← Surat Salah Alamat

Chapter Six

Ketua BEM yang Aneh

POV: Rendra

Ibuku punya tiga cara menginterogasi orang.

Cara pertama, ia menawarkan pisang goreng. Cara kedua, ia menawarkan pisang goreng sambil duduk terlalu dekat. Cara ketiga, yang paling berbahaya, ia tidak menawarkan apa-apa. Ia hanya berdiri di ambang pintu kamarku dengan tangan terlipat di dada, lalu menunggu.

Malam itu, dua jam setelah Anindya pulang membawa buku akuntansi edisi kedua belas yang tidak ia butuhkan, Ibu memakai cara ketiga.

“Siapa dia?”

“Pembeli.”

“Pembeli.” Ibu mengulang kata itu seolah-olah aku baru mengucapkan kata kasar. “Pembeli yang kamu antar sampai mulut gang.”

“Ibu yang nyuruh.”

“Ibu nyuruh kamu antar. Ibu nggak nyuruh kamu senyum.”

Aku mengangkat kepala dari lembar kuis yang sedang kuperiksa. “Aku nggak senyum.”

“Ren.” Ibu melangkah masuk dan duduk di tepi kasurku, yang berarti interogasi ini baru dimulai. “Ibu yang melahirkan kamu. Ibu yang ganti popokmu. Ibu tahu bentuk mukamu kalau senyum, dan tadi, waktu kamu balik dari gang, mukamu bentuknya begitu.”

Aku kembali ke kuisku. Mahasiswa nomor empat belas menulis bahwa simpangan baku adalah “simpangan yang dibakukan oleh pemerintah.” Aku memberinya nilai dua, karena setidaknya ia jujur tidak tahu.

“Namanya Kirana,” kata Ibu, lebih kepada dirinya sendiri. “Anak FEB. Cantik. Sopan. Mau makan pisang goreng yang gosong tanpa bikin muka.”

“Ibu, pisang gorengnya nggak gosong. Ibu yang bilang gosong.”

“Kamu yang bilang gosong, supaya Ibu pergi.”

Ia benar. Aku tidak menjawab.

“Dia bakal datang lagi?”

“Nggak tahu.”

“Kamu mau dia datang lagi?”

Aku menulis nilai dua untuk mahasiswa nomor lima belas, yang menggambar kurva normal berbentuk kucing. Gambarnya bagus, tapi kurvanya salah.

“Ibu mau beli bantal,” kata Ibu, tiba-tiba berdiri.

“Bantal apa?”

“Bantal kursi. Buat kursi hijau.” Ia berjalan ke pintu, lalu menoleh dengan senyum yang terlalu lebar untuk jam sepuluh malam. “Kursinya keras. Kasihan kalau nanti ada yang duduk lama.”

“Bu.”

Pintu sudah tertutup.


Aku tidak berbohong waktu bilang tidak tahu apakah ia akan datang lagi. Aku orang yang terbiasa dengan kemungkinan. Teori peluang mengajarkan bahwa hal yang belum terjadi selalu punya nilai di antara nol dan satu, dan harapan hanyalah cara manusia membulatkan angka itu ke atas tanpa izin.

Tapi aku juga tidak sepenuhnya jujur.

Aku sudah melihat Anindya jauh sebelum ia meluruskan rak yang sudah lurus.

Semester dua. Perpustakaan lantai tiga masih sepi waktu itu, belum ditemukan mahasiswa yang suka membuat konten belajar estetik. Aku sudah duduk di meja empat belas sejak semester satu, karena dari sana aku bisa melihat pohon ketapang tanpa harus menoleh. Pohon itu satu-satunya hal di kampus ini yang tidak pernah bertanya aku mau jadi apa setelah lulus.

Lalu suatu Kamis, meja sembilan terisi.

Awalnya aku tidak memperhatikan orangnya. Yang kuperhatikan adalah caranya menata barang. Laptop di tengah, planner di kiri, tempat pensil di kanan, botol air di sudut atas dengan label menghadap depan. Semuanya diletakkan dengan jarak yang sama, seolah-olah ia mengukurnya dengan penggaris sebelum duduk.

Kamis berikutnya, susunannya persis sama. Kamis setelahnya juga.

Aku orang yang suka pola. Pola itu menenangkan, karena bisa diramal. Jadi tanpa sengaja, setiap Kamis aku mulai melirik meja sembilan untuk memastikan polanya masih ada, seperti orang yang memeriksa jam dinding padahal sudah tahu jam berapa.

Baru di minggu keenam aku benar-benar melihat wajahnya.

Ia sedang membaca sesuatu di ponsel, lalu tertawa. Setidaknya, bahunya bergetar, matanya menyipit, dan pipinya naik. Tapi tangannya langsung menutup mulut sebelum ada suara yang keluar, dan dalam dua detik wajahnya kembali rapi seperti sebelumnya. Seperti orang yang menjatuhkan gelas lalu buru-buru membersihkannya sebelum ada yang melihat.

Aku ingat berpikir: orang itu capek.

Bukan capek karena tugas. Capek karena harus rapi terus-terusan.

Belakangan aku tahu namanya dari papan pengumuman FEB, yang kulewati setiap kali mengantar berkas ke dekanat. Kirana Anindya, Mahasiswa Berprestasi, lalu Ketua BEM, dan IPK-nya naik dari semester ke semester seperti grafik saham perusahaan yang tidak pernah punya skandal.

Aku memotret papan itu bulan lalu. Aku sendiri tidak tahu kenapa. Mungkin karena fotonya di papan itu tersenyum dengan senyum yang sama persis dengan foto tahun lalu, sampai ke milimeternya, dan aku ingin membandingkannya.

Itu alasan yang aneh. Aku tidak pernah mengatakannya pada siapa pun.

Yang tidak pernah kuketahui adalah bahwa perempuan di meja sembilan itu juga perempuan di bangku B-12, di ujian gabungan semester satu. Waktu itu aku hanya melihat tangan yang gemetar di atas kertas dan pulpen yang tidak mau keluar tinta. Aku tidak melihat wajahnya. Aku terlalu gugup dengan ujianku sendiri untuk menoleh.

Aku meletakkan pulpenku di mejanya karena tangannya mengingatkanku pada tangan Ibu, bertahun-tahun lalu, waktu Ibu menandatangani kertas-kertas dari pengadilan agama dan pulpennya juga gemetar.

Lalu aku lupa. Aku kira aku lupa.

Tiga tahun kemudian, pulpen itu menggelinding ke sepatuku dari tempat pensil Kirana Anindya.

Dan ia bilang, dengan wajah paling serius yang pernah kulihat, bahwa ia menyimpannya karena SDGs nomor dua belas.


Seminggu kemudian, di ruang asisten dosen.

“Kak Ren, itu senyum ya?”

Aku mengangkat kepala. Salah satu mahasiswa yang kuasisteni, anak semester tiga bernama Putra, berdiri di depan mejaku dengan kertas kuis yang minta direvisi.

“Bukan,” kataku.

“Soalnya Kakak senyum sambil lihat pulpen merah.”

“Aku lagi mikir soal statistik.”

“Statistik apa yang bikin senyum, Kak?”

“Nilaimu,” kataku. “Naik dari dua ke tiga.”

Putra pergi dengan wajah bingung antara bahagia dan terhina.

Lima menit kemudian ia kembali, berdiri di ambang pintu dengan wajah seseorang yang sudah menimbang risiko dan memutuskan untuk tetap bertanya.

“Kak. Satu lagi.”

“Nilaimu nggak bisa naik lagi.”

“Bukan soal nilai.” Putra menurunkan suara. “Anak-anak bilang kemarin Ketua BEM FEB konsultasi ke sini. Sama wakilnya. Terus wakilnya keluar duluan sambil ketawa-ketawa, tapi ketuanya lama di dalam.”

Aku menatapnya.

“Kakak kan nolak jadi tutor anak Pak Dekan semester lalu,” lanjut Putra, semakin berani. “Padahal dibayar. Kok Ketua BEM FEB dilayani?”

“Dia bertanya soal koefisien,” kataku.

“Terus?”

“Koefisiennya salah tanda. Dia yang benerin.”

Putra mengerjap. “Jadi dia yang ngajarin Kakak?”

Aku kembali ke kuisku tanpa menjawab. Putra pergi sambil bergumam sesuatu tentang dunia yang sudah terbalik. Aku membiarkannya, karena ia tidak sepenuhnya salah.

Aku menunduk lagi ke meja. Aku memang sedang tersenyum. Bukan karena statistik, tapi karena mengingat seorang Ketua BEM yang bertanya dengan wajah tulus apakah galat bisa dihapus dengan doa.

Ia berbohong dengan sangat buruk. Itu hal yang paling mengejutkan tentang Kirana Anindya. Dari jauh ia terlihat seperti orang yang bisa membohongi seluruh senat universitas tanpa berkedip. Tapi dari jarak satu meja, kebohongannya bocor di mana-mana: di ujung telinganya yang memerah, di jarinya yang mengetuk-ngetuk planner, di caranya menatap langit-langit seolah-olah jawaban yang benar tertulis di sana dan ia sedang berusaha keras untuk tidak membacanya.

Dan waktu ia akhirnya menyerah dan mencoret tanda minus itu, ada sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat. Lega. Seperti orang yang akhirnya boleh berhenti menahan napas.

Aku menyuruhnya kembali Kamis depan.

Aku sendiri tidak tahu kenapa. Aku bukan orang yang mengundang orang. Aku orang yang menunggu orang pergi supaya bisa kembali membaca.

Tapi kalimat itu keluar begitu saja: bawa soal yang beneran kamu nggak bisa. Dan waktu ia bilang tidak ada soal yang tidak bisa ia jawab, aku ingin tertawa, karena aku sudah melihat soal itu di wajahnya. Soal yang ia coba jawab dengan slide, rencana, dan program mentoring palsu.

Aku hanya belum tahu soalnya apa.


Ponselku bergetar di atas meja. Nama Ibu muncul di layar.

“Ren, pulang jam berapa?”

“Jam tujuh.”

“Nanti ada Om Hendra mampir. Bawa cabai dari kebunnya.”

Aku diam.

“Ren?”

“Aku lembur, Bu. Ada kuis yang harus dinilai.”

“Kuis apa yang dinilai sampai malam? Kamu itu asisten, bukan dosen.”

“Kuis yang banyak.”

Ibu menghela napas panjang. Bukan helaan napas marah. Helaan napas yang lebih buruk: yang sabar, yang sudah terbiasa, yang tidak menuntut apa-apa.

“Ya sudah. Ibu sisakan makan.”

“Bu.”

“Hm?”

Aku ingin bilang sesuatu. Maaf, mungkin. Atau aku belum siap. Atau pertanyaan yang sudah berbulan-bulan tinggal di tenggorokanku: kenapa harus sekarang, setelah sepuluh tahun kita baik-baik saja berdua?

“Nggak jadi,” kataku. “Hati-hati pisang gorengnya, Bu.”

“Pisang gorengnya nggak gosong,” kata Ibu, lalu menutup telepon.

Aku menatap layar yang sudah gelap. Di luar jendela ruang asisten, langit Bandung mulai berubah jingga. Warnanya sama dengan sore di Gang Kenari, waktu seorang perempuan tertawa sampai membungkuk di depan tembok zaman Belanda dan lupa menutup mulutnya.

Ada banyak hal di hidupku belakangan ini yang tidak ingin kupikirkan. Makan malam hari Sabtu yang tidak kudatangi. Cabai dari kebun seseorang. Seorang anak perempuan berpita yang menunduk ke nasi kuning setiap kali aku masuk ruangan, seolah-olah aku ini petir yang harus dihindari.

Aku tidak siap memikirkan semua itu.

Tapi Kirana Anindya, anehnya, adalah hal yang ingin kupikirkan.

Mungkin karena ia juga seseorang yang terlalu banyak merencanakan hidup, sama seperti orang yang dulu pergi dari rumah kami. Bedanya, rencana Anindya selalu gagal dengan cara yang lucu. Dan setiap kali gagal, ia tertawa sedikit lebih jujur.


Malam itu aku pulang jam sembilan. Om Hendra sudah pulang. Di meja makan ada sepiring nasi dengan tumis cabai yang ditutup tudung saji, dan di atas tudung saji tertempel kertas kecil bertulisan tangan Ibu: Dihabiskan. Cabainya enak. Orangnya juga baik, kalau kamu mau kenal.

Aku makan sampai habis. Cabainya memang enak. Aku tidak mau mengakuinya, bahkan pada piring.

Waktu aku turun ke toko untuk mematikan lampu, aku melihatnya.

Kursi plastik hijau di pojok dekat kasir sekarang punya bantal. Bantal persegi berwarna krem, bermotif bunga-bunga kecil berwarna kuning. Masih ada label harganya.

Tiga puluh lima ribu.

Aku berdiri di depan kursi itu lama sekali.

Sepuluh tahun lalu, seminggu setelah Ayah pergi, aku memecahkan celengan ayam dan membeli kursi itu di pasar dengan uang receh yang kuhitung dua kali. Waktu itu toko kami sepi sekali. Pelanggan datang, membeli, lalu pergi. Tidak ada yang tinggal. Termasuk orang yang paling seharusnya tinggal.

Jadi aku membeli kursi untuk orang yang mau tinggal lama.

Bocah dua belas tahun memang berpikir dengan cara yang aneh.

Kursi itu kosong selama sepuluh tahun. Aku berhenti berharap pada kursi itu kira-kira di tahun ketiga. Sekarang kursi itu hanya perabot, sama seperti rak atau meja kasir. Sesuatu yang sudah ada dan tidak perlu dipikirkan.

Sampai tadi sore, ketika seorang Ketua BEM bertanya kenapa kursi itu kosong. Tidak ada yang pernah menanyakannya. Semua orang melihatnya, tapi tidak ada yang bertanya.

Aku mencabut label harga dari bantal itu, melipatnya kecil-kecil, lalu memasukkannya ke saku.

Lalu aku naik ke kamar, membuka buku catatan hitamku, dan di halaman yang biasanya berisi rumus-rumus yang belum selesai, aku menulis satu kalimat dengan pulpen merah, karena pulpen hitamku sekarang ada di tempat pensil orang lain:

Anindya tertawa. Ada bunyinya.

Aku menatap kalimat itu cukup lama.

Lalu aku menambahkan satu baris di bawahnya, lebih kecil:

Kamis. Jangan terlambat sepuluh menit lagi.