Chapter Twenty Two
Terang-terangan
POV: Rendra
Sasa membuka kado itu setelah puding gunung meletus habis.
Aku tahu kado itu dari siapa sebelum kertasnya dirobek. Bungkusnya kertas cokelat polos, pitanya kuning dan diikat simetris sempurna, dan ujung selotipnya dilipat ke dalam supaya mudah dibuka. Hanya satu orang di dunia yang membungkus kado seperti membuat laporan pertanggungjawaban.
Orang itu duduk di seberang meja dan berusaha menyatu dengan kursi.
“Kak Kirana kasih kado!” Sasa menarik pitanya dengan hati-hati, seperti membuka bom. “Buat aku sama Kak Ren! Katanya buat kalian!”
“Sasa,” kata Anindya dengan suara kecil. “Nggak usah dibuka sekarang.”
“Harus sekarang, Kak! Aku nggak sabar!”
Kertas cokelat terbuka. Di dalamnya ada sebuah rumah-rumahan kecil dari kayu jati dengan enam laci mungil. Setiap laci diberi label dengan huruf tangan yang rapi: garam, gula, merica, ketumbar, kunyit, cabai.
“Tempat bumbu!” Sasa memekik. “Lucu banget! Kayak rumah boneka!”
Lalu ia menemukan kartu kecil di bawah pita. Ia membacanya keras-keras, karena Sasa membaca semua hal dengan keras.
“Untuk Sasa dan Rendra. Semoga rumah kalian selalu penuh rasa.”
Hening.
Om Hendra menutup mulut dengan serbet. Bahunya bergetar. Ibu menggigit bibir sampai merah. Sasa membaca kartu itu sekali lagi dalam hati, dan wajahnya perlahan berubah jadi ungu karena menahan tawa.
Anindya menutup wajah dengan kedua tangan.
“Aku bisa jelaskan,” katanya dari balik tangannya.
“Nggak usah, Neng!” Ibu akhirnya menyerah dan tertawa terbahak-bahak. “Cocok! Cocok sekali! Ini rumah baru buat kita semua! Taruh di dapur rumah baru! Mas, kita pakai ya!”
“Kita pakai,” kata Om Hendra dari balik serbet, suaranya bergetar. “Laci cabainya buat Ren. Isinya cabai nggak pedas.”
Semua orang tertawa. Anindya mengintip dari celah jarinya, dan waktu matanya bertemu mataku, ia langsung menutupnya lagi.
Aku tidak tertawa. Aku ingin, tapi aku sibuk memperhatikan hal lain: ujung telinganya yang merah menyala dari balik rambut, jari-jarinya yang gemetar sedikit di wajahnya, dan caranya duduk, tegak tapi kaku, seperti orang yang sedang menahan sesuatu yang jauh lebih berat dari rasa malu.
Rasa malu biasanya membuatnya marah dan menyusun alasan. SDGs nomor dua belas. Aku verifikasi. Replikasi.
Malam ini ia tidak menyusun alasan apa pun.
Ada sesuatu yang lain. Variabel yang masih hilang. Aku bisa merasakannya seperti tanda minus yang belum ketemu.
“Ren antar Neng Kirana pulang,” kata Ibu di ambang pintu pukul sembilan malam, dengan nada yang tidak menerima bantahan dari siapa pun, termasuk Anindya.
“Saya bisa pesan ojek, Bu...”
“Neng Kirana,” kata Ibu dengan senyum paling manis di dunia, “Ren sudah beli kemeja putih.”
Anindya menatapku. Aku menatap kemeja putihku, yang bahunya bernoda gas dan kerahnya kusut.
“Kemejanya kotor,” kata Anindya.
“Niatnya bersih,” kata Ibu.
Lima menit kemudian, ia duduk di jok belakang motor matikku dengan gaun batik biru tua dan helm cadangan yang kebesaran. Helm itu milik Ibu, berwarna merah muda, dengan stiker Hello Kitty di belakangnya.
“Pegangan,” kataku.
“Aku bisa seimbang.”
“Jalan Dago banyak polisi tidur.”
“Aku bisa seimbang di atas polisi tidur.”
Aku menjalankan motor. Di polisi tidur pertama, tangannya mencengkeram jaketku di pinggang. Di polisi tidur kedua, tangannya melingkar di pinggangku. Di polisi tidur ketiga, aku merasakan dahinya menempel di punggungku, sama seperti di kebun teh.
Aku mengambil jalan terjauh. Aku tidak merencanakannya. Tanganku saja yang terus membelokkan motor ke kiri waktu seharusnya ke kanan.
Kota Bandung malam minggu penuh lampu, angkot, dan penjual jagung bakar di pinggir jalan. Udaranya dingin, dan di punggungku ada kehangatan yang tidak pernah kuminta tapi sekarang tidak ingin kulepas.
Di lampu merah perempatan Simpang Dago, aku berbicara tanpa menoleh.
“Kamu kira aku mau nikah sama Sasa.”
Tangannya di pinggangku menegang.
“Jangan dibahas.”
“Kamu beli tempat bumbu.”
“Rendra.”
“Label cabainya bagus. Tulisan tanganmu.”
“Aku bakal lompat dari motor.”
“Lampunya masih merah. Motornya nggak jalan. Kamu cuma bakal berdiri di aspal pakai helm Hello Kitty.”
Aku merasakan tawanya di punggungku sebelum mendengarnya. Getaran kecil, lalu suara teredam yang keluar dari balik helm.
Lalu tawa itu berhenti.
“Maaf,” katanya pelan. Suaranya hampir hilang di antara suara knalpot motor-motor di sekitar kami. “Aku nggak ngerti kenapa aku bodoh banget.”
“Kamu nggak bodoh.”
“Aku bikin analisis risiko buat hal yang salah. Aku sembunyi di balik manekin pengantin. Aku kasih tempat bumbu ke calon kakak-adik.”
“Itu bukan bodoh,” kataku. “Itu kamu salah hitung karena datanya nggak lengkap. Sasa sengaja nggak cerita.”
Lampu hijau. Aku menjalankan motor.
“Anindya.”
“Hm?”
“Kamu menjauh karena kamu pikir aku punya Sasa.”
Ia tidak menjawab. Tangannya di pinggangku mengerat.
“Kamu bilang eksperimen itu salah,” lanjutku, “karena kamu pikir kamu ngambil punya orang.”
Masih tidak ada jawaban.
“Jadi kalau aku bukan punya siapa-siapa,” kataku, dan suaraku keluar lebih pelan daripada yang kuinginkan, tertelan angin malam, “eksperimennya masih salah?”
Dahinya menekan punggungku lebih keras. Lama sekali. Aku melewati dua lampu merah lagi sebelum ia menjawab, sangat pelan:
“Besok.”
“Besok apa?”
“Besok aku mau ngasih kamu sesuatu. Penting. Sebelum kamu ngomong apa pun. Sebelum aku ngomong apa pun.”
Aku mengerutkan dahi ke jalan di depanku. “Ngasih apa?”
“Besok.”
Suaranya aneh. Tidak malu dan tidak menggoda. Ada sesuatu di bawahnya, sesuatu yang berat dan hati-hati, seperti orang yang membawa gelas berisi air sampai ke bibir di tangga yang licin.
Aku tidak mendesak. Gio benar, kami berdua memang bodoh soal bicara langsung. Tapi aku juga tahu bahwa beberapa hal butuh waktu untuk diucapkan, seperti surat yang butuh delapan belas bulan untuk dibalas.
“Oke,” kataku. “Besok. Di toko?”
“Di toko.”
“Jam empat?”
“Jam empat.”
Rumahnya di kompleks perumahan dosen di utara kota. Bangunannya putih dua lantai, dengan pagar besi hitam, taman yang dipangkas rapi, dan lampu teras yang terlalu terang.
Aku menghentikan motor di depan pagar. Ia turun, melepas helm Hello Kitty, dan merapikan rambutnya dengan jari. Rambutnya kusut karena helm, dan jarinya gagal merapikannya. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku tidak mau ia tahu bahwa aku lebih suka rambutnya begitu.
“Terima kasih,” katanya, menyodorkan helm.
Aku mengambilnya. Jari kami bersentuhan di atas stiker Hello Kitty.
“Anindya.”
“Hm?”
“Soal yang di tangga FEB kemarin. Aku peluk kamu dari belakang tanpa izin. Itu...”
“Aku nggak keberatan.”
Aku berhenti.
Ia menatapku di bawah lampu jalan. Rambutnya kusut, gaunnya kusut karena duduk di motor, dan matanya bening seperti kolam yang baru dikuras.
“Aku nggak keberatan,” ulangnya pelan. “Aku cuma takut.”
“Takut apa?”
Ia membuka mulut untuk menjawab.
Pintu depan rumahnya terbuka.
Seorang perempuan paruh baya berdiri di ambang pintu dengan kardigan abu-abu dan kacamata baca yang belum dilepas. Rambutnya disanggul rendah, rapi tanpa satu helai pun yang keluar. Postur tubuhnya tegak seperti tiang bendera, dan matanya tajam seperti orang yang sedang mengaudit dosa orang lain.
Aku langsung tahu dari mana Anindya mendapatkan matanya.
“Kiran,” kata perempuan itu. Suaranya tidak keras, tapi entah bagaimana terdengar sampai ke ujung jalan. “Sudah jam sembilan lewat tiga puluh.”
