Chapter Nineteen
Cincin di Etalase
POV: Kirana
Hari Minggu, Tasya dan Meli menyeretku ke Pasar Baru untuk membeli kado ulang tahun pernikahan perak orang tua Tasya.
“Kamu harus ikut,” kata Tasya di telepon pukul sembilan pagi. “Kamu satu-satunya yang bisa nawar tanpa bikin penjualnya nangis.”
“Aku bisa bikin penjualnya nangis.”
“Makanya kamu yang nawar. Tapi pelan-pelan.”
Aku ikut karena dua alasan. Pertama, aku butuh sesuatu untuk dikerjakan selain menatap tabel dua kolom di planner. Kedua, di dua kolom itu sekarang ada tulisan Revisi: terjadi dua kali, dan aku sudah terlalu sering membacanya sampai kertasnya mulai lecek di bagian itu.
Janjiku pada Gio adalah minggu depan. Aku akan mengembalikan surat itu dan mengakui semuanya. Minggu depan tinggal enam hari lagi. Aku sudah menulis naskah pengakuannya di planner, empat halaman, dengan tiga versi berbeda tergantung reaksi Rendra.
Aku belum menulis versi untuk reaksi Sasa. Setiap kali mencoba, pulpenku berhenti di kalimat pertama.
Pasar Baru pada hari Minggu adalah kekacauan yang terorganisasi. Toko-toko kain, sepatu, dan emas berjajar di lorong-lorong sempit. Penjual menawarkan dagangan dengan suara yang berlomba dengan klakson di jalan depan. Tasya dan Meli berjalan di depanku sambil bergandengan tangan, membicarakan apakah orang tua Tasya lebih cocok diberi jam tangan pasangan atau bingkai foto berlapis emas.
“Jam tangan,” kataku. “Bingkai foto itu kado yang bilang ‘aku nggak tahu kamu suka apa’.”
“Kir, kamu pintar banget soal kado,” kata Meli.
“Aku pintar soal analisis.”
“Kado itu analisis?”
“Semua hal itu analisis.”
Kami masuk ke lantai dua, lorong toko emas. Etalase kaca berderet memantulkan cahaya lampu neon yang terlalu terang. Di balik kaca, kalung, gelang, dan cincin berkilau di atas beludru merah.
Tasya berhenti di depan toko pertama. Meli berhenti di depan toko kedua. Aku berdiri di tengah lorong dengan tas kecil di bahu.
Lalu aku melihat mereka.
Toko emas nomor empat dari ujung lorong, Toko Mas Sinar Jaya, dengan papan nama merah dan tulisan kuning. Di depan etalase paling dalam, dua orang duduk di kursi tinggi dan membelakangiku.
Yang satu memakai kemeja flanel abu-abu dengan lengan digulung sampai siku.
Yang satu lagi memakai kardigan kuning dengan pita hijau di rambut.
Aku berhenti bernapas.
Rendra dan Sasa duduk berdampingan di depan etalase cincin. Di depan mereka ada nampan beludru berisi deretan cincin emas polos. Cincin kawin, jenis yang dijual berpasangan: satu yang lebih besar dan satu yang lebih kecil.
Sasa mengangkat salah satu cincin kecil dan memasangnya di jari manis kirinya. Ia mengangkat tangannya ke cahaya lampu dan memutar-mutarnya, lalu tertawa.
Rendra mengambil tangan Sasa. Ia memegangnya dengan hati-hati, memeriksa cincin di jari manis itu, dan memutarnya sedikit dengan ibu jarinya, seperti memeriksa ukuran. Lalu ia mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar, dan Sasa mengangguk dengan antusias.
Penjual toko, bapak-bapak berkumis dengan kemeja batik, tersenyum lebar dan berkata dengan suara yang cukup keras untuk terdengar sampai ke lorong:
“Untuk pernikahan, Mas? Wah, selamat ya! Pasangan yang serasi!”
Aku tidak mendengar jawaban Rendra.
Aku tidak mendengar apa-apa lagi.
“KIR.”
Tasya mencengkeram lenganku. Meli mencengkeram lenganku yang satunya. Keduanya menatap ke arah yang sama dengan mata sebesar uang logam.
“Itu,” bisik Meli, “asisten dosen Statistika?”
“Yang payung?” bisik Tasya.
“Yang payungnya miring?”
“Sama siapa itu?”
“Kok beli cincin?”
“Cincin kawin?”
“Pak penjualnya bilang pernikahan!”
Tasya dan Meli saling tatap, lalu menatapku bersamaan. Wajah mereka campuran antara ngeri, penasaran, dan senang karena mendapat bahan gosip terbesar semester ini.
“Kir,” kata Tasya perlahan, “kamu nggak apa-apa?”
Aku tidak menjawab. Aku sedang sibuk mencari tempat bersembunyi.
Di sebelah toko emas nomor empat ada toko kebaya pengantin. Di depannya berdiri sebuah manekin berkebaya putih lengkap dengan sanggul, konde, dan untaian melati plastik yang menjuntai sampai ke dada.
Aku bersembunyi di balik manekin itu.
Tasya dan Meli, tanpa perlu diberi instruksi, ikut bersembunyi di sebelahku. Tiga mahasiswi semester tujuh, salah satunya Ketua BEM FEB dan calon mahasiswa berprestasi peringkat dua se-universitas, berjongkok di belakang manekin pengantin di lantai dua Pasar Baru.
“Ngapain kita sembunyi?” bisik Meli.
“Aku nggak tahu,” bisikku.
“Kamu yang sembunyi duluan!”
“Refleks.”
Dari balik bahu manekin, di antara untaian melati plastik, aku bisa melihat toko emas itu dengan jelas. Sasa sekarang mencoba cincin kedua dan menunjukkannya pada Rendra. Rendra mengangguk. Sasa bertepuk tangan kecil, lalu memeluk lengan Rendra dengan kedua tangannya. Rendra tidak menarik lengannya.
Ia tersenyum.
Aku bisa melihatnya bahkan dari jarak sepuluh meter, bahkan dari balik melati plastik. Senyumnya kecil, tapi nyata. Senyum yang sama seperti di atas panggung KKN, waktu anak-anak desa berteriak LIMAAA.
Senyum yang kukira milikku.
“Mbak-mbak,” kata seorang perempuan paruh baya dari dalam toko kebaya, pemiliknya, dengan meteran kain melingkar di leher. “Mau fitting kebaya?”
“Nggak, Bu,” jawab Tasya.
“Terus ngapain jongkok di belakang manekin saya?”
“Kami... mengagumi sanggulnya, Bu.”
Pemilik toko menatap kami dengan kecurigaan yang sangat wajar. Lalu matanya jatuh padaku. Mungkin karena aku satu-satunya yang wajahnya pucat pasi.
“Mbaknya kenapa? Kayak lihat mantan.”
Tasya dan Meli menahan napas bersamaan.
Aku berdiri pelan-pelan. Kakiku kesemutan. Kepalaku pusing. Di dalam dadaku sesuatu bergerak dan retak, seperti es di permukaan kolam yang diinjak terlalu keras.
“Bukan mantan, Bu,” kataku. Suaraku datar, dan kali ini aku tidak bangga. “Belum pernah jadi apa-apa.”
Lalu aku berjalan keluar dari lorong toko emas, turun tangga, dan keluar dari Pasar Baru. Tasya dan Meli berlari kecil di belakangku sambil memanggil namaku.
Aku menemukan bangku kosong di trotoar Jalan Otto Iskandardinata, di bawah pohon angsana yang daunnya berguguran kuning. Aku duduk. Tasya duduk di kiriku. Meli duduk di kananku sambil memegang segelas es cendol yang entah kapan ia beli.
“Kir,” kata Tasya hati-hati. “Kamu mau cerita?”
“Nggak.”
“Oke.”
Kami duduk diam. Klakson, angkot, dan tukang parkir yang meniup peluit bersahut-sahutan.
“Tapi,” kata Meli, menyodorkan es cendol padaku, “kalau kamu mau nangis, kami bisa pura-pura nggak lihat. Kami jago pura-pura nggak lihat. Kami udah latihan di rapat BEM, waktu Gio salah presentasi.”
Aku tertawa. Tawa yang retak di tengah, seperti suara piring yang pecah pelan.
Aku mengambil es cendol itu. Dingin di tanganku yang gemetar.
Cincin kawin. Untuk pernikahan, Mas? Pasangan yang serasi.
Semua potongan tiba-tiba tersusun di kepalaku seperti slide presentasi yang diurutkan otomatis. Surat bergambar hati diarsir penuh. Aku tunggu kamu pulang. Kertas lilac di mesin kasir Bu Ratna. Cabai dari kebun ayah Sasa, yang hafal Rendra tidak kuat pedas. Kalau sayang sama orang, dia ngerepotin. Rendra yang mengantar Sasa ke terminal. Surat balasan pertama dengan tinta merah. Harusnya aku bales dari dulu.
Dan sekarang cincin kawin.
Mereka bukan pacaran diam-diam. Mereka bukan sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Mereka akan menikah. Mungkin setelah wisuda. Mungkin itu sebabnya dua keluarga sudah saling kirim hasil kebun. Mungkin itu sebabnya Bu Ratna menyuruh Sasa sering-sering main ke toko. Mungkin itu sebabnya ada makan malam di hari Sabtu, jam tujuh, aku tunggu kamu pulang.
Dan aku mencium Rendra dua kali.
Sekali di toko buku, di tengah hujan. Sekali lagi di perpustakaan, dengan kondisi terkontrol, sebagai “eksperimen”.
Aku mencium tunangan gadis yang naik bus empat jam demi memelukku.
Es cendol di tanganku mulai mencair. Aku tidak meminumnya.
“Kir.” Tasya menyentuh bahuku. “Muka kamu kayak orang yang baru dapat nilai C.”
“Aku belum pernah dapat nilai C.”
“Makanya mukamu kayak gitu. Belum pernah latihan.”
Malam itu aku duduk di meja belajar dengan planner terbuka di halaman OPERASI REBUT HATI.
Aku menatap halaman itu lama sekali. Tujuannya, tahapannya, analisis risikonya. Risiko 2: Mulai suka Sasa juga. Risiko 3: Dia bilang “kamu cari sendiri.” Risiko 4: Sasa menyerah demi aku.
Aku mengambil pulpen hitam bekas gigitan dan mencoret seluruh halaman itu dengan satu garis diagonal yang tebal. Sangat tebal, supaya tidak ada yang bisa membacanya lagi.
Lalu aku membuka halaman baru dan menulis:
RENCANA MUNDUR
Tidak ada slide untuk rencana ini. Hanya tiga baris.
1. Berhenti ke perpustakaan hari Kamis.
2. Berhenti membalas pesan yang tidak berhubungan dengan urusan BEM.
3. Biarkan mereka bahagia.
Aku menatap tiga baris itu, lalu menambahkan baris keempat dengan tangan yang tidak mau berhenti gemetar.
4. Surat.
Aku berhenti.
Janjiku pada Gio: kembalikan surat itu minggu depan dan akui semuanya.
Tapi kalau aku mengembalikannya sekarang, Rendra akan tahu. Ia akan tahu bahwa perempuan yang ia cium di toko buku adalah perempuan yang mencuri surat dari tunangannya. Ia akan tahu bahwa semua pertemuan kami, pulpen, payung, dan murid palsu, dimulai dari surat curian itu. Kepercayaannya pada Sasa, yang baru saja mulai tumbuh, mungkin ikut goyah. Kenapa kamu berteman dengan orang seperti itu?
Dan Sasa akan tahu bahwa sahabat yang ia peluk di teras posko KKN, yang ia bawakan tempe dingin setelah empat jam perjalanan, adalah orang yang merampas balasan untuk surat terpentingnya.
Mereka akan menikah. Mereka akan bahagia. Kenapa harus merusak itu dengan kebenaran yang tidak lagi mengubah apa-apa?
Aku menulis baris keempat:
4. Surat: simpan. Kembalikan setelah mereka menikah. Atau jangan pernah. Kebenaran ini tidak akan membuat siapa pun lebih bahagia.
Aku membaca baris itu dan merasa sangat bijaksana, sangat dewasa, dan sangat baik hati.
Aku belum tahu waktu itu bahwa kebaikan yang paling berbahaya adalah kebaikan yang terasa sangat masuk akal.
Aku mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan Rendra ☂️.
Pesan terakhirnya masih di layar, dikirim kemarin malam, Sabtu, setelah bazar:
Lembar observasi sudah kusiapkan. 28 kolom lagi.
Aku menatap pesan itu sampai mataku panas.
Lalu aku mengetik:
Aku minta maaf soal eksperimen di perpustakaan. Itu salah. Aku nggak seharusnya melakukan itu.
Kita jangan ketemu dulu.
Aku menekan kirim sebelum sempat membaca ulang. Lalu aku mematikan ponsel, bukan hanya mengunci layarnya, dan memasukkannya ke laci meja belajar.
Pulpen hitam bekas gigitan masih di tanganku. Aku menatapnya lama.
Lalu aku memasukkannya juga ke laci, di sebelah ponsel yang mati, dan mengambil pulpen biasa dari tempat pensil. Pulpen biru, murah, dari toko fotokopi, tanpa bekas gigitan dan tanpa sejarah apa pun.
Aku menulis tanggal besok di planner dengan pulpen biru itu, dan jadwalku: Kuliah Manajemen Strategik 08.00. Rapat evaluasi Dies Natalis 13.00. Kamis: kantin FEB, BUKAN perpustakaan.
Tulisanku terlihat sama seperti biasa: rapi, tegak, dan sejajar dengan garis. Tidak ada yang bisa melihat bedanya dari luar.
Tapi aku bisa. Tanpa pulpen itu, tanganku terasa seperti tangan orang lain.
Senin pagi, Gio menemukanku di sekretariat BEM pukul enam lewat empat puluh, satu jam dua puluh menit sebelum kuliah pertama. Aku sedang merapikan map-map cokelat yang sudah rapi.
“Kir, kamu ngapain jam segini?”
“Merapikan map.”
“Mapnya udah rapi.”
“Sekarang lebih rapi.”
Gio menatapku, menatap map-map itu, dan menatap tanganku yang merapikan map yang sama untuk ketiga kalinya.
“Tasya cerita,” katanya pelan. “Soal Pasar Baru.”
Aku berhenti.
“Kir. Kamu yakin itu yang kamu lihat? Maksudku, kamu yakin artinya seperti yang kamu pikir?”
“Cincin kawin, Gi. Penjualnya bilang ‘untuk pernikahan’. Sasa pakai di jari manis. Rendra pegang tangannya.”
“Tapi...”
“Mereka akan menikah.” Aku meletakkan map terakhir di tumpukan dan menyejajarkan sudutnya dengan tepi meja. “Dan aku bukan orang yang merusak pernikahan orang, Gi. Aku sudah terlalu banyak merusak.”
Gio diam lama.
“Terus suratnya?”
“Aku simpan.”
“Kir, kamu janji...”
“Aku tahu aku janji.” Suaraku pecah sedikit di tengah, dan aku buru-buru menambalnya. “Tapi kalau aku balikin sekarang, semuanya hancur. Rendra jadi nggak percaya sama Sasa karena temannya pencuri. Sasa jadi sedih. Mereka mau menikah, Gi. Kenapa aku harus merusak itu cuma supaya aku merasa lebih bersih?”
Gio menatapku dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bukan marah, bukan kecewa. Lebih seperti orang yang melihat temannya berjalan dengan yakin ke arah tembok, dan tahu teriakan apa pun tidak akan terdengar.
“Kir,” katanya akhirnya, sangat pelan. “Kamu yakin itu buat mereka? Atau buat kamu?”
Aku tidak menjawab.
Di luar jendela sekretariat, matahari pagi mulai naik di atas gedung-gedung kampus. Di suatu tempat di gedung Matematika, di lantai dua, seseorang mungkin sedang membaca pesan terakhir yang kukirim.
Dan di laci meja belajar di kamarku, sebuah pulpen hitam dengan bekas gigitan di tutupnya berbaring dalam gelap, di sebelah ponsel yang mati.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak tahu di mana pulpen itu seharusnya berada.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase reading
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama