Chapter Seven
Sahabat Paling Setia
POV: Kirana
“Aku mau jadi lebih dekat sama Kak Ren.”
Sasa mengucapkannya sambil meremas sedotan es tehnya sampai pipih. Kami duduk di bangku taman belakang FIB, di bawah pohon flamboyan yang bunganya berjatuhan ke rambut kami seperti konfeti di pesta yang tidak ada tamunya.
Aku sudah menyiapkan wajah untuk kalimat itu. Semalam aku menyusun tiga kemungkinan isi “cerita soal Kak Ren”, lengkap dengan respons yang pantas. Kemungkinan A: mereka bertengkar. Kemungkinan B: mereka putus. Kemungkinan C: mereka baikan dan Sasa ingin bercerita betapa bahagianya ia.
Kemungkinan D tidak ada di daftar.
“Lebih dekat,” ulangku.
“Iya. Soalnya selama ini dia jauh banget, Kak. Kayak bintang. Kelihatan, tapi nggak bisa dipegang.” Sasa menatap sedotannya yang sekarang berbentuk pita. “Aku udah coba macam-macam. Kirim surat. Datang ke tokonya. Nitip salam lewat Tante. Tapi dia selalu... menghindar. Kalau aku masuk ruangan, dia keluar. Kalau aku senyum, dia lihat lantai.”
Tante. Aku mencatat kata itu. Sasa memanggil Bu Ratna “Tante”, yang artinya mereka sudah cukup akrab untuk tidak memanggil “Bu”.
Operasi Rebut Hati menyarankan satu hal: jauhkan Subjek S dari Subjek R lewat kesibukan dan pergaulan baru.
Kesempatannya baru saja datang sendiri, lengkap dengan pita.
“Mungkin,” kataku, memilih kata-kata seperti memilih langkah di lantai licin, “kamu terlalu mengejar.”
Sasa mengangkat kepala.
“Cowok kayak dia,” lanjutku, “biasanya nggak suka dikejar. Makin dikejar, makin lari. Kayak kucing.”
“Kucing kantin nggak lari kalau aku kejar.”
“Karena kamu bawa tempe.”
Sasa berpikir keras, sampai dahinya berkerut dan bibirnya maju.
“Jadi aku harus bawa tempe ke Kak Ren?”
“Bukan. Maksudku, kamu harus kasih dia ruang. Sibukkan dirimu dengan hal lain. Kegiatan, teman baru, pengalaman. Jadi versi terbaik dari dirimu.” Aku mendengar diriku berbicara seperti buku motivasi yang dijual di stasiun kereta. “Nanti, kalau dia sadar kamu nggak ngejar lagi, dia bakal penasaran sendiri.”
Sebenarnya itu nasihat yang cukup bagus. Kalau saja niatku bukan niat jahat.
Mata Sasa melebar perlahan, seperti orang yang baru menemukan jalan keluar dari labirin.
“Kak Kirana jenius.”
“Aku cuma...”
“Kakak JENIUS!” Sasa meraih kedua tanganku dan meremasnya. Bunga flamboyan jatuh di antara jari-jari kami. “Aku harus sibuk! Aku harus punya kegiatan! Aku harus jadi versi terbaik diriku!”
“Iya, itu...”
“Kakak kan Ketua BEM! Kakak punya banyak kegiatan! Aku ikut Kakak aja!”
Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.
“Dies Natalis FEB bulan depan, kan? Aku lihat pengumumannya di grup humas. Butuh panitia, kan?” Sasa sudah mengeluarkan ponsel dan mengetik dengan kecepatan yang menakutkan. “Aku daftar sekarang. Divisi apa pun. Aku bisa angkat kursi. Aku bisa bikin poster. Aku bisa nangis di depan sponsor biar mereka kasihan.”
“Sasa, Dies Natalis itu acara FEB, kamu anak FIB...”
“Kakak bilang lintas fakultas! Program mentoring lintas fakultas!”
Kebohonganku, yang kutanam di kantin FIB dua minggu lalu, baru saja tumbuh jadi pohon dan jatuh menimpa kepalaku sendiri.
“Iya,” kataku lemah. “Lintas fakultas.”
“Yeay!”
Dalam tujuh hari berikutnya, aku mempelajari sesuatu yang tidak diajarkan di mata kuliah mana pun: Salsabila Wiratama, kalau diberi misi, berubah dari gadis pemalu di pojok kantin menjadi kekuatan alam.
Senin, ia datang ke rapat perdana panitia Dies Natalis tiga puluh menit lebih awal dan menyapu sekretariat BEM, padahal tidak ada yang menyuruh. Gio masuk, melihat lantai yang berkilau, lalu mundur dan mengecek papan nama di pintu untuk memastikan ia tidak salah ruangan.
Selasa, ia menunggu di depan kelas Manajemen Strategikku dengan dua botol air mineral. Satu untukku, satu lagi untuk “jaga-jaga kalau Kakak haus dua kali”.
Rabu, ia muncul di rapat koordinasi dengan dekanat. Aku tidak tahu bagaimana caranya ia masuk. Aku menoleh, dan ia sudah duduk di kursi paling belakang, mencatat dengan serius, lalu mengacungkan jempol padaku setiap kali aku selesai bicara.
Wakil dekan, Pak Harun, berbisik padaku setelah rapat. “Itu asistenmu?”
“Panitia, Pak.”
“Rajin sekali. Dia mencatat waktu saya batuk.”
Rabu malam, ia mengirim pesan berisi daftar sponsor potensial untuk Dies Natalis. Empat puluh tujuh nama, lengkap dengan nomor telepon, alamat, dan kolom keterangan yang ditulis tangan lalu difoto. Di baris ke-23 tertulis: Warung bakso Mang Ujang (depan kos aku). Nggak punya uang buat sponsor, tapi baksonya enak, mungkin bisa kasih diskon buat panitia. Mang Ujang juga yang kadang nggak lewat itu, Kak.
Aku membaca daftar itu sampai habis. Lalu membacanya lagi. Itu daftar sponsor terbaik yang pernah diserahkan padaku dalam tiga tahun menjadi pengurus BEM. Divisi dana usaha kami, yang terdiri dari lima orang, biasanya hanya bisa mengumpulkan dua belas nama.
Kamu bikin ini kapan? balasku.
Tadi abis maghrib sampai sekarang hehe. Versi terbaik diriku nggak tidur 😤
Jam di ponselku menunjukkan pukul satu lewat empat puluh.
Tidur, Sasa.
Siap Bu Ketua!! 🫡
Kamis pagi, Gio menarikku ke pojok sekretariat dengan wajah seseorang yang akan membicarakan hal penting.
“Kir. Jujur. Kamu merekrut Sasa buat apa?”
“Program mentoring.”
“Kir.”
“Dia butuh kegiatan.”
“Dia udah punya kegiatan. Kegiatannya kamu.” Gio melirik ke arah meja, tempat Sasa sedang menempel stiker berbentuk bintang di semua map panitia, termasuk map yang bukan untuk panitia. “Tadi dia nanya aku, kamu suka warna apa, supaya dia bisa beli map yang sama.”
“Dan kamu jawab?”
“Aku jawab cokelat. Soalnya planner kamu cokelat.” Gio mengangkat bahu. “Dia langsung beli dua belas.”
Aku menatap tumpukan map cokelat di meja, masih terbungkus plastik.
Operasi Rebut Hati, Tahap Tiga: Distraksi. Menjauhkan Subjek S dari Subjek R lewat kesibukan.
Tahap tiga berhasil. Sasa memang sibuk. Sasa memang tidak lagi mengejar Rendra.
Sasa sekarang mengejarku.
Kamis sore pukul 14.55, lima menit sebelum sesi “konsultasi” kedua dengan Rendra, aku berdiri di tangga gedung Matematika dengan satu rencana sederhana: masuk sendirian.
“Kak Kirana!”
Aku memejamkan mata.
Sasa berlari menaiki tangga di belakangku, pita birunya melambai seperti bendera kecil. Pipinya merah, napasnya terengah, dan wajahnya bersinar seperti orang yang baru memenangkan undian berhadiah.
“Aku lihat Kakak jalan ke sini dari jendela sekretariat! Kakak mau ke mana?”
“Ke... konsultasi. Akademik.”
“Konsultasi apa?”
“Statistika.”
“Aku ikut!”
“Sasa, kamu anak Sastra. Kamu nggak ambil Statistika.”
“Aku bisa belajar! Versi terbaik diriku harus bisa Statistika!” Ia menggenggam tali tasnya dengan kedua tangan, penuh tekad. “Siapa dosennya, Kak?”
Aku menatapnya, lalu menatap koridor lantai dua. Di ujung koridor itu ada pintu ruang asisten dosen, terbuka, dengan AC yang mendengkur.
“Bukan dosen,” kataku pelan. “Asisten dosen.”
“Siapa?”
Aku tidak perlu menjawab.
Rendra keluar dari ruang asisten dengan setumpuk kertas di tangan, sepertinya mau ke ruang fotokopi. Ia melihat kami di ujung koridor dan berhenti.
Sasa berhenti bernapas. Secara harfiah. Aku bisa mendengar napasnya tertahan di tenggorokan seperti ayam yang tersedak.
Rendra menatapku. Lalu, pelan-pelan, menatap Sasa.
Dari jarak dua belas meter, aku bisa melihat rahangnya mengeras lagi, sama seperti di kantin FIB. Tumpukan kertas di tangannya sedikit melengkung karena dicengkeram terlalu erat.
Lalu ia berbalik dan masuk lagi ke ruang asisten. Kertasnya tidak jadi difotokopi.
“Kak,” bisik Sasa. Wajahnya pucat. “Kakak konsultasi sama Kak Ren?”
“Iya.”
“Kak Ren... ngajar Kakak?”
“Iya.”
Sasa menatapku dengan mata bulatnya. Aku bersiap untuk kecurigaan, kecemburuan, atau tangisan. Aku sudah menyiapkan penjelasan akademik yang sangat panjang dan sangat membosankan.
“Kakak hebat banget,” bisiknya. “Kak Ren nggak pernah mau ngajarin orang di luar kelas. Tante pernah bilang, dia nolak jadi guru les anak tetangga padahal dibayar mahal.”
Rasa tajam kecil di bawah tulang dada itu kembali, seperti tamu yang sudah hafal jalan.
“Aku... tunggu di bawah aja, Kak,” kata Sasa, mundur selangkah. “Aku nggak mau Kak Ren nggak nyaman. Versi terbaik diriku nggak ngejar.”
“Sasa.”
“Semangat, Kak!” Ia sudah berlari menuruni tangga, pita birunya melambai, lalu hilang di belokan.
Aku berdiri sendirian di koridor lantai dua.
Rencananya berhasil. Aku masuk sendirian, persis seperti yang kuinginkan.
Kenapa rasanya seperti menang lomba lari karena lawanku berhenti untuk menolong kucing?
Ruang asisten dosen itu terasa lebih dingin daripada minggu lalu. Mungkin karena AC-nya. Mungkin bukan.
Rendra duduk di meja dekat jendela, menatap tumpukan kertas yang tidak jadi difotokopi. Waktu aku masuk, ia tidak langsung mengangkat kepala.
“Kamu kenal dia,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Sasa? Dia panitia Dies Natalis.”
“Anak FIB.”
“Lintas fakultas.”
“Program mentoring,” katanya datar.
“Rahasia,” jawabku.
Ia mengangkat kepala, dan untuk pertama kalinya, aku tidak bisa membaca apa pun di matanya. Bahkan ekspresi yang sedang ditimbang pun tidak ada. Matanya tertutup rapat seperti etalase toko pada hari Minggu.
“Duduk,” katanya.
Aku duduk. Ia tidak bertanya lagi soal Sasa. Aku juga tidak menjelaskan apa-apa.
Kami diam lama sekali, sampai AC mendengkur dua kali.
“Soalmu mana?” tanyanya akhirnya.
“Soal apa?”
“Soal yang beneran kamu nggak bisa.”
Aku membuka planner. Di halaman yang seharusnya berisi soal itu, aku sudah menulis dan mencoret tujuh kali. Integral lipat tiga? Terlalu mudah. Ekonometrika deret waktu? Sudah kupelajari semester lima. Teori permainan? Aku pernah juara lomba simulasi bisnis.
Soal yang benar-benar tidak bisa kujawab ternyata tidak bisa ditulis dalam notasi matematika.
Kenapa kamu menghindari Sasa?
Apa Sasa pacarmu?
Kalau iya, kenapa kamu menatapku seperti itu di gang buntu?
Aku menutup planner.
“Masih dicari,” kataku.
Rendra menatapku sebentar. Lalu ia merobek selembar kertas kecil dari pinggir kuis mahasiswa yang sudah dinilai, menulis sesuatu dengan pulpen merah, melipatnya dua kali, dan menggesernya ke seberang meja.
Aku membukanya.
Kalau ketemu, kasih tahu aku duluan.
Aku menatap tulisan itu. Tulisan tangannya kecil, tegak, sedikit miring ke kanan, dengan huruf K yang kakinya panjang seperti orang yang sedang melangkah.
Aku mengambil pulpen hitam bekas gigitan dari saku, menulis di bawahnya, melipatnya dua kali, dan menggesernya kembali.
Ia membukanya.
Kenapa harus kamu duluan?
Ia menulis lagi, lalu menggesernya lagi.
Karena aku asistenmu.
Kamu asisten Statistika. Soalku bukan Statistika.
Aku tahu.
Tahu dari mana?
Kali ini ia tidak langsung menulis. Pulpen merahnya berhenti di atas kertas cukup lama sampai tintanya membentuk titik kecil.
Lalu:
Karena mukamu nggak kelihatan kayak orang yang lagi mikirin angka.
Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke planner, di halaman belakang, tepat di sebelah amplop lilac.
Dua surat. Satu yang kucuri, satu yang ditulis untukku.
Aku tidak berani melihat keduanya bersebelahan terlalu lama.
Sasa menunggu di bangku depan gedung Matematika, persis seperti Gio minggu lalu. Bedanya, ia tidak makan cilok. Ia membaca novel yang sama, novel yang katanya sudah ia tangisi tiga kali.
Ia berdiri begitu melihatku. “Gimana, Kak? Pinter nggak Kak Ren ngajarnya?”
“Pinter.”
“Dia ngomong banyak nggak?”
Aku memikirkan kertas kecil yang terlipat dua di planner-ku. “Nggak terlalu. Dia lebih banyak nulis.”
“Oh, iya!” Sasa tersenyum, dan senyumnya kali ini sedikit sedih di ujungnya. “Kak Ren emang gitu. Susah ngomong, tapi kalau nulis, jujur banget. Makanya aku kirim surat. Aku kira kalau aku nulis, dia juga bakal nulis balik.”
Kakiku berhenti di anak tangga terakhir.
“Tapi nggak apa-apa,” lanjut Sasa ringan, menggandeng lenganku seperti kami sudah berteman sejak TK. “Sekarang aku punya kegiatan. Aku punya Kakak. Versi terbaik diriku sibuk banget!”
Ia mengayun-ayunkan lengan kami berdua sambil berjalan, bersenandung lagu yang tidak kukenal. Sore itu Bandung mendung, dan bunga-bunga flamboyan berguguran di sepanjang jalan setapak.
Di dalam tasku, di planner kulit cokelat, ada surat yang Sasa tulis untuk Rendra, dan ada surat yang Rendra tulis untukku.
Dan di sebelahku, Sasa menggandeng tanganku dengan erat, seperti takut aku juga akan menghilang.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia reading
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama