Chapter Fourteen
Kurang Nol Koma Nol Dua
POV: Kirana
Hari kelima KKN, Mama menelepon pukul 19.02.
Dua menit setelah jam makan malam di rumah kami. Aku tahu itu disengaja. Mama menunggu sampai ritual makan malam lewat, lalu menelepon di waktu yang, dalam kalender Mama, seharusnya adalah waktu evaluasi harian.
Aku sedang duduk di teras posko dengan kaki kiri yang masih diperban dan diselonjorkan di atas ember terbalik. Aku sedang memeriksa laporan harian dari tiap divisi. Di halaman, Gio dan dua anak Pertanian sedang berusaha menyalakan api unggun dengan kayu basah dan korek gas yang hampir habis. Sudah empat puluh menit mereka mencoba.
“Halo, Ma.”
“Hasil seleksi berkas mahasiswa berprestasi tingkat universitas sudah keluar tadi siang.”
Mama tidak pernah membuka telepon dengan apa kabar. Mama membuka telepon dengan inti persoalan, seperti kalimat pertama di bagian abstrak.
“Oh,” kataku. “Terus?”
“Kamu peringkat dua.”
Di halaman, api unggun akhirnya menyala. Gio berteriak kegirangan seperti manusia purba yang baru menemukan api. Anak-anak Pertanian bertepuk tangan.
Peringkat dua. Dari seratus tiga puluh pendaftar se-universitas.
Aku menunggu kalimat berikutnya. Aku sudah tahu bentuknya, seperti tahu bentuk anak tangga di rumah sendiri dalam gelap.
“Peringkat satu dari Kedokteran,” kata Mama. “IPK empat koma nol nol. Nilai berkas prestasi kalian hampir sama. Yang membedakan cuma IPK.”
“Selisihnya berapa, Ma?”
Aku tahu jawabannya. Aku menanyakannya karena ada bagian dari diriku yang sakit dan aneh, yang ingin mendengarnya diucapkan.
“Nol koma nol dua,” kata Mama.
Api unggun berderak. Asapnya naik ke langit Cibeureum yang penuh bintang, lebih banyak bintang daripada yang pernah kulihat di Bandung.
“Mama sudah bilang,” lanjut Mama, dengan nada datar yang lebih menyakitkan daripada marah, “jangan kebanyakan ke perpustakaan kalau cuma duduk.”
“Ma, IPK-ku nggak turun. IPK-ku tiga koma sembilan delapan sejak semester dua. Nol koma nol dua itu dari semester satu. Dari...”
Dari pulpen yang macet. Dari sepuluh menit yang hilang.
“Dari mana pun asalnya, hasilnya sama,” kata Mama. “Peringkat dua.”
“Iya, Ma.”
“Dan satu lagi.” Suara Mama merendah sedikit. Aku tahu artinya: ini bagian yang sebenarnya ingin ia sampaikan. “Bu Lastri kirim foto ke Mama. Kamu dan seorang laki-laki di bawah satu payung, dekat gerbang belakang.”
Aku memejamkan mata.
Informan Mama. Tentu saja. Empat puluh ribu mahasiswa, dan Mama punya mata di setiap warung fotokopi.
“Itu teman, Ma. Hujan. Dia nggak bawa payung.”
“Mahasiswa Matematika. Anak penjual buku bekas di Gang Kenari,” kata Mama, seperti membacakan data dari laporan. “Mama sudah tanya.”
“Mama tanya?”
“Mama perlu tahu dengan siapa anak Mama menghabiskan waktu, sementara nilainya kurang nol koma nol dua.” Mama menarik napas. “Kiran. Mama nggak melarang kamu berteman. Tapi kamu tahu apa yang dipertaruhkan. Kamu tahu seberapa keras kamu sudah bekerja. Jangan sampai semuanya hilang karena hal-hal yang tidak perlu.”
Hal-hal yang tidak perlu. Kalimat yang sama seperti di meja makan, dua bulan lalu.
“Iya, Ma.”
“Bagus. Istirahat. Jangan lupa kerjakan laporan harian.”
Telepon ditutup.
Aku menatap layar ponsel yang gelap. Di halaman, Gio sedang memanggang jagung di atas api unggun sambil menyanyikan lagu dangdut dengan lirik yang salah semua. Sasa Tebing melempar kulit jagung ke kepalanya. Semua orang tertawa.
Aku berdiri, berpegangan pada tiang teras, dan berjalan terpincang-pincang ke belakang posko.
Belakang posko adalah lahan kecil berisi tumpukan kayu bakar, jemuran, dan kandang ayam milik Pak Kades. Tempat itu gelap, hanya diterangi cahaya dari jendela dapur. Ayam-ayam sudah tidur. Salah satunya berkotek pelan waktu aku datang, lalu diam lagi.
Aku duduk di tumpukan kayu bakar.
Lalu aku menangis.
Bukan tangisan yang rapi. Aku tidak pernah bisa menangis dengan rapi, karena aku jarang menangis dan tidak pernah punya kesempatan berlatih. Tangisan ini datang seperti hujan Bandung: tanpa gerimis sebagai pemberitahuan, langsung tumpah dari ember raksasa.
Aku menutup mulut dengan kedua tangan supaya tidak ada suara yang keluar. Kebiasaan. Aku menutup mulut waktu tertawa, dan aku juga menutup mulut waktu menangis. Tidak boleh ada suara yang keluar dariku kecuali suara yang sudah direncanakan.
Nol koma nol dua.
Tiga tahun. Dua ratus lima puluh enam kali duduk di meja sembilan. Tidak pernah bolos, tidak pernah telat mengumpulkan tugas, dan tidak pernah mendapat nilai di bawah A sejak semester dua. Semua itu tidak cukup untuk menghapus sepuluh menit di bangku B-12, waktu pulpenku macet dan tanganku gemetar.
Dan Mama benar. Hasilnya tetap sama. Peringkat dua.
Ponselku bergetar di saku.
Aku tidak perlu melihat layarnya. Setiap malam, sejak hari pertama KKN, pukul delapan kurang sedikit, Sasa menelepon.
Aku mengusap wajah dengan lengan hoodie. Aku masih memakai hoodie abu-abu itu, karena Rendra tidak pernah memintanya kembali dan aku tidak pernah menawarkan untuk mengembalikannya. Aku menarik napas tiga kali, lalu menerima panggilan dengan kamera belakang yang mengarah ke kandang ayam.
“KAK! Halo! Kok gelap? Kakak di mana?”
“Di belakang posko. Lihat ayam.”
“Ayam?! Aku mau lihat!”
Aku mengarahkan kamera ke kandang. Seekor ayam jantan membuka satu mata dan menatap layar ponselku dengan kesal.
“Lucu banget! Namanya siapa?”
“Nggak tahu. Ayam Pak Kades.”
“Kasih nama, Kak! Namanya... Pak Kokok!”
Aku tertawa. Tawa yang basah dan serak.
Sasa terdiam.
“Kak,” katanya pelan. “Kakak nangis?”
“Nggak.”
“Suara Kakak kayak orang habis nangis.”
“Pilek. Di sini dingin.”
“Kak, balik kameranya.”
“Kameranya rusak.”
“Kak Kirana.”
Aku belum pernah mendengar Sasa memanggil namaku dengan nada seperti itu. Tidak ceria, tidak heboh, tapi tegas, pelan, dan hangat, seperti Bu Ratna waktu menyuruh Rendra mengantarku sampai mulut gang.
Aku membalik kamera.
Wajahku muncul di layar kecil di pojok. Mata merah, hidung merah, dan rambut kusut oleh angin gunung. Aku melihat diriku sendiri untuk pertama kalinya malam itu, dan aku tidak mengenalinya.
Di layar besar, wajah Sasa perlahan berubah. Bukan menjadi panik atau bingung. Wajahnya berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang, seperti orang yang sudah terbiasa melihat orang lain menangis dan tahu bahwa yang dibutuhkan bukan pertanyaan.
“Kakak nggak usah cerita,” katanya. “Kakak tidur aja ya. Besok pagi Kakak pasti lebih baik.”
“Iya.”
“Janji?”
“Janji.”
Sasa tersenyum. Lalu, sebelum menutup telepon, ia mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti waktu itu.
“Kak, besok Sabtu, kan?”
“Iya. Kenapa?”
“Nggak apa-apa!” Senyumnya melebar. “Selamat tidur, Kak! Salam buat Pak Kokok!”
Besok paginya, hari Sabtu, pukul setengah sebelas, sebuah ojek berhenti di depan posko.
Aku sedang duduk di teras dengan kaki di atas ember dan laptop di pangkuan, mengetik laporan mingguan. Sasa Tebing sedang mengajari anak-anak desa simpul tali di halaman. Gio sedang menjemur kaus-kaus basah yang entah kenapa semuanya kaus Gio.
Penumpang ojek itu turun dengan susah payah, karena tubuhnya terbungkus jas hujan kuning yang kebesaran tiga ukuran. Tudungnya menutupi hampir seluruh wajah, lengannya menggantung sampai lewat jari, dan ujung bawahnya menyapu tanah.
Kalau dilihat dari jauh, ia benar-benar mirip pisang berjalan.
Aku tahu siapa dia sebelum tudungnya dibuka.
“KAK KIRANA!”
