Chapter One
Surat di Buku Pinjaman
POV: Kirana
Rapat BEM FEB selesai tepat pukul 15.58.
Dua menit lebih cepat dari jadwal. Aku menutup laptop, merapikan tiga lembar notulen sampai sudutnya sejajar dengan tepi meja, lalu tersenyum ke dua puluh tiga pengurus yang menatapku seperti penonton sulap yang baru melihat kelinci keluar dari topi.
“Ada pertanyaan?”
Tidak ada. Tidak pernah ada. Semua proker sudah kujelaskan dengan slide berwarna, lengkap dengan timeline, penanggung jawab, dan rencana cadangan kalau rencana cadangan pertama gagal.
Lalu sebuah tangan terangkat di pojok ruangan.
“Aku ada.” Gio, wakil ketuaku, menatapku dengan wajah paling serius yang pernah ia pasang. “Konsumsi rapat berikutnya bisa nggak jangan risoles lagi? Ini risoles keempat bulan ini. Aku mulai mimpi dikejar risoles.”
Ruangan meledak tertawa.
“Catat, Gi,” kataku. “Rapat depan, kamu yang pegang konsumsi.”
“Itu bukan jawaban, Bu Ketua. Itu hukuman.”
“Dua-duanya.”
Gio menjatuhkan kepala ke meja dengan dramatis. Aku ikut tersenyum, senyum yang ukurannya sudah kulatih di depan cermin sejak SMA: cukup lebar supaya terlihat ramah, cukup pendek supaya tetap berwibawa.
Orang bilang aku cantik, dan aku tidak akan pura-pura tidak tahu. Rambut hitam panjang yang tak pernah kusut, kulit yang kata Mama “jangan sampai belang”, dan mata yang menurut Gio “kayak lagi ngaudit dosa orang”. Mahasiswa yang berpapasan denganku di koridor biasanya menoleh dua kali. Yang pertama karena wajahku, yang kedua untuk memastikan aku benar-benar Ketua BEM yang fotonya dipajang di papan Mahasiswa Berprestasi fakultas.
Masalahnya, semua itu tidak berguna di depan satu orang.
“Kir!” Tasya menyusulku di pintu dengan Meli menempel di belakangnya seperti ekor. “Habis ini nongkrong, yuk. Ada kafe baru di Dago, katanya matcha-nya bikin nangis.”
“Aku ke perpustakaan.”
“Lagi?” Meli memicingkan mata. “Tiap Kamis kamu ke perpus. Tiap. Kamis. Jangan-jangan ada gebetan.”
Tasya terkikik. “Gebetan Kirana pasti buku. Buku akuntansi. Tebal. Hardcover.”
Aku tertawa bersama mereka dengan tawa yang juga sudah terlatih.
Mereka benar. Dan mereka tidak akan pernah tahu.
Perpustakaan pusat UDB lantai tiga, meja nomor sembilan, dekat jendela yang menghadap pohon ketapang.
Tempat itu sudah jadi milikku selama tiga tahun. Bukan karena cahayanya bagus, meski memang bagus. Bukan juga karena sepi, meski memang sepi.
Tapi karena dari meja sembilan, aku bisa melihat meja empat belas.
Dan setiap Kamis pukul 16.30, meja empat belas diduduki Rendra Mahesa.
Mahasiswa Matematika semester tujuh dan asisten dosen Statistika. Tidak ikut organisasi apa pun, tidak punya akun media sosial yang aktif, dan tidak pernah sekali pun terlihat nongkrong di kantin. Ia datang, membaca, menulis sesuatu di buku catatan bersampul hitam, lalu pulang. Seperti jam yang tak butuh baterai.
Aku menyukainya sejak minggu pertama semester satu.
Waktu itu ujian gabungan Pengantar Statistika. Pulpenku macet di soal kedua, dan tanganku gemetar karena seumur hidup aku belum pernah tidak bisa menjawab soal. Lalu dari bangku sebelah, tanpa menoleh, sebuah tangan meletakkan pulpen hitam di mejaku. Tutupnya ada bekas gigitan. Pemiliknya tidak bilang apa-apa, bahkan tidak menunggu terima kasih.
Pulpen itu masih ada di tempat pensilku sampai sekarang. Tiga tahun. Aku tidak pernah mengembalikannya, dan aku tidak pernah bicara padanya lebih dari lima kalimat.
Aku, yang bisa memimpin rapat dua puluh tiga orang tanpa satu pun jeda, tidak pernah berhasil mengucapkan “hai” pada satu cowok di meja empat belas.
Itu bukan kegagalan. Aku menyebutnya “belum ada momentum yang tepat”. Tiga tahun berturut-turut.
Momentumnya pernah hampir datang, tentu saja. Semester tiga, aku sudah berlatih “hai” di toilet perpustakaan selama sepuluh menit, lalu bersin tepat di depan mejanya dan kabur sebelum ia sempat bilang “tuhan memberkati”. Semester empat, kami berdiri berdampingan di depan mesin fotokopi. Aku sudah membuka mulut, lalu mesinnya macet dan ia membetulkannya dalam empat detik tanpa melihatku. Semester lima, ia berkata “permisi” saat lewat di belakang kursiku, dan aku, dengan seluruh kecerdasan yang membuatku juara paralel, menjawab “sama-sama”.
Setelah itu aku berhenti mencoba dan mulai mengamati. Mengamati tidak butuh keberanian. Mengamati hanya butuh jadwal.
Hari ini pukul 16.30 lewat, dan meja empat belas masih kosong.
16.35. Kosong.
16.41. Masih kosong.
Aku menutup buku Manajemen Risiko yang sama sekali tidak kubaca, lalu berjalan ke meja sirkulasi dengan alasan yang kususun di kepala: mau cek jadwal pengembalian. Padahal aku tidak meminjam apa-apa.
Di sebelah meja sirkulasi ada rak kecil berlabel PESANAN, tempat buku-buku yang sudah direservasi menunggu diambil. Di punggung setiap buku terselip kertas kecil berisi nama dan NIM pemesan.
Mataku berhenti di satu nama.
RENDRA MAHESA.
Bukunya tebal dan bersampul biru: Teori Peluang dan Hal-Hal yang Tidak Kebetulan.
Judul yang terlalu tepat untuk hidupku, sampai rasanya semesta sedang menyindir.
Aku hanya ingin melihat. Hanya membaca sinopsis di sampul belakang supaya kalau suatu hari kami bicara, aku punya bahan selain “cuacanya cerah ya”. Itu riset, bukan penguntitan. Ada perbedaan tipis di antara keduanya, dan aku berdiri tepat di garis itu.
Aku menarik buku itu setengah keluar dari rak.
Lalu sesuatu jatuh ke lantai.
Sebuah amplop berwarna lilac, ukuran kecil, dengan sudut yang agak lecek seperti pernah digenggam lama sebelum diselipkan.
Di depannya tertulis dengan tulisan tangan bulat dan rapi, pakai tinta ungu:
Untuk Kak Ren.
Aku memungutnya. Niatku cuma untuk mengembalikannya ke buku. Sungguh, aku bahkan sudah mengarahkan tanganku ke celah halaman.
Tapi amplop itu tidak dilem.
Dan aku adalah orang yang membaca syarat dan ketentuan aplikasi sampai habis.
Isinya selembar kertas kecil, juga lilac:
Kak Ren,
Sabtu ini jam tujuh. Aku tunggu kamu pulang.
Jangan lupa makan.
— Sasa
Di bawah nama itu ada gambar hati kecil yang diarsir penuh.
Aku membaca surat itu tiga kali. Lalu empat kali. Otakku, yang biasanya bisa menghitung rasio keuangan tanpa kalkulator, mendadak hanya bisa memproses satu kata.
Pulang.
Aku tunggu kamu pulang.
Pulang ke mana? Pulang itu kata untuk rumah. Orang tidak bilang “pulang” ke rumah teman. Orang bilang “pulang” ke tempat yang mereka tinggali bersama. Apakah Rendra Mahesa, cowok yang bahkan tidak pernah terlihat makan di kantin, diam-diam tinggal bersama seorang Sasa?
Dan “jangan lupa makan”. Itu bukan kalimat untuk teman. Itu kalimat untuk orang yang kamu pikirkan waktu kamu makan dan dia tidak ada.
Ditambah hati yang diarsir penuh. Bukan hati garis tepi, tapi hati yang diwarnai sampai ke sudut-sudutnya. Seseorang meluangkan waktu untuk mewarnai hati itu.
“Itu pesananku.”
Suaranya datang dari belakangku, rendah dan tenang.
Tanganku bergerak lebih cepat dari otakku. Dalam satu gerakan yang akan kusesali seumur hidup, aku menyelipkan amplop lilac itu ke dalam planner kulit cokelat yang kupeluk di dada, lalu berbalik dengan buku biru di tangan kanan.
Rendra Mahesa berdiri satu langkah dariku.
Dari dekat ia lebih tinggi daripada yang terlihat dari meja sembilan. Ia memakai kemeja flanel abu-abu yang lengannya digulung sampai siku, dan rambutnya agak berantakan seperti baru kena angin. Matanya gelap dan tenang, jenis mata yang terasa sedang membaca sesuatu, dan hari ini yang dibacanya adalah aku.
“Kamu pustakawan sekarang?” tanyanya.
“Raknya miring,” jawabku. Suaraku terdengar sangat normal. Aku bangga pada suaraku. “Aku nggak tahan lihat yang miring.”
Ia melirik rak di belakangku. “Raknya lurus.”
“Sekarang lurus. Karena aku.”
Satu detik, dua detik. Sudut bibirnya bergerak sedikit. Bukan senyum, lebih seperti senyum yang sedang ditimbang apakah pantas keluar.
Aku menyodorkan buku biru itu. Ia mengambilnya, dan jari-jari kami bersentuhan selama kira-kira nol koma tiga detik. Aku tahu karena aku menghitungnya.
“Terima kasih, Anindya.”
Ia tahu namaku. Nama belakangku, bahkan. Aku menyimpan fakta itu di laci otak yang sama dengan pulpen bekas gigitan.
“Semua orang di FEB tahu namaku,” kataku, cepat, sebelum aku sempat terlihat senang. “Fotoku ada di papan pengumuman.”
“Aku bukan anak FEB.”
Lalu ia menunduk sedikit, menatap planner di pelukanku.
“Planner-mu kebuka.”
Aku menutupnya begitu keras sampai petugas sirkulasi menoleh.
Rendra mengangkat alis, tidak berkomentar, lalu berjalan ke meja empat belas dengan buku biru di tangan. Ia tidak memeriksa halamannya. Tidak mencari apa pun. Karena tentu saja ia tidak tahu bahwa seharusnya ada sesuatu di sana.
Aku berjalan kembali ke meja sembilan dengan langkah seorang pencuri yang tidak tahu bagaimana cara jadi pencuri.
Aku punya rencana. Tentu saja aku punya rencana.
Rencana A: tunggu ia ke toilet, lalu selipkan amplop itu kembali ke bukunya.
Rencana B: pura-pura menemukan amplop itu di lantai. Eh, ini punyamu? Jatuh tadi. Sederhana, masuk akal, dan tidak ada yang dirugikan.
Rencana C: tidak ada Rencana C. Rencana A dan B sudah cukup.
Aku menunggu dengan planner di pangkuan, terasa seperti bom waktu. Setiap kali Rendra membalik halaman, jantungku ikut terbalik.
Sepuluh menit berlalu, lalu dua puluh. Ia tidak ke toilet. Cowok ini punya kandung kemih seorang biksu.
Aku memutuskan jalan dengan Rencana B. Aku berdiri dan melangkah dua kali ke arah meja empat belas.
Ponsel Rendra berbunyi.
Ia mengangkatnya, mendengarkan sebentar, lalu menjawab pelan. Tapi perpustakaan lantai tiga sangat sunyi, dan aku sangat dekat.
“Iya. Iya, aku pulang sekarang.”
Pulang.
Ia membereskan bukunya, memasukkan buku biru ke tas, lalu berjalan melewati mejaku. Di depan tangga ia berhenti sebentar dan menoleh. Menatapku, yang berdiri membeku di tengah lorong seperti orang yang lupa tujuan hidupnya.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya.
“Ke...,” aku menunjuk rak terdekat, “...ke situ.”
Ia melirik label rak itu. PERTANIAN: HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI.
“Semoga padimu sehat,” katanya.
Lalu ia turun.
Aku berdiri di depan rak hama padi selama satu menit penuh, dan merasa seperti hama padi.
Malamnya, di kamarku yang semua bukunya tersusun menurut warna punggung, aku mengeluarkan amplop lilac itu dan meletakkannya di tengah meja belajar seperti barang bukti.
Kak Ren.
“Kak”. Berarti Sasa adik tingkat. Mahasiswi yang lebih muda, yang memanggilnya “Kak” dengan tinta ungu dan menggambar hati diarsir penuh. Seseorang yang menunggu Rendra pulang pada Sabtu jam tujuh.
Pintu kamarku diketuk dua kali. Ketukan Mama, pendek dan berjarak tepat satu detik.
“Lampumu masih nyala. Sudah jam sebelas.”
“Lagi baca materi, Ma.”
“Materi apa?”
Aku menatap kertas lilac di depanku. “Manajemen risiko.”
Hening sebentar di balik pintu. “Bagus. Jangan lewat jam dua belas.”
Langkahnya menjauh. Aku menghembuskan napas yang tidak sadar kutahan, lalu menyadari bahwa untuk pertama kalinya, aku berbohong pada Mama soal sesuatu yang bukan nilai.
Aku seharusnya mengembalikannya besok. Aku tahu itu. Aku adalah orang yang mengembalikan kembalian lebih kalau kasir salah hitung. Aku pernah menyetor dompet temuan ke satpam sambil membawa daftar isinya.
Tapi malam ini aku duduk di depan surat itu dan, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, membiarkan diriku menghitung sesuatu yang tidak ingin kuhitung.
Tiga tahun aku menunggu momentum yang tepat. Tiga tahun aku menyimpan pulpen dengan bekas gigitan. Dan selama itu, seseorang bernama Sasa sudah punya tempat yang bisa ia sebut “pulang” bersamanya.
Aku tidak kalah. Aku bahkan belum pernah ikut bertanding.
Aku membuka planner kulit cokelat ke halaman kosong paling baru, mengambil pulpen hitam bekas gigitan itu dari tempat pensil, lalu menulis satu kata di tengah halaman dengan huruf kapital.
SASA.
Di bawahnya, setelah ragu cukup lama sampai tintanya menitik, aku menulis:
Siapa kamu?
Amplop lilac itu kuselipkan di halaman belakang planner, di antara jadwal rapat dan daftar belanja. Aku bilang pada diriku bahwa itu hanya sementara, sampai aku menemukan cara yang tepat untuk mengembalikannya.
Itu kebohongan pertama.
Aku tidak tahu waktu itu bahwa kebohongan, sama seperti rencana, selalu beranak.
- 1 Surat di Buku Pinjaman reading
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama