Chapter Twenty Six
Kirana Tanpa Slide
POV: Kirana
Malam itu, setelah pulang dari rumah Om Hendra dengan mata bengkak dan pita kuning di saku, aku duduk di meja makan pukul tujuh tepat.
Mama sudah duduk di ujung meja dengan kacamata baca dan sepiring ikan bakar. Kursi Papa di seberangku kosong, seperti biasa di hari Rabu.
“Bagaimana hari ini?”
Pertanyaan pembuka sidang. Pertanyaan yang selalu kujawab dengan satu kalimat berisi data: rapat selesai dua menit lebih cepat, laporan sudah dikumpulkan, nilai kuis sembilan puluh empat.
Aku meletakkan planner kulit cokelat di atas meja, di sebelah piringku.
Mama melirik planner itu. Sudah dua bulan aku tidak membawanya ke meja makan. Sudah dua bulan ritual kami, Mama yang membacakan jadwalku untuk besok lalu menambahkan satu-dua hal yang kurang, tidak terjadi. Mama tidak pernah menanyakannya. Tapi aku tahu ia menyadarinya. Mama menyadari segalanya.
“Kamu bawa planner,” katanya.
“Iya, Ma.”
“Jadwal besok?”
“Bukan jadwal.” Aku membuka planner itu. Bukan di halaman jadwal, tapi di halaman yang dicoret diagonal. Garis tebalnya menyobek kertas di satu titik. OPERASI REBUT HATI.
Aku memutar planner itu ke arah Mama.
“Mama mau tahu hari ini gimana,” kataku. “Hari ini aku nangis di halaman rumah orang, di antara pot cabai. Keras. Pakai suara. Aku juga nangis tiga minggu lalu di belakang posko KKN, di tumpukan kayu bakar, setelah Mama telepon soal nol koma nol dua.”
Mama tidak menyentuh planner itu. Ia menatapku dari balik kacamata dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
“Dan ini,” aku menunjuk halaman yang dicoret itu, “rencana yang kubikin dua bulan lalu. Buat merebut hati cowok yang Mama sebut anak Gang Kenari.”
Aku menceritakan semuanya pada Mama.
Aku tidak menyusunnya di kepala dulu. Aku tidak membuat latar belakang masalah, rumusan masalah, atau tujuan penelitian. Aku menceritakannya dengan urutan yang berantakan, seperti kertas-kertas yang berhamburan dari tas yang jatuh.
Rak pesanan. Amplop lilac. Aku tunggu kamu pulang. Pulpen bekas gigitan yang kusimpan tiga tahun. Slide yang kuberi nama `laporan_keuangan_draft_final_v3.pptx` supaya Mama tidak membukanya. Sasa dan tempe. Payung. Kebun teh. Manekin pengantin. Tempat bumbu dengan kartu yang salah. Kucing belang di kursi hijau. Kamu mirip dia. Sasa yang berbohong untukku di depan ayahnya.
Mama tidak menyela satu kali pun.
Ia mendengarkan dengan cara yang sama seperti ia mendengarkan presentasi mahasiswa di sidang skripsi: tegak, tanpa ekspresi, dan kedua tangan terlipat di atas meja. Ikan bakarnya dingin. Nasi di piringnya tidak tersentuh.
Waktu aku selesai, jam dinding di ruang tengah berdentang delapan kali.
Mama diam lama sekali. Aku menunggu. Aku menunggu kalimat yang sudah kukenal bentuknya, seperti anak tangga di rumah sendiri dalam gelap. Ini yang Mama bilang soal hal-hal yang tidak perlu. Ini sebabnya nilaimu kurang nol koma nol dua.
Mama melepas kacamata bacanya. Pelan-pelan, ia melipatnya dan meletakkannya di sebelah piring.
Tanpa kacamata, Mama terlihat lebih tua. Aku tidak pernah menyadarinya karena Mama tidak pernah melepas kacamatanya di meja makan.
“Kamu mencuri surat,” kata Mama.
“Iya, Ma.”
“Dari anak yang sekarang jadi temanmu.”
“Iya.”
“Dan anak itu berbohong untuk melindungimu.”
“Iya.”
Mama menatap halaman planner yang dicoret itu lama sekali. Lalu, tanpa diduga, ia mengulurkan tangan dan menyentuh garis diagonal tebal di atas tulisan Operasi Rebut Hati. Jarinya mengikuti garis itu dari ujung ke ujung, sampai ke bagian kertas yang sobek.
“Kamu mencoretnya terlalu keras,” katanya. “Kertasnya sobek.”
“Aku mau nggak ada yang bisa baca.”
“Tetap bisa dibaca.”
“Aku tahu, Ma. Aku nggak pernah bisa mencoret cukup tebal.”
Mama menarik tangannya.
“Laki-laki di depan pagar kemarin malam,” katanya. “Yang kemejanya kotor.”
Aku menahan napas.
“Tiga puluh tahun Mama mengajar,” lanjut Mama pelan, “belum pernah ada mahasiswa yang berdiri di depan Mama dan bilang, salahkan saya.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Mahasiswa biasanya menyalahkan dosennya, soalnya, atau jadwal ujian yang terlalu pagi. Kadang pulpennya.” Mama hampir tersenyum. Hampir. Sudut bibirnya bergerak sedikit, seperti otot yang sudah lama tidak dipakai. “Tidak ada yang menyalahkan dirinya sendiri untuk nilai orang lain.”
“Dia memang begitu, Ma. Dia menghitung semuanya. Termasuk hal-hal yang bukan salahnya.”
Mama menatapku.
“Kiran,” katanya. “Nol koma nol dua itu.”
Aku menunggu.
“Mama sudah daftarkan kamu ke semester pendek bulan depan. Pengantar Statistika. Perbaikan nilai.” Mama mengatakannya dengan nada yang sama seperti mengumumkan jadwal ujian. “Kalau kamu dapat A, IPK-mu jadi empat. Tahun depan kamu bisa ikut seleksi mapres lagi.”
Aku sudah tahu. Aku melihat surat konfirmasi pendaftarannya di meja kerja Mama dua minggu lalu, terselip di antara tesis-tesis yang belum dikoreksi. Aku tidak pernah menanyakannya.
Planner-ku terbuka di depan Mama. Di halaman sebelah halaman yang dicoret itu ada halaman kosong.
“Ma,” kataku. “Aku nggak mau ambil.”
Mama diam.
“Aku nggak mau mengulang ujian itu,” lanjutku. Suaraku bergetar, dan aku membiarkannya bergetar. “Aku nggak mau menghapus nol koma nol dua itu. Itu satu-satunya nilai di transkripku yang punya cerita. Tanganku gemetar, pulpenku macet, dan seseorang di bangku sebelah menaruh pulpennya di mejaku tanpa bilang apa-apa.” Aku menarik napas. “Kalau nilai itu jadi A, cerita itu hilang. Dan aku nggak mau kehilangan cerita itu. Aku lebih suka kurang nol koma nol dua daripada kehilangan cerita itu.”
Hening.
Aku menunggu Mama marah. Aku menunggu kalimat kamu tahu apa yang dipertaruhkan.
Mama menatapku lama sekali. Lalu ia melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat ia lakukan di meja makan.
Ia tertawa.
Bukan tawa lebar. Tawa pendek dan kecil yang keluar dari hidungnya, lebih mirip dengusan. Tapi itu tawa. Dan tangannya, entah kenapa, bergerak ke mulutnya untuk menutupnya.
Aku menatap tangan Mama. Tangan yang menutup mulut waktu tertawa.
Mama menyadari aku menatap tangannya. Ia menurunkannya pelan-pelan, seperti anak yang ketahuan.
“Kamu dapat itu dari Mama,” katanya pelan. “Nutup mulut kalau ketawa. Nenekmu bilang perempuan yang ketawa keras itu tidak sopan. Mama nggak pernah berhenti.”
Aku tidak bisa bicara.
“Kemarin malam,” lanjut Mama, “waktu kamu masuk rumah setelah laki-laki itu bicara soal pulpen, kamu ketawa di tangga. Keras. Mama dengar dari ruang kerja.” Mama mengambil kacamatanya lagi, tapi tidak memakainya. Ia hanya memegangnya. “Mama sudah lama tidak dengar kamu ketawa ada suaranya, Kiran. Mungkin sejak kamu SD.”
Mataku panas. Lagi. Aku sudah menangis terlalu banyak hari ini.
“Mama batalkan semester pendeknya,” kata Mama akhirnya. Ia berdiri dan mengambil piringnya yang masih penuh ikan dingin. “Besok pagi.”
Ia berjalan ke dapur. Di ambang pintu ia berhenti, dan tanpa menoleh menambahkan:
“Anak itu. Yang namanya Sasa. Bawa ke rumah kapan-kapan. Mama mau lihat anak yang berani bohong di depan ayahnya demi kamu.”
Pintu dapur berayun menutup.
Aku duduk sendirian di meja makan dengan planner terbuka dan nasi yang dingin. Lalu, untuk pertama kalinya dalam dua puluh satu tahun, aku tertawa di meja makan rumah kami tanpa menutup mulut.
Dari dapur, samar-samar, aku mendengar suara dengusan kecil yang sama.
Rapat pleno terakhir BEM FEB periode ini digelar hari Jumat pukul tiga sore. Agendanya pengesahan laporan pertanggungjawaban seluruh program kerja selama satu tahun.
Biasanya aku datang dengan presentasi tujuh puluh slide, animasi transisi, dan grafik capaian program. Setiap slide sudah kulatih tiga kali di depan cermin, lengkap dengan jeda untuk tepuk tangan.
Kali ini aku datang dengan laptop yang tidak kubuka.
“Kir,” bisik Gio di sebelahku waktu dua puluh tiga pengurus sudah duduk. “Laptopmu mati?”
“Nggak.”
“Terus kenapa nggak dibuka?”
“Hari ini nggak pakai slide.”
Gio menatapku seperti menatap orang yang baru mengumumkan akan menyeberangi Selat Sunda dengan berenang. “Kamu sakit?”
“Nggak.”
“Demam? Aku bisa cek. Aku belajar dari Sasa Tebing.”
“Gi.”
Aku berdiri di depan dua puluh tiga pengurus. Tanpa slide, tanpa kartu, dan tanpa naskah.
“Sebelum pengesahan LPJ,” kataku, “aku mau mengakui satu hal.”
Dua puluh tiga pasang mata menatapku. Tasya dan Meli di barisan kedua saling pegang tangan, seolah-olah menonton final sinetron.
“Program mentoring lintas fakultas,” kataku, “nggak pernah ada.”
Hening.
“Aku bohong,” lanjutku. “Aku bilang itu program BEM yang belum diumumkan. Aku seret Gio ke kantin FIB, aku rekrut anak FIB jadi panitia Dies Natalis, dan aku bikin alasan ke dekanat. Itu semua bukan program. Itu urusan pribadiku. Aku pakai nama BEM untuk urusan pribadi, dan itu salah.”
Dua puluh tiga pengurus diam.
Lalu, dari pojok belakang, seseorang bertanya: “Urusan pribadi itu soal asisten dosen Statistika yang payungnya miring?”
Ruangan meledak tertawa.
Aku berdiri di depan dengan wajah terbakar. Kali ini aku tidak menyembunyikannya, dan aku ikut tertawa. Tawa yang keras dan tidak ditutup tangan, di depan dua puluh tiga orang yang sudah tiga tahun hanya melihat senyum cermin.
Tawa di ruangan itu berhenti mendadak. Semua orang menatapku seperti melihat hantu.
“Ketua kita ketawa,” bisik Meli. “Ada suaranya.”
“Aku nggak pernah dengar Ketua ketawa ada suaranya,” bisik Tasya. “Tiga tahun.”
“Aku rekam nggak ya?”
“Jangan! Nanti jadi kayak foto payung!”
Gio berdiri.
“Aku mau usul,” katanya dengan suara resmi yang jarang ia pakai. Suara yang biasa ia pakai untuk menyampaikan evaluasi ke vendor sound system. “Program mentoring lintas fakultas memang nggak pernah ada. Tapi kenapa nggak kita bikin?”
Semua orang menoleh padanya.
“Nggak usah mentoring,” lanjut Gio. “Makan siang. Program Makan Siang Lintas Fakultas. Buat mahasiswa yang makan sendirian di kantin. Setiap Selasa, pengurus BEM dari fakultas mana pun datang ke kantin fakultas lain, cari meja yang isinya cuma satu orang, terus bilang: boleh duduk di sini?”
Ruangan sunyi.
“Aku kenal satu orang,” kata Gio, menatapku sekilas, “yang makan sendirian di kantin FIB satu tahun tiga bulan. Makan sama buku. Sampai ada yang datang dan tanya boleh duduk? Terus dia nangis di menit keempat.” Gio berdeham. “Terus dia jadi panitia terbaik Dies Natalis kita. Daftar sponsornya empat puluh tujuh nama, termasuk tukang bakso depan kosnya.”
Tasya mulai menangis. Meli ikut menangis. Seorang pengurus divisi olahraga, cowok bertubuh besar yang biasa mengangkat meja sendirian, mengusap matanya diam-diam dengan lengan jaket.
“Aku setuju,” kata seseorang.
“Setuju.”
“Setuju. Tapi jangan ada risoles.”
Dua puluh tiga tangan terangkat.
Aku berdiri di depan dan menatap tangan-tangan itu, dan mataku panas lagi.
“Program Makan Siang Lintas Fakultas,” kataku, suaraku sedikit pecah. “Disahkan. Untuk dilanjutkan periode depan.”
“Namanya jangan panjang-panjang,” kata Gio. “Nanti nggak ada yang ingat.”
“Terus apa?”
Gio berpikir sebentar. Lalu ia tersenyum lebar.
“Program Tempe,” katanya.
Tawa meledak lagi. Kali ini aku yang tertawa paling keras.
Sasa marah padaku.
Ia sudah bilang dua minggu, dan Sasa selalu menepati janjinya, bahkan janji untuk marah.
Pesan-pesannya jadi pendek dan kaku. Oke Kak. Iya Kak. Nanti Kak. Tanpa emoji, tanpa tanda seru, dan tanpa hati yang diarsir penuh. Lagu anak-anak bernada xilofon tidak berbunyi pukul dua belas siang, pukul delapan malam, atau kapan pun.
Tapi setiap malam, pukul sebelas lewat, satu pesan masuk. Selalu satu, dan selalu isinya lelucon.
Kenapa pencuri surat nggak pernah jadi tukang pos? Karena dia nggak bisa ngasih, cuma bisa ngambil.
Di bawahnya: Ini bukan berarti aku udah nggak marah. Ini cuma lelucon.
Malam berikutnya:
Kenapa planner nggak bisa berenang? Karena isinya rencana semua, nggak ada pelampung.
Masih marah. Leluconnya aja yang nggak marah.
Malam ketiga:
Kenapa Kak Ren nggak bisa marah lama-lama? Karena dia nggak kuat pedas.
Ini lelucon soal Kak Ren, bukan soal Kakak. Aku masih marah sama Kakak. Tapi aku kasihan sama Kakak soalnya Kak Ren belum ngomong apa-apa.
Aku membaca pesan itu berulang-ulang di tempat tidur, di kamar yang bukunya tersusun menurut warna punggung.
Kak Ren belum ngomong apa-apa.
Sudah empat hari sejak halaman berpot cabai. Sudah empat hari sejak ia berdiri di ambang pintu belakang dengan amplop lilac yang belum dibuka, lalu pergi tanpa pamit. Tidak ada pesan, tidak ada kertas bertinta merah, dan tidak ada pagi.
Aku membuka laci meja belajar.
Di dalamnya ada ponsel cadangan yang sudah lama tidak kupakai, beberapa stabilo kering, dan sebuah pulpen hitam dengan bekas gigitan di tutupnya. Bekas gigitan yang miring ke kiri, karena gigi taring pemiliknya agak maju.
Pulpen itu sudah dua minggu tinggal di dalam laci.
Aku mengambilnya dan memegangnya. Rasanya dingin, dan lebih ringan dari yang kuingat.
Lalu aku membuka planner kulit cokelat ke halaman paling baru. Halaman kosong, tanpa judul, tanpa tabel, tanpa tahap-tahap.
Aku tidak menulis rencana. Untuk pertama kalinya, aku tidak tahu harus menulis apa di halaman kosong.
Jadi aku menulis satu kata saja, di pojok kiri atas, dengan huruf kecil yang sedikit miring:
Rendra,
Lalu aku berhenti. Pulpen itu berhenti di atas kertas sampai tintanya membentuk titik kecil, seperti titik yang pernah ditinggalkan pulpen merahnya di atas tisu kantin FIB, sebelum ia menulis masih kucari juga.
Aku menatap titik itu lama sekali.
Lalu aku mulai menulis.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide reading
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama