Chapter Twenty Three
Surat di Planner
POV: Kirana
Kamar mandi di belakang dapur Toko Buku Mahesa sempit, lantainya keramik biru, dan cerminnya kecil dengan bintik-bintik hitam di pinggirnya. Di atas wastafel ada sabun batangan. Tentu saja sabun batangan.
Aku mencuci tangan tiga kali, padahal tidak kotor.
Lalu aku menatap cermin.
Semalam aku tidak tidur. Aku duduk di meja belajar sampai pukul empat pagi dan menulis naskah pengakuan di planner dengan pulpen biru murah. Versi pertama empat halaman, versi kedua dua halaman, versi ketiga satu paragraf. Versi keempat, yang kutulis pukul 03.52, cuma dua kalimat:
Aku yang ambil surat Sasa. Aku minta maaf.
Semua versi lain kucoret, karena semuanya punya satu kesamaan: aku terus berusaha menjelaskan. Aku terus menyusun alasan, konteks, dan latar belakang masalah, seperti proposal yang berusaha meyakinkan dosen bahwa anggarannya masuk akal.
Tapi tidak ada anggaran yang masuk akal untuk mencuri makan malam pertama sebuah keluarga.
Aku yang ambil surat Sasa. Aku minta maaf.
Aku mengucapkannya pada cermin berbintik. Suaraku terdengar kecil dan asing, seperti suara orang lain yang meminjam mulutku.
“Neng!” Suara Bu Ratna dari dapur, riang seperti biasa. “Neng suka warna undangannya? Ibu pilih krem sama emas! Mas Hendra mau hijau cabai, tapi Ibu bilang nanti tamunya kira undangan tujuh belasan!”
Aku tertawa. Kecil, di depan cermin, dan tawa itu terdengar lebih seperti isak.
“Krem sama emas bagus, Bu,” kataku keras-keras.
“Ya kan! Ibu bilang juga apa!”
Aku mengeringkan tangan dengan handuk kecil bermotif kucing. Aku menarik napas tiga kali.
Aku yang ambil surat Sasa. Aku minta maaf.
Lalu, dari arah toko, terdengar suara benda jatuh. Bunyi berdebum, disusul suara kertas berhamburan.
Lalu suara kucing mengeong.
Aku melangkah keluar dari balik tirai dapur.
Kucing belang tetangga, kucing yang selalu duduk di bawah motor di seberang gang dan menatap kami dengan mata menghakimi, sekarang duduk di atas kursi plastik hijau. Tepat di atas bantal krem bermotif bunga kuning. Ia menjilati kaki depannya dengan tenang, seolah-olah kursi itu memang dibeli untuknya sepuluh tahun lalu.
Di lantai, di bawah kursi, tasku tergeletak miring. Ritsletingnya terbuka, dan isinya tumpah ke lantai kayu.
Tempat pensil, dompet, kunci rumah, ponsel, dan planner kulit cokelat. Planner itu jatuh terbuka, dengan halaman-halamannya tersibak.
Dan Rendra berjongkok di sebelahnya.
Ia tidak sedang memungut barang-barangku. Ia sedang memegang sesuatu.
Sebuah amplop kecil berwarna lilac, dengan sudut yang agak lecek, seperti pernah digenggam lama sebelum diselipkan. Di depannya tertulis dengan tinta ungu, huruf bulat dan rapi:
Untuk Kak Ren.
Di lantai di sebelah lututnya, terjatuh dari halaman belakang planner, ada tiga kertas kecil bertinta merah dan selembar tisu kantin yang terlipat dua. Semuanya berserakan di sekitar amplop lilac itu seperti anak-anak ayam di sekeliling induknya.
Waktu berhenti.
Tidak berhenti seperti di film, dengan musik dramatis. Waktu berhenti seperti jam dinding yang baterainya habis: diam begitu saja, tanpa pemberitahuan, dan jarumnya menunjuk angka yang tidak akan pernah berubah lagi.
Rendra mengangkat kepala.
Ia melihatku berdiri di ambang tirai dapur dengan tangan setengah basah. Ia melihat wajahku. Dan di wajahnya, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di sana selama tiga tahun di meja empat belas, di lorong gudang, di bawah payung, di kebun teh, dan di bawah bintang Cibeureum.
Ia tidak datar. Ia tidak menutup diri seperti etalase hari Minggu.
Ia terlihat seperti anak kecil yang baru menemukan papan tulis di dapur dalam keadaan kosong.
“Ini surat Sasa,” katanya.
Bukan pertanyaan.
“Iya,” kataku.
Suaraku keluar. Aku tidak tahu dari mana.
“Undangan makan malam itu. Yang Sabtu. Jam tujuh.”
“Iya.”
“Yang Om Hendra bilang diselipin di buku biru.”
“Iya.”
Ia menatap amplop di tangannya. Ia tidak membukanya. Ia hanya menatap tulisan Untuk Kak Ren, seolah-olah membaca tiga kata itu saja sudah cukup berat.
“Di planner-mu,” katanya.
“Iya.”
“Sejak kapan?”
Aku bisa berbohong. Aku bisa bilang aku menemukannya kemarin, di lantai perpustakaan, lalu lupa. Aku punya empat versi naskah di kepala, dan tiga di antaranya penuh latar belakang masalah yang bisa kupakai sebagai pelindung.
Tapi tubuhku sudah terlalu lelah untuk berbohong.
“Sejak hari pertama,” kataku. “Rak pesanan di perpustakaan. Kamis. Jam 16.58. Sebelum kamu datang dan bilang ‘itu pesananku’.”
Rendra memejamkan mata.
“Aku lihat amplopnya jatuh,” lanjutku. Kata-kata itu keluar seperti air dari pipa yang bocor, tidak bisa dihentikan. “Aku baca. Aku kira itu surat cinta. Aku tunggu kamu pulang, hati yang diarsir penuh. Aku kira kamu sudah punya pacar. Terus kamu datang, dan tanganku...” Aku berhenti. “Tanganku masukin amplop itu ke planner sebelum aku sempat mikir.”
Ia membuka mata. Ia tidak menatapku. Ia menatap planner kulit cokelat yang terbuka di lantai.
Planner itu terbuka di halaman yang paling tidak ingin kulihat. Halaman yang kucoret diagonal dengan garis tebal seminggu lalu, di bawah lampu belajar, dengan perasaan sangat bijaksana.
Garisnya tebal, tapi tulisan di bawahnya masih bisa dibaca. Aku tidak mencoret cukup tebal. Aku tidak pernah bisa.
Rendra mengambil planner itu dari lantai, pelan, seperti mengambil buku tua yang kertasnya rapuh. Ia membaca.
“Operasi Rebut Hati,” katanya.
Suaranya datar. Bukan datar yang biasa, bukan datar yang menyembunyikan tawa. Datar yang kosong, seperti kotak yang isinya sudah diambil.
“Tahap satu: pengumpulan data. Tahap dua: infiltrasi. Menjadi teman Subjek S.” Ia berhenti. “Subjek S itu Sasa.”
Aku tidak menjawab.
“Tahap tiga: distraksi. Menjauhkan Subjek S dari Subjek R lewat kesibukan, pergaulan baru, dan kegiatan BEM.” Suaranya makin pelan. “Dies Natalis. Panitia. Map cokelat dua belas.”
“Rendra...”
“Tahap empat: muncul sebagai alternatif yang masuk akal.”
Ia berhenti membaca.
Kucing belang di atas kursi hijau berhenti menjilati kakinya dan menatap kami berdua. Dari dapur, suara Bu Ratna yang tadi riang soal warna undangan sudah tidak terdengar lagi.
“Alternatif yang masuk akal,” ulang Rendra. Hampir berbisik.
“Itu dulu,” kataku. “Itu minggu pertama. Aku belum kenal Sasa. Aku belum kenal kamu. Aku...”
“Kamu bikin slide.”
“Iya.”
“Buat aku.”
“Buat... iya.”
“Analisis risiko.” Matanya turun ke bawah halaman. “Risiko 2: Mulai suka Sasa juga. Risiko 3: Dia bilang ‘kamu cari sendiri’. Risiko 4: Sasa menyerah demi aku.”
Suaranya pecah di kata menyerah.
“Kamu tahu,” katanya pelan. Masih tidak menatapku. “Kamu tahu Sasa nunggu balasan. Kamu tahu dia nunggu sampai jam sembilan. Kamu duduk di kantin sama dia tiap Selasa dan kamu tahu.”
“Aku nggak tahu soal jam sembilan. Aku baru tahu kemarin. Waktu Om Hendra cerita.”
“Tapi kamu tahu dia nunggu.”
Aku tidak bisa membantah. Karena itu benar.
“Kasih dia ruang,” kata Rendra. Ia akhirnya mengangkat kepala dan menatapku. Matanya merah. Tidak basah, tapi merah, seperti mata orang yang sudah terlalu lama menatap sesuatu tanpa berkedip. “Om Hendra bilang ada yang nyuruh Sasa kasih aku ruang. Sasa berhenti nulis surat karena itu.”
Aku merasakan lututku mulai lemas.
“Itu kamu,” katanya.
“Iya.”
Satu kata, dan kata itu terasa seperti menjatuhkan batu dari tebing. Tidak bisa ditarik kembali, dan hanya bisa didengarkan bunyinya waktu menghantam dasar.
Rendra berdiri pelan-pelan dengan planner di tangan kiri dan amplop lilac di tangan kanan.
Ia menatap tiga kertas kecil bertinta merah di lantai, dan tisu kantin yang terlipat dua.
Kalau ketemu, kasih tahu aku duluan. Masih kucari juga. Jangan pura-pura nggak lapar.
Ia berjongkok lagi dan memungut semuanya satu per satu, dengan hati-hati, seperti memungut pecahan piring. Ia menyusunnya rapi di telapak tangan, lalu berdiri.
Lalu ia menyelipkan semuanya kembali ke halaman belakang planner.
Ia menutup planner itu dan menyodorkannya padaku.
Aku tidak langsung mengambilnya. Aku menatap tangannya yang memegang planner kulit cokelat, planner yang berisi tiga kertas yang ia tulis untukku. Ia mengembalikannya. Ia tidak menyimpannya dan tidak membuangnya. Ia mengembalikan semuanya padaku, seperti mengembalikan barang pinjaman yang tidak pernah ia minta untuk dipinjamkan.
Amplop lilac itu tidak ikut ia kembalikan. Ia memegangnya di tangan kanan. Surat itu memang miliknya. Surat itu memang untuknya sejak awal.
Aku mengambil planner itu. Tanganku gemetar begitu hebat sampai hampir menjatuhkannya lagi.
“Rendra, dengar aku sebentar,” kataku. “Aku mau kembaliin hari ini. Itu yang mau aku kasih. Itu yang mau aku bilang duluan. Aku udah tulis naskahnya semalam, empat versi, aku...”
“Setelah tiga bulan.”
Aku berhenti.
“Kamu mau kembaliin,” katanya pelan, “setelah tiga bulan.”
“Aku tahu.”
“Setelah Sasa nunggu jam sembilan. Setelah dia makan tumis cabai sendirian tiga hari. Setelah dia berhenti nulis. Setelah dia naik bus empat jam ke Cibeureum buat meluk kamu.” Suaranya tidak naik, tidak berteriak. Justru makin pelan, dan itu jauh lebih menakutkan. “Setelah kamu kasih dia tempat bumbu dengan kartu untuk Sasa dan Rendra.”
“Rendra...”
“Pulpen itu,” katanya tiba-tiba.
Aku mengerjap.
“Pulpen yang jatuh ke sepatuku di perpustakaan. Itu direncanakan?”
“Nggak. Itu nggak. Itu beneran jatuh. Tempat pensilku nyangkut di resleting...”
“Payung?”
“Nggak! Hujan itu beneran! Aku cuma baca prakiraan cuaca...”
“Murid palsu.”
Aku terdiam.
“Iya,” bisikku. “Itu direncanakan.”
“Kebun teh?”
“Nggak! Aku terkilir beneran, Rendra, kakiku...”
“Toko buku. Stok opname. Bazar.”
“Bazar itu ide Sasa. Aku nggak...”
“Tapi kamu yang datang ke sini pertama kali,” katanya. “Gang buntu. Kamu bilang kebetulan lewat.”
“Itu...”
Aku tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. Karena aku memang tidak kebetulan lewat. Kakiku yang membawaku ke sana, kakiku yang punya rencana sendiri.
Rendra menatapku lama. Matanya yang tadi merah sekarang terlihat lelah. Lelah dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan tidur.
“Aku nggak bisa bedain lagi,” katanya. “Mana yang kebetulan, mana yang slide.”
“Semuanya bukan slide. Nggak semuanya. Rendra, setelah minggu pertama, aku berhenti...”
“Aku nggak bisa bedain.”
Ia mengulangnya tanpa marah, tanpa menuduh. Seperti orang yang menyatakan fakta: hujan turun, gang ini buntu, aku tidak bisa membedakan.
Lalu ia mengatakan satu kalimat terakhir, dan kalimat itu lebih buruk dari semua yang lain.
“Pulang, Anindya.”
Aku tidak ingat bagaimana aku memungut barang-barangku yang lain dari lantai. Tempat pensil, dompet, kunci, ponsel. Aku tidak ingat bagaimana aku memasukkannya ke tas dan menutup ritsletingnya sampai benar-benar rapat, terlambat seperti biasa.
Aku ingat kucing belang itu masih duduk di kursi hijau. Ia menatapku dengan mata kuningnya. Tidak menghakimi lagi, hanya menatap, seperti saksi yang sudah melihat terlalu banyak dan tidak tahu harus berkata apa.
Aku juga ingat Bu Ratna.
Ia berdiri di ambang tirai dapur, memegang setumpuk undangan pernikahan berwarna krem dan emas. Ia tidak berkata apa-apa. Wajahnya, wajah yang selalu tertawa dan selalu punya pisang goreng dan selalu punya kalimat untuk setiap situasi, sekarang diam. Ia menatapku, lalu menatap anaknya, lalu menatap amplop lilac di tangan anaknya.
Ia tidak menanyakan apa-apa.
Tapi waktu aku melewatinya menuju pintu, tangannya terulur dan menyentuh lenganku. Hanya sebentar, satu detik, dan sangat pelan. Aku tidak tahu apakah itu cara Bu Ratna mengatakan hati-hati di jalan, atau Ibu kecewa, atau Ibu tahu kamu juga terluka.
Mungkin ketiganya. Bu Ratna selalu bisa mengatakan banyak hal sekaligus.
Bel di atas pintu berbunyi waktu aku keluar.
Gang Kenari pukul setengah lima sore. Langitnya tidak mendung dan tidak hujan. Justru cerah, dengan awan putih dan cahaya matahari sore yang membuat dinding-dinding rumah berwarna keemasan.
Aku ingin hujan. Aku ingin hujan deras sampai aku basah kuyup dan tidak ada yang bisa membedakan air hujan dari air mata. Tapi prakiraan cuaca pagi ini bilang cerah, dengan kemungkinan hujan nol persen.
Prakiraan cuaca tidak pernah salah untukku. Bahkan hari ini pun tidak.
Aku berjalan menyusuri gang.
Ke kiri, bukan ke kanan. Ke luar gang, bukan ke dalam. Aku sudah tahu jalannya sekarang. Aku sudah tidak butuh peta di kepala. Gang Kenari buntu di sebelah kanan, sejak zaman Belanda, dan jalan keluarnya di sebelah kiri.
Aku tahu jalan keluarnya.
Aku hanya tidak tahu harus pergi ke mana setelah keluar.
Di mulut gang, aku berhenti dan menoleh sekali.
Toko Buku Mahesa berdiri di tengah gang dengan lampu kuning yang menyala meskipun di luar masih terang. Pintunya tertutup. Di balik kaca etalase yang penuh tumpukan buku, aku tidak bisa melihat siapa pun.
Aku hanya bisa melihat sepotong warna hijau di pojok dekat meja kasir. Kursi plastik yang dibeli seorang anak laki-laki dua belas tahun dengan uang receh dari celengan ayam, untuk tamu yang mau lama.
Sekarang kursi itu diduduki kucing belang.
Aku tidak pernah duduk di sana. Tasku yang duduk di sana, dan tasku yang jatuh.
Aku berbalik dan berjalan ke jalan raya.
Di dalam tas, planner kulit cokelat terasa lebih ringan dari biasanya. Satu amplop sudah tidak ada di halaman belakangnya. Tiga kertas bertinta merah masih di sana, tapi sekarang rasanya seperti surat dari seseorang yang sudah pindah rumah dan tidak meninggalkan alamat baru.
Aku naik angkot. Musiknya terlalu keras, lagu dangdut tentang cinta yang kandas.
Kali ini aku mendengarkannya sampai habis.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner reading
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama