← Surat Salah Alamat

Chapter Twelve

KKN Hari Pertama

POV: Kirana

Aku menyiapkan program kerja KKN empat belas hari dalam empat puluh dua halaman.

Ada jadwal harian per jam, pembagian tugas per anggota, anggaran sampai ke biaya gas elpiji, rencana cadangan kalau hujan, dan rencana cadangan untuk rencana cadangan kalau hujannya disertai angin. Semuanya kucetak, kujilid spiral, dan kubagikan ke sembilan anggota kelompok di dalam bus yang mengantar kami ke Desa Cibeureum.

“Ini buku atau senjata?” tanya Gio, menimbang-nimbang jilidannya.

“Program kerja.”

“Beratnya kayak kamus.”

“Program kerja yang baik memang berat.”

“Kir, kita KKN dua minggu, bukan membangun ibu kota baru.”

Di kursi seberang, seorang perempuan berambut pendek dengan jaket gunung oranye membuka jilidanku, membaca halaman pertama, lalu tertawa terbahak-bahak.

“Gila! Ada jadwal mandi!”

“Karena kamar mandinya cuma dua,” jelasku. “Sembilan orang, dua kamar mandi. Kalau nggak dijadwal, akan terjadi konflik.”

“Aku suka orang ini,” kata perempuan itu pada Gio, menunjukku dengan jempol. Lalu ia mengulurkan tangan padaku. “Sasa. Teknik Sipil. Pecinta alam. Panggil aja Sasa Tebing, biar nggak ketuker sama Sasa-Sasa lain di kampus.”

Aku menjabat tangannya. Tangannya keras dan kapalan, seperti tangan orang yang terbiasa memanjat. Aku ingat pernah mencoret namanya dari daftar Gio karena tangannya pasti penuh kapur magnesium.

Aku benar. Setidaknya satu tebakanku dalam Operasi Rebut Hati terbukti benar.

“Kamu kenal Sasa lain?” tanyaku.

“Di kampus ada tujuh,” jawab Sasa Tebing dengan bangga. “Aku yang paling kuat.”

Gio menunduk ke jilidannya dan pura-pura membaca dengan sangat tekun. Bahunya bergetar.

Rendra duduk di kursi paling belakang bus, dekat jendela. Ia memakai jaket jins dan membaca jilidanku dengan wajah datar. Ia membalik halaman secara berkala, seperti benar-benar membacanya.

Waktu bus berhenti di pom bensin, ia berjalan ke depan dan meletakkan jilidan itu di pangkuanku.

“Halaman dua puluh tiga,” katanya.

Aku membuka halaman dua puluh tiga. Tabel anggaran konsumsi. Di baris Sarapan hari ke-4 ada coretan pensil kecil di sebelah angka.

Salah jumlah. Seharusnya 312.000, bukan 321.000.

Aku menatap coretan itu, lalu menatapnya.

“Kamu periksa anggaranku?”

“Aku orangnya teliti.”

“Selisihnya cuma sembilan ribu.”

“Sembilan ribu itu dua bungkus nasi kuning.” Ia berbalik dan berjalan kembali ke kursinya. “Dan tiga tempe.”

Aku mengoreksi angka itu dengan pulpen hitam bekas gigitan. Aku tidak mau mengakuinya, tapi aku tersenyum sepanjang sisa perjalanan.


Desa Cibeureum terletak di lereng bukit. Kebun teh berundak-undak di sekelilingnya seperti tangga hijau raksasa, dan kabut turun setiap pukul tiga sore seperti tamu yang datang tanpa diundang.

Aku benar soal dingin. Aku selalu benar soal cuaca. Suhu pukul empat sore di aplikasiku menunjukkan enam belas derajat, dan angin yang turun dari puncak bukit terasa seperti ditiup langsung dari kulkas.

Posko kami adalah rumah panggung kayu milik Pak Kades, dengan dua kamar untuk perempuan, satu ruang tengah untuk laki-laki, dapur yang tungkunya masih memakai kayu bakar, dan dua kamar mandi. Karena itu jadwal mandiku terbukti sangat penting pada hari pertama, pukul lima pagi, ketika Gio dan dua anak Pertanian nyaris bertinju memperebutkan kamar mandi.

“Kir,” kata Gio, basah kuyup dan menggigil, “aku minta maaf udah ngeledek jadwal mandimu.”

“Diterima.”

“Boleh aku ganti slot dari jam lima ke jam enam?”

“Nggak.”

Program hari pertama adalah survei potensi wisata desa. Pak Kades bercerita tentang Curug Cikahuripan, air terjun kecil di balik bukit yang belum pernah didata dinas pariwisata. Tugas kami memetakan rute, menghitung jarak tempuh, dan mendokumentasikannya.

Kelompok dibagi dua. Sasa Tebing memimpin tim pertama lewat jalur sungai, “karena jalur sungai lebih menantang”. Aku memimpin tim kedua lewat jalur kebun teh, karena di peta desa yang dipinjamkan Pak Kades, jalur itu digambar dengan garis putus-putus yang rapi.

Tim kedua terdiri dari aku, dua anak Farmasi, dan Rendra.

Setengah jam kemudian, kedua anak Farmasi berbelok ke arah warung di pinggir kebun karena salah satunya “sesak napas kalau belum ngopi”. Mereka berjanji menyusul dalam sepuluh menit.

Empat puluh menit kemudian, mereka belum menyusul.

Dan aku, dengan peta desa di tangan dan kompas di aplikasi ponsel, berdiri di tengah kebun teh yang semua undakannya terlihat persis sama. Aku menyadari bahwa garis putus-putus di peta itu mungkin tidak mewakili jalan setapak. Garis itu mungkin mewakili harapan.

“Kita di mana?” tanya Rendra dari belakangku.

“Di jalur yang benar.”

“Kamu yakin?”

“Peta ini bilang begitu.”

Rendra melongok ke peta di tanganku, dari balik bahuku. Dekat, tapi tidak terlalu dekat. Kami sudah melewati lorong enam puluh senti dan satu payung. Ada kemajuan dalam cara kami mengukur jarak.

“Petamu terbalik,” katanya.

Aku menatap peta itu. Aku membaliknya, lalu menatap lagi.

Ia benar.

“Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?”

“Aku baru sadar. Utaranya di bawah.” Ia menunjuk tulisan kecil di pojok peta, U, yang sejak tadi kupikir huruf N terbalik. “Kamu baca peta kayak baca slide. Dari atas ke bawah.”

“Peta seharusnya dibaca dari atas ke bawah.”

“Peta seharusnya dibaca sesuai arah mata angin.”

Aku ingin membantah. Tapi kabut mulai turun, dan kebun teh di sekeliling kami pelan-pelan menghilang, seperti gambar yang dihapus dari tepi-tepinya. Aku bukan orang yang memilih berdebat di tengah kabut. Aku orang yang memilih jalan terdekat untuk turun.

Aku melangkah ke undakan di bawah kami.

Tanahnya licin. Kaki kiriku mendarat di tepi undakan yang ternyata hanya tanah lembek yang ditutupi daun teh, dan pergelangan kakiku tertekuk ke dalam dengan sudut yang tidak pernah diajarkan di kelas olahraga mana pun.

Aku jatuh terduduk di antara perdu teh. Rasa sakitnya datang satu detik kemudian, seperti gema.

“Anindya!”

Rendra sudah berjongkok di sebelahku sebelum aku sempat mengaduh. Tangannya menyentuh pergelangan kakiku. Pelan, sangat hati-hati, dengan jari-jari yang sama seperti waktu ia menyibakkan rambutku di bawah atap seng.

“Bisa digerakkan?”

Aku mencoba menggerakkannya. Rasa sakitnya menjalar sampai ke lutut.

“Bisa,” kataku, dengan air mata yang mulai menggenang dan kupaksa berhenti di pelupuk.

“Kamu bohong.”

“Aku nggak bohong. Aku bisa gerakin. Cuma sakit.”

“Itu namanya nggak bisa.”

Ia memeriksa pergelangan kakiku dengan sangat teliti, menekan di beberapa titik, dan setiap kali aku meringis, rahangnya ikut mengeras.

“Terkilir,” katanya akhirnya. “Nggak patah. Tapi kamu nggak bisa jalan sampai posko.”

“Aku bisa.”

“Posko dua kilometer. Turunan. Licin. Berkabut.”

“Aku bisa pelan-pelan.”

Rendra menatapku. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia berbalik, berjongkok membelakangiku, dan menepuk punggungnya sendiri dua kali.

“Naik.”

“Nggak.”

“Anindya.”

“Aku Koordinator Kelompok. Aku nggak bisa pulang ke posko digendong kayak anak TK habis jatuh dari ayunan.”

“Kamu mau pulang ke posko merangkak?”

“Aku mau pulang ke posko dengan martabat.”

“Martabatmu terkilir.”

Aku ingin tertawa, marah, dan menangis sekaligus, dan karena tidak bisa memilih, aku diam saja.

Kabut makin tebal. Dari kejauhan, suara azan asar samar-samar turun dari masjid desa.

Aku naik ke punggungnya.


Rendra Mahesa ternyata jauh lebih kuat daripada yang terlihat dari meja empat belas.

Ia berdiri dengan mudah, seolah-olah aku seringan tas laptop. Tangannya menopang lututku dengan kuat tapi hati-hati. Lalu ia mulai berjalan menuruni undakan kebun teh, pelan dan mantap, memilih setiap pijakan seperti memilih kata dalam kalimat yang penting.

Aku melingkarkan lenganku di lehernya karena tidak ada pilihan lain secara fisika.

Dari jarak ini, aku bisa mencium bau sabun di lehernya, bau tanah basah, dan bau daun teh yang terinjak. Punggungnya hangat di dadaku. Aku bisa merasakan napasnya naik turun setiap kali ia menuruni satu undakan.

Aku juga bisa merasakan jantungnya.

Bukan pelan dan tenang seperti wajahnya. Cepat.

“Aku berat,” kataku ke belakang telinganya.

“Nggak.”

“Jantungmu kencang.”

Langkahnya tersendat sedikit.

“Karena turunan,” katanya.

“Turunan bikin jantung kencang?”

“Turunan sambil bawa Koordinator Kelompok yang nggak bisa baca peta, iya.”

Aku menempelkan dahi ke bahunya supaya ia tidak bisa melihat wajahku, meski ia memang tidak bisa melihat wajahku dari posisi ini. Aku hanya butuh tempat bersembunyi, dan bahunya satu-satunya tempat yang ada.

Di tengah jalan turun, kami melewati sebuah saung, pondok kecil beratap ijuk yang biasa dipakai pemetik teh untuk berteduh. Rendra berhenti.

“Istirahat sebentar,” katanya. “Kabutnya terlalu tebal. Aku nggak mau salah pijak.”

Ia menurunkanku di bangku bambu saung dengan sangat hati-hati, lalu duduk di sebelahku. Napasnya sedikit terengah. Rambutnya basah oleh kabut, dan butir-butir air kecil menempel di bulu matanya.

Aku menggigil. Jaketku tipis, jaket kampus bertuliskan BEM FEB di punggung, yang lebih cocok untuk rapat di ruang ber-AC daripada lereng bukit berkabut.

Rendra membuka tasnya. Ia mengeluarkan sebuah jaket, jaket hoodie abu-abu yang tebal dan terlipat rapi, lalu menyampirkannya di bahuku.

Ia sendiri masih memakai jaket jinsnya.

Aku menatap hoodie di bahuku, lalu jaket jinsnya.

“Kamu bawa dua jaket.”

“Kamu bilang di sini dingin.”

“Aku bilang bawa jaket. Bukan bawa dua.”

Ia menatap kabut di depan kami dengan wajah datar. Ujung telinganya mulai memerah.

“Kamu nggak pernah bawa dua,” katanya. “Payung juga cuma satu. Jadi aku yang bawa dua.”

Aku merapatkan hoodie itu ke tubuhku. Baunya sama seperti bahunya tadi: sabun, kertas, dan sedikit minyak goreng dari dapur Bu Ratna.

“Rendra.”

Itu pertama kalinya aku memanggil nama depannya. Bukan Mahesa. Nama itu keluar sendiri dari mulutku, lembut sekali, dan aku sendiri terkejut mendengarnya.

Ia menoleh.

Kabut di sekeliling saung begitu tebal sampai dunia hanya tersisa bangku bambu, atap ijuk, dan jarak di antara kami yang makin lama makin tidak jelas ukurannya. Kali ini aku tidak menghitungnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak ingin tahu berapa senti.

Ia menatapku. Matanya turun sebentar ke bibirku, lalu naik lagi ke mataku, seperti bertanya.

Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku tidak bergerak menjauh.

Wajahnya mendekat. Satu senti, dua senti. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat di udara yang dingin. Mataku mulai terpejam dengan sendirinya.

Ponselku berbunyi.

Bukan bunyi pesan, tapi bunyi panggilan video. Nada deringnya lagu anak-anak yang sengaja kupasang untuk kontak tertentu supaya aku tahu siapa yang menelepon tanpa melihat layar.

Lagu anak-anak tentang balon warna-warni, versi instrumental dengan suara xilofon yang ceria. Sangat ceria. Terlalu ceria untuk saung berkabut dan jarak sepuluh senti.

Kami berdua membeku di tempat, sepuluh senti dari satu sama lain.

Di layar ponselku yang tergeletak di bangku bambu, muncul foto profil dengan pita kuning.

Sasa 💛 memanggil...

Rendra menarik diri, begitu cepat sampai punggungnya membentur tiang saung. Aku menyambar ponsel, dan tanpa berpikir sama sekali, jariku menggeser tombol hijau.

Wajah Sasa langsung memenuhi layar, begitu dekat ke kamera sampai yang terlihat hanya mata dan hidungnya.

“KAK KIRANA! Halo!!! Gimana KKN-nya?! Dingin nggak? Ada sinyal nggak? Oh, ada! Yeay!”

“Sa... Sasa. Halo.”

“Kakak di mana? Kok berkabut? Kakak di atas awan?!”

“Aku di... kebun teh. Survei.”

“Wah! Kakak pakai jaket siapa? Kok abu-abu? Jaket Kakak kan yang BEM!”

Mataku melirik ke samping, ke Rendra, yang menempel di tiang saung di luar jangkauan kamera. Ia mengangkat jari telunjuk ke bibirnya.

“Jaket... panitia,” kataku. “Pinjam.”

“Kak Ren sekelompok sama Kakak, kan? Aku lihat di grup KKN angkatan! Kak Ren ada di situ nggak?”

Dari tepi layar, Sasa pasti bisa melihat sepotong siku dengan lengan jaket jins. Aku menggeser ponsel ke kiri.

“Nggak,” kataku. “Dia di tim lain. Tim sungai.”

“Ohhh.” Suara Sasa sedikit turun, lalu naik lagi. “Nggak apa-apa! Nanti Kakak cari kesempatan ya! Kebun teh itu romantis banget, Kak! Kayak di drama Korea! Kalau Kakak berdua di kebun teh terus berkabut terus...”

“Sasa, sinyalnya jelek.”

“Aku bisa dengar jelas kok, Kak!”

“Sinyalnya,” ulangku, “jelek.”

“Oh! Oke oke! Aku tutup ya! Semangat KKN-nya! Jangan lupa pakai jaket! Dadah!”

Layar kembali gelap.

Aku menurunkan ponsel ke pangkuan. Saung itu sunyi. Kabut masih tebal, dan jarak sepuluh senti tadi sudah kembali menjadi jarak yang bisa diukur.

Rendra masih bersandar di tiang saung. Ia menatap ke luar, ke kabut, dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

“Dia nelpon kamu tiap hari?” tanyanya akhirnya, pelan.

“Tiap hari.”

Ia diam lama.

“Bagus,” katanya. Suaranya aneh, lembut dan berat sekaligus, seperti orang yang mengucapkan sesuatu yang seharusnya ia ucapkan sejak lama pada orang lain. “Bagus dia punya kamu.”

Aku menatap profil wajahnya, dan rasa tajam di bawah tulang dadaku kembali. Kali ini rasanya berbeda. Tidak hanya tajam, tapi juga bingung. Aku tidak mengerti kenapa seseorang bisa terdengar begitu sedih karena mantan pacarnya punya teman.

Lalu dari kabut di bawah kami terdengar suara yang sangat keras dan sangat familiar.

“KOORDINATOR! KOORDINATOR KIRANAAA! KALIAN DI MANA?! TIM SUNGAI UDAH SAMPAI CURUG DARI TADI! AIRNYA DINGIN BANGET, GIO NYEMPLUNG TERUS NANGIS!”

Sasa Tebing muncul dari balik kabut dengan jaket gunung oranye dan senter kepala menyala, disusul Gio yang basah kuyup dari pinggang ke bawah dan menggigil hebat.

Mereka melihat kami di saung. Aku duduk dengan hoodie abu-abu yang jelas bukan milikku, dan Rendra bersandar di tiang dengan telinga yang merah seperti cabai rawit.

Sasa Tebing menyipitkan mata. Gio membuka mulut, lalu menutupnya lagi dengan bijaksana.

“Koordinator terkilir,” kata Rendra datar, sebelum siapa pun bisa bertanya. “Aku gendong sampai sini.”

“Terkilir,” ulang Sasa Tebing.

“Pergelangan kaki kiri.”

“Terus kenapa kalian duduk berdua di saung pas kabut?”

“Istirahat.”

Sasa Tebing menatap Rendra, menatapku, lalu menatap hoodie abu-abu. Lalu ia menyeringai lebar sekali, seperti orang yang baru menemukan jalur panjat baru yang belum pernah ditaklukkan siapa pun.

“Oke,” katanya. “Istirahat.”

Gio tidak berkata apa-apa. Tapi waktu Rendra menggendongku lagi untuk sisa perjalanan turun, Gio berjalan di belakang kami, dan aku mendengarnya bersenandung pelan.

Lagu anak-anak tentang balon warna-warni. Versi xilofon.

Aku menempelkan dahi di bahu Rendra lagi, lebih keras, dan berdoa kabut akan menelan kami semua.