← Surat Salah Alamat

Chapter Thirteen

Bubur dan Kode Rahasia

POV: Kirana

Hari kedua KKN, aku bangun dengan kaki kiri sebesar talas dan kepala yang terasa seperti diisi kapas basah.

Aku mencoba duduk. Dunia berputar tiga kali, lalu berhenti dengan posisi agak miring, seperti rak buku yang lupa kuluruskan.

“Kir.” Sasa Tebing, yang tidur di kasur sebelahku, menempelkan punggung tangannya di dahiku. Tangannya kasar dan dingin seperti batu sungai. “Kamu panas banget.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Kamu kayak setrika.”

“Aku bisa kerja dari posko.” Aku meraih jilidan program kerja empat puluh dua halaman di samping bantal. “Hari ini jadwalnya sosialisasi pengelolaan sampah di balai desa jam sembilan, terus...”

Sasa Tebing merampas jilidan itu dari tanganku dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk jam enam pagi.

“Hari ini jadwalnya kamu tidur.”

“Itu nggak ada di halaman mana pun.”

“Sekarang ada.” Ia mengambil pulpen dari ranselnya dan menulis besar-besar di halaman pertama: HARI KE-2: KOORDINATOR TIDUR. TITIK. Lalu ia menyerahkan jilidan itu kepada seseorang yang berdiri di ambang pintu kamar.

Rendra.

Ia sudah mandi, sesuai jadwal pukul lima lewat dua puluh yang kubuat untuknya. Rambutnya basah dan ia memakai kaus abu-abu bersih. Ia mengambil jilidan itu, membaca halaman pertama, lalu mengangguk sekali.

“Aku yang pegang,” katanya.

“Nggak,” kataku.

“Kamu mau pegang program kerja sambil demam tiga puluh delapan koma lima?”

“Dari mana kamu tahu tiga puluh delapan koma lima?”

Ia mengangkat termometer digital di tangan kirinya. Rupanya Sasa Tebing sudah mengukur suhuku waktu aku masih setengah sadar, dan melapor padanya sebelum membangunkanku.

Aku dikhianati oleh pecinta alam.

“Koordinator sementara,” kata Sasa Tebing, menepuk bahu Rendra. “Semangat, Bos.”

“Aku bukan bos.”

“Kamu pegang buku kamus itu. Kamu bos.”

Rendra menatap jilidan di tangannya dengan ekspresi seseorang yang baru saja dititipi bayi orang lain.

“Aku akan ikut jadwalnya,” katanya padaku. “Persis. Termasuk jadwal mandi.”

“Jadwal mandi itu penting.”

“Aku tahu. Gio sudah minta maaf dua kali.”


Sepanjang hari aku terbaring di kamar posko, dan aku belajar bahwa mendengarkan orang lain menjalankan rencanamu jauh lebih menyiksa daripada demam.

Dari jendela kamar, yang menghadap halaman depan, aku bisa mendengar semuanya.

Pukul 08.30, Rendra mengumpulkan anggota kelompok di halaman dan membacakan jadwal hari itu dari jilidanku, kata demi kata, dengan nada datar seperti pembaca berita di radio tengah malam.

“Pukul sembilan, sosialisasi pengelolaan sampah di balai desa. Penanggung jawab, Farhan dan Dewi. Catatan kaki.” Ia berhenti sebentar. “Jangan pakai istilah ‘bank sampah’ di depan ibu-ibu PKK tanpa penjelasan, karena mereka akan mengira kita mau buka bank dan minta pinjaman.”

Beberapa anggota tertawa. Rendra tidak tertawa. Ia membaca catatan kakiku dengan serius, seolah-olah itu ayat undang-undang.

“Catatan kaki kedua. Kalau Pak RT mulai cerita soal zaman dia jadi hansip, beri waktu maksimal lima belas menit, lalu alihkan dengan pertanyaan soal kebun jeruknya.”

Hening sebentar.

“Kirana nulis itu?” tanya seseorang, mungkin Dewi dari Farmasi.

“Halaman sebelas,” jawab Rendra.

“Dia tahu Pak RT punya kebun jeruk dari mana? Kita baru sampai kemarin.”

“Dia survei lewat grup Facebook desa sebelum berangkat.” Rendra membalik halaman. “Ada catatan kaki ketiga. Soal anjing Pak Kades.”

Aku menutupi wajah dengan bantal. Aku bisa mendengar Gio tertawa sampai terbatuk-batuk.

Pukul sebelas, Gio masuk ke kamarku dengan wajah muram dan sepiring sesuatu.

“Laporan dari seksi konsumsi,” katanya. “Makan siang hari ini.”

Aku menatap piring itu. Lima buah risoles beku yang sudah digoreng. Bagian luarnya kecokelatan, dan di beberapa titik masih ada es.

“Gio.”

“Aku tahu.”

“Kamu benci risoles.”

“Aku tahu.” Ia duduk di lantai di sebelah kasurku dan menunduk. “Tapi di warung desa cuma ada ini. Risoles beku, mi instan, sama kerupuk. Aku berdiri di depan freezer lima menit, Kir. Lima menit. Aku sama risoles saling tatap. Dan aku kalah.”

Aku tertawa, dan tawa itu membuat kepalaku berdenyut.

“Kamu yang ngusulin jangan risoles di rapat BEM,” kataku.

“Dan semesta menghukumku.” Gio menghela napas. “Risoles ini ujian, Kir. Ujian kesabaran.”

Aku tidak makan risoles itu. Aku tidak lapar. Demam membuat mulutku terasa seperti kertas amplas, dan membayangkan makanan saja sudah membuatku mual.

Pukul tiga sore, Sasa Tebing membawa teh manis. Aku minum dua teguk.

Pukul enam, Dewi membawa mi instan. Aku makan tiga suap, lalu mendorongnya menjauh.

Pukul delapan malam, posko sudah sepi. Anggota kelompok berkumpul di balai desa untuk rapat dengan karang taruna. Rapat itu kujadwalkan di halaman dua puluh sembilan, dengan catatan kaki: Bawa gorengan untuk pemuda desa. Rapat dengan perut kosong = rapat yang gagal.

Aku terbaring sendirian di kamar dengan lampu redup, hoodie abu-abu yang belum kukembalikan, dan pergelangan kaki yang dibalut perban elastis oleh Sasa Tebing dengan teknik “yang biasa dipakai buat pendaki yang jatuh di tebing”.

Lalu pintu kamar diketuk dua kali. Pelan.

“Masuk,” kataku, dengan suara serak.

Rendra masuk membawa nampan.

Di atas nampan itu ada sebuah mangkuk bermotif ayam jago yang pasti milik Pak Kades, sendok, dan segelas air putih hangat. Dari mangkuk itu naik uap tipis yang membawa bau jahe, bawang, dan kaldu ayam.

“Kamu nggak ikut rapat karang taruna?” tanyaku.

“Aku koordinator sementara. Aku mendelegasikan.” Ia meletakkan nampan di lantai di sebelah kasurku, lalu duduk bersila. “Gio yang pimpin. Dia bawa risoles buat pemuda desa.”

“Risoles beku?”

“Sisa makan siang. Dia bilang, ‘Kalau aku harus menderita, dunia juga harus.’”

Aku tertawa lagi, lalu meringis karena kepalaku.

Rendra mengangkat mangkuk ayam jago itu.

“Bubur ayam,” katanya. “Aku masak di tungku.”

“Kamu bisa masak?”

“Ibu kerja di toko dari pagi sampai malam. Aku belajar masak waktu SMP. Bubur itu yang pertama.” Ia mengaduk bubur itu pelan dengan sendok. “Dulu aku bikin bubur buat Ibu kalau Ibu sakit, soalnya Ibu nggak pernah mau istirahat. Kayak orang yang aku kenal.”

“Aku istirahat.”

“Kamu survei grup Facebook desa sebelum berangkat.”

“Itu persiapan.”

“Kamu bikin catatan kaki soal anjing Pak Kades.”

“Anjingnya galak. Itu informasi keselamatan.”

Ia tidak membantah. Ia menyodorkan mangkuk itu padaku.

“Aku nggak lapar,” kataku.

“Kamu makan tiga suap mi hari ini.”

“Dari mana kamu tahu tiga suap?”

“Dewi lapor.”

“Kenapa semua orang lapor ke kamu?”

“Karena aku pegang buku kamus,” katanya.

Aku menatap bubur itu. Buburnya putih dan lembut, ditaburi suwiran ayam, bawang goreng, daun seledri, dan sedikit kecap di tengah. Di pinggir mangkuk ada kerupuk kecil yang disusun melingkar dengan rapi. Rapi sekali, dengan jarak yang sama, seolah-olah seseorang mengukurnya sebelum menaruhnya.

Ia menyusun kerupuknya seperti aku menyusun barang di meja sembilan.

Aku mengambil mangkuk itu. Tanganku gemetar sedikit karena demam, dan ia menahan dasar mangkuknya dengan satu tangan sampai aku bisa memegangnya dengan mantap.

Lalu ia berkata, pelan, dengan nada seperti membacakan catatan kaki:

“Jangan lupa makan.”

Aku berhenti bergerak.

Sendok di tanganku menggantung di udara, setengah jalan ke mulut. Uap bubur naik ke wajahku, dan tiba-tiba suhu tubuhku terasa naik dua derajat dalam satu detik.

Jangan lupa makan.

Tulisan tangan bulat. Tinta ungu. Kertas lilac.

Kak Ren, Sabtu ini jam tujuh. Aku tunggu kamu pulang. Jangan lupa makan. — Sasa.

Kalimat itu, kalimat yang persis sama, keluar dari mulut Rendra Mahesa di kamar posko KKN yang remang-remang, sambil menyodorkan bubur buatannya sendiri padaku.

Otakku yang demam mulai membangun teori dengan kecepatan tinggi, seperti mesin yang kepanasan.

Teori A: Itu kalimat mereka. Kode rahasia. Kalimat yang Sasa tulis untuknya dan yang ia ucapkan kembali untuk Sasa. Kalimat milik orang yang saling menunggu pulang.

Teori B: Ia sudah menemukan surat itu. Ia tahu aku mencurinya, dan ini caranya memberi tahu: dengan mengutip kalimatnya tepat di depan wajahku, lalu menunggu aku mengaku.

Teori C: Ia sedang memikirkan Sasa. Sekarang. Waktu menyodorkan bubur padaku. Aku cuma pengganti. Tahap empat, alternatif yang masuk akal.

“Anindya?”

“Kamu,” kataku. Suaraku keluar lebih serak dari biasanya, dan bukan hanya karena demam. “Kamu ngomong itu ke semua orang?”

Ia mengerutkan dahi sedikit. “Ngomong apa?”

“Kalimat itu. Jangan...” Aku tidak bisa mengucapkannya. Kalimat itu terasa seperti barang curian di mulutku. “Yang barusan.”

“Ke orang yang lupa makan,” katanya.

“Aku nggak lupa. Aku nggak lapar. Itu beda.”

“Hasilnya sama. Perutmu kosong.”

“Kamu belajar kalimat itu dari siapa?”

Aku tahu pertanyaan itu aneh, dan aku tahu nadaku terlalu tajam untuk orang yang baru saja dibuatkan bubur. Tapi demam membuat semua filter di kepalaku mati, seperti lampu jalan di Gang Kenari.

Rendra menatapku lama. Lalu ia menunduk, menatap kerupuk yang tersusun rapi di pinggir mangkuk.

“Dari rumah,” katanya pelan. “Di rumahku, orang ngomong itu setiap hari.”

Rumah. Aku tunggu kamu pulang.

Teori A naik ke peringkat pertama dan duduk di sana dengan angkuh.

Aku menyuap bubur itu karena tidak tahu harus melakukan apa lagi dengan mulutku.

Dan bubur itu enak. Menyebalkan sekali betapa enaknya. Hangat, lembut, gurih, dengan jahe yang membuat tenggorokanku yang sakit terasa sedikit lebih baik. Aku menyuap lagi. Lalu lagi.

Rendra duduk bersila di lantai dan menonton aku makan dengan kesabaran seseorang yang menunggu tanaman tumbuh.

“Kenapa lihat-lihat?”

“Aku menghitung.”

“Menghitung apa?”

“Suapan. Mi tadi tiga. Bubur ini sudah tujuh.”

“Kamu nggak perlu menghitung.”

“Aku orangnya teliti.”

Setelah suapan ke dua belas, kepalaku mulai terasa berat dengan cara yang berbeda. Bukan berat karena sakit, tapi berat karena kenyang, hangat, dan lelah. Aku meletakkan mangkuk di nampan. Masih tersisa seperempat.

“Sisanya nanti,” kataku.

“Nanti kapan?”

“Nanti.”

Ia mengambil mangkuk itu, menutupnya dengan piring kecil, lalu menaruhnya di atas meja. Lalu, tanpa bertanya, ia mengulurkan tangan dan menempelkan punggung tangannya ke dahiku.

Tangannya dingin, karena udara malam Cibeureum, karena tungku yang sudah padam, atau karena apa pun. Rasanya seperti handuk dingin di tengah padang pasir.

Aku memejamkan mata.

“Masih panas,” gumamnya.

Waktu ia menarik tangannya, tanganku bergerak sendiri dan menangkap pergelangan tangannya. Persis seperti yang ia lakukan di kantin FIB waktu aku hendak berdiri.

“Jangan pergi dulu,” kataku.

Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Aku menyalahkan demam, obat penurun panas yang diberikan Sasa Tebing sore tadi, dan kabut Cibeureum. Aku menyalahkan semuanya, kecuali diriku sendiri.

Rendra diam.

Lalu, pelan-pelan, ia duduk kembali di lantai di sebelah kasurku. Pergelangan tangannya masih di genggamanku, dan ia tidak menariknya.

“Kamu mau aku ngapain?” tanyanya.

“Nggak tahu. Ngomong sesuatu.”

“Aku nggak pintar ngomong.”

“Bacain sesuatu, kalau gitu.”

Ia berpikir sebentar. Lalu ia meraih tasnya dengan tangan yang bebas dan mengeluarkan sebuah buku. Buku tebal bersampul biru.

Teori Peluang dan Hal-Hal yang Tidak Kebetulan.

Aku membuka mata sedikit. Jantungku berdebar dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan demam.

Buku itu. Buku yang jadi awal semuanya.

“Itu buku perpustakaan,” kataku. “Sudah telat dikembalikan.”

“Dua minggu. Dendanya sepuluh ribu.” Ia membuka buku itu di pangkuannya. “Bab tujuh. Peluang kejadian yang saling bebas.”

“Itu bacaan pengantar tidur?”

“Buat orang normal, nggak. Buat kamu, mungkin iya.”

Ia mulai membaca. Suaranya rendah dan datar, dan setiap kalimat dibaca dengan jeda yang sama, seperti tetes air dari keran yang tidak ditutup rapat. Ia membaca tentang dua kejadian yang tidak saling mempengaruhi, tentang peluang koin yang jatuh dengan sisi gambar dua kali berturut-turut, dan tentang bagaimana manusia cenderung melihat pola di tempat yang sebenarnya hanya kebetulan.

Aku tidak mendengarkan isinya. Aku mendengarkan suaranya.

Di tengah bab, ia berhenti membaca. Aku mendengarnya menarik napas.

“Anindya.”

“Hm.”

“Kamu tahu peluang dua orang tertentu masuk kelompok KKN yang sama?”

“Berapa?”

“Kira-kira satu banding dua ratus.”

“Kecil.”

“Kecil,” ulangnya. “Tapi bukan nol.”

Aku ingin bertanya apa maksudnya. Aku ingin bertanya apakah ia juga menghitung peluang-peluang lain. Peluang pulpen yang menggelinding ke sepatu yang tepat, peluang surat yang jatuh di depan orang yang salah, dan peluang dua orang yang saling mengamati dari meja sembilan dan meja empat belas selama tiga tahun tanpa pernah bicara.

Tapi mataku sudah terlalu berat.

Hal terakhir yang kuingat sebelum tertidur adalah suaranya yang kembali membaca, lebih pelan, dan jari-jarinya yang tidak pernah menarik diri dari genggamanku.


Aku terbangun pukul enam pagi dengan demam yang sudah turun dan kamar yang kosong.

Hoodie abu-abu itu terlipat rapi di kaki kasur. Mangkuk ayam jago di atas meja sudah bersih dan sudah dicuci. Di sebelahnya ada gelas air putih baru, masih penuh.

Dan di bawah gelas itu ada selembar kertas kecil, disobek dari pinggir halaman buku catatan hitam, ditulis dengan pulpen merah:

Semalam kamu makan 3/4 mangkuk. Sisa 1/4 sudah kuhabiskan, biar nggak mubazir.

Sarapan jam 7. Bubur lagi. Jangan pura-pura nggak lapar.

Aku membaca kertas itu tiga kali.

Lalu aku membuka planner kulit cokelat yang ada di bawah bantal, membalik ke halaman belakang, dan menyelipkan kertas itu di sebelah dua kertas bertinta merah dan selembar tisu kantin.

Di sebelahnya, amplop lilac itu masih ada. Jangan lupa makan, dalam tinta ungu.

Dan sekarang ada satu lagi, dalam tinta merah: Jangan pura-pura nggak lapar.

Aku menatap keduanya bersebelahan dan tidak tahu lagi mana yang lebih menakutkan: kemungkinan bahwa kalimat itu milik mereka berdua, atau kemungkinan bahwa sekarang, pelan-pelan, sebagian dari kalimat itu mulai menjadi milikku juga.