← Surat Salah Alamat

Chapter Thirty

Tanggal Empat Belas

POV: Kirana

Om Hendra ingin hiasan meja resepsinya berupa pot cabai.

“Cabai itu simbol, Rat,” katanya tiga minggu sebelum hari pernikahan, di meja makan rumah bercat biru muda. Waktu itu kami semua sedang melipat kotak suvenir terakhir dengan tali rafia hijau. “Cabai itu kecil tapi berani. Kayak cinta di usia lima puluhan.”

“Mas,” kata Bu Ratna, “tamunya nanti bersin semua.”

“Cabainya nggak dipotong. Utuh. Masih di pohon.”

“Mas.”

“Cabai rawit yang nggak pedas. Jenis yang buat Ren.”

Bu Ratna menatap Om Hendra lama sekali. Lalu ia menghela napas panjang, seperti orang yang tahu ia sudah kalah sejak awal.

Jadi pada tanggal empat belas, di gedung pertemuan kecil milik RW yang dindingnya dicat krem dan dihias kain emas, setiap meja tamu punya satu pot cabai rawit kecil di tengahnya. Buahnya merah dan hijau, dan setiap pot diikat pita emas. Di setiap pot ada kartu kecil yang ditulis tangan oleh Sasa dengan tinta ungu:

Cabai ini nggak pedas. Silakan dibawa pulang. Siram pagi-pagi, dia suka matahari. — Keluarga Wiratama & Mahesa

Tidak ada satu tamu pun yang bersin.

Beberapa tamu bahkan berebut pot cabai waktu acara selesai. Seorang ibu-ibu arisan mengambil tiga, dan ketahuan oleh Sasa Tebing yang ditugaskan menjaga pintu keluar.


Akadnya pagi hari, pukul delapan, di masjid kecil di ujung kompleks. Wali Bu Ratna adalah pamannya dari Garut, seorang kakek bertubuh kecil dengan peci hitam dan suara yang ternyata sangat lantang. Waktu ia menjabat tangan Om Hendra dan mengucapkan kalimat ijab, seluruh masjid terdiam.

Om Hendra menjawab dalam satu napas. Tidak tersendat dan tidak salah sebut. Kumisnya bergetar, dan kacamatanya, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tidak miring.

“Sah?”

“SAH!”

Suara paling keras datang dari barisan belakang. Sasa, yang duduk di sebelahku di bagian perempuan dengan kebaya putih dan pita emas, berteriak sah begitu keras sampai beberapa ibu menoleh. Lalu ia langsung menangis dan memelukku dari samping. Kerudungnya miring, maskaranya luntur, dan ia tertawa sekaligus.

Di barisan laki-laki, dua shaf di depan kami, Rendra duduk tegak dengan kemeja putih. Kemeja putih yang sama, dengan noda gas di bahu yang sudah dicuci Bu Ratna tiga kali tapi masih samar-samar terlihat.

“Aku mau pakai yang ini,” katanya waktu Bu Ratna menawarkan membelikan kemeja baru. “Yang ini sudah pernah dipakai buat ngomong sesuatu yang penting.”

Ia tidak menoleh ke belakang selama akad. Tapi waktu semua orang berteriak sah, aku melihat bahunya turun. Pelan, seperti orang yang akhirnya meletakkan sesuatu yang sangat berat setelah memikulnya sepuluh tahun.


Resepsinya siang hari, dan MC-nya Gio.

Aku menawarkan diri membuatkan naskah. Empat halaman, kartu krem, diikat tali rafia. Gio menolak dengan wajah paling serius yang pernah ia pasang.

“Kir,” katanya. “Aku sudah jadi wakilmu tiga tahun. Aku sudah lihat kartu-kartumu terbang ke kolam ikan di Cibeureum. Aku nggak mau jadi korban berikutnya.”

Jadi Gio naik ke panggung kecil di depan gedung tanpa naskah, tanpa kartu, dan hanya dengan mikrofon yang kabelnya terlalu pendek, sehingga ia harus berdiri miring supaya tidak tertarik lepas.

“Selamat siang, Bapak-Ibu sekalian,” katanya, “dan selamat siang juga untuk pot-pot cabai di setiap meja, yang hari ini jadi saksi bisu cinta di usia lima puluhan.”

Tamu-tamu tertawa. Om Hendra, yang duduk di pelaminan dengan beskap cokelat, mengacungkan jempol ke arah Gio dengan bangga.

Gio ternyata MC yang luar biasa. Ia bisa melucu tanpa naskah, dan ia membaca suasana seperti membaca laporan keuangan. Ia tahu kapan harus berhenti bercanda dan kapan harus memberi jeda. Waktu Om Hendra mencoba memberi sambutan dan leluconnya garing, kenapa pengantin suka duduk di pelaminan? Karena kalau berdiri, namanya pelariman, Gio yang menyelamatkannya:

“Bapak-Ibu, itu tadi lelucon pengantin pria. Kami dari pihak keluarga sudah terbiasa. Silakan tertawa karena kasihan, itu juga sah.”

Tamu-tamu tertawa terbahak-bahak. Om Hendra tertawa paling keras.

Di tengah acara, Gio mengumumkan penyerahan hadiah dari anak-anak.

“Hadiah ini,” katanya, “dibeli dengan uang patungan tiga orang. Salsabila Wiratama. Rendra Mahesa. Dan...” Ia melirik kertas kecil di tangannya. Satu-satunya kertas yang ia bawa. “...Sasa Febrianti, pecinta alam, Teknik Sipil, patungan lima puluh ribu. Katanya dia bukan anak siapa-siapa, tapi dia anggota aliansi.”

Di pintu keluar, Sasa Tebing mengangkat tangan dan memberi hormat seperti tentara.

Sasa dan Rendra naik ke pelaminan membawa kotak kecil beludru merah.

Sasa membuka kotaknya. Dua cincin emas polos, satu besar dan satu kecil. Cincin yang dulu ia coba di jari manisnya di Toko Mas Sinar Jaya, Pasar Baru, di depan seorang bapak penjual yang mengira mereka pasangan serasi. Di depan tiga orang yang bersembunyi di balik manekin pengantin.

Bu Ratna menutup mulut dengan kedua tangan.

“Ini,” kata Sasa ke mikrofon. Suaranya bergetar hebat. “Ini dari kami. Ayah bilang nggak usah pakai cincin, yang penting akadnya. Tapi masa nikah nggak pakai cincin, Yah. Tante...” Ia berhenti, menggigit bibir, lalu mengoreksi dirinya sendiri dengan sangat hati-hati, seperti menulis kata baru untuk pertama kalinya. “Ibu. Ukuran jari Ibu sama kayak aku. Aku udah coba. Pas.”

Bu Ratna menangis. Bukan tangisan sopan pengantin di pelaminan. Tangisan yang pecah, dengan bahu berguncang dan sanggul yang makin miring. Ia menarik Sasa ke pelukannya dan tidak melepaskannya lama sekali.

Rendra berdiri di sebelah mereka dengan kotak beludru di tangan. Ia menatap Om Hendra.

Om Hendra menatapnya balik.

Seluruh gedung terdiam. Bahkan Gio menurunkan mikrofonnya.

Aku tahu Rendra benci naik panggung. Aku melihat telinganya merah menyala dari tempatku duduk di meja nomor tujuh, dan aku melihat tangannya yang memegang kotak beludru sedikit gemetar.

Gio mengulurkan mikrofon ke arahnya dengan pelan, seperti menawarkan sesuatu yang bisa ditolak.

Rendra mengambilnya.

“Om,” katanya.

Satu kata. Suaranya datar dan rendah. Di gedung yang sunyi itu, satu kata itu terdengar sampai ke pintu keluar.

Ia berhenti lama. Aku melihat rahangnya bergerak, seperti orang yang sedang mencari kalimat di buku yang halamannya belum ditulis.

Lalu ia menyerah pada kalimat panjang, sama seperti di ambang pintu rumah bercat biru muda, dan hanya mengatakan yang tersisa.

“Selamat datang di rumah,” katanya. Lalu, lebih pelan: “Ayah.”

Om Hendra tidak punya lelucon untuk itu.

Ia berdiri dari pelaminan dengan beskap cokelat dan kacamata yang langsung miring lagi, lalu memeluk Rendra. Canggung dan terlalu erat, dengan tangan yang menepuk-nepuk punggung Rendra begitu keras sampai terdengar lewat mikrofon.

Seluruh gedung menangis. Ibu-ibu arisan menangis. Kakek wali dari Garut menangis. Sasa Tebing di pintu keluar menangis sambil pura-pura mengusap debu dari matanya. Gio mengangkat mikrofon ke mulutnya, membukanya, lalu menutupnya lagi, karena ia juga menangis.

Aku juga menangis, di meja nomor tujuh, di depan pot cabai rawit yang tidak pedas.

Dan di sebelahku, seseorang menyodorkan tisu.


Mama dan Papa datang pukul satu siang.

Aku sudah bilang pada Bu Ratna bahwa Mama mungkin tidak akan datang. Mama sibuk, dan Mama tidak kenal siapa pun di sini. Bu Ratna mengangguk, lalu tetap mengirim undangan krem-emas ke rumah kami, lewat Rendra. Tanpa sepengetahuanku, ia menambahkan tulisan tangan di belakangnya: Ibu Diah, saya ibunya anak yang telat sepuluh menit. Mohon datang. Ada pisang goreng.

Mama datang dengan kebaya biru tua dan sanggul rendah yang rapi tanpa satu helai pun yang keluar. Papa, yang pulang dari Jakarta khusus untuk hari ini, berjalan di sebelahnya dengan batik dan wajah seseorang yang tidak tahu kenapa ia ada di sini tapi senang diajak.

Mama berjalan lurus ke meja nomor tujuh. Aku berdiri.

“Ma.”

“Kiran.” Mama menatap pot cabai di meja, menatap dekorasi krem-emas, lalu menatap pelaminan tempat Bu Ratna dan Om Hendra sedang tertawa bersama tamu. “Pengantin prianya pakai kacamata miring.”

“Selalu, Ma.”

Mama tidak berkomentar. Matanya mencari sesuatu di sekeliling gedung, lalu berhenti.

Sasa sedang berjalan membawa nampan berisi gelas-gelas es teh untuk tamu. Pita emasnya miring, kebayanya kusut, dan wajahnya masih sedikit bengkak karena menangis. Ia melihatku, melihat Mama di sebelahku, lalu berhenti di tempat.

Aku melihat Sasa menelan ludah.

“Itu dia?” tanya Mama pelan.

“Iya, Ma.”

Mama berjalan ke arah Sasa. Sasa berdiri membeku dengan nampan es teh yang mulai bergetar di tangannya.

“Kamu Salsabila,” kata Mama.

“I-iya, Bu.”

“Kamu yang berbohong di depan ayahmu. Untuk anak saya.”

Sasa pucat pasi. Nampan es teh bergetar lebih hebat. Gelas-gelasnya berdenting satu sama lain seperti lonceng angin.

“Ma-maaf, Bu, saya...”

Mama mengambil nampan itu dari tangan Sasa. Pelan, hati-hati, seperti mengambil tesis mahasiswa yang hampir jatuh. Ia meletakkannya di meja terdekat.

Lalu Mama memegang kedua tangan Sasa.

“Terima kasih,” kata Mama.

Sasa menatap Mama dengan mata sebesar piring.

“Anak saya jarang punya teman,” lanjut Mama, sangat pelan. Kalimat yang tidak akan pernah kudengar kalau aku tidak berdiri tepat di belakangnya. “Dia terlalu sibuk jadi rapi. Itu salah saya. Terima kasih sudah mau jadi temannya, bahkan waktu dia tidak rapi.”

Sasa menangis lagi. Tentu saja Sasa menangis lagi. Mama, yang jelas tidak siap menghadapi anak orang yang menangis di depannya, menatapku dengan wajah panik. Itu pertama kalinya aku melihat Mama panik.

Aku tertawa.

Mama akhirnya menepuk-nepuk kepala Sasa dengan sangat kaku, seperti menepuk kepala anjing tetangga yang tidak dikenalnya. Sasa menangis lebih keras, lalu memeluk Mama. Mama berdiri kaku di dalam pelukan itu seperti tiang bendera yang dipeluk angin.

Papa, di belakang mereka, mengambil satu pisang goreng dari prasmanan, menggigitnya, dan berkata dengan mulut penuh: “Ini enak banget. Siapa yang bikin?”

“Pengantin perempuannya, Pak,” jawab Gio dari panggung, lewat mikrofon. “Bangun jam empat pagi. Katanya pisang goreng dingin itu dosa.”


Rendra menemukanku di belakang gedung pukul tiga sore, di dekat tumpukan kursi lipat dan tempat sampah besar. Di sana ada bangku kayu yang dipakai petugas katering untuk istirahat.

Aku sedang duduk di bangku itu, melepas sepatu hak yang sudah menyiksa kakiku sejak pukul tujuh pagi.

“Kamu kabur dari resepsi,” katanya.

“Kakiku kabur duluan. Aku cuma ikut.”

Ia duduk di sebelahku. Kemeja putihnya kusut dan ada bekas lipstik Bu Ratna di bahunya, bekas pelukan waktu Rendra mengantar Bu Ratna turun dari pelaminan. Rambutnya berantakan. Matanya masih sedikit merah.

“Kamu panggil Om Hendra Ayah,” kataku.

“Iya.”

“Di depan dua ratus orang.”

“Dua ratus tiga puluh. Aku hitung.”

“Kamu benci panggung.”

“Aku masih benci panggung.” Ia menyandarkan punggung ke dinding gedung. “Tapi kata itu harus diucapkan di depan orang. Kalau diucapkan berdua aja, nanti Om Hendra kira dia mimpi.”

Aku menyandarkan kepala di bahunya. Di bahu yang ada bekas lipstik Bu Ratna.

“Mama meluk Sasa,” kataku.

“Aku lihat.”

“Mama kayak tiang bendera.”

“Aku lihat juga.” Ia diam sebentar. “Mamamu tadi ngomong sama aku. Waktu aku ambil es teh.”

Aku mengangkat kepala. “Ngomong apa?”

“Pulpennya masih dipakai?”

“Terus kamu jawab apa?”

“Aku bilang masih, Bu, sama Kirana.” Sudut bibirnya bergerak. “Terus mamamu bilang, Bagus. Jangan telat lagi.”

Aku tertawa. Aku tidak menutup mulut.

Lalu, dari pintu belakang gedung, terdengar suara perempuan yang tidak kukenal.

“Kak Rendra?”

Seorang perempuan muda dengan kebaya merah muda dan rambut digerai panjang berdiri di ambang pintu. Cantik. Sangat cantik, dengan mata besar dan lesung pipi. Ia memegang ponsel dengan wajah malu-malu yang sudah dilatih.

“Aku Nadia, keponakan Om Hendra,” katanya. “Dari Cimahi. Aku semester tiga, jurusan Akuntansi. Tadi Om Hendra bilang Kak Rendra asisten dosen Statistika. Aku lagi kesusahan banget sama Statistika, Kak. Boleh minta nomor HP? Buat les?”

Aku menatap perempuan itu.

Aku menatap ponselnya yang terulur ke arah Rendra.

Aku menatap lesung pipinya.

Lalu, sebelum aku sempat berpikir, tanpa rencana, tanpa slide, dan tanpa analisis risiko, aku berdiri dengan kaki telanjang di atas lantai semen di belakang gedung. Aku menyelipkan lenganku di lengan Rendra dan menariknya berdiri bersamaku.

“Maaf, Nadia,” kataku dengan senyum MC empat puluh tiga acara. “Kak Rendra sudah punya murid. Satu. Aku.”

Nadia menatapku dengan mulut terbuka. Ia menatap lenganku yang melingkar di lengan Rendra, lalu menatap kakiku yang telanjang dan sepatu hak yang tergeletak di bangku.

Rendra menatapku dari samping.

“Muridnya palsu,” katanya datar kepada Nadia. “Dia nanya apakah galat bisa dihapus pakai doa.”

“Rendra!”

“Tapi dia satu-satunya murid yang aku terima.” Rendra menatap Nadia dengan sopan. “Maaf. Coba ke Putra, anak semester tiga. Nilainya dulu dua, sekarang paling bagus di kelas. Dia bisa ngajarin.”

Nadia pergi dengan wajah merah. Aku tidak tahu apakah karena malu atau kesal.

Aku masih berdiri memeluk lengan Rendra, dengan kaki telanjang dan wajah yang pasti semerah cabai rawit di meja-meja resepsi.

“Kamu cemburu,” kata Rendra.

“Aku nggak cemburu.”

“Kamu berdiri tanpa sepatu.”

“Kakiku sakit.”

“Kamu bilang satu, aku.”

“Itu data.”

“Kamu pakai suara MC.”

Aku melepaskan lengannya dan duduk kembali di bangku dengan tangan terlipat di dada.

Ia duduk di sebelahku. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia memutar wajahku ke arahnya dengan dua jari di daguku, dan menciumku.

Ringan, singkat, dan santai. Ciuman orang yang sudah terbiasa mencium seseorang dan tidak perlu mengetuk pintu lagi.

“Sampel ke berapa itu?” tanyaku waktu ia menarik diri.

“Sebelas.”

“Kamu masih catat?”

“Semuanya.” Ia mengeluarkan buku catatan hitam dari saku kemeja dan menulis sesuatu di halaman yang ditandai lipatan sudut. Aku melihat tulisannya dari samping:

Sabtu, tgl 14. Belakang gedung resepsi, dekat tempat sampah. Subjek cemburu (menyangkal). Kaki telanjang. Hasil: Signifikan. Subjek manja sesudahnya.

“Aku nggak manja,” kataku.

Tapi aku menyandarkan kepala di bahunya lagi. Lalu aku menarik lengannya dan melingkarkannya di bahuku. Lalu aku mengambil tangannya dan memainkan jari-jarinya satu per satu, seperti menghitung.

“Kamu manja,” katanya.

“Data nggak menunjukkan itu.”

“Datanya ada di tanganku. Kamu lagi mainin jariku.”

Aku tidak menjawab. Aku terus memainkan jari-jarinya.

Dari dalam gedung, suara Gio terdengar lewat pengeras suara:

“Bapak-Ibu sekalian, sebelum acara ditutup, ada pengumuman dari pengantin perempuan. Katanya pisang gorengnya masih ada dua baskom. Tolong dihabiskan. Pisang goreng dingin itu dosa. Terima kasih.”

Rendra menatap langit Bandung sore itu. Cerah, tanpa awan. Prakiraan cuaca pagi tadi bilang kemungkinan hujan sepuluh persen.

“Wisuda,” katanya.

“Semester depan.”

“Kamu sudah cek prakiraan cuacanya?”

“Rendra, itu enam bulan lagi. Nggak ada prakiraan cuaca enam bulan ke depan.”

“Kalau ada, kamu pasti sudah cek.”

Aku tertawa. Aku menatap tangannya di tanganku, jari-jari yang dulu meletakkan pulpen di mejaku tanpa berkata apa-apa, lalu menuliskan masih kucari juga di atas tisu kantin, lalu menyibakkan rambutku di bawah atap seng.

“Aku bakal bawa dua payung,” kataku. “Buat jaga-jaga.”

“Terus kita pakai satu.”

“Terus kita pakai satu.”

Ia tersenyum. Senyum penuh.

Di dalam gedung, dua ratus tiga puluh tamu sedang berebut pisang goreng dan pot cabai. Mama sedang dipeluk Sasa untuk kedua kalinya dan masih berdiri seperti tiang bendera. Papa sedang mengambil pisang goreng keempat. Gio sedang menyanyikan lagu dangdut dengan lirik yang salah semua di atas panggung, dan Om Hendra ikut bernyanyi di pelaminan dengan kacamata miring, sementara Bu Ratna tertawa sampai sanggulnya jatuh.

Dan di belakang gedung, di bangku kayu dekat tempat sampah, aku duduk tanpa sepatu. Kepalaku bersandar di bahu yang ada bekas lipstik, dan aku memainkan jari-jari seseorang yang pernah menunggu di meja empat belas tiga tahun.

Tidak ada rencana untuk sore ini. Tidak ada slide, kartu MC, atau tahap-tahap.

Aku tidak pernah sebahagia ini tanpa rencana.