Sasa melepas tudung jas hujan kuning. Pita hijau di rambutnya miring, pipinya merah karena angin, dan senyumnya begitu lebar sampai matanya tinggal garis. Di kedua tangannya ada kantong plastik besar.
Aku menurunkan laptop pelan-pelan.
“Sasa. Kamu...”
“Aku naik bus jam lima pagi dari terminal Leuwipanjang! Terus ganti bus di Cicalengka! Terus naik elf! Terus ojek!” Ia berlari kecil ke teras, jas hujannya berkibar seperti jubah pahlawan yang dijahit oleh orang yang tidak tahu ukuran. “Empat jam, Kak! Aku nyasar sekali, soalnya ada dua Desa Cibeureum di kabupaten ini. Yang satunya ternyata desa penghasil tahu!”
“Kamu ke sini,” kataku bodoh, “sendirian?”
“Iya!”
“Kenapa?”
Sasa berhenti di depan teras. Ia meletakkan kantong-kantong plastik di lantai kayu, lalu berdiri di depanku, di depan kakiku yang diperban dan wajahku yang masih bengkak karena tangisan semalam yang tidak cukup ditutupi oleh tidur empat jam.
“Karena semalam Kakak nangis,” katanya sederhana, “dan Kakak nggak cerita. Jadi aku nggak bisa bantu pakai kata-kata. Jadi aku bantu pakai kaki.”
Lalu ia membungkuk dan memelukku.
Pelukannya canggung, karena aku duduk dan ia berdiri, karena jas hujan kuning itu berkerisik dan penuh lipatan, dan karena kakiku masih di atas ember. Tapi lengannya melingkar erat di leherku, pipinya yang dingin menempel di pelipisku, dan ia mengelus rambutku dengan gerakan yang pelan dan teratur, seperti mengelus kucing oranye di kantin FIB. Seperti sesuatu yang kelihatan butuh.
“Kakak nggak kurang apa-apa,” bisiknya di telingaku. “Aku nggak tahu Kakak kenapa. Tapi apa pun yang bilang Kakak kurang, dia salah.”
Sesuatu di dalam dadaku patah.
Bukan patah yang keras. Lebih seperti ranting kering yang akhirnya menyerah pada angin. Pelan, hampir tanpa suara, tapi tidak bisa disambung lagi.
Aku menangis lagi, di pundak gadis berjas hujan kuning yang suratnya kucuri, yang kesempatannya kurampas, dan yang kunasihati untuk memberi ruang supaya ia menjauh dari orang yang ia tunggu.
Gadis itu naik bus empat jam dan nyasar ke desa penghasil tahu, hanya karena mendengar suaraku serak di telepon.
Kali ini aku tidak menutup mulut.
Tangisanku keluar dengan suara. Jelek, basah, dan tanpa rencana. Anak-anak desa berhenti belajar simpul tali. Gio menjatuhkan kaus basahnya ke tanah. Sasa Tebing menatap kami dari halaman, lalu dengan tenang menggiring anak-anak desa ke arah lain sambil berkata keras, “Oke, sekarang kita belajar simpul pangkal di dekat sungai!”
Sasa tidak melepaskan pelukannya sampai tangisanku berhenti sendiri.
Di dalam kantong plastik yang ia bawa ada sebuah kotak makan berisi enam tempe goreng dari kantin FIB, sudah dingin dan sedikit lembek, dibungkus tisu supaya minyaknya tidak tumpah. Ada dua bungkus nasi kuning. Ada juga selembar kertas kecil, dilipat dua, bertuliskan lelucon dengan tinta ungu:
Kenapa peringkat dua lebih keren dari peringkat satu? Karena peringkat satu cuma satu, tapi peringkat dua itu... DUA KALI LEBIH BANYAK! 🎉
“Aku nggak tahu Kakak sedih soal apa,” kata Sasa sambil menata tempe di atas piring, “jadi aku bikin lelucon buat semua kemungkinan. Ada yang soal nilai, soal cinta, soal kaki terkilir, soal ayam. Itu yang soal nilai. Kebetulan aku tebak benar ya?”
“Dari mana kamu tahu soal peringkat dua?”
“Pengumuman mapres ada di grup humas BEM universitas! Nama Kakak nomor dua!” Ia menatapku dengan mata berbinar. “Kak, nomor dua dari seratus tiga puluh! Itu artinya Kakak lebih hebat dari seratus dua puluh delapan orang!”
Aku tertawa. Masih basah, masih serak, tapi kali ini tawa itu datang dari tempat yang berbeda.
Gio mendekat, memungut kertas lelucon itu, dan membacanya. Lalu ia tertawa terbahak-bahak sampai harus berpegangan pada tiang teras.
“Jelek banget,” katanya. “Aku suka.”
“Kak Gio!” Sasa berseri-seri. “Aku punya satu lagi buat Kakak! Dari dulu belum sempat! Kenapa buku sastra nggak pernah kesepian?”
“Kenapa?”
“Karena selalu punya... tokoh pendamping!”
Gio tertawa lagi, lebih keras. Sasa Tebing muncul dari halaman bersama anak-anak desa, melihat Sasa, dan berhenti.
“Kamu siapa?”
“Aku Sasa!”
“Aku juga Sasa.”
Keduanya saling tatap. Sasa berjas hujan kuning dan Sasa berjaket gunung oranye.
“Sasa Tebing,” kata Sasa Tebing, mengulurkan tangan.
Sasa menjabatnya dengan penuh semangat. “Sasa... Tempe!”
Aku tidak tahu kenapa, tapi dari semua hal yang terjadi pagi itu, Sasa Tempe adalah yang membuatku tertawa paling keras.
Rendra kembali dari balai desa pukul dua belas, membawa map berisi data penduduk. Ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju posko, lalu berhenti di tengah halaman.
Ia melihat Sasa.
Sasa, yang sedang menyuapi aku tempe karena katanya “orang yang habis nangis nggak boleh pegang apa-apa”, juga melihatnya.
Tempe di sendoknya berhenti di udara.
Semua orang di teras diam. Bahkan Gio, yang sedang berusaha menghafal lelucon Sasa supaya bisa dipakai di rapat BEM, berhenti bergumam.
Sasa meletakkan sendok, berdiri, merapikan jas hujan kuningnya yang terlalu besar, dan membungkuk sedikit ke arah Rendra.
“Maaf, Kak Ren,” katanya. Suaranya kecil, jauh lebih kecil daripada saat ia berteriak di atas ojek. “Aku cuma mau ketemu Kak Kirana. Aku nggak akan lama. Habis ini aku langsung pulang. Aku nggak akan ganggu.”
Rendra menatapnya lama.
Aku menunggu wajahnya menutup seperti etalase hari Minggu, dan rahangnya mengeras seperti di kantin FIB dan di koridor Matematika. Aku menunggu ia berbalik dan pergi.
Tapi ia tidak berbalik.
“Kamu naik apa ke sini?” tanyanya.
Sasa mengerjap. “Bus. Terus elf. Terus ojek.”
“Sendirian?”
“Iya.”
“Dari jam berapa?”
“Jam lima.”
“Kamu sudah makan?”
Sasa menatapnya dengan mata yang semakin bulat, seperti orang yang baru mendengar bahasa asing yang ternyata ia pahami.
“Belum,” bisiknya.
Rendra diam sebentar. Lalu ia meletakkan map data penduduk di tangga teras, berjalan ke dapur posko tanpa berkata apa-apa, dan kembali lima menit kemudian dengan sepiring nasi hangat dan sepotong ayam goreng sisa makan siang. Ia meletakkannya di depan Sasa.
“Makan,” katanya. “Pulangnya aku antar ke terminal Cicalengka. Jangan naik elf sendirian. Jalannya jelek.”
Sasa menatap piring itu. Lalu menatap Rendra. Bibirnya bergetar.
Ia tidak menangis. Sasa yang menangis di menit keempat waktu kuajak makan siang di kantin FIB, Sasa yang menangis tiga kali membaca novel yang sama, kali ini tidak menangis. Ternyata ada hal yang terlalu besar untuk ditangisi.
Ia makan.
Ia makan sambil menunduk dalam-dalam, cepat-cepat, dan bahunya bergetar sedikit. Rendra duduk di tangga teras, dua anak tangga di bawahnya, menatap ke halaman, dan tidak berkata apa-apa lagi.
Aku menatap mereka berdua dari tempatku duduk.
Seorang cowok yang tidak pernah mau direpotin, mengantar seorang gadis ke terminal. Seorang gadis yang bilang aku bisa nunggu, aku jago nunggu, makan nasi dari piring yang disiapkan oleh orang yang ia tunggu.
Aku ingin bahagia untuk Sasa. Aku sungguh-sungguh ingin. Sasa baru saja naik bus empat jam demi aku.
Tapi yang kurasakan adalah sesuatu yang lebih jelek dan lebih jujur: rasa lega yang busuk karena Rendra akhirnya baik pada Sasa, bercampur rasa sakit yang tajam karena ia baik pada Sasa, dan di bawah keduanya ada rasa bersalah yang sudah begitu besar sampai aku tidak lagi bisa melihat ujungnya.
Planner kulit cokelat ada di tasku, di kamar posko. Amplop lilac ada di halaman belakangnya.
Sasa naik bus empat jam untukku.
Aku bahkan tidak bisa berjalan sepuluh langkah ke kamar untuk mengembalikan suratnya.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua reading
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama