Chapter Two
Operasi Rebut Hati
POV: Kirana
Makan malam di rumah kami selalu dimulai pukul tujuh tepat, dan selalu dibuka dengan pertanyaan yang sama.
“Bagaimana hari ini?”
Mama tidak menanyakannya seperti ibu-ibu di iklan sirup. Ia menanyakannya seperti dosen penguji yang membuka sidang skripsi. Dr. Diah Anindya, Lektor Kepala Fakultas Ekonomi dan Bisnis UDB, duduk tegak di ujung meja makan dengan kacamata baca yang belum dilepas sejak sore.
“Rapat BEM selesai dua menit lebih cepat,” jawabku.
“Dua menit.” Mama mengiris ayam panggangnya. “Artinya ada agenda yang terlalu cepat dibahas, atau jadwalnya yang kurang presisi.”
“Artinya aku efisien, Ma.”
“Artinya kamu bisa lebih presisi.”
Papa sedang di Jakarta. Ia selalu di Jakarta dari Senin sampai Jumat, jadi kursi di seberangku kosong. Kursi kosong itu jauh lebih mudah diajak bicara daripada Mama.
“Pak Harun bilang kamu dicalonkan untuk mahasiswa berprestasi tingkat universitas,” lanjut Mama. “Seleksi berkas bulan depan. Pastikan tidak ada yang kurang.”
“Iya, Ma.”
“Dan jangan kebanyakan ke perpustakaan kalau cuma duduk. Mama dengar dari Bu Lastri kamu di sana setiap Kamis sampai sore.”
Sendokku berhenti di udara.
Kampus ini punya empat puluh ribu mahasiswa, dan entah bagaimana Mama punya informan di setiap lantainya.
“Aku belajar, Ma.”
“Belajar itu ada hasilnya. Duduk itu tidak.” Mama menatapku dari balik kacamata. “Nilai kamu sudah bagus. Jangan sampai turun karena hal-hal yang tidak perlu.”
Aku mengangguk. Mama mengangguk balik, puas, lalu matanya turun ke kursi di sebelahku, tempat tasku biasa diletakkan.
“Planner-mu mana? Biasanya kamu bawa ke meja makan.”
Setiap malam, sejak SMA, aku membuka planner di meja makan dan Mama membacakan jadwalku untuk besok, lalu menambahkan satu atau dua hal yang menurutnya kurang. Itu ritual kami. Satu-satunya saat Mama duduk cukup lama di dekatku.
“Ketinggalan di kamar, Ma.”
“Ambil.”
“Besok aja, Ma. Jadwal besok cuma kuliah sama rapat.”
Mama menatapku sedikit lebih lama dari biasanya. Sepersekian detik. Lalu ia kembali ke ayam panggangnya.
“Jangan jadi pelupa. Orang pelupa itu tidak bisa dipercaya.”
“Iya, Ma.”
Planner itu ada di pangkuanku, di balik taplak meja, dan terasa seperti batu bara yang menyala. Di halaman belakangnya ada satu hal yang sangat, sangat tidak perlu.
Pukul sebelas malam, pintu kamar terkunci. Laptop terbuka, dan lampu belajar menyorot layar seperti lampu interogasi.
Aku membuat presentasi.
Bukan untuk BEM, bukan untuk kelas. Untuk diriku sendiri.
Slide pertama, latar putih, huruf hitam tegas:
OPERASI REBUT HATI Dokumen Rahasia. Dilarang Dibaca oleh Siapa Pun, Terutama Mama.
Slide kedua: LATAR BELAKANG MASALAH.
- Subjek R sudah memiliki hubungan dengan Subjek S (bukti: surat lilac, lampiran 1).
- Hubungan tersebut bersifat rahasia (tidak pernah terlihat bersama di kampus).
- Pihak pertama (aku) telah melakukan pengamatan pasif selama tiga tahun tanpa hasil.
Slide ketiga: TUJUAN.
- Jangka pendek: mengidentifikasi Subjek S.
- Jangka menengah: mendekati Subjek S.
- Jangka panjang: [dikosongkan karena terlalu memalukan untuk diketik]
Slide keempat: STRATEGI.
- Tahap 1: Pengumpulan data.
- Tahap 2: Infiltrasi. Menjadi teman Subjek S.
- Tahap 3: Distraksi. Menjauhkan Subjek S dari Subjek R lewat kesibukan, pergaulan baru, dan kegiatan BEM.
- Tahap 4: Muncul sebagai alternatif yang masuk akal.
Aku menatap slide keempat cukup lama.
Muncul sebagai alternatif yang masuk akal.
Kalimat itu terdengar seperti proposal merger perusahaan, dan itulah masalahnya. Aku tidak tahu cara lain untuk menginginkan sesuatu selain lewat bagan alir.
Slide kelima kututup dengan tabel ANALISIS RISIKO. Risiko terbesar kuberi warna merah: Ketahuan. Mitigasinya: Jangan ketahuan.
Aku menyimpan file itu dengan nama `laporan_keuangan_draft_final_v3.pptx` supaya tidak ada manusia yang mau membukanya.
Lalu aku menutup laptop, berbaring, dan menatap langit-langit sampai pukul dua pagi. Aku bertanya-tanya sejak kapan Ketua BEM FEB yang namanya dipajang di papan Mahasiswa Berprestasi jadi orang yang membuat analisis risiko untuk menikung pacar orang.
Jawabannya: sejak pukul 16.58 tadi sore, di depan rak pesanan.
“Aku butuh bantuanmu,” kataku keesokan paginya di sekretariat BEM.
Gio sedang makan roti isi cokelat sambil memeriksa laporan pertanggungjawaban divisi olahraga. Ia berhenti mengunyah, menatapku, lalu meletakkan rotinya pelan-pelan seperti sedang meletakkan senjata.
“Kamu nggak pernah bilang butuh bantuan. Kamu biasanya bilang ‘kerjakan’.”
“Hari ini aku bilang butuh bantuan.”
“Aku takut.”
“Kamu punya akses ke database kemahasiswaan, kan? Yang buat pendataan peserta program BEM?”
“Punya. Kenapa?”
“Aku mau cari mahasiswi bernama Sasa.”
Gio menatapku selama tiga detik. “Buat apa?”
Aku sudah menyiapkan jawaban ini sejak di kamar mandi tadi pagi. “Program mentoring lintas fakultas. Ada senior yang merekomendasikan satu nama, Sasa, katanya potensial jadi mentor. Tapi aku lupa nama lengkapnya.”
“Senior siapa?”
“Senior.”
“Namanya?”
“Rahasia. Programnya belum diumumkan.”
Gio menyipitkan mata. Selama tiga tahun jadi wakilku, ia sudah melihatku berbohong ke rektorat, dekanat, dan satu kali ke vendor sound system yang telat datang. Tapi ia belum pernah melihatku berbohong untuk urusan yang tidak ada di proker.
“Oke,” katanya akhirnya, sambil membuka laptop. “Tapi kalau ini ternyata urusan pribadi, aku minta imbalan.”
“Apa?”
“Rapat depan, jangan risoles.”
“Setuju.”
“Wow,” gumam Gio. “Jadi ini beneran urusan pribadi.”
Aku memilih tidak menjawab.
Hasil pencarian pertama: tujuh mahasiswi aktif UDB dengan nama panggilan Sasa. Rupanya itu nama panggilan yang cukup populer.
“Sasa Febrianti, Teknik Sipil semester lima,” Gio membaca dengan nada presenter berita. “Ketua himpunan pecinta alam. Hobi panjat tebing.”
Aku membayangkan perempuan yang bisa memanjat tebing, menggambar hati dengan tinta ungu, lalu menunggu seseorang pulang. Tidak cocok. Tulisan tangan di surat itu terlalu bulat untuk orang yang tangannya penuh kapur magnesium.
“Coret.”
“Sasa Amelia, Farmasi semester tujuh.”
“Dia seangkatan. Surat itu, maksudku rekomendasinya, bilang ‘adik tingkat’. Coret.”
Gio melirikku. “Surat?”
“Rekomendasi. Aku bilang rekomendasi.”
“Kamu bilang surat.”
“Gi. Lanjut.”
Ia lanjut, dengan senyum yang sangat mengganggu.
Tiga nama berikutnya kucoret karena alasan yang semakin mengada-ada: terlalu jauh fakultasnya, terlalu banyak foto selfie di profil, dan satu karena namanya ternyata Sasa tapi laki-laki.
“Terakhir,” kata Gio. “Salsabila Wiratama, Sastra Indonesia, semester tiga. Staf divisi humas BEM universitas.” Ia memutar laptop ke arahku. “Nih, fotonya.”
Foto profil mahasiswa selalu jelek. Itu hukum alam. Tapi bahkan dalam foto berlatar biru dengan pencahayaan seadanya, Salsabila Wiratama terlihat seperti orang yang baru saja diberi kabar gembira. Matanya bulat, pipinya penuh, rambutnya diikat dua dengan pita. Ia tersenyum terlalu lebar untuk foto resmi.
Sastra Indonesia. Tinta ungu. Tulisan bulat.
“Ini dia,” kataku pelan.
“Kok yakin?”
Karena orang yang kuliah Sastra Indonesia adalah orang yang akan menulis “aku tunggu kamu pulang” dan sungguh-sungguh memaksudkannya.
“Intuisi kepemimpinan,” jawabku.
Gio menutup laptop perlahan. “Kir. Aku mau tanya satu hal sebagai temanmu, bukan wakilmu.”
“Jangan.”
“Kamu lagi naksir cewek ini?”
Aku menatapnya dengan tatapan yang biasanya kupakai untuk bendahara yang telat setor laporan.
“Oke, bukan,” Gio mengangkat tangan. “Oke. Program mentoring. Sangat penting. Aku percaya.”
Lalu, sambil membereskan laptopnya, ia menambahkan dengan nada ringan, “Tapi kalau program mentoringnya butuh orang buat nemenin makan siang, aku daftar. Kantin FIB nggak ada risoles, kan?”
“Nggak ada.”
“Surga.”
Ia tidak percaya ceritaku. Tapi ia juga tidak bertanya lagi, dan itu satu hal yang tidak pernah kusadari tentang Gio selama tiga tahun: ia tahu kapan harus berhenti.
Kamis berikutnya, meja sembilan, pukul 16.25.
Aku datang lima menit lebih awal. Kali ini aku datang dengan tujuan jelas: mengamati Subjek R untuk mencari tanda-tanda Subjek S. Pola pesan di ponselnya, cara ia tersenyum saat membaca sesuatu, atau apa pun yang bisa masuk ke slide tambahan.
Aku sudah menyiapkan halaman khusus di planner dengan judul LOG PENGAMATAN SUBJEK R, lengkap dengan kolom jam, aktivitas, dan indikasi keterlibatan Subjek S.
Pukul 16.30, Subjek R datang. Tepat waktu, seperti biasa. Pukul 16.32, Subjek R minum air putih dari botol hijau, tiga teguk. Pukul 16.35, Subjek R membuka ponsel, lalu menutupnya lagi tanpa membalas apa pun. Indikasi: menghindari seseorang? Pukul 16.40, Subjek R menggaruk alis kiri dengan ujung pulpen merah. Indikasi: tidak ada. Tapi itu lucu.
Aku mencoret kata “lucu” dan menggantinya dengan “tidak relevan”.
Aku menunduk untuk mengeluarkan laptop dari tas. Tempat pensilku tersangkut di resleting, dan saat kutarik dengan kesal, isinya berhamburan ke lantai. Stabilo, penghapus, penggaris besi, dan tiga pulpen berguling ke segala arah.
Salah satunya berguling paling jauh, melewati meja sepuluh, sebelas, dua belas, lalu berhenti tepat di depan sepasang sepatu kanvas abu-abu.
Pemilik sepatu itu berjongkok dan memungutnya.
Rendra Mahesa membolak-balik pulpen hitam itu di antara jarinya. Lalu ia berhenti di bagian tutupnya, tepat di bekas gigitan yang sudah memudar setelah tiga tahun.
Ia menatap pulpen itu lama sekali.
Lalu ia berjalan ke mejaku. Aku masih setengah berjongkok, mengejar stabilo kuning yang masuk ke kolong kursi.
“Ini punyamu?”
“Iya.” Aku berdiri terlalu cepat, dan kepalaku hampir membentur tepi meja. “Terima kasih.”
Ia tidak langsung menyerahkannya. Ia memutar pulpen itu sekali lagi.
“Ini pulpenku.”
Otakku menyalakan alarm kebakaran di semua lantai.
“Pulpen hitam itu semua mirip,” kataku. “Ini pulpen pabrikan. Diproduksi massal. Jutaan. Mungkin miliaran.”
“Tutupnya kugigit.” Ia menunjuk bekas gigitan itu dengan ujung jari. “Dulu aku gugup tiap ujian. Ini bekas gigiku.”
“Banyak orang menggigit pulpen.”
“Bentuk gigitannya miring ke kiri. Gigi taringku agak maju.” Ia menatapku, datar, tanpa ekspresi. “Mau lihat?”
“Nggak usah!”
Beberapa mahasiswa di meja lain menoleh. Aku menurunkan suaraku ke volume perpustakaan dan menurunkan harga diriku ke volume lantai.
“Ujian gabungan semester satu,” kata Rendra, lebih ke dirinya sendiri. “Pulpenmu macet. Aku nggak pernah tahu itu kamu.”
“Itu bukan aku.”
“Kamu duduk di bangku B-12. Aku B-13.”
“Kamu hafal nomor bangku tiga tahun lalu?”
“Aku hafal banyak hal yang nggak penting.” Ia berhenti sebentar. “Kamu simpan tiga tahun?”
Jantungku bekerja seperti mesin fotokopi yang macet: keras, berulang-ulang, dan tidak menghasilkan apa-apa.
“Aku,” kataku, lalu mencari kata apa pun yang bisa menyelamatkan situasi. “Aku orang yang sangat rapi. Aku nggak pernah buang barang yang masih berfungsi. Itu prinsip keberlanjutan. Ada dalam SDGs nomor dua belas, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.”
Rendra memandangiku. Sudut bibirnya bergerak lagi, kali ini sedikit lebih jauh daripada minggu lalu.
“SDGs nomor dua belas,” ulangnya.
“Kamu bisa cek.”
“Aku percaya.”
Lalu ia meletakkan pulpen itu di mejaku, tepat di tengah, tepat di atas planner kulit cokelat. Di dalam planner itu, sebuah amplop lilac tersembunyi di antara daftar belanja dan jadwal rapat.
“Simpan aja,” katanya. “Kayaknya kamu lebih butuh daripada aku.”
Ia kembali ke meja empat belas.
Pukul lima tepat ia membereskan buku. Di depan tangga, seperti Kamis lalu, ia berhenti dan menoleh. Kali ini ia tidak bertanya aku mau ke mana. Ia hanya mengetuk gigi taringnya sendiri dua kali dengan ujung jari, sangat pelan, lalu turun.
Aku butuh sepuluh detik untuk mengerti bahwa itu lelucon.
Aku butuh sepuluh menit lagi untuk berhenti tersenyum.
Aku menatap pulpen itu, lalu menatap tangga yang sudah kosong, dan sadar bahwa tidak ada satu pun slide di presentasiku yang menjelaskan apa yang baru saja terjadi.
Sisa sore itu aku tidak mencatat satu pun data tentang Subjek S. Yang kucatat, dengan pulpen bekas gigitan itu, di pojok halaman planner dengan huruf yang sangat kecil:
Gigi taringnya agak maju.
Lalu, setelah ragu cukup lama:
Dia hafal nomor bangkuku.
Dua fakta yang sama sekali tidak relevan untuk Operasi Rebut Hati.
Aku menggarisbawahi keduanya dua kali.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati reading
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama