Chapter Fifteen
Malam Keakraban
POV: Kirana
Malam terakhir KKN adalah malam keakraban. Warga desa menyebutnya malam perpisahan, dan anak-anak desa menyebutnya malam mahasiswa pulang, yeay. Kalimat terakhir itu membuat Gio tersinggung selama dua jam.
Aku sudah merencanakannya sejak di Bandung. Halaman tiga puluh delapan sampai empat puluh dua jilidan program kerja: susunan acara per menit, daftar pengisi acara, denah panggung di lapangan balai desa, dan naskah MC sepanjang empat halaman yang kucetak di kartu-kartu kecil berwarna krem, diberi nomor urut, dan dilubangi di pojok supaya bisa diikat dengan tali rafia.
Aku adalah MC-nya. Tentu saja aku MC-nya. Aku sudah menjadi MC di empat puluh tiga acara BEM tanpa satu pun kesalahan.
Pergelangan kakiku sudah jauh lebih baik. Aku masih sedikit pincang, tapi sudah bisa berdiri tanpa ember. Aku memakai kebaya pinjaman dari istri Pak Kades, karena katanya MC malam perpisahan harus pakai kebaya, begitulah adat di desa ini. Kebayanya berwarna hijau pupus dan sedikit kebesaran di bahu, jadi Sasa Tebing menjepitnya dengan peniti di tiga tempat.
“Kamu cantik banget,” kata Sasa Tebing, mundur selangkah untuk melihatku. “Serius. Kayak sampul majalah wanita zaman dulu.”
“Terima kasih.”
“Itu pujian, Kir. Kamu boleh senyum.”
Aku tersenyum. Senyum cermin, senyum terlatih. Sasa Tebing menatapku dengan wajah kecewa.
“Bukan yang itu,” katanya. “Yang kemarin. Yang pas kamu ketawa sama Sasa Tempe.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku mengecek kartu MC-ku untuk kesebelas kalinya.
Lapangan balai desa dipenuhi warga. Ada ibu-ibu PKK dengan kerudung warna-warni, bapak-bapak yang merokok di pinggir lapangan, dan anak-anak yang berlarian di antara kursi-kursi plastik sambil membawa kembang api kecil. Panggungnya terbuat dari papan kayu yang disusun di atas drum bekas, diterangi dua lampu sorot yang disambungkan ke genset milik Pak Kades.
Pak Wahyu, dosen pembimbing lapangan kami, duduk di barisan depan bersama Pak Kades dan Pak Camat. Pak Camat datang dari kecamatan khusus untuk malam ini. Ia memakai batik, pecinya miring sedikit, dan membawa istrinya yang terus memotret panggung dengan ponsel.
Aku naik ke panggung pukul tujuh tepat.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam Bapak Camat yang kami hormati, Bapak Kepala Desa beserta jajaran, Bapak Wahyu selaku dosen pembimbing lapangan, serta seluruh warga Desa Cibeureum yang kami cintai...”
Kartu nomor satu berjalan sempurna. Kartu nomor dua juga sempurna.
Kartu nomor tiga, sambutan Pak Camat, berjalan sempurna, kecuali bagian ketika Pak Camat berbicara selama dua puluh tiga menit dan bukan tujuh menit seperti yang kujadwalkan. Aku tidak punya catatan kaki untuk Pak Camat. Aku belum sempat mengecek grup Facebook kecamatan.
Kartu nomor empat: penampilan tari jaipong anak-anak desa. Sempurna. Anak-anak itu menari dengan serius dan menggemaskan, dan salah satunya terus melambai ke ibunya di tengah tarian.
Lalu, di kartu nomor lima, dua hal terjadi hampir bersamaan.
Pertama, angin gunung datang.
Angin Cibeureum pukul delapan malam tidak pernah sopan. Angin itu datang dari puncak bukit tanpa pemberitahuan, menerjang lapangan, dan mengangkat taplak meja, kerudung ibu-ibu, dan kartu-kartu krem di tanganku yang ternyata tidak kuikat dengan tali rafia, karena tali rafianya tertinggal di posko.
Kartu nomor lima sampai dua puluh tiga terbang ke udara seperti burung dara yang dilepas di acara pernikahan.
Aku menatapnya melayang ke kegelapan. Sebagian mendarat di kolam ikan di sebelah balai desa. Sebagian tersangkut di pohon rambutan. Satu kartu mendarat tepat di peci Pak Camat.
Kedua, genset mati.
Lampu sorot padam, mikrofon mati, dan lapangan balai desa tenggelam dalam gelap total. Yang tersisa hanya cahaya bintang dan beberapa layar ponsel warga yang langsung dinyalakan.
Di tengah kegelapan itu, aku berdiri di atas panggung papan dengan kebaya pinjaman yang dijepit peniti, tanpa kartu, tanpa mikrofon, dan tanpa rencana.
Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.
Empat puluh tiga acara tanpa satu kesalahan. Aku bisa berimprovisasi, tentu saja. Aku sudah berimprovisasi di depan rektor, vendor sound system, dan wartawan kampus. Tapi malam itu, di atas panggung papan yang berderit, entah kenapa kepalaku kosong. Mungkin karena telepon Mama lima hari lalu masih tinggal di dadaku seperti batu. Mungkin karena kakiku masih sakit. Mungkin karena ini pertama kalinya aku berdiri di depan orang banyak setelah menangis dengan suara di teras posko.
Suara dari kerumunan mulai terdengar. Anak-anak tertawa. Seseorang bertanya, “Ini acaranya udahan?”
Aku berdiri kaku. Tanganku gemetar, sama seperti di bangku B-12.
Lalu terdengar langkah kaki di tangga panggung.
Rendra naik ke atas panggung dengan senter kepala milik Sasa Tebing. Cahayanya menyorot lurus ke depan, dan wajahnya tampak datar seperti biasa.
Ia berdiri di sebelahku, tidak di depanku.
“Genset lagi dibetulkan,” katanya keras ke arah penonton, tanpa mikrofon. Suaranya tidak besar, tapi entah bagaimana sampai ke barisan paling belakang. Mungkin karena ia jarang bicara, sehingga orang-orang otomatis diam untuk mendengarnya. “Sambil nunggu, saya mau main tebak angka.”
Warga saling pandang.
“Adik-adik yang di depan,” Rendra menunjuk sekelompok anak yang duduk di tikar paling dekat panggung. “Pikirkan satu angka. Terserah berapa. Jangan bilang saya.”
Anak-anak itu langsung memejamkan mata dengan serius, seolah-olah sedang berdoa sebelum ujian.
“Kalikan dua.”
Beberapa anak menghitung dengan jari. Satu anak mengambil ranting dan mulai menulis di tanah.
“Tambah sepuluh.”
“Bagi dua.”
“Kurangi dengan angka yang pertama kalian pikirkan.”
Anak-anak menghitung dengan wajah tegang. Beberapa ibu di belakang ikut menghitung. Bahkan Pak Camat, aku bisa melihatnya dalam cahaya ponsel, menggerakkan bibir sambil menghitung.
“Angka kalian sekarang,” kata Rendra datar, “lima.”
Hening sebentar.
Lalu anak-anak itu berteriak. “LIMAAA! KOK TAHU?!”
“Saya tahu semuanya,” kata Rendra, dengan wajah datar yang sama sekali tidak berubah.
Anak-anak menjerit kegirangan. Ibu-ibu tertawa. Pak Camat bertepuk tangan dengan keras dan menoleh pada istrinya, jelas ingin mengatakan bahwa ia juga dapat lima.
“Lagi! Lagi, Kak!”
Rendra melakukannya lagi, dengan rumus yang berbeda. Hasilnya tetap sama: semua orang dapat angka yang ia sebutkan. Tawa di lapangan semakin keras. Seorang bapak di belakang berteriak, “Itu dukun matematika!”
“Bukan dukun,” kata Rendra. “Asisten dosen.”
Tawa yang lebih keras lagi.
Aku berdiri di sebelahnya, masih kaku, tapi napasku mulai kembali. Dalam cahaya senter kepala dan layar-layar ponsel warga, aku melihat ujung telinganya merah menyala.
Rendra Mahesa, yang tidak pernah bicara di depan orang, yang menolak jadi guru les anak tetangga, dan yang selalu lembur setiap kali ada tamu di rumahnya, sedang berdiri di atas panggung papan di lapangan balai desa. Ia menghibur tiga ratus warga dengan trik aljabar kelas tujuh. Telinganya merah seperti cabai rawit dan tangannya terkepal di sisi tubuh.
Ia melakukannya untuk menutupi kesalahanku.
Waktu anak-anak meminta satu ronde lagi, ia menoleh padaku. Senter di kepalanya menyorot wajahku sampai aku harus menyipitkan mata, lalu ia buru-buru menunduk supaya cahayanya tidak menyilaukan.
“Koordinator,” katanya pelan, hanya untukku. “Kamu yang bacain hasilnya. Aku yang kasih soal.”
“Aku nggak punya kartu.”
“Kamu nggak butuh kartu buat bilang angka lima.”
Aku menatapnya.
“Aku yang kasih soal,” ulangnya. “Kamu yang kasih jawaban. Bagi tugas. Logistik.”
Ronde berikutnya, ia memberi soal dan aku membacakan jawabannya.
“Angka kalian sekarang...” Aku berhenti dan menatap anak-anak di depan yang sudah menahan napas. “Tujuh.”
“TUJUHHH!”
Anak-anak menjerit lagi, dan aku tertawa. Aku tertawa di atas panggung, tanpa mikrofon, tanpa kartu, dengan kebaya kebesaran yang dijepit peniti. Tawanya keras dan tidak kututup dengan tangan.
Rendra menatapku dari balik cahaya senter. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi aku bisa melihat sudut bibirnya.
Kali ini senyumnya penuh. Bukan yang sedang ditimbang. Senyum sungguhan, pertama kali kulihat utuh.
Genset menyala kembali tiga ronde kemudian. Lampu sorot menyilaukan dan mikrofon berdengung. Warga bersorak, dan aku tidak tahu apakah sorakan itu untuk genset atau untuk kami.
Aku melanjutkan acara sampai selesai, tanpa kartu. Ternyata aku hafal semuanya.
Kartu nomor tujuh belas akhirnya ditemukan oleh anak Pak Kades di dalam kolam ikan keesokan paginya, basah dan sobek. Ia menyerahkannya padaku sebagai kenang-kenangan.
Setelah acara, setelah semua warga pulang dan panggung dibongkar, anggota kelompok berkumpul di teras posko untuk makan jagung bakar dan menyanyikan lagu-lagu yang liriknya salah semua.
Aku tidak ikut.
Aku berjalan pelan-pelan, masih sedikit pincang, ke undakan kebun teh paling bawah di belakang posko. Dari sana, lampu-lampu Kota Bandung terlihat jauh di bawah seperti tumpahan gula di atas taplak hitam, dan di atasnya langit dipenuhi bintang.
Aku duduk di tepi undakan dengan kebaya yang kotor di bagian bawah.
“Kakimu.”
Aku tidak menoleh. Aku sudah tahu suara itu dari tiga kata pertama, bahkan satu kata.
“Sudah nggak sakit.”
“Kamu pincang.”
“Pincangku efisien.”
Rendra duduk di sebelahku. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak cukup jauh untuk disebut sopan.
Kami diam lama. Dari posko terdengar Gio menyanyikan lagu dangdut tentang kereta malam dengan nada yang meleset jauh.
“Terima kasih,” kataku akhirnya.
“Untuk apa?”
“Tebak angka.”
“Itu trik anak SD.”
“Kamu naik panggung.”
Ia diam. Lalu, pelan: “Aku benci naik panggung.”
“Aku tahu.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Telingamu merah.”
Ia menoleh padaku dengan cepat. Aku tersenyum ke arah lampu-lampu kota tanpa menatapnya.
“Aku orangnya teliti,” kataku.
Ia mendengus. Suara yang hampir seperti tawa, keluar dari hidung.
“Kenapa kamu diam di panggung tadi?” tanyanya. “Kamu MC empat puluh tiga acara.”
“Kamu tahu aku MC empat puluh tiga acara?”
“Gio yang bilang. Waktu aku tanya kenapa kamu bikin naskah MC empat halaman.”
Aku memeluk lututku. Kebaya hijau pupus itu terasa dingin di kulit.
“Mama telepon,” kataku. Aku tidak tahu kenapa aku menceritakannya. Mungkin karena gelap. Mungkin karena ia tidak menatapku. “Lima hari lalu. Aku peringkat dua mapres universitas. Kalah nol koma nol dua dari anak Kedokteran.”
Rendra diam.
“Mama bilang aku terlalu banyak buang waktu. Duduk di perpustakaan.” Aku tertawa kecil, tanpa suara, dan tanganku bergerak ke mulut karena kebiasaan. “Mama juga tahu soal payung. Ada fotonya. Mama bahkan tahu kamu anak penjual buku bekas di Gang Kenari.”
Tanganku masih menutup mulut. Aku merasakan sesuatu yang hangat menyentuh pergelangan tanganku.
Jari-jari Rendra.
Ia menurunkan tanganku dari mulutku. Pelan sekali, seperti membuka tirai. Lalu ia tidak melepaskannya. Tanganku sekarang berada di dalam tangannya, di atas undakan kebun teh, di bawah bintang-bintang Cibeureum.
“Kamu nggak perlu nutup mulut,” katanya. “Di sini nggak ada yang ngitung.”
Aku menatap tangan kami.
“Nol koma nol dua,” lanjutnya pelan, “itu sepuluh menit di bangku B-12. Aku ada di bangku B-13. Kalau ada yang harus disalahin, salahin orang yang telat ngasih pulpen.”
“Itu bukan salahmu.”
“Aku tahu. Tapi itu juga bukan salahmu.” Ia menatap lampu-lampu kota di bawah. “Kamu dihukum tiga tahun karena pulpen yang macet. Itu nggak adil.”
Aku tidak menjawab. Tenggorokanku terlalu penuh.
“Dan soal perpustakaan,” lanjutnya, lebih pelan lagi, “kamu nggak buang waktu.”
“Aku cuma duduk.”
“Kamu duduk di meja sembilan tiga tahun.” Ia berhenti. Aku bisa merasakan ibu jarinya bergerak sedikit di punggung tanganku, sekali, seperti orang yang ragu-ragu mengetuk pintu. “Aku juga cuma duduk di meja empat belas tiga tahun. Kalau itu buang waktu, kita buang waktu bareng-bareng.”
Aku menoleh padanya.
Di bawah bintang-bintang, wajahnya tidak lagi datar. Aku tidak tahu kapan tepatnya berubah, tapi wajah itu sekarang terbuka seperti buku yang halamannya dibiarkan tersibak angin. Aku bisa membaca semuanya. Setiap baris, setiap coretan, setiap tanda baca.
“Kamu dari tadi lihat bintang,” kataku, “atau lihat aku?”
Kalimat itu keluar sendiri. Kalimat yang terlalu berani untuk orang yang lima hari lalu menangis di tumpukan kayu bakar.
Rendra tidak mengalihkan mata.
“Bintangnya ada di belakangmu,” katanya. “Jadi dua-duanya.”
Jarak di antara kami mulai mengecil lagi. Seperti di saung, seperti di lorong gudang. Tapi kali ini tidak ada kabut. Hanya ada bintang, lampu kota yang jauh, dan tangannya yang masih memegang tanganku, dengan ibu jari yang bergerak pelan di punggung tanganku.
Aku bisa melihat titik-titik kayu manis di matanya. Aku bisa merasakan napasnya.
Lima senti. Tiga senti.
Lalu terdengar lagu dangdut yang sangat keras.
Bukan dari posko. Dari saku jaket Rendra.
Lagu dangdut dengan kendang yang menghentak dan suara penyanyi perempuan yang meratap panjang tentang hati yang hancur, diputar dengan volume maksimal.
Kami berdua melompat mundur seperti dua kucing yang disiram air.
Rendra mengeluarkan ponsel dengan wajah orang yang ingin melempar benda itu ke jurang. Layar menyala terang di tengah gelap:
IBU memanggil (video)
“Nada deringmu,” kataku, masih terengah, “lagu dangdut?”
“Ibu yang pasang,” desisnya. “Dia bilang supaya aku tahu itu dia.”
“Kamu nggak pernah ganti?”
“Aku nggak tahu caranya.”
“Kamu asisten dosen Statistika dan kamu nggak tahu cara ganti nada dering?”
Ponsel itu terus berbunyi. Penyanyinya sekarang meratap lebih tinggi lagi.
Rendra menatap layar selama tiga detik dengan ekspresi seseorang yang menimbang antara tanggung jawab sebagai anak dan hasrat untuk melempar ponselnya. Tanggung jawab menang. Ia menggeser tombol hijau.
Wajah Bu Ratna langsung memenuhi layar, sangat dekat, dengan roll rambut di kepala dan masker wajah hijau.
“REN! Kamu di mana? Kok gelap? Ibu cuma mau tanya, kamu pulang besok jam berapa? Ibu mau siapin rendang! Terus Ibu mau bilang, Sasa cerita kamu antar dia ke terminal. Ibu bangga sekali, Ren. Ibu sampai nangis. Masker Ibu luntur...”
“Bu, aku lagi...”
“Kok kamu ngos-ngosan? Kamu lari? Kamu di mana sih? Arahkan kameranya, Ibu mau lihat Cibeureum!”
“Bu...”
“Arahkan!”
Rendra memutar kamera dengan pasrah, dan tidak sengaja mengarahkannya ke kebun teh, lampu kota, bintang-bintang, dan aku yang duduk dengan kebaya hijau pupus dan pipi merah.
Bu Ratna memekik. Pekikan yang begitu keras sampai ayam-ayam Pak Kades di belakang posko ikut berkotek.
“NENG KIRANA!!!”
“Selamat malam, Bu.”
“Ya ampun, pakai kebaya! Cantik sekali! Ren! REN! Kalian berdua? Malam-malam? Di kebun teh? Pakai kebaya?!”
“Bu, ini acara malam perpisahan...”
“Ibu ganggu ya? Ibu ganggu! Ya Allah, Ibu ganggu! Maaf, maaf! Ibu tutup! Lanjutkan! Lanjutkan apa pun itu! Ibu nggak lihat apa-apa! Ibu cuma lihat bintang!”
Layar gelap.
Kebun teh kembali sunyi. Di kejauhan, ayam-ayam Pak Kades masih berkotek, dan Gio masih menyanyi dengan nada yang salah. Di pojok layar ponsel Rendra yang mulai redup, notifikasi pesan dari IBU muncul satu per satu:
Maaf Ren 🙏
Ibu nggak sengaja
Rendangnya Ibu masak banyak ya
Ajak Neng Kirana makan
Nanti Ibu ganti nada dering kamu, jangan lagu sedih
Rendra memasukkan ponsel ke saku jaket, lalu memejamkan mata dan menunduk sampai dahinya menempel di lututnya sendiri.
Aku tertawa sampai perutku sakit, lagi-lagi tanpa menutup mulut.
Waktu tawaku mulai reda, ia mengangkat kepala sedikit dan menatapku dari samping. Rambutnya berantakan dan telinganya masih merah.
“Lain kali,” katanya, “aku matiin HP.”
Tawaku berhenti.
Lain kali.
“Lain kali?” ulangku.
Ia menatapku lama. Lalu, dengan suara rendah dan datar yang sama sekali tidak cocok dengan kalimatnya:
“Aku mulai suka kata itu.”
Aku tidak bisa menjawab.
Jadi aku menyandarkan kepala di bahunya dan menatap lampu-lampu Bandung yang jauh di bawah. Tempat Mama, papan Mahasiswa Berprestasi, dan nol koma nol dua menunggu kami pulang.
Ia tidak bergerak. Ia membiarkan kepalaku di sana.
Di bawah bintang Cibeureum, tangannya menemukan tanganku lagi di atas undakan tanah. Kali ini tidak ada yang menginterupsi.
Setidaknya, sampai Sasa Tebing muncul dengan senter kepala dan berteriak dari atas bahwa jagung bakarnya gosong semua dan Gio menangis lagi.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban reading
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama