Chapter Twenty Seven
Kursi yang Kosong
POV: Rendra
Selama empat hari setelah halaman berpot cabai, kursi hijau di pojok toko kosong.
Kucing belang tidak kembali. Mungkin Ibu mengusirnya terlalu keras hari Minggu itu. Mungkin kucing itu juga tahu kapan sebuah kursi sedang menunggu seseorang, dan seseorang itu bukan dia.
Aku membuka toko setiap pagi pukul delapan, menyapu lantai, dan menyiram cabai rawit di meja kasir. Buahnya sekarang enam. Om Hendra benar, tanaman itu suka matahari, dan ternyata juga suka disiram oleh orang yang tidak bisa tidur.
Setiap pagi, setelah menyiram cabai, aku menatap kursi hijau itu. Bantal krem bermotif bunga kuning, label harga tiga puluh lima ribu yang sudah kucabut dan kusimpan. Kursi untuk tamu yang mau lama.
Tamu yang sempat meletakkan tasnya di sana. Hanya tasnya.
Ibu tidak berkata apa-apa. Ibu melipat tiga ratus kotak suvenir dengan tali rafia hijau di meja makan setiap malam, dan setiap kali aku lewat, ia menatapku dengan tatapan yang sudah tiga kali kulihat minggu ini. Tatapan yang menunggu.
Kamis, aku tidak ke perpustakaan.
Itu pertama kalinya dalam tiga tahun. Aku duduk di meja kasir, menatap jam dinding, dan menghitung. Pukul 16.30, 16.45, 17.00. Di kepalaku, meja empat belas kosong dan pohon ketapang bergoyang tanpa ada yang mengawasi. Mungkin meja sembilan terisi, mungkin tidak.
Aku tidak mau tahu. Aku terlalu takut untuk tahu.
Amplop lilac itu ada di laci meja kasir, di bawah buku nota. Masih tertutup.
Kamis malam, setelah Ibu tidur, aku turun ke toko dan membuka laci.
Aku duduk di lantai, di sebelah kursi hijau, di bawah lampu kuning yang kunyalakan cuma satu, dan menatap amplop itu di pangkuanku.
Untuk Kak Ren.
Sasa bilang aku takut. Aku mendengarnya dari ambang pintu belakang, di antara pot-pot cabai: Mungkin dia takut isinya bikin dia nggak bisa marah lagi.
Anak itu bisa membaca plot. Ia benar.
Selama aku belum membaca surat ini, aku masih bisa marah. Aku masih bisa menyimpan semua data, slide, tahap-tahap, dan analisis risiko, lalu menyusunnya di kepala seperti papan tulis penuh rencana yang akhirnya berakhir dengan kepergian. Aku masih bisa bilang pada diriku sendiri bahwa aku benar. Bahwa aku tidak bisa membedakan, bahwa ia mirip dia, dan bahwa lebih aman menjaga jarak.
Kalau aku membaca surat ini, aku tahu semua itu akan runtuh.
Aku membuka amplopnya.
Selembar kertas kecil berwarna lilac, dilipat dua. Tinta ungu. Huruf bulat dan rapi, huruf seorang anak yang berlatih menulis indah untuk orang yang belum tentu membacanya.
Kak Ren,
Sabtu ini jam tujuh. Aku tunggu kamu pulang.
Jangan lupa makan.
— Sasa
Di bawahnya, hati kecil yang diarsir penuh. Diarsir dengan sangat teliti sampai ke sudut-sudutnya, seperti orang yang meluangkan waktu lama, tidak ingin ada satu bagian pun yang kosong.
Jangan lupa makan.
Kalimat yang sama yang kuucapkan di kamar posko KKN sambil menyodorkan bubur. Kalimat yang kupelajari dari rumah, dari kertas-kertas kecil Ibu di atas tudung saji. Kalimat yang, rupanya, juga dipelajari Sasa dari Ibu. Dan Sasa menulisnya untukku dengan tinta ungu, sebelum aku pernah sekali pun menjawab suratnya.
Aku membalik kertas itu.
Di baliknya ada satu baris lagi. Lebih kecil, lebih miring, seperti ditulis terburu-buru, setelah ragu-ragu cukup lama.
P.S. Kalau Kakak belum siap, nggak apa-apa. Aku tunggu lain kali. Aku jago nunggu.
Aku membaca baris itu satu kali.
Lalu sesuatu di dadaku yang sudah sepuluh tahun terlalu penuh, seperti rak buku yang dijejali sampai kayunya melengkung, akhirnya runtuh.
Aku menangis.
Aku tidak tahu caranya. Aku tidak pernah tahu sejak umur dua belas. Jadi tangisan itu keluar dengan cara yang jelek, canggung, dan tanpa bentuk, seperti suara dari pipa yang sudah lama tidak dialiri air. Aku menutup wajah dengan kedua tangan di lantai toko buku, di sebelah kursi hijau yang kosong, dengan kertas lilac di pangkuan.
Aku tunggu lain kali. Aku jago nunggu.
Anak itu menunggu delapan belas bulan. Enam surat tanpa balasan. Satu makan malam yang tidak kudatangi, padahal Ibu sudah memberitahuku langsung di dapur. Tiga hari tumis cabai yang dimakan sendirian. Dan di balik semua itu, sebuah P.S. yang memberiku izin untuk tidak datang.
Sasa memberiku izin untuk tidak siap.
Selama ini aku mengira akulah yang ditinggalkan. Oleh Ayah, oleh rencana-rencana, oleh papan tulis yang kosong. Selama ini aku membeli kursi untuk tamu yang mau lama, lalu duduk di meja empat belas dan menunggu orang pergi supaya aku bisa kembali membaca.
Ternyata ada orang yang menungguku, dan aku yang tidak datang.
Ternyata aku juga pernah jadi orang yang pergi.
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di lantai. Waktu aku akhirnya berdiri, kakiku kesemutan dan lampu kuning di atasku sudah berkedip dua kali.
Aku tidak naik ke kamar.
Aku berjalan ke gudang belakang, melewati tirai dapur, dan menyalakan lampu neon yang berkedip-kedip sebelum menyala stabil. Rak-rak besi berdiri berjajar dengan lorong enam puluh senti di antaranya, tempat seseorang pernah bilang kamu yang mundur dan tidak mundur.
Di balik rak paling belakang, tertutup debu dan kardus-kardus bekas, papan tulis itu masih ada.
Aku menariknya keluar. Enam puluh kali empat puluh senti. Bingkai aluminium dengan sudut kanan bawah yang penyok.
Di pojok kiri atas, samar-samar, seperti hantu, masih ada bekas spidol permanen biru:
Liburan ke Pangandaran. Desember. Naik kereta. Ren boleh pilih kursi dekat jendela.
Dulu Ibu menggosoknya dengan penghapus papan tulis, lap basah, dan sabun cuci piring sampai tangannya merah. Bekasnya tetap tidak hilang.
Aku membawa papan itu ke dapur dan meletakkannya di meja makan, di antara tumpukan kotak suvenir yang diikat tali rafia hijau. Lalu aku membuka lemari di bawah wastafel. Di sana, di antara botol-botol pembersih, ada sebotol alkohol tujuh puluh persen yang biasa Ibu pakai untuk membersihkan luka.
Spidol permanen, kata dosen Kimia Dasar-ku di semester satu, larut dalam alkohol. Pelarut organik, prinsip like dissolves like.
Ibu tidak kuliah Kimia. Ibu hanya punya sabun cuci piring dan tangan yang merah.
Aku menuangkan alkohol ke kain lap bersih, lalu mengusapkannya ke pojok kiri atas papan itu.
Sekali usap, bekas tulisan itu memudar. Dua kali usap, tulisannya tinggal bayangan samar. Tiga kali usap, Pangandaran hilang.
Sepuluh tahun. Bekas tulisan itu bertahan sepuluh tahun, hanya karena tidak ada yang tahu cara yang benar untuk menghapusnya.
Aku menatap papan tulis yang sekarang putih bersih. Kosong, seperti halaman planner yang belum ditulis.
Lalu aku membuka laci dapur, tempat Ibu menyimpan spidol-spidol untuk menulis harga buku. Spidol papan tulis biasa, yang bisa dihapus.
Aku mengambil yang biru.
Di pojok kiri atas, di tempat yang sama, aku menulis:
Sabtu. Jam 7. Pulang.
Aku menatap tulisan itu lama.
Rencana. Aku baru saja menulis rencana di papan tulis dapur, dengan spidol biru, seperti Ayah. Dan untuk pertama kalinya aku mengerti bedanya.
Ayah menulis rencana, lalu pergi setelah rencananya selesai.
Seseorang yang lain juga menulis rencana, dengan tahap-tahap, slide, dan analisis risiko. Lalu rencananya gagal di setiap tahap. Subjek S menjadi sahabatnya. Distraksi menjadi Dies Natalis terbaik. Alternatif yang masuk akal menjadi payung yang miring dan kebun teh yang berkabut. Dan setiap kali rencananya gagal, ia tetap datang. Ke perpustakaan setiap Kamis, ke kantin FIB setiap Selasa, ke Gang Kenari yang buntu. Ke rumah Om Hendra dengan pita kuning dan dua kalimat yang sudah dihafal, supaya Sasa mendengar kejahatannya dari mulutnya sendiri.
Ayah pergi setelah semua rencananya berhasil.
Anindya tetap datang setelah semua rencananya gagal.
Mereka tidak mirip. Mereka sama sekali tidak mirip. Mereka adalah dua persamaan yang terlihat serupa di baris pertama, tapi punya tanda yang berlawanan di baris terakhir.
Aku tahu itu waktu mengatakan kamu mirip dia. Di bagian dadaku yang paling jujur, aku sudah tahu. Aku hanya memilih kalimat itu karena kalimat itu yang paling tajam, dan aku ingin seseorang ikut merasakan betapa sakitnya papan tulis yang kosong.
Itu yang Ayah lakukan. Memilih jalan yang paling mudah untuk dirinya sendiri.
Kalau ada yang mirip Ayah di antara kami berdua, itu bukan dia.
Aku tidak menunggu pagi.
Pukul sebelas lewat empat puluh malam, aku menyalakan motor dan berkendara ke rumah bercat biru muda dengan papan Awas, Cabai Galak di pagarnya.
Lampu ruang tamu masih menyala. Aku mengetuk pintu.
Pintu terbuka, dan Sasa berdiri di sana dengan daster bermotif bebek dan rambut dicepol asal-asalan, persis seperti waktu aku datang membawa rendang. Matanya bengkak. Di tangannya ada ponsel, dengan layar yang masih menyala dan menampilkan pesan yang belum terkirim.
Aku sempat melihat sepotong kalimatnya: Kenapa kursi hijau selalu kosong? Karena
Lelucon malamnya. Belum selesai.
“Kak Ren?” suaranya kecil. “Kok malam-malam?”
Aku menatap anak di depanku. Daster bebek, mata bengkak, dan lelucon yang belum selesai.
Aku mengangkat amplop lilac di tanganku. Terbuka sekarang. Kertasnya terlipat kembali di dalamnya, sedikit lembap di satu sudut.
“Aku baca suratnya,” kataku.
Sasa menatap amplop itu, lalu menatap wajahku. Aku tahu mataku masih merah, dan aku tidak berusaha menyembunyikannya.
“Oh,” kata Sasa pelan.
“Aku terlambat,” kataku. “Tiga bulan. Kereta ekonomi.”
Sasa tertawa kecil. Tawa yang basah.
“Aku mau bilang sesuatu,” kataku. “Pakai mulut. Bukan pulpen.”
Sasa menunggu.
Aku sudah menyiapkan kalimatnya di perjalanan, di setiap lampu merah. Kalimat panjang tentang delapan belas bulan, enam surat, dan tumis cabai. Tentang Ayah, papan tulis, dan kenapa aku tidak datang meskipun Ibu sudah memberitahuku.
Semua kalimat itu hilang begitu aku melihat Sasa berdiri di ambang pintu dengan daster bebek.
Yang tersisa cuma dua kata.
“Aku pulang.”
Wajah Sasa pecah.
Tidak menangis pelan-pelan. Pecah sekaligus, seperti gelas yang jatuh dari meja. Ia menutup mulut dengan kedua tangan, bahunya berguncang hebat, dan air matanya mengalir begitu deras sampai menetes ke daster bebeknya.
Aku melangkah masuk dan memeluknya.
Aku belum pernah memeluk Sasa. Di Pasar Baru, ia yang memeluk lenganku. Di rumah ini, waktu aku mengaku soal Anindya, ia yang menjerit dan berlari. Aku tidak pernah memeluknya lebih dulu.
Ia kecil sekali di pelukanku. Lebih kecil dari yang kukira. Ia menangis di dadaku dengan suara yang keras, jelek, dan tanpa rencana. Suara adik perempuan yang akhirnya berhenti menunggu.
“Kakak pulang,” katanya di kaus abu-abuku, di antara isak. “Kakak pulang, Kakak pulang, Kakak pulang.”
“Iya.”
“Aku jago nunggu.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku capek, Kak.”
“Aku tahu. Maaf.”
Di belakang Sasa, di ujung lorong, Om Hendra berdiri memakai sarung dan kaus oblong. Kacamatanya miring dan rambutnya berantakan karena bangun tidur. Ia menatap kami dengan mulut sedikit terbuka.
Aku menatapnya dari atas kepala Sasa.
“Om,” kataku.
Om Hendra membetulkan kacamatanya. Tangannya gemetar.
“Tanggal empat belas,” kataku. “Aku yang antar Ibu ke pelaminan.”
Om Hendra tidak menjawab. Ia menatapku lama sekali. Lalu ia melepas kacamatanya, mengusap matanya dengan ujung kaus oblong, dan memakai kacamatanya lagi. Miring.
“Ren,” katanya dengan suara yang tidak stabil. “Saya... saya mau bilang sesuatu yang lucu sekarang. Tapi saya nggak nemu leluconnya.”
“Nggak apa-apa, Om.”
“Biasanya saya punya lelucon.”
“Aku tahu, Om. Garing semua.”
Om Hendra tertawa. Tawa yang pecah di tengah, seperti suara anaknya. Ia berjalan ke arah kami dan melingkarkan lengannya di sekeliling kami berdua, canggung dan terlalu erat, dengan bau sabun mandi murah dan sedikit bau tanah pot cabai.
Kami bertiga berdiri di ruang tamu yang penuh buku, di bawah foto perempuan berkerudung dengan senyum Sasa, dan berpelukan sampai kaki kami pegal.
Pukul satu pagi, setelah Om Hendra kembali tidur dan Sasa membuatkanku teh manis yang terlalu manis, kami duduk di lantai ruang tamu dengan dua gelas di antara kami.
“Kak,” kata Sasa. Matanya masih bengkak, tapi suaranya sudah kembali seperti biasa. Tidak sepenuhnya ceria, tapi hidup. “Aku mau marah sama Kakak.”
“Oke.”
“Kakak bilang ke Kak Kirana dia mirip siapa?”
Aku berhenti mengangkat gelas.
“Kak Gio cerita,” lanjut Sasa. “Kak Gio nelpon aku jam dua pagi hari Selasa. Dia bilang Kak Kirana pulang dari perpus kayak orang yang barusan lihat hantu. Terus Kak Gio tanya aku, Sa, emang Kak Rendra bisa sejahat itu? Terus aku bilang, bisa, Kak, dia pernah bikin aku makan tumis cabai tiga hari.”
Aku meletakkan gelas.
“Aku salah,” kataku.
“Iya.”
“Dia nggak mirip siapa-siapa.”
“Iya.”
“Ayahku pergi setelah rencananya selesai. Dia tetap datang setelah semua rencananya gagal.”
Sasa menatapku lama. Lalu ia tersenyum, senyum kecil yang sama seperti di ambang pintu belakang.
“Kakak bisa baca plot juga ternyata,” katanya.
“Aku belajar dari adik yang anak Sastra.”
Sasa tersedak teh manisnya sendiri.
“Kak,” katanya, masih terbatuk. “Kakak barusan bilang adik.”
“Iya.”
“Kakak nggak bisa tarik lagi.”
“Aku nggak mau tarik lagi.”
Ia menunduk menatap gelasnya, dan pipinya memerah. Lalu, dengan suara kecil:
“Kamis. Perpus. Jam setengah lima.”
“Apa?”
“Kak Kirana.” Sasa mengangkat kepala. “Kakak tahu dia di mana setiap Kamis. Tiga tahun, Kak. Meja sembilan. Kakak yang bilang ke aku, di grup Aliansi, waktu Kakak lagi galau.”
Aku tidak ingat pernah menulisnya. Tapi aku ingat banyak hal yang kutulis dengan pulpen merah dan tidak pernah kuucapkan.
“Hari ini aku nggak datang,” kataku. “Dia mungkin nunggu.”
“Dia pasti nunggu. Dia jago nunggu juga. Kalian berdua jago nunggu.” Sasa menghela napas dengan dramatis, seperti orang tua yang lelah. “Masalahnya, dua orang yang jago nunggu itu nggak bakal ketemu kalau nggak ada yang jalan duluan.”
Aku menatap gelas teh manis di tanganku.
“Kamis depan,” kataku.
“Kelamaan!”
“Aku harus balikin buku ke perpustakaan. Buku biru. Dendanya udah sepuluh ribu. Dan...” Aku berhenti. “Aku mau pesan satu buku lagi. Supaya aku punya alasan ke rak pesanan.”
Sasa menatapku dengan mata menyipit.
“Kakak butuh alasan?”
“Nggak,” kataku. “Tapi aku mau berdiri di depan rak itu lagi. Tempat semuanya mulai.”
Sasa diam sebentar. Lalu ia tersenyum lebar, senyum pertama yang benar-benar lebar malam itu, dengan mata tinggal garis.
“Kak Ren,” katanya. “Kakak romantis ternyata.”
“Jangan bilang siapa-siapa.”
“Aku admin grup Aliansi, Kak. Aku nggak bisa janji.”
Aku pulang pukul setengah tiga pagi. Toko gelap. Ibu tidur. Papan tulis di meja dapur masih bertuliskan Sabtu. Jam 7. Pulang. dengan spidol biru.
Aku membuka laptop dan masuk ke katalog daring perpustakaan pusat UDB. Aku mengetik judul buku yang sudah kucari sejak semester lima tapi tidak pernah kupinjam karena tidak ada alasan.
Teori Peluang Lanjutan: Kejadian Bersyarat dan Hal-Hal yang Bergantung Satu Sama Lain.
Jilid kedua dari buku biru.
Aku menekan tombol Reservasi. Nama: RENDRA MAHESA. Tanggal pengambilan: Kamis depan.
Lalu aku menutup laptop, naik ke kamar, dan untuk pertama kalinya dalam empat hari, tidur sebelum pukul tiga.
Aku tidak bermimpi apa-apa. Tapi waktu aku bangun, pukul enam pagi, aku menyadari sesuatu.
Aku tidak menyetel alarm. Aku bangun sendiri, tepat waktu untuk menyiram cabai.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong reading
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama