← Surat Salah Alamat

Chapter Twenty Nine

Jangan Lupa Makan

POV: Kirana

Ia menulis selama tiga puluh dua menit.

Aku tahu karena jam dinding di atas pintu tangga ada di garis pandangku, tepat di atas kepalanya. Setiap kali aku menatapnya, aku juga menatap jam itu. Aku tidak bermaksud menghitung, tapi aku orang yang menghitung, dan tiga puluh dua menit adalah waktu yang sangat lama untuk seseorang yang biasanya menulis dengan kertas kecil dan delapan kata.

Selama tiga puluh dua menit itu, ia tidak mengangkat kepala sekali pun.

Ia menulis, berhenti, dan menatap kertas. Ia mencoret sesuatu. Lalu menulis lagi. Sekali, aku melihatnya menyobek halaman dari buku catatan hitamnya, meremasnya, dan memasukkannya ke saku. Lalu ia mulai lagi di halaman baru.

Rendra Mahesa, yang tidak pernah mencoret dan yang tulisannya selalu tegak, kecil, dan sedikit miring ke kanan seperti orang yang sedang melangkah, sedang mencoret suratnya.

Aku duduk di meja sembilan dengan kedua tangan terlipat. Tanganku berkeringat. Aku tidak bisa merasakan kakiku. Di luar jendela, langit mulai berubah warna, dan awan kelabu merayap dari arah utara. Aplikasi cuaca tadi pagi bilang kemungkinan hujan enam puluh persen setelah pukul lima.

Di tasku ada dua payung.

Aku membeli yang kedua minggu lalu, di toko payung di Jalan Braga. Payung biru tua dengan pegangan kayu, sama persis dengan yang pertama. Aku tidak tahu kenapa aku membelinya. Mungkin karena seseorang pernah bilang lain kali bawa dua, dan aku ingin, setidaknya sekali, menjadi orang yang siap untuk lain kali.

Pukul 17.04, ia berhenti menulis.

Ia menatap kertas di depannya lama. Lalu ia menyobeknya dari buku catatan hitam, pelan-pelan dan hati-hati, dengan pinggir yang tidak rata karena buku catatan itu tidak berspiral. Tiga halaman. Ia melipatnya dua kali.

Lalu ia berdiri.

Ia berjalan melewati meja tiga belas, dua belas, sebelas, dan sepuluh. Lorong yang selama tiga tahun tidak pernah ia lewati. Lorong yang pertama kali kulewati untuk sebuah eksperimen, lalu kulewati lagi untuk sebuah pengakuan yang ditolak.

Ia berhenti di meja sembilan.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia meletakkan kertas yang terlipat dua itu di atas meja, di antara kedua tanganku yang terlipat, seperti menggeser kertas kecil di ruang asisten dosen, atau tisu kantin di kantin FIB.

Di bagian luarnya, dengan pulpen merah:

Untuk Kirana.

Aku menatap tulisan itu.

Kirana. Bukan Anindya. Selama tiga bulan, setiap kalimat, setiap pesan, dan setiap kertas kecil selalu Anindya. Nama belakang. Nama yang dipakai orang di papan pengumuman.

Ia menulis nama depanku, dengan huruf K yang kakinya panjang, seperti orang yang sedang melangkah.

Aku mengangkat kepala.

Ia berdiri di sebelah mejaku dengan tangan di saku celana, wajah datar, dan telinga merah menyala seperti cabai rawit yang paling matang.

“Baca,” katanya pelan.


Kirana,

Aku belum pernah nulis surat panjang. Ini yang pertama. Maaf kalau jelek.

Aku mulai dari yang paling penting, kayak kamu.

Kamu nggak mirip dia.

Aku bilang kamu mirip ayahku. Itu bohong. Aku tahu itu bohong waktu ngomongnya. Aku pilih kalimat itu karena kalimat itu yang paling tajam, dan aku mau kamu ikut sakit. Itu yang ayahku lakukan: pilih jalan yang paling gampang buat dirinya sendiri. Jadi kalau ada yang mirip dia malam itu, itu aku.

Ayahku bikin rencana, terus pergi setelah rencananya selesai.

Kamu bikin rencana, terus rencanamu gagal semua. Dan kamu tetap datang.

Itu bukan persamaan yang sama. Tandanya berlawanan. Aku harusnya lihat lebih cepat. Aku biasanya lihat semua hal lebih cepat.

Di sini ada satu baris yang dicoret. Hanya sekali, jadi masih bisa dibaca: Aku minta maaf karena kalimat itu. Di bawahnya ia menulis ulang dengan huruf yang lebih besar dan lebih tegas:

Aku minta maaf karena kalimat itu. Aku tulis dua kali karena yang pertama kurang jelas.

Soal surat Sasa.

Kamu ambil suratnya. Itu salah. Tapi Ibu bilang ke aku soal makan malam itu dua hari sebelumnya. Langsung. Di dapur. Aku bilang ada kuis. Aku nggak datang, bukan karena suratnya hilang. Aku udah tahu, dan aku tetap nggak datang.

Kamu ambil suratnya. Aku ambil makan malamnya. Kita berdua utang ke Sasa.

Aku sudah mulai bayar. Aku pulang ke rumahnya Kamis malam. Dia nangis di kausku. Om Hendra ikut meluk. Kami berdiri di ruang tamu sampai kakiku pegal. Aku baru tahu rasanya dipeluk dua orang sekaligus.

Sisanya kita bayar bareng. Traktir tempe tiap Selasa. Aku ikut patungan.

Soal meja empat belas.

Kamu bilang kamu duduk di meja sembilan karena bisa lihat meja empat belas.

Aku duduk di meja empat belas sejak semester satu karena pohon ketapang. Itu benar. Tapi sejak minggu keenam semester dua, aku datang setiap Kamis bukan karena pohon ketapang.

Kamu ketawa sambil nutup mulut. Aku kira kamu capek. Capek harus rapi terus-terusan.

Aku mau lihat kamu ketawa tanpa nutup mulut. Tiga tahun aku mau lihat itu. Aku lihat pertama kali di Gang Kenari. Aku tulis di buku catatan hitamku malam itu: “Anindya tertawa. Ada bunyinya.”

Aku masih simpan halamannya.

Soal pulpen.

Aku nggak nulis apa-apa soal pulpen, karena kamu sudah nulis semuanya. Cuma satu hal: waktu itu aku nggak lihat mukamu. Aku lihat tanganmu. Tanganmu gemetar kayak tangan Ibu waktu tanda tangan di pengadilan agama. Aku taruh pulpen di mejamu karena tanganmu. Aku nggak tahu tangan itu punya kamu.

Tiga tahun kemudian, aku tahu. Dan aku nggak mau pulpennya balik.

Soal eksperimen.

Sampelnya masih dua. Masih kurang dua puluh delapan. Lembar observasinya masih kusimpan. Kolomnya sudah kugaris pakai penggaris.

Di sini ada coretan tebal, dicoret tiga kali, hitam pekat. Tidak bisa dibaca sama sekali. Di sebelahnya, di pinggir kertas, dengan huruf yang sangat kecil:

Yang dicoret itu terlalu memalukan. Jangan tanya.

Terakhir.

Kamu bilang kamu nggak minta aku balas. Kamu bilang kamu bisa nunggu lebih lama dari Sasa.

Aku nggak mau kamu nunggu. Aku sudah bikin satu orang nunggu delapan belas bulan. Aku nggak mau bikin orang kedua nunggu satu jam pun.

Jadi aku balas sekarang. Di meja empat belas. Tiga puluh menit setelah baca suratmu. Karena kalau aku nunggu besok, aku takut aku jadi pengecut lagi.

Aku suka kamu.

Sejak minggu keenam semester dua. Sebelum aku tahu kamu anak bangku B-12. Sebelum aku tahu kamu nyimpan pulpenku. Sebelum payung, kebun teh, dan tempat bumbu.

Aku suka kamu waktu kamu masih orang asing di meja sembilan yang nutup mulut kalau ketawa.

Dan aku lebih suka kamu sekarang, waktu kamu nggak nutup mulut lagi.

Lalu satu baris lagi, di bawah, terpisah dari semuanya, dengan jarak dua baris kosong di atasnya. Seperti catatan kaki. Seperti sesuatu yang ditulis paling akhir, setelah ragu cukup lama.

Jangan lupa makan.

Aku tahu kalimat ini punya Sasa. Aku tahu kalimat ini yang bikin semuanya mulai. Tapi di rumahku, kalimat ini artinya “aku mikirin kamu waktu kamu nggak ada”. Ibu nulis itu di kertas kecil di atas tudung saji setiap malam, sepuluh tahun.

Mulai hari ini, aku mau jadi orang yang ngingetin kamu makan, setiap kali kamu lupa karena sibuk bikin rencana. Selama yang kamu mau.

— Rendra


Aku membaca surat itu dua kali.

Waktu aku mengangkat kepala, penglihatanku sudah kabur. Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis. Mungkin di kamu nggak mirip dia. Mungkin di aku ambil makan malamnya. Mungkin di anindya tertawa, ada bunyinya.

Mungkin sejak bangku B-12.

Ia masih berdiri di sebelah mejaku dengan tangan di saku, wajah datar, dan telinga merah.

“Kamu nulis surat,” kataku. Suaraku serak.

“Kamu yang mulai.”

“Kamu nulis panjang.”

“Tiga halaman. Aku biasanya nulis delapan kata.”

“Kamu nyoret.”

“Kamu juga.”

“Yang dicoret tiga kali itu apa?”

“Aku bilang jangan tanya.”

Aku menatapnya. Ia menatapku.

“Rendra.”

“Hm.”

“Pakai mulut.”

Ia diam. Untuk sesaat aku melihatnya ragu. Rahangnya bergerak dan napasnya tertahan. Seperti orang yang berdiri di tepi kolam dingin.

Lalu ia melepaskan tangan dari sakunya, berjongkok di sebelah meja sembilan sampai matanya sejajar dengan mataku, dan mengatakannya.

“Aku suka kamu, Kirana.”

Pakai mulut. Dengan suara rendah dan datar yang sama sekali tidak cocok dengan kalimatnya. Dengan telinga merah dan mata yang tidak berkedip.

Nama depanku. Diucapkan, bukan ditulis. Untuk pertama kalinya.

Aku tidak menutup mulut. Aku menangis dan tertawa sekaligus, kombinasi yang dulu hanya milik Sasa dan sekarang juga milikku.

“Aku juga,” kataku. “Tiga tahun. Dua ratus lima puluh delapan Kamis.”

“Dua ratus lima puluh sembilan.”

“Kamu hitung?”

“Hari ini dihitung.”

Di meja sirkulasi, ibu petugas berkacamata tebal bertepuk tangan. Pelan, tiga kali, dengan wajah sangat terharu. Lalu ia sadar sedang berada di perpustakaan, dan buru-buru menutup mulutnya sendiri.

Lalu dari arah rak buku di sisi kanan lantai tiga terdengar suara lain.

“AKHIRNYAAA!”

Kami berdua menoleh.

Di lorong rak bertuliskan PERTANIAN: HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI, tiga kepala menyembul dari balik tumpukan buku. Kepala pertama berpita kuning dan wajahnya basah oleh air mata. Kepala kedua memakai topi gunung oranye. Kepala ketiga berambut acak-acakan, dengan ekspresi seseorang yang sudah menahan napas terlalu lama.

“Sasa,” kataku.

“Sasa,” kata Rendra.

“Gio,” kata Sasa Tebing, menunjuk kepala ketiga. “Sebutin juga Gio. Dia ikut.”

“Kalian ngapain di rak hama padi?”

“Ngintip!” jawab Sasa tanpa rasa bersalah sedikit pun, dengan suara yang sama sekali tidak pelan. “Kita di sini dari jam empat! Aku bilang ke Kak Ren, Kamis perpus jam setengah lima, terus aku nggak tahan, jadi aku ajak Aliansi!”

“Kamu masih marah sama aku,” kataku.

“AKU MASIH MARAH!” teriak Sasa sambil menangis. “Tapi ini momen bersejarah! Marahnya aku pause dulu!”

“Ssssst!” Ibu petugas sirkulasi berdiri dengan jari di bibir. Kali ini sungguhan. “Mas, Mbak, ini perpustakaan!”

“Maaf, Bu!” Gio membungkuk berkali-kali. “Maaf! Kami anggota aliansi! Kami cuma...”

“Keluar,” kata ibu petugas. Lalu, setelah melihat wajah Sasa yang basah dan wajahku yang basah dan telinga Rendra yang merah menyala, suaranya melunak. “Keluar semua. Perpusnya mau tutup sebentar lagi. Sana, lanjutkan di luar. Di sini nggak boleh ribut, tapi di luar boleh.”


Di luar, hujan turun.

Tidak deras. Gerimis sopan yang mengetuk pintu dulu sebelum masuk. Pohon ketapang di halaman perpustakaan bergoyang pelan, daun-daunnya yang lebar mengumpulkan tetes air dan menjatuhkannya satu per satu.

Sasa, Sasa Tebing, dan Gio berdiri di bawah atap teras perpustakaan. Mereka jelas tidak berniat pergi.

“Kami nggak ngintip,” kata Sasa Tebing. “Kami cuma berteduh.”

“Kalian berteduh sambil lihat ke sini,” kata Rendra.

“Kebetulan arahnya ke sini,” kata Gio.

“Kebetulan itu nggak ada,” kata Sasa sambil mengusap hidung. “Kata buku biru.”

Aku membuka tasku dan mengeluarkan dua payung. Dua payung biru tua dengan pegangan kayu yang sama persis.

Rendra menatap kedua payung itu, lalu menatapku.

“Kamu bawa dua,” katanya.

“Kamu yang bilang lain kali bawa dua.”

“Supaya kamu nggak perlu geser-geser.”

“Iya.”

Aku membuka payung pertama. Payung kedua, masih terlipat rapi sesuai garis lipatan, kuserahkan padanya.

Ia mengambilnya. Ia memegangnya lama, menatap lipatannya yang rapi, lalu menatapku di bawah payung yang terbuka.

Lalu ia memasukkan payung yang terlipat itu ke saku jaketnya tanpa membukanya, dan melangkah masuk ke bawah payungku.

“Kamu bawa dua,” katanya pelan, di bawah payung biru tua yang diameternya kira-kira satu meter, “supaya punya pilihan.”

“Iya.”

“Aku pilih satu.”

Di bawah atap teras perpustakaan, Sasa menjerit tertahan ke lengan jaket Sasa Tebing.

Kami berjalan ke bawah pohon ketapang. Pohon yang sama yang ia tatap dari meja empat belas selama tiga tahun, yang tidak pernah bertanya ia mau jadi apa setelah lulus. Hujan jatuh di atas payung dan di atas daun ketapang, suaranya seperti ribuan jari yang mengetuk-ngetuk pelan.

Ia mengambil pegangan payung dari tanganku. Tentu saja ia yang memegang. Kalau aku yang pegang, payungnya akan ada di kepalaku dan air hujan akan ada di kepalanya. Itu fisika.

Payung itu tidak miring kali ini. Payung itu tegak lurus di tengah, karena aku tidak perlu geser. Aku sudah berada di tempat yang seharusnya.

“Kirana,” katanya.

Kalau ia menyebut nama depanku lagi, aku akan menangis lagi.

“Hm.”

“Yang dicoret tiga kali di suratku.”

“Kamu bilang jangan tanya.”

“Isinya: Aku mau cium kamu lagi. Bukan buat eksperimen.”

Aku berhenti bernapas.

“Aku coret karena terlalu memalukan buat ditulis,” lanjutnya. Suaranya pelan sekali, nyaris tenggelam oleh suara hujan di atas payung. “Tapi kamu bilang pakai mulut.”

Ia menunduk. Aku mendongak.

Kali ini tidak ada yang tiba-tiba. Tidak ada hujan deras yang mengejutkan, tidak ada lampu yang berkedip, tidak ada rencana yang disusun dengan kondisi terkontrol. Kali ini kami berdua tahu apa yang akan terjadi, dan kami berdua membiarkannya terjadi pelan-pelan, seperti gerimis yang mengetuk pintu dulu sebelum masuk.

Bibirnya menyentuh bibirku.

Tidak singkat seperti di toko buku. Tidak ragu-ragu seperti orang yang mengetuk pintu tanpa tahu pemiliknya ada di rumah. Kali ini pintunya sudah terbuka, dan ia masuk.

Tangannya yang bebas menyentuh sisi wajahku, lalu turun ke belakang leherku dan menarikku lebih dekat. Tanganku mencengkeram kemeja flanelnya di bagian dada, tepat di atas saku berisi suratku, kacamatanya, dan kertas kecil soal lavender. Aku bisa merasakan jantungnya di bawah telapak tanganku. Cepat, jauh lebih cepat dari wajahnya.

Ciuman itu dalam dan lama. Aku lupa menghitung. Aku lupa berapa detik, lupa di mana aku berdiri, dan lupa bahwa tiga orang sedang menonton kami dari teras perpustakaan. Yang tersisa hanya suara hujan di atas payung, bau sabun batangan dan kertas tua, napasnya yang tidak teratur, dan napasku yang juga tidak teratur.

Waktu akhirnya ia menarik diri, sedikit saja, cukup untuk bernapas, dahinya masih menempel di dahiku.

Kami terengah. Payung di tangannya sudah miring lagi ke arahku, dan bahunya basah lagi.

“Payungnya miring,” bisikku.

“Anginnya berubah-ubah.”

“Nggak ada angin.”

“Bahuku tahan air.”

Aku tertawa. Tawa itu keluar dari tempat paling dalam, dan aku tidak menutup mulut. Ia merasakan tawaku di bibirnya, lalu tersenyum. Senyum penuh, yang sudah pernah kulihat di atas panggung KKN.

“Sampel ketiga,” kataku.

“Dua puluh tujuh lagi.”

“Lembar observasimu beneran ada?”

Ia memindahkan pegangan payung ke tangan kirinya, lalu dengan tangan kanan mengeluarkan buku catatan hitam dari saku jaket. Ia membukanya di halaman yang ditandai dengan lipatan di sudutnya.

Sebuah tabel. Digaris rapi dengan penggaris, tiga puluh baris, dan setiap baris punya kolom Tanggal, Lokasi, Kondisi, dan Hasil.

Baris pertama: Kamis. Toko Buku Mahesa. Hujan deras, lampu kedip. Hasil: Signifikan. Subjek kabur ke gang buntu.

Baris kedua: Kamis. Perpustakaan, meja 14. Kondisi terkontrol (katanya). Hasil: Signifikan. Subjek bilang “inkonklusif”. Subjek bohong.

Baris ketiga masih kosong.

Rendra mengambil pulpen merah dari saku kemejanya, menempelkan buku catatan di batang pohon ketapang, dan menulis di baris ketiga, dengan payung terjepit di antara bahu dan telinganya:

Kamis. Bawah pohon ketapang. Gerimis. Dua payung, satu dibuka. Hasil: Sangat signifikan. p < 0,001. Hipotesis nol ditolak. Subjek nggak kabur.

Ia menutup buku catatan itu dan menatapku.

“Subjek nggak kabur,” ulangnya.

“Subjek nggak mau kabur,” kataku.

“Bagus. Masih dua puluh tujuh baris lagi.”

Dari teras perpustakaan terdengar suara tepuk tangan. Keras, tidak berirama, dan penuh air mata. Sasa, Sasa Tebing, dan Gio bertepuk tangan di bawah atap. Sasa melompat-lompat di tempat, Sasa Tebing bersiul dengan dua jari, dan Gio mengangkat kedua tangan ke udara seperti suporter sepak bola yang timnya baru mencetak gol di menit terakhir.

“SELAMAT!” teriak Sasa. “AKU MASIH MARAH, TAPI SELAMAT!”

Rendra menatap mereka dengan wajah seseorang yang ingin tenggelam ke dalam tanah.

Aku menyandarkan kepala di dadanya dan tertawa sampai perutku sakit.

Ponselku bergetar di saku. Aku mengeluarkannya dengan satu tangan.

Grup WhatsApp Aliansi Sasa Se-UDB + Kak Ren (Anggota Kehormatan). Aku tidak tahu kapan aku dimasukkan ke grup itu. Rupanya baru saja, dua detik yang lalu.

Sasa telah menambahkan Kak Kirana 💛

Sasa telah mengubah nama grup menjadi “Aliansi Sasa Se-UDB + Kak Ren & Kak Kirana (Misi Selesai)”

Sasa: MISI SELESAI!!!! 😭😭😭💛💛💛

Sasa Tebing: 🫡🫡🫡

Sasa: Kak Kirana, tempenya tetap sebulan ya. Mulai Selasa depan. Aku nggak lupa.

Di bawahnya, satu pesan lagi, dari nomor yang baru saja masuk ke grup. Foto profilnya payung biru tua:

Rendra ☂️: Habis ini makan dulu. Kamu belum makan dari siang. Aku lihat.

Aku mendongak. Ia sedang menatap layar ponselnya sendiri di bawah payung, dengan telinga merah dan wajah datar.

“Kamu kirim ke grup,” kataku.

“Aku mau kirim ke kamu.”

“Itu grup, Rendra.”

“Aku tahu. Aku nggak tahu cara hapusnya.”

Aku tertawa lagi. Keras. Di bawah pohon ketapang, di bawah payung biru tua yang miring, di tengah gerimis yang tidak berhenti. Grup WhatsApp di ponselku meledak dengan emoji, stiker, dan huruf kapital, dan di teras perpustakaan tiga orang masih bertepuk tangan.

Kali ini aku tidak menutup mulut.

Aku tidak akan pernah menutupnya lagi.