“Iya, Ma.”
Matanya bergeser dariku ke motor matik hitam, ke helm Hello Kitty di tanganku, lalu ke kemeja putihku yang bernoda gas. Pelan, teliti, seperti membaca bab metodologi yang ia curigai cacat.
“Kamu,” katanya padaku. Bukan pertanyaan. “Anak Gang Kenari.”
Anindya menegang di sebelahku. Aku bisa merasakannya tanpa menyentuhnya, seperti merasakan perubahan tekanan udara sebelum hujan.
Aku bisa pergi. Aku bisa mengangguk sopan, menyalakan motor, dan menghilang. Itu yang akan kulakukan tiga bulan lalu. Menjaga jarak. Tidak melibatkan diri. Menunggu orang pergi supaya aku bisa kembali membaca.
Tapi aku sudah memakai kemeja putih.
Aku turun dari motor, meletakkan helm di jok, lalu berdiri tegak di depan pagar dan menunduk sedikit.
“Selamat malam, Bu,” kataku. “Saya Rendra Mahesa. Mahasiswa Matematika semester tujuh. Asisten dosen Statistika. Anak Gang Kenari.” Aku berhenti sebentar. “Dan saya yang telat sepuluh menit ngasih pulpen ke Kirana di ujian semester satu.”
Hening.
Perempuan itu menatapku dengan dahi berkerut. Anindya menatapku dengan mulut terbuka.
“Pulpen,” ulang ibunya perlahan.
“Pulpen Kirana macet di soal kedua, Bu. Saya duduk di sebelahnya. Saya kasih pulpen saya, tapi telat. Sepuluh menit.” Aku menatap matanya, mata yang sama dengan mata anaknya. “Nilai A-minus itu sebagian salah saya. Kalau Ibu mau nyalahin seseorang soal nol koma nol dua, salahin saya. Bukan dia.”
Hening lebih lama.
Di dalam rumah, sebuah jam dinding berdentang satu kali. Setengah sepuluh.
Ibu Anindya menatapku selama waktu yang terasa seperti satu semester penuh. Lalu matanya bergeser ke anaknya, yang masih berdiri dengan mulut terbuka, rambut kusut, dan gaun batik yang kusut.
“Masuk, Kiran,” katanya.
Hanya itu. Tanpa ekspresi dan tanpa komentar. Lalu ia berbalik dan masuk ke rumah, meninggalkan pintu terbuka.
Anindya tidak langsung bergerak. Ia menatapku di bawah lampu jalan dengan wajah yang tidak bisa memutuskan mau tertawa, menangis, atau memukulku dengan helm Hello Kitty.
“Kamu gila,” bisiknya.
“Aku jujur.”
“Itu gila.”
“Kadang-kadang sama aja.”
Ia menatapku lama. Lalu, sebelum aku sempat melihat datangnya, ia melangkah maju, berjinjit, dan mencium pipiku. Cepat sekali, sepersekian detik, seperti tetes hujan pertama yang jatuh sebelum gerimis.
“Besok,” katanya. “Jam empat.”
Lalu ia berlari masuk ke rumah dan menutup pintu.
Aku berdiri di depan pagar besi hitam dengan tangan di pipi dan helm Hello Kitty di jok motor sampai lampu teras rumah itu padam.
Minggu pukul 15.40, aku sudah menyapu toko tiga kali.
Aku menata rak depan, menyiram cabai rawit (sekarang buahnya empat), dan membersihkan kursi hijau berbantal bunga dengan lap basah. Aku mengelapnya dua kali, lalu merasa bodoh, lalu mengelapnya sekali lagi.
“Ren,” kata Ibu dari balik tirai dapur. “Kamu udah bersihin kursi itu lima kali.”
“Tiga.”
“Lima. Ibu hitung.”
“Sejak kapan Ibu menghitung?”
“Sejak kamu mulai senyum-senyum sambil nyapu.” Ibu muncul dengan celemek dan sendok penggorengan. “Neng Kirana mau datang?”
“Jam empat.”
“Ibu goreng pisang.”
“Bu, jangan...”
“Ibu goreng pisang dan Ibu diam di dapur. Ibu nggak keluar. Ibu nggak ngintip. Ibu janji.” Ibu mengangkat sendok penggorengan seperti mengangkat sumpah. “Kecuali pisang gorengnya matang. Kalau matang, Ibu harus antar. Pisang goreng dingin itu dosa.”
Aku tidak membantah. Tidak ada gunanya membantah Ibu soal pisang goreng.
Pukul 15.58, bel di atas pintu berbunyi.
Anindya masuk dengan kemeja biru muda, celana kain, dan tas kulit cokelat di bahu. Rambutnya rapi lagi, dan wajahnya rapi. Tapi matanya lelah, seperti orang yang tidak tidur semalaman dan menghabiskan waktunya untuk menulis sesuatu lalu mencoretnya berulang kali.
“Kamu tepat waktu,” kataku.
“Dua menit lebih cepat.”
“Artinya ada agenda yang terlalu cepat dibahas,” kataku, “atau jadwalnya yang kurang presisi.”
Ia berhenti di ambang pintu dan menatapku dengan mata lebar.
“Itu kalimat Mama.”
“Aku tahu. Kamu pernah cerita waktu KKN.” Aku menunjuk kursi hijau di pojok. “Duduk.”
Ia menatap kursi itu. Kursi plastik hijau dengan bantal krem bermotif bunga kuning, yang baru dilap lima kali. Kursi untuk tamu yang mau lama.
Ia tidak duduk. Ia meletakkan tasnya di atas kursi itu. Hanya tasnya.
“Aku berdiri aja,” katanya.
Aku tidak mendesak. Tapi aku mencatatnya di kepala: tasnya duduk di kursi hijau, dirinya belum.
Kami berdiri berhadapan di antara rak-rak buku. Lampu kuning menyala redup meski di luar masih terang. Dari dapur tercium bau minyak panas dan pisang.
“Kamu bilang mau ngasih sesuatu,” kataku.
“Iya.”
“Aku juga mau bilang sesuatu.”
“Aku duluan.”
“Kenapa kamu duluan?”
“Karena...” Ia menarik napas panjang. “Karena kalau kamu duluan, aku nggak akan berani.”
Aku menatapnya. Aku sudah melihat kalimat itu di wajahnya dari tangga FEB, meja makan, dan motor. Kalimat berat yang ia bawa ke mana-mana seperti batu di saku.
Aku tidak sabar. Aku, yang menunggu tiga tahun di meja empat belas, tidak sabar menunggu tiga detik lagi.
“Oke,” kataku. “Tapi biar aku bilang satu hal dulu. Satu aja. Supaya kamu tahu apa yang kamu hadapi.”
“Rendra...”
“Anindya.” Aku melangkah satu langkah ke arahnya. Tidak terlalu dekat. Belum. “Aku sudah tiga tahun...”
Tirai dapur tersibak dengan suara keras.
“PISANG GORENGNYA MATANG!” Ibu keluar membawa sepiring pisang goreng mengepul dengan senyum paling lebar di dunia, dan berjalan lurus ke arah kami. “Maaf, maaf! Ibu janji nggak ngintip! Ibu nggak ngintip! Ini pisang goreng! Pisang goreng dingin itu dosa! Neng Kirana, ambil! Ren, ambil! Ibu balik lagi ke dapur! Ibu nggak dengar apa-apa! Lanjutkan!”
Ibu meletakkan piring di meja kasir, di sebelah pot cabai rawit, lalu berbalik ke dapur dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tapi di ambang tirai ia berhenti, menoleh, dan menambahkan dengan suara yang sama sekali tidak berbisik:
“Oh iya, Ren. Surat undangan nikah Ibu sama Mas Hendra datang dari percetakan. Tiga ratus. Harus dilipat semua malam ini. Neng Kirana bisa bantu? Neng pasti rapi lipat-lipatnya.”
Tirai tertutup.
Aku menatap tirai itu. Anindya menatap tirai itu.
Lalu ia tertawa. Tawa yang pecah seperti gelas jatuh, tidak ditutup tangan dan tidak bisa dihentikan, sampai matanya basah dan ia harus berpegangan pada rak buku.
Aku menunggu sampai tawanya reda. Aku bisa menunggu. Aku sudah terlatih.
Waktu akhirnya ia berhenti tertawa, matanya masih basah. Tapi kali ini aku tidak yakin itu karena tawa.
“Rendra,” katanya pelan. “Aku cuci tangan dulu. Tanganku kotor kena rak.”
“Oke.”
“Habis itu aku yang ngomong duluan.”
“Oke.”
“Janji?”
“Janji.”
Ia berjalan ke kamar mandi di balik tirai dapur. Aku mendengar Ibu menyambutnya dengan riang, air keran mengalir, dan Ibu yang mulai bercerita soal warna undangan.
Aku berdiri sendirian di toko dengan sepiring pisang goreng, pot cabai rawit, dan kursi hijau yang di atasnya ada tas kulit cokelat.
Aku tersenyum. Aku tidak bisa berhenti tersenyum.
Aku tidak tahu bahwa tiga menit dari sekarang, semua yang kubangun dalam tiga bulan terakhir akan jatuh dari kursi hijau itu, bersama sebuah tas kulit cokelat yang ritsletingnya tidak tertutup rapat.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan reading
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama