.”
Rendra melirik pot palem. Pot palem bergoyang sedikit.
“Adik tingkatmu,” katanya pelan, “lagi jodohin kita.”
Aku menunduk ke es teh. “Bukan adik tingkatku.”
“Dia panitiamu.”
“Dia...” Aku berhenti. Aku ingin bilang dia suka sama kamu. Aku ingin bilang dia nulis surat buat kamu dan aku mencurinya. Aku ingin bilang dia menyerah karena aku.
Tapi dari balik pot palem, kepala Sasa menyembul sedikit. Matanya berbinar penuh harapan, dan kedua tangannya membentuk hati kecil di depan dada.
Aku menutup mulut.
Rendra menatapku, lalu menatap ke arah pot palem, tempat hati kecil itu cepat-cepat menghilang.
Wajahnya berubah. Bukan jadi dingin atau tertutup seperti biasanya. Justru sebaliknya. Ada sesuatu yang melunak di sudut matanya, seperti es yang retak sedikit di bawah matahari.
“Dia memang begitu,” katanya, sangat pelan, hampir tidak terdengar di tengah riuh kantin. “Kalau sayang sama orang, dia ngerepotin.”
Sayang.
Kata itu jatuh ke dadaku seperti batu ke kolam, dan riaknya menyebar ke mana-mana.
Ia kenal Sasa. Cukup kenal untuk tahu bagaimana Sasa kalau menyayangi seseorang. Cukup kenal untuk menyebut kata sayang dengan nada yang lembut itu. Nada yang belum pernah ia pakai untuk hal lain, bahkan untuk pulpen atau payung.
“Kamu kenal dia baik,” kataku. Suaraku terdengar tenang. Aku bangga pada suaraku, seperti biasa. Hanya suaraku.
Rendra menatap es tehnya. “Cukup.”
“Seberapa cukup?”
Ia mengangkat kepala. Untuk sesaat, aku yakin ia akan mengatakan sesuatu yang penting. Bibirnya terbuka dan napasnya tertahan.
Lalu terdengar suara dari balik pot palem.
“HAAATCHIII!”
Bersin yang keras, dramatis, dan menggema ke seluruh kantin. Disusul bersin kedua, lalu ketiga.
Kucing oranye gemuk langganan kantin FIB sedang duduk di sebelah pot palem, tepat di sebelah Sasa, dan menggosok-gosokkan badannya ke lengan Sasa dengan penuh kasih sayang.
Sasa alergi kucing.
“Sasa!” bisik Gio panik dengan suara yang sama sekali tidak berbisik. “Kucingnya! Usir kucingnya!”
“Nggak bisa, Kak!” Sasa bersin lagi. “Dia kelihatan butuh!”
Seluruh kantin menoleh ke pot palem kerdil.
Aku setengah berdiri, siap menyelamatkan situasi, siap menarik Sasa keluar dan mengakhiri misi yang memalukan ini.
Tangan Rendra menangkap pergelangan tanganku di atas meja.
Tidak keras. Jari-jarinya melingkar di pergelanganku dengan tekanan yang sangat ringan, seperti memegang sesuatu yang bisa pecah.
“Biarin,” katanya.
Aku menatap tangannya, lalu wajahnya.
“Dia lagi senang,” lanjut Rendra, lebih pelan. Matanya masih ke pot palem, ke gadis berpita merah muda yang bersin-bersin sambil mengelus kucing dengan tangan satunya. “Biarin dia senang.”
Jari-jarinya masih melingkar di pergelanganku. Aku bisa merasakan denyut nadiku sendiri di bawah kulitnya. Cepat, terlalu cepat, dan aku tahu ia juga bisa merasakannya.
Aku duduk kembali.
Ia tidak langsung melepaskan tanganku. Satu detik. Dua detik. Lalu, pelan-pelan, seperti baru sadar apa yang dilakukannya, ia menarik tangannya kembali dan meletakkannya di pangkuan.
Di balik pot palem, Sasa akhirnya berhasil mengusir kucing dengan menyodorkan sepotong tempe ke arah berlawanan. Gio membantunya berdiri. Lalu mereka berdua berjalan keluar kantin dengan sangat pelan dan sangat mencolok, seperti dua pencuri di film kartun, dan Sasa masih bersin setiap tiga langkah.
Di ambang pintu, Sasa menoleh dan mengacungkan dua jempol ke arahku.
Hidungnya merah seperti tomat. Matanya berair karena alergi. Dan ia tersenyum sangat lebar, dengan sangat tulus.
“Kalau dia nggak punya alergi,” kata Rendra setelah mereka pergi, “misinya berhasil.”
“Misinya berhasil?”
“Aku di sini. Kamu di sini. Es tehnya ada dua.” Ia menyesap es tehnya. “Dari sudut pandang dia, ini sukses.”
“Kamu tahu dari awal ini jebakan.”
“Aku tahu dari undangannya. Kantin FIB bisa muat dua ratus orang.”
“Terus kenapa kamu datang?”
Rendra menatapku di atas gelas es teh. Datar dan tenang, seperti biasanya. Tapi ujung telinganya mulai memerah lagi.
“Karena aku nggak keberatan,” katanya, “kali ini direpotin.”
Aku lupa cara memegang gelas.
“Kali ini?”
“Biasanya aku keberatan.” Ia meletakkan gelasnya. “Aku selalu keberatan. Aku orang yang nggak suka direpotin, nggak suka dijodohin, nggak suka diatur-atur. Tanya Ibu.”
“Terus kenapa kali ini nggak?”
Ia diam. Lalu, dengan sangat perlahan, ia mengambil pulpen merah dari saku kemejanya, menarik tisu dari kotak di tengah meja, dan menulis sesuatu di atasnya. Lalu ia melipatnya dua kali dan menggesernya ke arahku.
Aku membukanya.
Masih kucari juga.
Aku menatap tulisan itu. Huruf K yang kakinya panjang, seperti orang yang sedang melangkah.
Soal yang tidak bisa kujawab. Ia juga sedang mencarinya.
Malam itu, di kamarku yang bukunya tersusun menurut warna punggung, aku membuka planner kulit cokelat dan menatap halaman OPERASI REBUT HATI lama sekali.
Tahap satu: pengumpulan data. Selesai.
Tahap dua: infiltrasi, menjadi teman Subjek S. Selesai.
Tahap tiga: distraksi, menjauhkan Subjek S dari Subjek R. Selesai, dengan cara yang tidak kurencanakan.
Tahap empat: muncul sebagai alternatif yang masuk akal. Subjek S sendiri yang mendorongku ke sana, dengan tangan membentuk hati di balik pot palem.
Semua tahap berhasil. Setiap target tercapai. Kalau ini proker BEM, aku akan mendapat penghargaan dari dekanat dan tepuk tangan dari rapat pleno.
Tapi di kolom analisis risiko, di bawah Risiko 2: Mulai suka Sasa juga dan Risiko 3: Dia bilang “kamu cari sendiri”, aku menambahkan satu baris baru dengan pulpen hitam bekas gigitan.
Tanganku gemetar waktu menulisnya.
Risiko 4: Sasa menyerah demi aku. Dan dia bahkan tidak tahu kalau dia tidak kalah. Dia dicurangi.
Di halaman belakang, amplop lilac itu masih terselip. Di sebelahnya sekarang ada dua kertas kecil bertinta merah dan satu lembar tisu kantin yang terlipat dua.
Aku mengeluarkan amplop lilac itu dan meletakkannya di tengah meja. Barang bukti. Lagi.
Besok, kataku pada diriku sendiri. Besok aku kembalikan. Aku bilang ke Sasa. Aku bilang ke Rendra. Aku bilang semuanya.
Aku menatap amplop itu sampai pukul dua pagi.
Lalu aku memasukkannya kembali ke halaman belakang planner, di sebelah tisu bertuliskan Masih kucari juga.
Besok, kataku lagi.
Aku sudah mulai tahu bahwa kata besok adalah kebohongan yang paling mudah diucapkan, karena ia tidak pernah datang dengan sendirinya.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa reading
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama