← Surat Salah Alamat

Chapter Eleven

Surat yang Tak Pernah Datang

POV: Rendra

Om Hendra datang hari Sabtu pukul sepuluh pagi, membawa sekantong cabai, satu pot kecil tanaman cabai rawit, dan sebuah lelucon yang jelas sudah ia latih di perjalanan.

“Ren,” katanya di ambang pintu toko, tersenyum dengan seluruh kumisnya. “Tahu nggak kenapa cabai nggak pernah punya pacar?”

Aku sedang menata buku di rak depan. Aku berhenti.

“Karena,” Om Hendra menarik napas dramatis, “terlalu pedas buat hati.”

Hening. Radio Ibu memutar lagu dangdut tentang kereta malam. Kucing belang tetangga lewat di depan pintu dan menatap Om Hendra dengan iba.

“Itu lucu, Mas,” seru Ibu dari balik tirai dapur, tertawa sungguhan. Ibu selalu tertawa sungguhan kalau Om Hendra melucu, bahkan kalau leluconnya tidak lucu. Terutama kalau leluconnya tidak lucu.

“Terima kasih, Om,” kataku.

Om Hendra mengangguk-angguk, seperti orang yang menerima nilai C dan memutuskan untuk bersyukur. Ia meletakkan pot tanaman cabai di meja kasir, tepat di sebelah mesin kasir, di bawah kertas lilac yang ditempel dengan selotip.

“Ini buat kamu, Ren. Cabai rawit. Tapi jenis yang nggak terlalu pedas.” Ia berdeham. “Sasa bilang kamu nggak kuat pedas.”

Aku menatap pot itu. Daun-daunnya hijau segar, dan ada tiga buah cabai kecil yang masih hijau menggantung di dahannya seperti anting-anting.

“Terima kasih, Om.”

“Siramnya pagi saja. Jangan kebanyakan air. Cabai itu kayak...” Ia berhenti, jelas sedang mencari perumpamaan, lalu menyerah. “...kayak cabai. Suka matahari.”

Om Hendra Wiratama adalah pegawai dinas perpustakaan provinsi. Umurnya lima puluh tiga, duda selama dua belas tahun, dengan kumis yang terlalu serius untuk wajahnya yang terlalu ramah. Ia bertemu Ibu delapan belas bulan lalu di sebuah pameran buku bekas. Ia membeli satu kardus penuh buku resep, lalu kembali seminggu kemudian untuk membeli kardus kedua, padahal ia tidak bisa memasak.

Aku yang menghitung dan mengantar kardus-kardus itu ke mobilnya. Aku tahu sejak kardus ketiga.

Anak perempuannya bernama Salsabila. Ia memanggil ibuku “Tante”, menulis surat dengan tinta ungu, dan menggambar hati diarsir penuh di bawah namanya.

Kalau semua rencana Ibu dan Om Hendra berjalan, tiga bulan lagi anak itu akan jadi adikku.


Aku tidak membenci Om Hendra. Itu yang paling sulit dijelaskan, bahkan pada diriku sendiri.

Ia orang baik. Ia menyiram cabai setiap pagi, membawa lelucon yang tidak lucu, dan menatap Ibu seperti orang yang tidak percaya ia diizinkan duduk di sebelahnya. Ia tidak pernah memaksaku memanggilnya Ayah, dan ia tidak pernah bertanya kenapa aku selalu “lembur” setiap kali ia datang.

Justru karena itu aku tidak tahu harus berbuat apa.

Waktu aku dua belas tahun, rumah ini juga kedatangan pria yang baik. Setidaknya ia terlihat baik. Ayahku adalah orang yang merencanakan segalanya dengan rapi: rencana liburan, rencana tabungan, rencana membuka cabang toko buku kedua. Ia menggambar semua rencananya di papan tulis kecil di dapur dengan spidol warna-warni. Ia bicara dengan sangat meyakinkan, dan setiap rencananya terdengar seperti janji.

Lalu suatu hari papan tulis itu kosong, dan lemari di kamarnya juga kosong.

Rencana terakhirnya, ternyata, adalah rencana untuk pergi. Rencana itu satu-satunya yang ia jalankan sampai selesai.

Sejak itu aku tidak percaya pada orang yang datang dengan rencana. Tidak juga pada orang yang datang membawa cabai dan lelucon, berharap diterima.

Termasuk anak perempuannya.


“Sasa nggak ikut, Om?” tanya Ibu, keluar dari dapur dengan piring pisang goreng.

Om Hendra menggaruk kumisnya. “Nggak, Rat. Dia bilang lagi sibuk jadi panitia acara fakultas orang. Semangat sekali. Tiap malam telepon, cerita soal kakak ketua BEM-nya.” Ia tersenyum, lalu senyumnya memudar sedikit. “Tapi soal ke sini... dia bilang nggak mau ganggu Ren.”

Tanganku berhenti di rak.

“Ganggu,” ulang Ibu pelan.

“Anak itu pikir dia nggak diterima.” Om Hendra menatap pot cabai di meja kasir, bukan menatapku. Aku tahu itu disengaja, supaya aku tidak merasa diserang. “Dia sudah kirim surat berkali-kali ke Ren, katanya. Nggak pernah dibalas. Terus waktu makan malam kemarin itu, yang Sabtu, dia sudah siapin semuanya. Masak sendiri. Pakai resep dari buku yang aku beli di sini.” Ia tertawa kecil. “Buku resep kardus kedua.”

Aku ingat hari Sabtu itu. Ibu memintaku datang ke rumah Om Hendra pukul tujuh malam. Makan malam pertama, katanya, dua keluarga. Aku bilang ada kuis yang harus dinilai. Aku duduk di perpustakaan jurusan sampai pukul sembilan, menilai kuis yang sudah kunilai sore harinya.

“Dia masak apa, Mas?” tanya Ibu lembut.

“Sayur asem. Terus perkedel kentang. Terus ada satu lagi...” Om Hendra mengernyit. “Oh, tumis cabai hijau. Nggak pedas. Katanya khusus buat Ren.”

Aku menatap buku di tanganku. Teori Peluang dan Hal-Hal yang Tidak Kebetulan, buku biru yang kupinjam dari perpustakaan pusat bulan lalu dan belum kukembalikan. Rupanya aku membawanya turun tanpa sadar.

“Dia tunggu sampai jam sembilan,” lanjut Om Hendra. “Nggak nangis. Sasa itu kalau sedih malah nggak nangis. Dia cuci piring, simpan tumis cabainya di kulkas, terus bilang, ‘Nggak apa-apa, Yah, Kak Ren mungkin sibuk.’” Ia berdeham lagi, lebih keras. “Tumis cabainya dia makan sendiri tiga hari berturut-turut. Biar nggak mubazir.”

Ibu meletakkan piring pisang goreng di meja kasir dengan sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah.

Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

“Sejak itu dia berhenti nulis surat,” kata Om Hendra. “Katanya, ‘Kak Ren butuh ruang, Yah. Aku kasih dia ruang.’”

Ruang.

Seseorang menyuruh Sasa memberiku ruang. Aku tidak tahu siapa, tapi nasihat itu terdengar seperti keluar dari buku motivasi yang dijual di stasiun kereta.


Setelah Om Hendra pulang, Ibu tidak memakai satu pun dari tiga cara interogasinya.

Ia hanya duduk di kursi kasir dan menatap pot cabai lama sekali.

“Ren.”

“Hm.”

“Mas Hendra melamar Ibu.”

Aku sudah tahu ini akan datang. Aku sudah menghitung peluangnya berbulan-bulan lalu, dari kardus ketiga, dari cara Om Hendra menatap Ibu, dan dari lelucon-lelucon yang terus datang meskipun tidak pernah lucu. Peluangnya sudah mendekati satu.

Tapi mendengarnya diucapkan tetap terasa seperti tersandung anak tangga yang kukira tidak ada.

“Kapan?”

“Dua minggu lalu. Ibu belum jawab.” Ibu memutar-mutar ujung celemeknya. “Ibu mau tanya kamu dulu.”

“Kenapa tanya aku?”

“Karena sepuluh tahun ini cuma kita berdua.” Ibu mengangkat kepala dan menatapku. Matanya tenang dan gelap, sama seperti mataku. “Dan kamu yang beli kursi hijau itu.”

Aku berdiri di tengah toko dengan buku biru di tangan.

“Ibu yakin?” tanyaku akhirnya. Suaraku keluar lebih kecil daripada yang kuinginkan.

“Yakin.”

“Dulu Ibu juga yakin.”

Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menahannya. Tajam dan jelek, seperti pecahan kaca yang tidak sengaja terinjak.

Ibu tidak marah. Itu yang paling sulit. Ibu tidak pernah marah padaku, bahkan waktu aku pantas dimarahi.

“Iya,” kata Ibu pelan. “Dulu Ibu juga yakin. Dan Ibu salah.” Ia berdiri, berjalan ke arahku, dan merapikan kerah kausku yang tidak berantakan. “Tapi Ren. Mas Hendra bukan ayahmu. Dan kamu bukan anak dua belas tahun lagi.”

Aku menatap Ibu.

“Ayahmu pergi karena dia sudah merencanakan untuk pergi,” lanjut Ibu. “Mas Hendra datang tanpa rencana apa-apa. Dia cuma beli buku resep yang nggak bisa dia masak, terus balik lagi karena nggak tahu cara lain buat ketemu Ibu.” Ia tersenyum sedikit. “Orang yang nggak punya rencana itu lebih susah bohong, Ren.”

Lalu Ibu mengambil piring pisang goreng dan kembali ke dapur, meninggalkanku berdiri di antara rak-rak buku bersama pot cabai, kursi hijau berbantal bunga, dan buku biru yang belum dikembalikan.


Malam itu aku membuka kotak sepatu di kolong tempat tidur.

Di dalamnya ada enam amplop lilac. Enam surat dari Salsabila Wiratama, dikirim lewat Ibu selama delapan belas bulan terakhir. Aku belum pernah membalas satu pun. Aku juga belum pernah membuangnya.

Aku membacanya lagi satu per satu, dengan urutan yang sama seperti waktu surat-surat itu datang.

Kak Ren, aku Sasa, anaknya Ayah Hendra. Salam kenal! Aku suka toko buku Tante. Aku harap kita bisa jadi teman. 💛

Kak Ren, kata Tante Kakak suka matematika. Aku nggak ngerti matematika sama sekali hehe. Tapi aku ngerti puisi. Mungkin kita bisa tukar ilmu? 💛

Kak Ren, selamat ulang tahun! Aku bikinin kue tapi gosong. Ayah bilang gosong itu rasa karamel. Semoga Kakak suka karamel. 💛

Surat keempat, kelima, keenam. Semuanya sama pendek, sama bulat, dan sama-sama diakhiri hati yang diarsir penuh.

Surat keenam datang tiga minggu sebelum makan malam hari Sabtu itu:

Kak Ren, Ayah sama Tante mau makan malam bareng. Aku mau masak. Aku belum pintar masak, tapi aku lagi belajar. Nanti aku kirim undangan resmi ya, biar Kakak nggak bisa bilang nggak tahu. 💛

Undangan resmi.

Aku membalik amplop itu. Kosong.

Aku memeriksa kotak sepatu, laci meja, tumpukan kertas di rak, dan saku-saku jaketku. Aku tidak menemukan apa-apa. Tidak ada surat ketujuh dan tidak ada undangan resmi.

Aku duduk di lantai kamar dengan enam amplop lilac di pangkuan, dan untuk pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang jarang kurasakan: ragu pada ingatanku sendiri.

Mungkin Sasa tidak jadi mengirimnya. Mungkin ia berubah pikiran. Mungkin, setelah enam surat yang tidak pernah dibalas, anak itu akhirnya belajar sesuatu yang aku ajarkan tanpa sadar: bahwa menunggu seseorang yang tidak mau datang itu melelahkan.

Aku ingat wajahnya di kantin FIB, menunduk ke nasi kuning. Aku ingat punggungnya di koridor Matematika waktu ia berlari turun tangga. Aku ingat hati kecil yang ia bentuk dengan jari di balik pot palem kerdil, dan bersinnya yang tidak berhenti karena ia tidak tega mengusir kucing.

Dia lagi senang. Biarin dia senang.

Aku mengatakannya pada Anindya seolah-olah aku orang yang peduli apakah anak itu senang. Aku mengatakannya dari seberang meja, sambil menggenggam pergelangan tangan orang lain, sementara anak itu bersembunyi di balik pot karena takut mengganggu aku.

Aku bukan kakak. Aku belum apa-apa. Aku cuma orang yang tidak datang makan malam, dan membiarkan seseorang menghabiskan tumis cabai hijau tidak pedas sendirian selama tiga hari.

Aku memasukkan enam surat itu kembali ke kotak sepatu dengan urutan yang benar, lalu menutupnya.

Aku tidak menangis. Aku tidak tahu caranya sejak umur dua belas. Tapi dadaku terasa seperti rak buku yang terlalu penuh, dan satu buku lagi saja akan membuat semuanya runtuh.


Ponselku bergetar pukul sebelas malam.

Grup WhatsApp baru, dan namanya membuatku memejamkan mata sebentar: KKN TEMATIK UDB — KELOMPOK 17 — DESA CIBEUREUM.

Pengumuman pembagian kelompok KKN tematik untuk masa jeda semester. Dua minggu di desa, lintas fakultas, dan dipilih acak oleh sistem. Aku sudah menunggu pengumuman ini dengan antusiasme yang sama seperti menunggu jadwal cabut gigi.

Admin grup, seorang dosen pembimbing lapangan bernama Pak Wahyu, mengirim daftar anggota:

1. Rendra Mahesa (Matematika) 2. Giovanni Prasetya (Manajemen) 3. Sasa Febrianti (Teknik Sipil) 4. ...

Aku menggulir ke bawah. Nama-nama yang tidak kukenal dari Pertanian, Farmasi, dan Hukum.

Lalu nama nomor sembilan.

9. Kirana Anindya (Manajemen) — Koordinator Kelompok

Aku menatap layar.

Sistem ini dipilih acak. Peluang dua mahasiswa tertentu masuk kelompok yang sama, dari empat ribu peserta yang dibagi ke dua ratus kelompok, kira-kira satu banding dua ratus. Aku bisa menghitungnya lebih tepat, tapi aku tidak mau. Aku takut hasilnya akan membuatku percaya pada sesuatu yang bukan matematika.

Tiga detik kemudian, sebuah pesan masuk. Bukan di grup, tapi pesan pribadi. Nomornya tidak kusimpan, tapi foto profilnya payung biru tua.

Aku bersumpah aku nggak ngatur ini.

Aku menatap pesan itu, lalu tertawa. Tertawa keras, sendirian, di kamar yang sepi. Tawa yang sudah lama tidak keluar, begitu keras sampai Ibu mengetuk dinding dari kamar sebelah dan bertanya aku kenapa.

Aku mengetik balasan.

Aku percaya. Sistemnya acak.

Kamu percaya??

Kamu nggak bisa ngatur sistem acak. Kamu bahkan nggak bisa ngatur payung.

Titik-titik di layar muncul, hilang, dan muncul lagi. Lama.

Bawa jaket. Di Cibeureum dingin. Aku sudah cek prakiraan cuacanya.

Aku menatap pesan itu lama sekali.

Lalu aku menyimpan nomornya dengan nama Anindya, dan setelah ragu cukup lama, menambahkan satu emoji payung di belakangnya.

Di kolong tempat tidur, kotak sepatu berisi enam surat lilac diam di tempatnya. Di atas meja kasir di lantai bawah, pot cabai rawit yang tidak terlalu pedas menunggu disiram besok pagi.

Aku menyetel alarm pukul enam.

Menyiram cabai, kata Om Hendra, sebaiknya pagi-pagi. Tanaman itu suka matahari.