Chapter Sixteen
Ternyata Aku Menunggu Dia
POV: Rendra
Bus yang membawa kami pulang dari Cibeureum berangkat pukul tujuh pagi. Empat puluh lima menit kemudian, Koordinator Kelompok 17 tertidur di bahuku.
Awalnya ia tidak tidur. Ia duduk tegak di kursi sebelahku, di dekat jendela, dengan jilidan program kerja di pangkuan dan pulpen hitam di tangan, mencentang semua program yang sudah terlaksana. Ada dua puluh tiga centang. Satu program diberi tanda silang dengan keterangan kecil: Gagal karena genset.
“Itu bukan gagal,” kataku.
“Genset mati.”
“Acaranya jalan.”
“Tanpa kartu.”
“Acaranya jalan tanpa kartu. Itu lebih dari berhasil.”
Ia menatapku dari samping dengan dahi berkerut, seperti orang yang sedang menimbang apakah pendapat asisten dosen Statistika boleh dijadikan dasar revisi laporan. Lalu, pelan-pelan, ia mencoret tanda silangnya dan menggantinya dengan centang kecil. Di sebelahnya, ia menulis dengan huruf lebih kecil lagi: Dibantu dukun matematika.
Aku menoleh ke jendela supaya ia tidak melihat mukaku.
Setelah itu ia menutup jilidannya, menyandarkan kepala ke sandaran kursi, dan menatap kebun teh yang bergerak mundur di luar jendela. Kelopak matanya turun sedikit demi sedikit. Tiga kali ia menegakkan kepala dengan kaget, seperti murid yang tertidur di kelas dosen galak.
Di kali keempat, kepalanya jatuh ke bahuku dan tidak terangkat lagi.
Aku tidak bergerak. Selama satu setengah jam, sampai bus masuk tol Cileunyi, aku tidak bergerak sama sekali. Bahuku pegal, leherku kaku, dan kaki kananku kesemutan sampai terasa seperti diisi pasir. Tapi aku tidak bergerak, karena setiap kali bus berguncang, ia bergumam sesuatu yang tidak jelas dalam tidurnya, lalu merapatkan hoodie abu-abu yang ia pakai. Hoodie-ku, yang belum ia kembalikan.
Aku tidak mau ia bangun.
Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku tidak ingin sesuatu berakhir.
“Psst.” Gio mencondongkan badan dari kursi di seberang lorong, ponsel di tangan, dengan kamera sudah terbuka. “Satu foto aja. Buat arsip BEM.”
Aku menatapnya.
“Oke, bukan buat arsip BEM,” bisik Gio. “Buat arsip pribadi. Buat kalau suatu hari dia ngomel ke aku soal risoles, aku punya bukti dia pernah tidur ngiler di bahu asisten dosen.”
“Dia nggak ngiler.”
Gio melihat bahuku. Aku ikut melihatnya.
Ada sedikit bekas basah di kausku.
Gio menahan tawa sampai wajahnya ungu. Aku mengulurkan tangan, tanganku yang bebas, dan ia menyerahkan ponselnya dengan pasrah. Aku menghapus fotonya. Lalu aku menghapus juga foto di folder Terhapus, lalu mengembalikan ponselnya.
“Kamu teliti banget,” gumam Gio, terkesan sekaligus kecewa.
“Aku orangnya teliti.”
Gio menatapku lama. Lalu ia menyandarkan punggung ke kursinya dan berkata dengan suara sangat pelan, tanpa nada bercanda sama sekali:
“Jagain dia ya, Kak. Dia nggak pernah tidur di bus. Tiga tahun aku sama dia studi banding ke mana-mana, dia nggak pernah tidur. Selalu ngecek jadwal, selalu ngitung anggaran.”
Aku menunduk ke kepala yang bersandar di bahuku. Rambutnya yang biasanya rapi sekarang berantakan. Satu helai menempel di pipinya, sama seperti di bawah atap seng Toko Buku Mahesa.
Kali ini aku tidak menyibakkannya. Aku takut ia bangun.
Rendang Ibu memenuhi dua panci besar. Cukup untuk memberi makan satu RT, atau satu anak yang baru pulang KKN, ditambah ibu yang terlalu bahagia.
“Neng Kirana nggak ikut?” tanya Ibu begitu aku masuk toko dengan ransel di punggung.
“Dia pulang ke rumahnya, Bu. Mamanya nunggu.”
Wajah Ibu langsung jatuh, seperti adonan kue yang dibuka dari oven terlalu cepat. “Ibu sudah masak dua panci.”
“Aku bisa makan dua panci.”
“Kamu nggak bisa makan dua panci. Kamu makan setengah piring terus bilang kenyang.” Ibu mengaduk salah satu panci dengan sendok kayu, lebih keras dari yang diperlukan. Lalu tiba-tiba ia berhenti. “Kalau gitu, satu panci antar ke rumah Mas Hendra.”
Aku berhenti di anak tangga pertama.
“Bu.”
“Sasa belum makan rendang Ibu. Mas Hendra juga. Dan kamu belum pernah ke rumah mereka.”
“Bu, aku baru pulang. Aku capek.”
“Kamu bisa gendong Koordinator dua kilometer di kebun teh,” kata Ibu tanpa menoleh, “tapi nggak bisa gendong satu panci rendang tiga kilometer naik motor?”
Aku menatap punggung Ibu.
“Dari mana Ibu tahu aku gendong dia?”
“Sasa cerita.”
“Sasa tahu dari mana?”
“Dari teman KKN-mu yang namanya juga Sasa. Mereka tukeran nomor HP. Sekarang mereka punya grup WhatsApp namanya Aliansi Sasa Se-UDB.” Ibu akhirnya menoleh, dengan senyum yang terlalu lebar untuk orang yang sedang mengaduk rendang. “Anggotanya baru dua. Tapi katanya mau merekrut lima Sasa lagi.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku naik ke kamar, mandi, mengganti kaus yang bahunya ada bekas basah, lalu turun lagi dan mengambil panci rendang dari tangan Ibu tanpa berkata apa-apa.
Ibu tidak berkata apa-apa juga. Tapi waktu aku keluar pintu, aku mendengarnya bersenandung lagu dangdut, dan kali ini lagunya bukan lagu sedih.
Rumah Om Hendra ternyata kecil, bercat biru muda, dengan halaman sempit yang dipenuhi pot-pot cabai. Pot-pot itu disusun berundak di rak besi seperti kebun teh mini. Di pagarnya tergantung papan kayu kecil bertuliskan tangan: Awas, Cabai Galak.
Aku mengetuk pintu dengan panci rendang di tangan kiri.
Pintu terbuka, dan Sasa berdiri di sana dengan daster bermotif bebek, rambut dicepol asal-asalan, dan buku di tangan. Ia menatapku seperti melihat hantu di siang bolong.
“K-Kak Ren?”
“Rendang,” kataku, menyodorkan panci. “Dari Ibu.”
Sasa menatap panci, lalu menatapku, lalu menatap panci lagi. Lalu, tanpa peringatan, ia berbalik dan berteriak ke dalam rumah dengan suara yang bisa membangunkan seluruh kompleks:
“AYAAAH! KAK REN DATANG! KAK REN! BAWA RENDANG! PAKAI MOTOR! BENERAN KAK REN!”
Dari dalam terdengar suara barang jatuh, disusul langkah kaki tergesa. Om Hendra muncul di belakang Sasa dengan kaus oblong, sarung, dan kacamata baca yang miring. Ia menatapku sama seperti Sasa menatapku: seperti melihat hantu yang ternyata ramah.
“Ren,” katanya.
“Om.”
“Masuk. Masuk. Ya ampun. Masuk.”
Aku masuk.
Ruang tamu mereka sempit dan penuh buku. Rak buku dari lantai sampai langit-langit, dan tumpukan buku di atas meja, kursi, dan lantai. Aku langsung merasa seperti di rumah sendiri. Di dinding tergantung foto keluarga yang sudah pudar: Om Hendra yang lebih muda dan berkumis lebih tebal, seorang perempuan berkerudung dengan senyum yang persis seperti senyum Sasa, dan seorang bayi gemuk di pangkuannya.
Di rak paling dekat pintu, di antara buku-buku sastra, aku melihat deretan buku resep. Dua kardus buku resep, yang dulu kuhitung dan kuangkut sendiri ke mobil Om Hendra.
Ada satu yang punggungnya sudah retak karena terlalu sering dibuka: Masakan Rumahan untuk Pemula.
“Itu yang Sasa pakai,” kata Om Hendra, mengikuti arah pandanganku. “Buat masak waktu itu.”
Aku tahu yang ia maksud dengan waktu itu.
Sasa sudah menghilang ke dapur dengan panci rendang. Terdengar suara piring, sendok, dan senandung lagu yang tidak kukenal.
Om Hendra duduk di kursi rotan dan memberi isyarat agar aku duduk di sofa. Ia menatapku, lalu menatap rak buku, lalu menatapku lagi. Ia jelas sedang mencari lelucon, dan jelas tidak menemukannya.
“Ren,” katanya akhirnya. “Terima kasih sudah antar Sasa ke terminal.”
“Itu bukan apa-apa, Om.”
“Buat dia itu apa-apa.” Om Hendra membetulkan kacamatanya. “Dia pulang malam itu, masuk kamar, terus nggak keluar lagi. Saya kira dia sakit. Ternyata dia duduk di lantai, meluk bantal, senyum-senyum sendiri sampai jam dua pagi.”
Aku menatap tanganku.
“Dia bilang, ‘Yah, Kak Ren nanya aku udah makan belum.’” Suara Om Hendra sedikit bergetar di ujung. “Cuma itu. Tapi dia ulang-ulang terus sampai saya hafal.”
Dari dapur, senandung Sasa masih terdengar.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Enam surat di kotak sepatu, satu makan malam yang tidak kudatangi, dan tiga hari tumis cabai yang dihabiskan sendirian. Semua itu, rupanya, bisa dibayar dengan satu pertanyaan di tangga teras posko KKN.
Tidak adil. Tidak adil betapa sedikitnya yang ia minta.
Sasa kembali dengan tiga piring rendang dan nasi. Ia meletakkannya di meja dengan sangat hati-hati, lalu duduk di lantai, bukan di kursi. Seperti takut kalau ia duduk terlalu dekat, aku akan pergi.
Kami makan dengan canggung. Om Hendra mencoba melucu dua kali. Yang pertama soal rendang yang “kalau dimasak lama jadi rendang, kalau dimasak sebentar jadi rendah hati”. Aku tidak mengerti, tapi Sasa tertawa sampai tersedak.
Setelah Om Hendra pamit ke belakang untuk “menyiram cabai”, yang jelas cuma alasan, Sasa dan aku duduk berdua di ruang tamu yang penuh buku.
Sasa menatap piringnya. Aku menatap piringku.
“Kak Ren,” katanya pelan.
“Hm.”
“Makasih udah datang.”
“Aku cuma antar rendang.”
“Tetap aja.” Ia memutar-mutar sendok di piring. “Kakak belum pernah ke sini.”
Aku menarik napas.
“Soal makan malam itu,” kataku. “Yang Sabtu...”
“Udah, Kak!” Sasa buru-buru mengangkat kepala dengan senyum lebar, terlalu lebar, dan terlalu cepat. “Nggak apa-apa! Tumisnya enak kok. Aku makan sendiri tiga hari. Nggak mubazir!”
“Sasa.”
“Beneran, Kak. Kakak mungkin sibuk. Kakak kan asisten dosen. Banyak kuis.”
Aku menatap anak perempuan di lantai itu, dengan daster bebek dan cepol asal-asalan. Ia sedang menyusun alasan untukku, supaya aku tidak merasa bersalah atas sesuatu yang memang salahku.
“Lain kali,” kataku, “aku datang.”
Sasa berhenti memutar sendok.
“Lain kali?”
“Kalau kamu masak lagi. Aku datang.” Aku berhenti sebentar. “Tapi jangan tumis cabai. Aku nggak kuat pedas.”
“Itu yang nggak pedas, Kak! Khusus buat Kakak!”
“Aku tahu,” kataku. “Om Hendra cerita.”
Sasa menatapku dengan mata yang pelan-pelan berkaca-kaca. Lalu ia tertawa. Tertawa sambil menangis, kombinasi yang dulu kupikir hanya ada di film. Ia mengusap matanya dengan lengan daster bebek.
“Maaf, Kak. Aku cengeng.”
“Aku tahu. Kak Kirana cerita.”
Tangis Sasa berhenti, lalu matanya menyipit. Seperti anak kucing yang baru mencium bau ikan.
“Kak Kirana cerita soal aku?”
“Sedikit.”
“Kakak sering ngobrol sama Kak Kirana?”
“Kami satu kelompok KKN.”
“Kakak gendong Kak Kirana dua kilometer di kebun teh.”
Aku tidak menjawab.
“Kakak kasih Kak Kirana hoodie.”
“Pinjam.”
“Kakak naik panggung buat Kak Kirana. Kakak yang nggak pernah mau naik panggung. Kakak yang dulu pura-pura sakit perut waktu disuruh baca puisi di acara tujuh belasan RT.”
“Dari mana kamu tahu soal puisi...”
“Tante cerita!” Sasa mencondongkan badan ke depan. Matanya berbinar seperti lampu kuning di toko Ibu. “Kak Ren.”
“Hm.”
“Kakak suka Kak Kirana, ya?”
Ruang tamu itu sunyi. Dari belakang rumah terdengar suara air dari selang dan Om Hendra yang bersenandung sambil menyiram cabai. Di dinding, foto perempuan berkerudung dengan senyum Sasa menatapku dari balik kaca yang sedikit berdebu.
Aku bisa berbohong. Aku bisa bilang nggak, atau kami cuma teman, atau itu bukan urusanmu. Aku sudah melakukannya pada Ibu selama berminggu-minggu, pada Gio di bus, dan pada diriku sendiri selama tiga tahun di meja empat belas.
Tapi anak di depanku ini sudah menulis enam surat untukku, dan aku belum membalas satu pun.
Jadi setidaknya aku bisa menjawab satu pertanyaannya dengan jujur.
“Iya,” kataku.
Satu kata. Aku kira mengucapkannya akan terasa seperti melompat ke kolam dingin. Ternyata rasanya seperti meletakkan tas berat yang sudah terlalu lama kupikul.
Sasa diam selama tiga detik penuh.
Lalu ia menjerit.
Bukan jeritan kaget. Jeritan bahagia, melengking dan panjang, seperti ketel air yang mendidih. Ia berdiri, melompat-lompat di tempat dengan daster bebeknya, lalu berlari ke pintu belakang dan berteriak:
“AYAAAH! KAK REN SUKA SAMA KAK KIRANA! KAK REN BILANG IYA! AKU TAHU! AKU UDAH TAHU DARI AWAL!”
Dari halaman belakang terdengar suara selang jatuh.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku pulang pukul sembilan malam dengan panci kosong dan ponsel yang terus bergetar.
Grup WhatsApp Aliansi Sasa Se-UDB ternyata sudah menambahkan satu anggota baru tanpa izin. Anggota itu aku. Nama grupnya sudah diganti menjadi Aliansi Sasa Se-UDB + Kak Ren (Anggota Kehormatan).
Pesan pertama dari Sasa:
SELAMAT DATANG KAK REN!!! 🎉🎉🎉
Misi kita: menyatukan Kak Kirana dan Kak Ren!!!
Sasa Tebing: siap komandan 🫡
Kak Ren jangan left ya. Kalau left nanti aku masukin lagi. Aku admin 😤
Aku menatap layar ponselku di lampu merah perempatan Dago, dengan panci kosong terikat di jok belakang motor.
Aku tidak keluar dari grup.
Di rumah, aku menaruh panci di dapur dan naik ke kamar. Aku membuka kotak sepatu di kolong tempat tidur dan menatap enam amplop lilac di dalamnya.
Lalu, untuk pertama kalinya, aku mengambil selembar kertas dari buku catatan hitamku dan pulpen merah, dan mulai menulis.
Sasa,
Aku berhenti. Aku tidak tahu harus menulis apa. Aku tidak pernah menulis surat, tidak pernah membalas, dan tidak pernah tahu bagaimana orang memulai kalimat yang seharusnya ditulis delapan belas bulan lalu.
Aku menatap kertas itu lama sekali. Lalu aku menulis satu kalimat:
Rendangnya habis? Aku lupa bilang, itu resep Ibu. Nanti kutanyakan resepnya, biar kamu bisa masak juga.
Kalimat yang sangat buruk untuk surat pertama. Tidak ada puisi dan tidak ada hati yang diarsir penuh.
Aku melipatnya dua kali dan menaruhnya di atas meja, untuk dititipkan lewat Ibu besok pagi.
Lalu aku berbaring, menatap langit-langit kamar, dan membiarkan diriku memikirkan sesuatu yang selama tiga tahun kuhindari.
Aku sudah tahu sejak lama. Sejak minggu keenam semester dua, sejak seorang perempuan di meja sembilan tertawa tanpa suara lalu buru-buru menutupnya. Sejak aku mulai datang ke perpustakaan setiap Kamis, bukan karena pohon ketapang, tapi karena ingin memastikan polanya masih ada.
Aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku orang yang tidak menunggu siapa pun. Aku bilang orang yang menunggu akan ditinggalkan, dan kursi hijau di lantai bawah adalah buktinya. Aku bilang aku cuma suka pola, rutinitas, dan hal-hal yang bisa diramal.
Tapi ternyata tiga tahun di meja empat belas bukan tentang pola.
Ternyata, selama ini, aku menunggu dia.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia reading
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama