← Surat Salah Alamat

Chapter Thirty One

Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama

POV: Kirana

Prakiraan cuaca pada hari wisuda bilang kemungkinan hujan delapan puluh persen setelah pukul sebelas.

Aku membacanya pukul enam pagi, sebelum sarapan, seperti biasa. Lalu aku memasukkan dua payung biru tua berpegangan kayu ke tas kain besar yang akan kubawa ke Sasana Budaya UDB. Payung itu masih terlipat rapi sesuai garis lipatan.

Di tas yang sama ada toga yang sudah disetrika Mama semalam. Aku tidak memintanya. Waktu aku turun ke dapur pukul sebelas malam untuk mengambil air, Mama sedang berdiri di depan meja setrika dengan kacamata baca, menyetrika lipatan toga hitam itu dengan presisi seorang dosen yang mengoreksi tanda baca.

“Mama bisa tidur, Ma. Aku bisa setrika sendiri besok pagi.”

“Kamu setrika sendiri, nanti lipatannya miring satu derajat, terus kamu setrika ulang lima kali, terus kamu terlambat.”

Aku tidak bisa membantah, karena itu benar.

Di dalam tas juga ada planner kulit cokelat. Planner baru. Planner lama yang penuh coretan dan halaman yang sobek sekarang tersimpan di laci meja belajarku, bersama tiga kertas kecil bertinta merah, selembar tisu kantin, dan kartu MC nomor tujuh belas yang basah dan sobek dari kolam ikan Desa Cibeureum.

Planner baru ini masih hampir kosong. Hanya ada jadwal kerja. Aku mulai bekerja di divisi pengembangan sumber daya manusia sebuah perusahaan penerbitan di Bandung bulan depan. Selain itu ada jadwal Program Tempe BEM yang sekarang dipegang pengurus baru, dan jadwal makan malam keluarga setiap Sabtu pukul tujuh di rumah bercat biru muda.

Keluarga. Aku menulis kata itu di planner dengan pulpen hitam bekas gigitan tanpa mencoretnya sama sekali.


Wisuda berlangsung dari pukul delapan sampai pukul sebelas lewat lima belas.

Namaku dipanggil di urutan ketiga puluh empat dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

“Kirana Anindya. Manajemen. Indeks Prestasi Kumulatif tiga koma sembilan delapan. Cum laude.”

Aku berjalan ke panggung dengan toga yang disetrika Mama. Aku menyalami dekan, lalu wakil dekan, Pak Harun, yang berbisik, “Programnya bagus, Program Tempe. Saya ikut makan siang di kantin FIB Selasa lalu.”

Di barisan keluarga wisudawan, di tribun sebelah kiri, aku melihat mereka.

Mama duduk tegak dengan kebaya biru tua. Papa di sebelahnya sedang memotret dengan ponsel yang jelas diatur di mode yang salah. Di sebelah Papa, Bu Ratna memakai kebaya hijau dan kalung emas pemberian Om Hendra, melambai-lambai dengan sapu tangan. Om Hendra memakai batik cokelat, kacamatanya miring, dan di pangkuannya ada pot cabai rawit kecil dengan pita emas. Aku tidak tahu kenapa ia membawa pot cabai ke wisuda. Aku tidak bertanya.

Sasa berdiri di kursinya, bukan duduk. Ia mengangkat spanduk kecil dari karton yang ditulis tangan dengan tinta ungu:

KAK KIRANA CUM LAUDE!!! KURANG 0,02 TAPI TETAP CUM LAUDE!!! 💛

Seorang petugas acara memintanya duduk. Sasa duduk. Tiga detik kemudian ia berdiri lagi.

Di kursi paling ujung, Sasa Tebing mengacungkan dua jempol. Di sebelahnya, Gio, yang wisuda di urutan ketiga puluh lima tepat setelah aku, masih memakai toga dan sudah menangis sejak namaku dipanggil.

Aku turun dari panggung dan berjalan kembali ke kursiku.

Di tribun sebelah kanan, di barisan wisudawan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, seseorang dengan toga hitam dan kacamata baca yang melorot sedikit di hidungnya menoleh ke arahku.

Ia sudah dipanggil satu jam sebelumnya. Rendra Mahesa. Matematika. Indeks Prestasi Kumulatif tiga koma tujuh sembilan. Cum laude. Bulan depan ia mulai kuliah S2 Statistika di kampus yang sama, sambil tetap menjadi asisten dosen dan tetap menjaga Toko Buku Mahesa setiap sore bersama Bu Ratna.

Ia tidak melambai. Ia hanya menatapku dari seberang gedung, dengan wajah datar dan telinga merah.

Lalu ia mengangkat tangan dan mengetuk gigi taringnya sendiri dua kali. Sangat pelan.

Aku tertawa di tengah upacara wisuda. Dengan suara, tanpa menutup mulut. Beberapa wisudawan menoleh, dan aku tidak peduli.


Hujan turun pukul sebelas lewat dua puluh, lima menit setelah upacara selesai. Tepat seperti prakiraan cuaca.

Halaman depan Sasana Budaya langsung berubah jadi lautan payung. Wisudawan berlarian dengan toga yang basah, dan orang tua berteriak memanggil nama anak mereka di tengah hujan. Tukang foto keliling mengeluh karena latar fotonya rusak.

Aku berdiri di tangga depan gedung dan mengeluarkan dua payung biru tua dari tas kain.

Ia muncul di sebelahku, masih memakai toga, dengan topi wisuda di tangan dan rambut yang berantakan karena topinya kekecilan.

“Dua,” katanya.

“Delapan puluh persen.”

“Kamu selalu benar soal cuaca.”

“Aku selalu benar soal banyak hal.”

“Kecuali soal peta.”

“Dan tempat bumbu.”

“Dan Sasa.”

“Rendra.”

Ia tersenyum. Lalu, seperti yang sudah kami lakukan setiap kali hujan selama enam bulan terakhir, di perpustakaan, di kantin FIB, di Gang Kenari, dan di halaman rumah bercat biru muda, aku membuka satu payung dan menyerahkan yang satunya dalam keadaan terlipat.

Ia memasukkan payung terlipat itu ke saku toga, lalu melangkah ke bawah payungku.

Kami berjalan di tengah hujan menuju tribun keluarga. Payung itu tegak lurus di tengah. Tidak miring, karena aku tidak perlu geser.

Di bawah atap tribun, dua keluarga menunggu kami: Mama, Papa, Bu Ratna, Om Hendra, Sasa dengan spanduk karton yang sekarang basah dan luntur, Sasa Tebing, dan Gio yang masih menangis.

“Foto!” teriak Sasa. “Foto keluarga! Semua! Kak Gio juga! Kak Sasa Tebing juga! Semua anggota aliansi!”

Tukang foto keliling, yang tadi mengeluh soal hujan, mengatur kami di bawah atap tribun. Sebelas orang berdesakan di bawah atap selebar tiga meter.

“Senyum!” kata tukang foto. “Satu, dua...”

Aku merasakan tangan Rendra menemukan tanganku di belakang punggung Sasa. Jari-jarinya melingkar di jariku, tersembunyi dari kamera.

“...tiga!”

Di foto itu, yang sekarang dibingkai di ruang tamu rumah bercat biru muda, di sebelah foto perempuan berkerudung dengan senyum Sasa, semua orang tersenyum.

Om Hendra dengan kacamata miring. Bu Ratna dengan sanggul yang mulai lepas karena lembap. Mama, tegak, dengan satu sudut bibir yang terangkat sedikit lebih tinggi dari biasanya. Papa, dengan mata terpejam karena berkedip tepat saat blitz menyala. Sasa, dengan spanduk karton luntur dan mulut terbuka lebar karena sedang berteriak. Gio, dengan mata merah dan hidung merah. Sasa Tebing, memberi hormat seperti tentara.

Rendra, dengan wajah datar dan telinga merah.

Dan aku.

Aku tertawa di foto itu. Mulutku terbuka dan mataku menyipit, dan tidak ada tangan yang menutup apa pun.


Sore harinya, setelah hujan reda, setelah makan siang bersama dua keluarga di rumah makan Sunda yang dipilih Om Hendra karena “sambalnya ada versi nggak pedas”, aku pergi ke Gang Kenari.

Sendirian. Rendra sudah pulang lebih dulu untuk membuka toko. Bu Ratna menyuruhnya, karena “toko buku yang tutup di hari wisuda itu sia-sia, mahasiswa baru lulus biasanya mau jual buku kuliahnya”.

Gang Kenari pukul lima sore berwarna keemasan. Dinding-dinding rumahnya masih basah sisa hujan. Genangan kecil di tengah gang memantulkan langit yang mulai jingga. Lampu jalan di atas gang sudah diganti RT bulan lalu, dan sekarang menyala stabil tanpa berkedip.

Aku belok ke kiri dari mulut gang, bukan ke kanan. Aku tahu jalannya. Di ujung kanan, tembok zaman Belanda masih berdiri dengan pot kembang sepatu dan tulisan cat semprot yang pudar. Seseorang, aku curiga Gio, menambahkan satu kata dengan cat semprot biru di bawah GANG BUNTU. JANGAN PARKIR:

JANGAN KABUR.

Toko Buku Mahesa berdiri di tengah gang dengan papan kayu bertuliskan tangan: Buka Sampai Mata Mengantuk. Lampu kuning menyala di dalamnya.

Bel di atas pintu berbunyi waktu aku masuk.

Rendra sedang berdiri di balik meja kasir dengan kacamata baca, menulis label harga di buku-buku kuliah yang baru dijual oleh mahasiswa yang baru lulus. Ia sudah mengganti toga dengan kaus abu-abu. Topi wisudanya tergeletak di sebelah pot cabai rawit di meja kasir. Buah cabainya sekarang empat belas.

Ia mengangkat kepala.

“Kamu tepat waktu,” katanya.

“Aku nggak bilang mau datang jam berapa.”

“Makanya kamu tepat waktu. Jam berapa pun kamu datang, itu tepat waktu.”

Aku berdiri di tengah toko dan menatapnya. Aku menatap rak-rak kayu yang terlalu rapat, buku-buku yang bertumpuk di lantai, pot cabai di meja kasir, dan tirai dapur yang di baliknya selalu ada bau minyak dan pisang goreng.

Lalu aku menatap kursi itu.

Kursi plastik hijau di pojok dekat meja kasir, dengan bantal krem bermotif bunga kuning yang sekarang sedikit pudar karena dicuci Bu Ratna setiap bulan.

Kursi yang dibeli seorang anak laki-laki dua belas tahun dengan uang receh dari celengan ayam, seminggu setelah papan tulis di dapur kosong. Untuk tamu yang mau lama.

Kursi yang pernah diduduki tasku. Yang pernah diduduki kucing belang tetangga. Kursi yang kutolak dua kali, karena aku bukan tamu yang mau lama. Aku panitia, pencuri surat, orang yang membawa rencana.

Selama enam bulan terakhir, aku datang ke toko ini hampir setiap sore. Aku membantu menata rak, melipat kardus, dan menulis label harga dengan tulisan tangan yang terlalu rapi sampai Bu Ratna bilang label-labelnya terlihat seperti undangan pernikahan. Aku duduk di tumpukan kardus, di tangga kayu, di lantai, dan di meja kasir waktu Rendra tidak melihat.

Tapi aku tidak pernah duduk di kursi hijau.

Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku menunggu sesuatu, tanpa tahu apa.

Rendra meletakkan pulpen merahnya. Ia melepas kacamata baca dan menyelipkannya di kerah kaus. Lalu ia menatapku, dan menatap kursi itu, dengan wajah datar dan telinga yang mulai memerah.

“Anindya,” katanya.

Nama belakang. Ia hanya memakainya sekarang kalau sedang berusaha terlihat serius dan gagal.

“Hm?”

“Kamu mau lama?”

Kalimat itu sederhana. Tiga kata. Kalimat yang paling tidak terencana yang pernah kudengar darinya, karena aku melihat di wajahnya bahwa ia tidak menyiapkannya. Kalimat itu keluar begitu saja, seperti air yang menemukan celah di atap.

Aku menatap kursi hijau itu lama sekali.

Lalu aku berjalan ke sana. Tiga langkah dari tengah toko, melewati rak buku sastra tempat Siti Nurbaya pernah kuhitung dua kali.

Dan aku duduk.

Kursinya keras, meski ada bantal. Plastiknya sudah tua dan sedikit berderit waktu kududuki. Posisinya terlalu rendah untuk meja kasir, jadi aku harus mendongak untuk menatap Rendra. Bantalnya wangi sabun batangan. Tentu saja sabun batangan. Bu Ratna mencucinya dengan sabun yang sama dengan hoodie abu-abu yang dulu kucuci dua kali.

Kursi itu sama sekali tidak nyaman.

Tapi aku tidak ingin berdiri.

“Aku mau lama,” kataku. “Selamanya, kalau bisa. Tapi selamanya itu bukan satuan waktu yang bisa dihitung. Jadi aku mulai dari hari ini, terus kita hitung pelan-pelan.”

Rendra tidak berkata apa-apa.

Ia berjalan keluar dari balik meja kasir dan duduk di lantai kayu di depan kursi hijau. Ia bersandar di kakiku dan menyandarkan kepalanya di lututku, seperti orang yang akhirnya meletakkan sesuatu yang sudah terlalu lama dipikul.

Sepuluh tahun. Kursi itu menunggu sepuluh tahun.

Aku menaruh tanganku di rambutnya. Rambutnya masih sedikit basah karena hujan tadi siang. Aku menyisirnya dengan jari pelan-pelan, seperti Sasa mengelus kucing oranye di kantin FIB, dan seperti Sasa mengelus rambutku di teras posko KKN.

“Lembar observasinya,” kataku.

Ia mengeluarkan buku catatan hitam dari saku kaus tanpa mengangkat kepala dari lututku. Ia membukanya di halaman yang ditandai lipatan sudut, lalu mengangkatnya ke arahku.

Tabel yang digaris dengan penggaris. Tiga puluh baris.

Tiga puluh baris yang sudah terisi.

Aku membaca beberapa baris secara acak.

Baris 7. Selasa. Kantin FIB, Program Tempe. Sasa masih marah (katanya). Hasil: Signifikan. Sasa pura-pura nggak lihat.

Baris 14. Sabtu. Dapur rumah biru, di depan tempat bumbu. Om Hendra masuk ambil cabai. Hasil: Signifikan. Om Hendra keluar lagi tanpa cabai.

Baris 22. Kamis. Perpustakaan, meja 9 (dia di mejaku, aku di mejanya, tukar). Hasil: Signifikan. Ibu petugas tepuk tangan lagi.

Baris 30. Hari ini. Tangga Sasana Budaya, hujan, dua payung satu dibuka, pakai toga. Hasil: Signifikan.

Di bawah baris ketiga puluh, dengan huruf yang lebih besar, ada tulisan tangan tegak yang sedikit miring ke kanan:

n = 30. Distribusi normal tercapai (teorema limit pusat).

Kesimpulan: Signifikan secara statistik. Hipotesis nol ditolak.

Catatan: Penelitian dilanjutkan tanpa batas sampel.

Aku membalik halaman.

Di halaman berikutnya ada tabel baru, digaris dengan penggaris. Kolom-kolomnya sama: Tanggal, Lokasi, Kondisi, Hasil. Tapi kali ini barisnya tidak berhenti di tiga puluh. Tabel itu terus berlanjut sampai ke bawah halaman, lalu ke halaman berikutnya, dan berikutnya lagi. Semuanya kosong.

Di atas tabel itu, judulnya:

Sampel 31 sampai ∞.

Aku menatap simbol tak hingga itu lama sekali, sampai tulisannya mulai kabur.

“Kamu gila,” bisikku.

“Aku teliti,” katanya dari lututku.

“Itu gila.”

“Kadang-kadang sama aja.”

Aku tertawa. Air mataku menetes ke rambutnya, dan ia tidak mengeluh.


Pukul enam lewat empat puluh, aku berdiri dari kursi hijau.

Kakiku kesemutan karena Rendra bersandar di lututku lebih dari satu jam, dan punggungku pegal karena kursi plastik itu tidak dirancang untuk diduduki lama. Rupanya anak dua belas tahun tidak menghitung faktor ergonomis waktu memilih kursi untuk tamu yang mau lama.

Tapi aku akan kembali besok, dan besoknya lagi.

“Kamu mau ke mana?” tanya Rendra, masih duduk di lantai.

“Rumah biru. Sabtu. Jam tujuh.”

Ia mengerjap.

“Hari ini Sabtu,” kataku. “Kamu lupa? Kamu yang nulis di papan tulis dapur.”

Papan tulis enam puluh kali empat puluh senti dengan bingkai aluminium yang penyok di sudut kanan bawah. Papan itu sekarang tergantung di dapur rumah bercat biru muda, di sebelah tempat bumbu kayu jati berbentuk rumah-rumahan.

Di pojok kiri atas, dengan spidol biru yang bisa dihapus, tertulis:

Sabtu. Jam 7. Pulang.

Di bawahnya, dengan tinta berbeda, orang-orang lain menambahkan tulisan mereka selama enam bulan terakhir. Hati kecil yang diarsir penuh dengan spidol ungu, dari Sasa. Gambar cabai dengan senyum, dari Om Hendra, dengan keterangan: Nggak pedas. Satu kalimat dari Bu Ratna: Pisang goreng dingin itu dosa. Dan di sudut kanan bawah, dengan spidol hitam dan huruf kecil yang rapi, dari tanganku:

Kirana: hadir.

“Aku harus tutup toko dulu,” kata Rendra. “Setengah jam lagi.”

“Aku duluan. Aku bantu Sasa masak. Dia mau bikin rendang pakai resep Ibu, dan terakhir kali dia coba, rendangnya jadi semacam sup.”

Aku mengambil tas kain besarku dari atas meja kasir. Satu payung biru tua masih di dalamnya, dan satunya lagi di saku toga Rendra yang tergantung di balik tirai dapur. Aku berjalan ke pintu, dan bel di atasnya berbunyi waktu aku membukanya.

Di ambang pintu, aku berhenti dan menoleh.

Rendra masih duduk di lantai di depan kursi hijau yang sekarang kosong. Tapi kekosongannya berbeda. Kursi itu tidak lagi kosong karena menunggu. Kursi itu kosong karena tamunya sedang pergi sebentar, dan pasti kembali.

Ia menatapku dengan wajah datar dan telinga merah, dengan buku catatan hitam di pangkuan yang terbuka di halaman berjudul Sampel 31 sampai ∞.

Aku tidak merencanakan kalimat berikutnya. Aku tidak menulisnya di planner, tidak melatihnya di depan cermin, dan tidak menyiapkan versi alternatif untuk berbagai kemungkinan reaksi.

Kalimat itu datang sendiri, seperti kakiku yang dulu berjalan sendiri ke Gang Kenari. Kalimat yang pertama kali kubaca di atas kertas lilac dengan tinta ungu, di depan rak pesanan perpustakaan, pada suatu Kamis pukul 16.58. Kalimat yang dulu kukira bukan milikku.

Sekarang kalimat itu milik kami semua.

“Rendra.”

“Hm.”

“Aku tunggu kamu pulang,” kataku. “Jangan lupa makan.”

Ia menatapku lama sekali.

Lalu ia tersenyum, senyum penuh, dan mengangguk sekali.

Aku keluar ke Gang Kenari yang berwarna keemasan dan berbelok ke kiri, ke arah jalan keluar. Aku tahu jalannya sekarang. Aku tidak butuh peta, dan aku tidak butuh rencana.

Di belakangku, lampu kuning Toko Buku Mahesa menyala di tengah gang yang buntu. Di dalamnya, seseorang sedang mengisi baris ketiga puluh satu di buku catatan hitamnya dengan pulpen merah.

Aku tidak perlu melihatnya untuk tahu apa yang ia tulis.

Hasil: Signifikan. Subjek bilang “aku tunggu kamu pulang”. Subjek nggak kabur. Subjek pulang.


TAMAT