← Surat Salah Alamat

Chapter Eight

Rak Buku Sempit

POV: Kirana

Ide bazar buku datang dari Sasa. Itu yang membuatnya berbahaya.

“Dies Natalis kan temanya Merawat Akar, Menumbuhkan Masa Depan,” katanya di rapat panitia hari Senin, berdiri dengan kertas di tangan yang gemetar sedikit. Itu pertama kalinya ia bicara di depan dua puluh orang. “Gimana kalau ada bazar buku bekas? Buku bekas itu akar, Kak. Udah dibaca orang, udah punya cerita, terus dibaca lagi sama orang baru. Kayak... kayak dirawat terus tumbuh.”

Ruangan hening sebentar. Lalu Gio bertepuk tangan, pelan, dan diikuti yang lain.

“Bagus,” kataku. Dan aku bersungguh-sungguh. “Siapa mitranya?”

Sasa tersenyum lebar. Aku langsung tahu jawabannya sebelum ia membuka mulut, seperti tahu hasil ujian dari wajah dosen yang membagikannya.

“Toko Buku Mahesa! Di Gang Kenari! Tante Ratna pasti mau, Kak. Tante suka banget kalau bukunya dibaca anak muda.”

Gio melirikku dari seberang meja. Aku pura-pura sibuk menulis notulen.

“Kita butuh orang buat survei ke sana,” lanjut Sasa. “Cek stok, pilih buku yang cocok, tanda tangan perjanjian konsinyasi...”

“Kamu aja yang ke sana,” kataku cepat. “Kamu yang kenal pemiliknya.”

Wajah Sasa langsung redup, seperti lampu yang kehabisan token.

“Aku... nggak bisa, Kak. Kamis ada kuis Linguistik. Dosennya yang mirip burung hantu. Kalau aku bolos, dia bakal memelototiku sampai lulus.” Ia menunduk, lalu mengangkat kepala lagi dengan semangat yang dipaksakan. “Lagian, kalau aku yang ke sana... nanti Kak Ren nggak nyaman. Kakak aja ya? Kakak kan Ketua. Lebih resmi.”

Dua puluh pasang mata menatapku.

Operasi Rebut Hati tidak pernah merencanakan agar Subjek S sendiri yang mengirimku ke rumah Subjek R, lengkap dengan surat tugas resmi.

“Oke,” kataku. “Aku yang ke sana.”

“Yeay!” Sasa bertepuk tangan. “Salam buat Tante, ya, Kak! Bilang Sasa kangen pisang gorengnya!”


Kamis sore, aku berdiri di depan Toko Buku Mahesa dengan map cokelat berisi proposal, surat tugas bercap BEM, dan draf perjanjian konsinyasi dua halaman.

Kali ini aku datang dengan alasan yang sah. Alasan yang bisa diperiksa, dicap, dan dilegalisir.

Bel di atas pintu berbunyi.

“Neng Kirana!”

Bu Ratna muncul dari balik rak dengan kemoceng di satu tangan dan wajah secerah bohlam seratus watt. Ia menghampiriku dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan usianya, lalu memelukku. Benar-benar memelukku, dengan kemoceng yang ikut menepuk-nepuk punggungku.

“Ya ampun, Ibu kira Neng nggak bakal balik lagi! Ren! RENDRA! Neng Kirana datang!”

“Bu, saya datang untuk urusan BEM,” kataku sambil mengangkat map cokelat. “Ada rencana bazar buku di Dies Natalis FEB, dan kami ingin bermitra dengan...”

“Mau, mau, mau!” Bu Ratna bahkan tidak melirik proposalku. “Ibu mau semua. Mau bazar, mau mitra, mau apa saja. Neng duduk dulu. Ibu gorengkan pisang.”

“Bu, saya belum menjelaskan...”

“Sasa yang usul, kan?” Bu Ratna mengedip. “Anak itu kemarin telepon Ibu. Katanya, ‘Tante, nanti ada Kak Kirana ke sana, tolong baik-baik ya, Kak Kirana orangnya baik banget.’” Ia menirukan suara Sasa dengan nada tinggi yang sangat mirip. “Ibu bilang, Ibu sudah kenal. Ibu sudah pernah tunjukkan album.”

Map cokelat di tanganku terasa semakin berat.

Sasa menelepon Bu Ratna. Sasa menitipkanku pada Bu Ratna. Sasa, yang punya alasan paling kuat di dunia untuk tidak menginginkanku berada di dekat Rendra, justru mengirimku ke sini dan menyuruh calon mertuanya bersikap baik padaku.

“Bu,” kataku, “Sasa titip salam. Katanya kangen pisang goreng Ibu.”

Wajah Bu Ratna melembut. “Anak itu. Manis sekali. Kasihan, dari kecil nggak punya ibu.” Ia menghela napas pendek. “Ya sudah, nanti Ibu bungkuskan buat dia.”

Lalu, seperti kilat, wajahnya kembali cerah. “Ren! Kok belum turun? RENDRA!”

“Aku di sini, Bu.”

Suara itu datang dari belakangku, sangat dekat.

Aku berbalik. Rendra berdiri di ambang pintu toko dengan kantong plastik berisi kardus lipat. Sepertinya ia baru pulang belanja. Ia memakai kaus hitam dan jaket jins, rambutnya berantakan karena angin, dan ia menatapku dengan ekspresi seseorang yang baru menemukan kucing tetangga duduk di kursinya.

“Anindya.”

“Mahesa.”

“Kamu datang pakai alasan lagi.”

Aku mengangkat map cokelatku tinggi-tinggi, seperti polisi menunjukkan lencana.

“Kali ini alasannya resmi. Ada surat tugasnya. Ada capnya.”

Rendra melirik map itu. Lalu, dengan sangat pelan, sudut bibirnya bergerak.

“Cap basah?”

“Cap basah. Tanda tangan basah. Semuanya basah.”

“Bagus,” katanya. “Bahkan alasanmu sekarang punya nomor surat.”


Bu Ratna menyetujui kerja sama konsinyasi dalam waktu empat belas detik. Aku menghitungnya. Ia menandatangani perjanjian tanpa membacanya, menolak persentase bagi hasil yang kutawarkan (“Ambil saja semuanya, Ibu cuma mau bukunya laku”), dan akhirnya setuju dengan tujuh puluh banding tiga puluh setelah kuancam akan membatalkan kerja sama kalau ia tidak mau diuntungkan.

“Anak ini,” kata Bu Ratna pada Rendra, sambil menunjukku dengan pisang goreng, “ngotot supaya Ibu nggak rugi. Kamu dengar, Ren? Dia maksa Ibu untung.”

“Aku dengar, Bu.”

“Cari yang begini, Ren. Yang maksa kamu untung.”

“Bu.”

“Ibu cuma bilang.”

Masalahnya, kami perlu memilih dua ratus judul untuk bazar, dan buku-buku terbaik ternyata ada di gudang belakang. Gudang itu ruangan panjang dan sempit di balik tirai dapur, berisi empat rak besi yang berdiri berjajar dengan lorong di antaranya. Lorongnya begitu sempit sampai dua orang tidak bisa berpapasan tanpa salah satunya memiringkan badan.

“Ren, kamu bantu Neng Kirana stok opname,” kata Bu Ratna dengan wajah paling polos yang pernah kulihat pada manusia dewasa. “Ibu jaga toko.”

“Aku bisa sendiri, Bu,” kataku.

“Rak paling atas tinggi, Neng. Harus pakai tangga. Tangganya goyang. Kalau jatuh, nanti Ibu yang dimarahi BEM.”

Tiga menit kemudian, aku berdiri di lorong pertama gudang dengan papan jalan dan daftar judul. Rendra berdiri di lorong yang sama dengan kardus lipat di tangan.

Lorong itu lebarnya kira-kira enam puluh senti.

Aku tahu karena aku menghitungnya dengan mata. Enam puluh senti, dikurangi lebar bahuku, dikurangi lebar bahunya, sama dengan jarak yang terlalu dekat untuk dua orang yang berpura-pura tidak memikirkan jarak.

“Kamu hitung rak kiri,” kataku. “Aku rak kanan.”

“Rak kanan buku sastra,” katanya. “Kamu anak FEB.”

“Anak FEB bisa baca sastra.”

“Kamu pernah baca sastra?”

“Aku baca Laskar Pelangi waktu SD.”

“Itu wajib di sekolah.”

“Tetap sastra.”

Ia menatapku dari jarak yang, sekali lagi, terlalu dekat.

“Oke,” katanya. “Rak kanan buat kamu.”

Kami mulai bekerja.

Dua puluh menit pertama berjalan lancar. Aku mencatat judul, kondisi buku, dan harga. Rendra melipat kardus dan menata buku-buku yang sudah dipilih. Kami bekerja membelakangi satu sama lain, dan punggung kami hampir bersentuhan setiap kali salah satu dari kami menunduk.

Hampir. Selalu hampir.

Lalu aku harus mengambil buku di rak paling atas.

Aku berjinjit. Jariku menyentuh punggung buku itu, tapi tidak bisa menariknya. Aku berjinjit lebih tinggi, dan buku itu malah terdorong ke belakang.

Sebuah tangan terulur melewati kepalaku.

Rendra mengambil buku itu dengan mudah, tanpa berjinjit dan tanpa usaha. Ia berdiri tepat di belakangku, begitu dekat sampai aku bisa merasakan hangat tubuhnya di punggungku tanpa kami bersentuhan. Aku mencium bau sabun, kertas tua, dan sedikit minyak goreng yang terbawa dari dapur.

Ia tidak langsung mundur.

Aku juga tidak.

“Kamu menghalangi rak M sampai P,” kataku ke arah rak, karena aku tidak berani menoleh.

“Kamu menghalangi rak Q sampai Z,” katanya dari atas kepalaku.

“Rak ini cuma sampai P.”

“Berarti kamu menghalangi semuanya.”

Aku berbalik.

Itu kesalahan.

Dalam lorong enam puluh senti, berbalik berarti wajahku sekarang berada tepat di depan dadanya. Aku harus mendongak untuk melihat wajahnya, dan waktu aku mendongak, ia sedang menunduk.

Kami diam.

Di luar, samar-samar, terdengar suara minyak mendesis dan radio Bu Ratna memutar lagu dangdut lawas tentang cinta yang tidak direstui orang tua. Waktu yang sangat tidak tepat untuk lagu itu.

“Kamu mundur,” kataku.

“Kamu yang mundur.”

“Aku tamu.”

“Ini gudangku.”

“Aku perempuan.”

“Kita setara di depan hukum.”

“Aku Ketua BEM.”

“Ini bukan wilayah BEM.”

Ia tidak mundur, dan aku juga tidak. Ini jelas bukan lagi soal lorong. Ini soal siapa yang lebih dulu mengakui bahwa jarak ini terlalu dekat, dan aku adalah orang yang tidak pernah kalah debat.

Tapi mata Rendra, dari jarak ini, ternyata punya titik-titik cokelat terang di sekeliling pupilnya, seperti serbuk kayu manis. Aku tidak pernah bisa melihatnya dari meja sembilan. Aku menyimpan fakta itu di laci yang sama dengan gigi taring yang agak maju.

“Kamu hitung buku yang sama dua kali,” katanya pelan.

“Apa?”

Ia menunjuk papan jalanku tanpa melepaskan tatapannya dariku. “Siti Nurbaya. Kamu tulis di baris tujuh dan baris dua belas.”

Aku menunduk ke papan jalan. Ia benar. Siti Nurbaya, dua kali, dengan tulisan tangan yang makin miring di baris kedua belas.

“Aku verifikasi,” kataku.

“Verifikasi.”

“Buku yang penting harus dihitung dua kali.”

“Siti Nurbaya penting?”

“Itu kisah cinta yang tragis karena dijodohkan.”

Kata dijodohkan keluar dari mulutku sebelum aku sempat menahannya. Dari luar, seolah-olah ikut mendengar, Bu Ratna berteriak:

“Ren! Neng Kirana! Pisang gorengnya matang! Makan dulu! Ibu nggak ngintip, Ibu cuma ngabarin!”

Rendra memejamkan mata sebentar, seperti orang yang berdoa agar lantai menelannya.

Lalu ia mundur satu langkah.

Hanya satu, cukup untuk memberi ruang. Tapi ia yang mundur duluan. Aku menang.

Entah kenapa, kemenangan itu terasa seperti kehilangan sesuatu.


Di meja kasir, Bu Ratna sudah menyiapkan dua piring pisang goreng dan dua gelas teh manis. Ia duduk di kursi kasir dengan wajah tidak berdosa.

Aku mengambil pisang goreng dan tanpa sengaja melihat secarik kertas kecil yang ditempel di mesin kasir dengan selotip.

Kertasnya lilac.

Tulisan tangannya bulat, rapi, dengan tinta ungu.

Tante Ratna, ini cabai dari kebun Ayah. Kata Ayah, yang merah buat sambal, yang hijau buat Kak Ren (dia nggak kuat pedas, hehe). — Sasa 💛

Aku menatap kertas itu lama.

Ayah Sasa berkebun cabai. Sasa sudah menceritakannya di kantin, dengan bangga, seperti menceritakan ayahnya menanam emas. Dan ayah Sasa mengirim cabai ke rumah Rendra, dan sudah hafal bahwa Rendra tidak kuat pedas.

Ini bukan lagi pacaran diam-diam dua orang mahasiswa.

Ini dua keluarga yang sudah saling kirim hasil kebun.

Aku menaruh pisang goreng itu kembali ke piring. Tiba-tiba aku tidak lapar.

“Kenapa, Neng?” tanya Bu Ratna.

“Nggak apa-apa, Bu. Masih panas.”

Rendra, yang berdiri di dekat rak depan, melirik kertas lilac di mesin kasir. Lalu melirikku. Lalu kembali ke kertas itu. Wajahnya menutup lagi, rapat, seperti etalase hari Minggu.

“Neng.” Bu Ratna menepuk kursi plastik hijau di sebelah meja kasir. Kursi itu sekarang punya bantal krem bermotif bunga kuning. “Duduk sini. Kakinya pasti pegal berdiri dua jam di gudang.”

Aku menatap kursi itu.

Kursi untuk tamu yang mau lama.

Aku bukan tamu yang mau lama. Aku panitia bazar dengan surat tugas bercap basah, dan di dalam tasku ada surat yang bukan milikku. Surat dari gadis yang ayahnya mengirim cabai hijau karena hafal Rendra tidak kuat pedas.

“Nggak usah, Bu,” kataku. “Saya duduk di sini saja.”

Aku duduk di tumpukan kardus di sebelah pintu.

Bu Ratna mengerutkan dahi, bingung. Di sudut mataku, aku melihat Rendra menatap kursi hijau yang masih kosong itu, lalu menatapku. Ada sesuatu di wajahnya yang terlalu cepat hilang untuk bisa kuberi nama.


Ia mengantarku sampai mulut gang lagi. Kali ini tanpa perintah Bu Ratna.

Langit sudah gelap, dan lampu jalan yang kemarin berkedip sekarang benar-benar mati. Kami berjalan dalam gelap, hanya diterangi cahaya dari jendela-jendela rumah di kiri-kanan gang.

“Sasa yang usul bazar ini?” tanyanya tiba-tiba.

“Iya.”

Ia diam lama. Lima langkah. Tujuh langkah.

“Dia anak baik,” katanya akhirnya, sangat pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada padaku.

“Aku tahu,” jawabku.

Dua kalimat pendek, dua pengakuan. Aku tidak tahu apa yang ia maksud dengan kalimatnya. Dan aku yakin ia juga tidak tahu apa yang kumaksud dengan kalimatku.

Kami sampai di mulut gang. Jalan raya di depan kami terang, ramai, dan normal.

“Anindya.”

“Hm?”

“Kursi hijau itu,” katanya. “Kenapa kamu nggak duduk?”

Aku memeluk map cokelat di dadaku.

“Karena itu kursi buat tamu yang mau lama,” kataku. “Aku cuma panitia.”

Rendra menatapku dalam cahaya lampu jalan raya, dan untuk sesaat aku melihatnya dengan jelas: sesuatu yang hilang dari wajahnya di toko tadi. Sesuatu yang kecewa, tapi bukan padaku.

“Oke,” katanya.

Hanya itu. Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke gang yang gelap.

Aku berdiri di mulut gang dan menatap punggungnya sampai hilang. Di dalam tas, planner kulit cokelat berisi surat lilac milik Sasa, kertas kecil berisi tulisan pulpen merah milik Rendra, dan papan jalan dengan Siti Nurbaya yang tercatat dua kali.

Aku pulang naik angkot dan tidak mendengarkan musiknya sama sekali.

Yang terdengar di kepalaku cuma suara dari lorong enam puluh senti:

Kamu yang mundur.

Dan aku tidak mundur. Aku menang.

Aku belum pernah merasa sekalah ini karena menang.