Chapter Twenty
Kenapa Dia Menjauh?
POV: Rendra
Ide cincin itu datang dari Sasa.
“Kak Ren,” katanya di grup Aliansi Sasa Se-UDB + Kak Ren (Anggota Kehormatan) hari Kamis malam, setelah perpustakaan, setelah eksperimen, dan setelah aku duduk di meja empat belas selama dua puluh menit tanpa bisa membaca satu kalimat pun. “Ayah sama Tante kan belum punya cincin kawin. Ayah bilang nanti aja, yang penting akadnya. Tapi masa nikah nggak pakai cincin?? Kita patungan yuk beliin! Kejutan dari anak-anak!”
Anak-anak.
Aku membaca kata itu tiga kali.
Aku bisa ukur jari Tante! lanjut Sasa. Jari manis aku sama Tante ukurannya sama, aku pernah coba cincin Tante yang batu akik itu hehe. Kak Ren ukur jari Ayah ya! Diam-diam! Pakai benang!
Sasa Tebing menambahkan: Aku ikut patungan 50rb. Aku bukan anak siapa-siapa tapi aku anggota aliansi 🫡
Minggu pagi, aku menjemput Sasa di rumahnya dengan motor. Ia memakai kardigan kuning dan pita hijau, dan membawa selembar kertas kecil bertuliskan ukuran jari Om Hendra. Aku mengukurnya diam-diam dengan benang jahit waktu Om Hendra tertidur di kursi rotan, setelah makan rendang kedua kalinya di rumah kami.
Di Toko Mas Sinar Jaya, Pasar Baru, Sasa mencoba cincin kecil di jari manisnya dan mengangkatnya ke cahaya lampu. Ia tertawa, karena menurutnya, “Kak, jariku jadi kelihatan kayak jari ibu-ibu arisan!”
Aku memegang tangannya untuk memeriksa ukurannya. Aku tidak pernah memegang tangan Sasa sebelumnya. Tangannya kecil, hangat, dan sedikit gemetar. Mungkin karena gugup. Mungkin karena itu pertama kalinya aku menyentuhnya dengan sengaja.
“Pas?” tanyaku.
“Pas, Kak. Tante pasti suka.”
Penjual toko, bapak-bapak berkumis dengan batik cokelat, tersenyum lebar. “Untuk pernikahan, Mas? Wah, selamat ya! Pasangan yang serasi!”
Sasa tersedak ludahnya sendiri.
“Pernikahan orang tua kami, Pak,” kataku.
Bapak itu mengerjap. Lalu senyumnya berubah, lebih lembut. “Oh. Wah. Anak-anak yang baik. Jarang ada anak yang beliin cincin buat orang tuanya.”
“Kami bukan...” Sasa mulai bicara, lalu berhenti. Ia menoleh padaku, dan aku melihat pertanyaan di matanya: boleh aku bilang kita saudara?
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku mengangguk.
Sasa menatapku lama. Lalu ia memeluk lenganku dengan kedua tangan, erat sekali, seperti takut lenganku akan diambil kembali. Ia tidak berkata apa-apa. Aku juga tidak.
Aku tersenyum. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena untuk pertama kalinya kata kami terasa tidak asing di mulutku.
Waktu itu aku tidak tahu bahwa sepuluh meter di belakang kami, di balik manekin pengantin berkebaya putih, ada tiga orang yang berjongkok.
Dan salah satunya sedang menyaksikan dunianya runtuh.
Pesan itu masuk hari Minggu pukul 21.14.
Aku minta maaf soal eksperimen di perpustakaan. Itu salah. Aku nggak seharusnya melakukan itu.
Kita jangan ketemu dulu.
Aku sedang duduk di meja kasir toko dengan pot cabai rawit di sebelahku. Aku menyiramnya malam hari karena lupa menyiramnya pagi tadi. Om Hendra pasti akan kecewa. Buah cabainya sekarang ada tiga. Dua merah, satu masih hijau.
Aku membaca pesan itu sekali, lalu sekali lagi.
Salah.
Aku menyimpan kata itu di kepala dan memutarnya ke semua arah, seperti memeriksa kristal di bawah lampu. Salah dalam arti apa? Salah secara metodologis, karena sampelnya kurang? Salah secara etis? Atau salah karena orangnya yang salah?
Aku mengetik: Salah kenapa?
Satu centang abu-abu. Terkirim, tapi tidak sampai.
Ponselnya mati.
Aku menatap satu centang abu-abu itu sampai Ibu turun dari lantai atas dan bertanya kenapa lampu toko belum dimatikan padahal sudah jam sepuluh.
Senin, satu centang abu-abu.
Selasa pagi, dua centang abu-abu. Ponselnya sudah menyala lagi, tapi pesanku tidak dibaca.
Selasa siang, di grup Dies Natalis FEB yang tidak sengaja masih kuikuti sejak bazar, ia mengirim pesan panjang soal laporan pertanggungjawaban. Lengkap, rapi, dengan poin-poin bernomor dan tenggat waktu. Aku membacanya seperti membaca surat dari seseorang yang pindah ke luar negeri.
Rabu, masih dua centang abu-abu.
Kamis, pukul 16.30, meja sembilan kosong.
Tiga tahun. Dua ratus lima puluh tujuh Kamis. Aku menghitungnya tanpa pernah berniat menghitung. Setiap Kamis, meja sembilan selalu terisi. Laptop di tengah, planner di kiri, tempat pensil di kanan, botol air di sudut atas dengan label menghadap depan.
Hari ini meja sembilan hanya meja. Kayu cokelat dengan goresan-goresan pulpen dari mahasiswa yang bosan, dan pohon ketapang di luar jendela yang tidak punya siapa-siapa untuk diawasi.
Pukul 16.45, aku berhenti berpura-pura membaca.
Pukul 17.00, aku menulis sesuatu di buku catatan hitam, lalu mencoretnya. Aku menulis lagi, mencoretnya lagi. Aku menulis untuk ketiga kalinya dan membiarkannya.
Kalau pola berubah tanpa sebab yang diketahui, cari variabel yang hilang.
Aku menatap kalimat itu lama. Aku tahu apa yang hilang. Aku hanya tidak tahu kenapa.
Aku mengirim pesan ke grup Aliansi.
Anindya kenapa?
Sasa membalas dalam tiga detik, seolah-olah ia sudah menunggu dengan ponsel di tangan.
KAK REN!!! AKU JUGA MAU NANYA!!! Kak Kirana aneh seminggu ini!! Dia nggak mau makan siang bareng!!! Dia bilang sibuk LPJ!!! Aku kirim lelucon, dia cuma bales “haha”!!! HAHA DOANG KAK!!! Kak Kirana nggak pernah bales “haha” doang!!!
Sasa Tebing: Waktu KKN dia bales lelucon Gio pakai analisis 3 paragraf kenapa leluconnya nggak lucu. Jadi kalau sekarang cuma “haha”, itu krisis.
Kak Ren ngapain dia?? tulis Sasa. Kak Ren bikin dia sedih ya?? 😤
Aku menatap layar.
Aku nggak tahu, ketikku.
Kalimat yang sangat jarang kutulis. Aku orang yang selalu tahu. Aku menghitung peluang, menghafal nomor bangku, dan memperhatikan rak yang miring satu derajat.
Tapi aku tidak tahu kenapa seseorang yang menciumku di meja empat belas dengan alasan “eksperimen”, lalu bilang “inkonklusif” dengan pipi semerah tomat, tiga hari kemudian menyebut ciuman itu salah.
Jumat sore, aku berdiri di depan gedung FEB. Aku mengenakan kemeja flanel abu-abu yang sama dengan hari bazar, dan merasa seperti mahasiswa baru yang tersesat di fakultas yang salah.
Gio menemukanku di tangga depan. Ia berhenti, menatapku, lalu menghela napas panjang seperti orang yang sudah menduga hari ini akan datang.
“Kak Rendra.”
“Gio.”
“Dia di lantai tiga. Rapat evaluasi Dies Natalis. Selesai jam lima.” Gio melirik jam tangannya. “Sepuluh menit lagi.”
“Terima kasih.”
Aku melangkah ke tangga. Gio menahan lenganku, pelan tapi tegas.
“Kak,” katanya. “Aku nggak bisa cerita. Aku janji sama dia.”
“Aku nggak minta kamu cerita.”
“Aku tahu. Tapi aku mau bilang satu hal.” Gio menatapku dengan mata yang serius, tidak seperti Gio yang biasa menyanyi dangdut dengan lirik salah. “Kalian berdua itu sama-sama bodoh soal ngomong langsung. Dia nulis slide. Kakak nulis di kertas kecil. Nggak ada yang ngomong.”
Aku menatapnya.
“Jadi kali ini,” kata Gio, melepaskan lenganku, “ngomong, Kak. Pakai mulut. Jangan pakai pulpen.”
Rapat selesai pukul lima lewat tiga menit. Aku tahu, karena aku berdiri di bordes tangga antara lantai dua dan tiga, dan menghitung setiap langkah yang turun.
Ia turun terakhir, sendirian, dengan map cokelat di pelukan dan tas di bahu.
Ia melihatku di bordes. Langkahnya berhenti di anak tangga ketiga dari atas.
Seminggu. Wajahnya tidak berubah banyak dalam seminggu: tetap cantik, tetap rapi, dan rambutnya tetap tergerai tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya. Tapi ada sesuatu di bawah matanya. Bayangan tipis, seperti bekas pensil yang dihapus tapi tidak sepenuhnya hilang.
“Mahesa,” katanya.
Nama belakang. Kembali ke nama yang ia pakai sebelum kebun teh, sebelum ia pertama kali memanggil nama depanku di dalam kabut.
“Anindya.”
“Aku ada janji.”
“Lima menit.”
“Aku nggak punya lima menit.”
Ia turun, melewatiku di bordes tanpa menoleh, dan melanjutkan ke anak tangga berikutnya.
Aku tidak berpikir. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menghitung peluang, tidak menimbang risiko, dan tidak memeriksa ke mana arah angin. Aku hanya bergerak.
Aku melangkah turun dua anak tangga, lalu memeluknya dari belakang.
Lenganku melingkar di bahunya, di atas map cokelat yang ia peluk. Dadaku menempel di punggungnya. Aku bisa mencium bau rambutnya, sampo yang wanginya seperti hujan di hari kedua. Tubuhnya membeku di pelukanku. Map di tangannya tertekan di antara lenganku dan dadanya.
“Jangan jalan dulu,” kataku ke rambutnya. “Satu menit.”
Ia tidak bergerak. Aku bisa merasakan napasnya naik turun di bawah lenganku, tidak teratur.
“Lepasin,” katanya pelan.
“Satu menit.”
“Mahesa.”
“Rendra,” kataku. “Kamu udah pernah panggil aku Rendra. Di kebun teh.”
Ia diam lama sekali. Di bawah kami, di lantai dasar, terdengar suara mahasiswa yang tertawa, pintu yang dibanting, dan satpam yang meniup peluit di parkiran. Dunia berjalan terus di sekeliling kami seperti tidak ada yang terjadi.
“Kenapa salah?” tanyaku.
Ia tidak menjawab.
“Pesanmu. Kamu bilang eksperimen itu salah. Kenapa?”
“Karena...” Suaranya tersangkut. Ia menarik napas, dan aku bisa merasakannya di lenganku. “Karena aku nggak mau jadi orang yang ngambil sesuatu yang bukan punyaku.”
Aku mengerutkan dahi ke rambutnya.
“Ngambil apa?”
Ia tidak menjawab.
Aku mencoba mengerti. Aku menyusun data, seperti biasa: telepon mamanya di KKN, foto payung yang dikirim ke mamanya, anak penjual buku bekas di Gang Kenari, dan Mama bilang jangan buang waktu untuk hal-hal yang tidak perlu.
“Kalau ini soal mamamu,” kataku pelan. “Soal aku anak penjual buku bekas...”
“Bukan soal Mama.”
Ia berbalik di dalam pelukanku. Wajahnya sekarang di depanku, sangat dekat, dan matanya merah. Tidak sampai menangis. Matanya berkaca-kaca, dengan kilau yang ditahan mati-matian di pelupuk, seperti genangan yang dilarang tumpah.
“Bukan soal Mama,” ulangnya. “Bukan soal kamu anak siapa. Aku nggak peduli kamu anak siapa.”
“Terus soal apa?”
Ia menatapku. Aku melihat kalimat itu di matanya, di ujung lidahnya. Kalimat yang ia tahan dengan seluruh tenaganya.
Lalu ia mendorong dadaku dengan map cokelatnya. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat jarak.
“Kamu sudah punya seseorang,” katanya. Suaranya bergetar. “Seseorang yang nunggu kamu pulang.”
Lalu ia berbalik dan berlari menuruni tangga. Tidak berjalan, tapi berlari. Suara sepatunya bergema di tangga gedung FEB, satu lantai, lalu dua lantai, sampai hilang.
Aku berdiri di tangga dengan lengan yang masih setengah terangkat, di posisi yang sama waktu ia masih ada di dalamnya.
Seseorang yang nunggu kamu pulang.
Aku mengulang kalimat itu di kepala. Kalimat yang aneh, kalimat yang tidak masuk akal. Siapa yang menungguku pulang? Ibu. Setiap malam, dengan piring nasi di bawah tudung saji dan kertas kecil di atasnya. Om Hendra, yang sekarang mulai sering datang dan duduk di kursi rotan. Dan...
Dan Sasa, yang pernah menungguku di meja makan sampai jam sembilan dengan tumis cabai hijau tidak pedas.
Aku menggeleng. Tidak mungkin. Anindya tahu Sasa. Mereka makan siang bersama setiap Selasa. Sasa pasti sudah cerita. Sasa cerita ke semua orang. Sasa bahkan mengirim foto surat balasanku.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Seperti tanda minus di tempat yang seharusnya plus.
Ponselku bergetar waktu aku masih berdiri di tangga.
Grup Aliansi.
Sasa: KAK REN!!! PENGUMUMAN PENTING!!!
Sasa: Aku mau undang Kak Kirana ke makan malam keluarga!! Sabtu besok!! Di rumah Ayah!! Tante ikut! Kak Ren WAJIB ikut!!
Sasa: Sekalian Ayah sama Tante mau umumin tanggal nikahnya secara resmi!! Terus kita kasih cincinnya!! 😭💛
Sasa: Kak Kirana belum tahu soal Ayah sama Tante. AKU SENGAJA BELUM BILANG. BIAR SURPRISE!!! Dia pasti seneng banget tahu dua orang favoritnya bakal jadi saudara!!! 🥹🥹🥹
Aku membaca pesan terakhir itu satu kali.
Lalu sekali lagi, pelan, kata demi kata.
Kak Kirana belum tahu soal Ayah sama Tante.
Tanda minus di tempat yang seharusnya plus.
Aku menatap tangga yang kosong, tempat suara sepatunya bergema dan menghilang.
Kamu sudah punya seseorang yang nunggu kamu pulang.
Pasar Baru. Cincin di jari manis Sasa. Pasangan yang serasi. Kantin FIB: Kamu kenal dia baik. Seberapa cukup? Payung dan jas hujan kuning. Dia anak baik. Aku tahu.
Potongan-potongan itu mulai bergeser di kepalaku, seperti persamaan yang tiba-tiba terlihat berbeda setelah satu tanda diubah.
Aku belum bisa melihat seluruh gambarnya. Masih ada variabel yang hilang, sesuatu yang tidak kuketahui dan tidak bisa kuhitung. Tapi setidaknya sekarang aku tahu satu hal dengan pasti.
Ia tidak menjauh karena mamanya, dan tidak menjauh karena aku anak penjual buku bekas.
Ia menjauh karena ia pikir aku milik orang lain.
Aku mengetik balasan di grup dengan jari yang tidak terlalu stabil.
Aku ikut.
Lalu satu pesan lagi, hanya untuk Sasa:
Sabtu nanti, biar aku yang bilang ke Anindya. Sebelum makan malam.
Sasa membalas dengan emoji yang tidak kumengerti: sebuah amplop, sebuah hati, dan sebuah wajah yang menangis bahagia.
Aku memasukkan ponsel ke saku dan menuruni tangga gedung FEB pelan-pelan, satu anak tangga demi satu. Aku menghitung setiap langkah, karena itu satu-satunya hal yang bisa kuhitung.
Di anak tangga terakhir, aku menyadari sesuatu yang aneh.
Aku tidak lagi merasa takut pada rencana.
Untuk pertama kalinya sejak papan tulis di dapur kami kosong, aku punya rencana. Rencana sederhana, tanpa slide, tanpa spidol warna-warni, dan tanpa catatan kaki.
Sabtu. Sebelum makan malam. Pakai mulut, bukan pulpen.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh? reading
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama