← Surat Salah Alamat

Chapter Twenty Five

Pencuri yang Bukan Pencuri

POV: Kirana

Setelah perpustakaan hari Senin, aku tidak menangis.

Aku pulang, makan malam, dan menjawab pertanyaan Mama tentang laporan pertanggungjawaban Dies Natalis dengan kalimat-kalimat lengkap. Aku mandi, menyikat gigi, lalu berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit sampai pagi.

Kamu mirip dia.

Kalimat itu tidak menyakitkan seperti tamparan. Kalimat itu menyakitkan seperti diagnosis. Sesuatu yang mungkin benar, yang dikatakan oleh orang yang sudah memeriksa semua datanya.

Aku memang membuat rencana. Aku memang menulis tahap-tahap. Aku memang mengantongi surat orang lain dan menyimpannya tiga bulan sambil tersenyum di kantin setiap Selasa. Dan waktu aku punya kesempatan untuk mengembalikannya, aku membuat rencana baru yang terasa sangat bijaksana: simpan, demi kebahagiaan mereka.

Pria yang menulis Liburan ke Pangandaran di papan tulis dapur mungkin juga merasa bijaksana.

Selasa, aku tidak ke kantin FIB. Sasa tidak mengirim pesan. Itu pertama kalinya dalam tiga bulan ponselku tidak berbunyi dengan lagu anak-anak bernada xilofon pada pukul dua belas siang.

Rabu pagi, Gio menemukanku di sekretariat BEM pukul enam lewat tiga puluh.

Ia tidak bertanya aku sedang apa. Ia meletakkan nasi kuning di mejaku dan duduk di seberang.

“Kak Rendra ke rumah Sasa sore ini,” katanya. “Bawa suratnya. Mau bilang ke Sasa.”

Aku mengangkat kepala.

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku ke tokonya kemarin. Beli buku.” Wajah Gio sedikit memerah. “Jangan tanya buku apa. Terus Bu Ratna telepon aku tadi malam. Bu Ratna punya nomorku, jangan tanya dari mana. Bu Ratna bilang, ‘Nak Gio, Ren besok sore mau ke rumah Mas Hendra, katanya mau kasih tahu Sasa soal surat. Ibu cuma kabari. Ibu nggak nyuruh apa-apa.’”

“Bu Ratna nggak nyuruh apa-apa,” ulangku.

“Tiga kali dia bilang nggak nyuruh apa-apa.” Gio menatapku. “Kir, Bu Ratna itu kayak Mama kamu. Versi yang pakai pisang goreng. Kalau dia bilang nggak nyuruh, artinya dia nyuruh.”

Aku menatap nasi kuning di depanku.

Sasa akan mendengarnya dari Rendra. Sasa akan duduk di ruang tamu rumahnya yang penuh buku, di depan foto ibunya yang tersenyum, dan mendengar dari calon kakaknya bahwa sahabatnya adalah pencuri. Bahwa surat undangannya tidak jatuh dan tidak dibuang siapa pun. Surat itu diambil dan disimpan di planner kulit cokelat oleh orang yang memeluknya di teras posko KKN.

Sasa akan mendengarnya dari orang lain.

Rencana Mundur, baris ketiga: Biarkan mereka bahagia.

Aku mengambil pulpen biru murah dan mencoret seluruh halaman Rencana Mundur dengan garis diagonal. Kali ini tebal, sangat tebal. Aku menekan pulpen sampai kertasnya sobek.

“Gi,” kataku. “Rumah Om Hendra. Kamu tahu jam berapa Rendra ke sana?”

“Jam empat,” kata Gio, lalu menyodorkan sendok. “Tapi makan dulu.”


Pukul 15.52, aku berdiri di depan pagar rumah bercat biru muda.

Papan kayu kecil di pagarnya masih bertuliskan Awas, Cabai Galak. Pot-pot cabai di halaman masih berundak di rak besi seperti kebun teh mini. Salah satu pohonnya sekarang penuh cabai merah, begitu banyak sampai dahannya melengkung.

Aku datang delapan menit lebih awal. Aku ingin bicara dengan Sasa sebelum Rendra datang. Aku ingin Sasa mendengarnya dariku. Satu-satunya hal yang masih bisa kulakukan dengan benar adalah memastikan Sasa mendengar kejahatanku dari mulut penjahatnya sendiri.

Suara motor berhenti di belakangku.

Aku tidak perlu menoleh. Tapi aku menoleh.

Rendra turun dari motor matik hitamnya. Ia memakai kemeja flanel abu-abu, bukan kemeja putih. Di tangannya, digenggam seperti barang yang bisa pecah, ada amplop lilac dengan sudut yang lecek.

Ia melihatku di depan pagar. Langkahnya berhenti.

Kami berdiri berhadapan di trotoar sempit, di antara pagar biru muda dan motor hitam, di bawah matahari sore yang terlalu cerah untuk hari seperti ini.

“Kamu,” katanya.

“Aku mau bilang ke Sasa,” kataku. “Sendiri. Dia harus dengar dari aku. Bukan dari kamu.”

Ia menatapku lama. Matanya lelah, dengan bayangan di bawahnya yang sama gelapnya dengan bayangan di bawah mataku.

Aku menunggu ia menyuruhku pergi. Aku menunggu pulang, Anindya yang kedua.

Tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap amplop di tangannya, lalu menatapku. Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Ia mengangguk.

Pintu rumah terbuka sebelum salah satu dari kami sempat mengetuk.


Sasa berdiri di ambang pintu dengan kaus oblong abu-abu dan celana training. Rambutnya diikat asal. Tidak ada pita hari ini, dan itu yang pertama kali kusadari. Sasa tanpa pita terlihat seperti kalimat tanpa tanda seru.

Ia menatap kami berdua bergantian: aku, Rendra, dan amplop lilac di tangan Rendra.

Wajahnya tidak terkejut.

Itu yang kedua kali kusadari, dan itu yang membuat perutku terasa kosong. Sasa, yang terkejut oleh segalanya, yang menjerit waktu Rendra datang membawa rendang, yang menangis waktu diajak makan siang, tidak terkejut melihat kami berdua di depan pagarnya dengan amplop itu.

“Masuk, Kak,” katanya pelan. “Dua-duanya.”

Ruang tamu itu tidak kosong.

Om Hendra duduk di kursi rotan dengan kacamata baca miring, melipat kotak-kotak kecil dari kertas karton berwarna krem. Suvenir pernikahan. Bu Ratna duduk di sofa di sebelahnya, mengikat pita emas di setiap kotak yang sudah dilipat. Di meja ada dua ratus kotak yang sudah jadi, dan seratus lagi yang masih berupa lembaran.

“Lho! Neng Kirana! Ren!” Om Hendra berdiri dengan wajah berseri. “Kalian datang bareng? Mau bantu lipat suvenir? Duduk, duduk! Kami kewalahan! Ratna salah pesan, kotaknya tiga ratus tapi pitanya cuma dua ratus!”

“Mas,” kata Bu Ratna pelan.

Om Hendra menoleh padanya. Lalu, perlahan, ke wajahku, ke wajah Rendra, dan ke amplop lilac di tangan Rendra. Senyumnya memudar seperti lampu yang diredupkan.

Bu Ratna menatapku. Ia tahu. Ia ada di toko hari Minggu itu, di ambang tirai dapur, dengan tiga ratus undangan krem dan emas di tangannya. Ia mendengar semuanya.

Tapi ia tidak berkata apa-apa. Ia terus mengikat pita emas di kotak suvenir, pelan, dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Duduk,” kata Sasa.

Kami duduk. Aku di sofa, di ujung yang jauh dari Bu Ratna. Rendra di kursi kayu di dekat pintu. Sasa di lantai, di atas karpet, di tempat yang sama seperti waktu ia makan rendang bersama Rendra. Di belakangnya, di dinding, foto ibunya tersenyum dari balik kaca berdebu.

Rendra meletakkan amplop lilac itu di atas meja, di antara kotak-kotak suvenir krem.

Untuk Kak Ren. Tinta ungu. Huruf bulat.

“Suratnya ketemu, Sa,” kata Rendra.

Om Hendra membetulkan kacamatanya dan membungkuk untuk melihat amplop itu. “Lho! Ini yang undangan makan malam itu? Ketemu di mana, Ren?”

Rendra membuka mulut.

Aku berdiri.

Semua orang menoleh padaku. Om Hendra, dengan kotak suvenir setengah jadi di tangan. Bu Ratna, dengan pita emas yang berhenti di tengah simpul. Rendra, dari kursi kayu di dekat pintu.

Dan Sasa, dari lantai.

Aku sudah menulis naskahnya. Empat versi, yang kemudian kupangkas jadi dua kalimat. Aku sudah mengucapkannya di depan cermin berbintik di kamar mandi Toko Buku Mahesa. Dua kalimat. Aku bisa mengucapkan dua kalimat. Aku sudah memimpin empat puluh tiga acara dan berpidato di depan rektor. Dua kalimat itu tidak ada apa-apanya.

“Om,” kataku. Suaraku bergetar, dan aku membiarkannya bergetar. “Tante. Sasa. Saya yang...”

“AKU YANG AMBIL, YAH!”

Suara Sasa memecah ruang tamu seperti piring yang dilempar ke lantai.

Ia sudah berdiri. Aku tidak melihat kapan ia berdiri. Ia berdiri di tengah ruang tamu dengan kaus abu-abu dan celana training, tangannya mengepal di sisi tubuh, dan wajahnya merah dari leher sampai dahi.

“Aku yang ambil suratnya,” ulang Sasa. Lebih pelan, tapi sangat jelas. “Suratnya nggak jatuh. Nggak ada yang buang. Aku yang ambil lagi.”

Om Hendra menatap anaknya dengan mulut terbuka.

“Nak...”

“Aku udah selipin di buku biru, di perpus. Terus malamnya aku nggak bisa tidur. Aku takut. Takut Kak Ren baca, terus tetap nggak datang. Terus aku malu, Yah. Malu banget. Jadi besok paginya aku ke perpus lagi sebelum Kak Ren ambil bukunya, dan aku ambil suratnya lagi.” Sasa bicara cepat sekali, seperti takut kalau berhenti sedetik saja, ia tidak akan bisa melanjutkan. “Terus aku nggak mau simpan di rumah, takut Ayah nemu. Jadi aku titip di planner Kak Kirana. Waktu makan siang di kantin. Aku bilang, Kak, titip ya, nanti aku ambil. Terus aku lupa. Terus Kak Kirana juga lupa. Terus suratnya...”

Ia berhenti. Ia menatap lantai.

“Terus suratnya ketemu,” katanya pelan. “Maaf, Yah. Maaf, Tante. Maaf, Kak Ren. Makan malam pertama itu gagal gara-gara aku. Aku yang pengecut.”

Ruang tamu itu sunyi.

Aku berdiri membeku, dengan dua kalimat yang sudah kuhafal masih menggantung di ujung lidahku.

Itu bohong. Semuanya bohong. Setiap kata yang keluar dari mulut Sasa adalah bohong yang dirakit dengan cepat. Rapi, masuk akal, dan penuh detail, seperti laporan pertanggungjawaban yang dikerjakan semalaman.

Sasa, yang tidak bisa berbohong bahkan soal leluconnya sendiri yang jelek. Sasa, yang menangis di menit keempat. Sasa baru saja berbohong di depan ayahnya dan calon ibunya, dengan suara yang hanya bergetar sedikit di akhir.

Untukku.

“Nak,” kata Om Hendra. Suaranya tidak marah. Suaranya sedih, dengan cara yang lembut, seperti ayah yang menemukan anaknya menyembunyikan nilai rapor. “Kenapa kamu nggak bilang? Kamu nunggu sampai jam sembilan. Kamu makan tumis cabai sendirian tiga hari. Padahal kamu sendiri yang...”

“Aku malu, Yah.”

“Om,” kataku. Suaraku akhirnya keluar. “Om, bukan Sasa yang...”

Tangan Sasa menangkap tanganku.

Ia masih berdiri di tengah ruang tamu dan tidak menoleh padaku. Tapi tangannya menemukan tanganku di sisi tubuhku dan meremasnya. Keras, sangat keras, begitu keras sampai jari-jariku terasa sakit.

Lalu ia menoleh.

Matanya bulat, merah, dan penuh sesuatu yang belum pernah kulihat di mata Sasa. Bukan kegembiraan dan bukan air mata. Permohonan.

Jangan.

Ia tidak mengucapkannya. Ia tidak perlu mengucapkannya.

Aku menutup mulut.

Di kursi kayu di dekat pintu, Rendra menatap Sasa tanpa berkedip. Ia tahu. Ia membaca halaman planner itu, ia hafal setiap kalimatnya, dan ia tahu persis kapan surat itu masuk ke planner-ku: Kamis, pukul 16.58, di depan rak pesanan, sebelum ia datang dan berkata itu pesananku.

Rendra tahu Sasa berbohong.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Ia menatap Sasa lama sekali. Rahangnya mengeras, lalu melunak, lalu mengeras lagi, seperti orang yang sedang berperang dengan dirinya sendiri. Lalu ia menunduk, menatap amplop lilac di meja di antara kotak-kotak suvenir, dan tetap diam.

Bu Ratna meletakkan pita emasnya di pangkuan. Ia menatap Sasa, lalu menatapku, lalu menatap anaknya sendiri. Ia juga tahu. Ia ada di toko hari Minggu itu.

Ia juga tidak mengatakan apa-apa.

Om Hendra menghela napas panjang dan membetulkan kacamatanya.

“Ya sudah,” katanya akhirnya, dengan suara yang berusaha keras terdengar ringan. “Yang penting suratnya ketemu. Anggap saja surat ini...” Ia mencari-cari kata. Aku melihatnya mencari lelucon, seperti biasa. “...naik kereta yang telat. Kereta Indonesia kan biasa telat. Yang penting sampai.”

Tidak ada yang tertawa.

Lalu Bu Ratna tertawa. Pelan, kecil, dan sedikit basah. Tawa yang dipaksakan demi orang yang ia sayang. “Keretanya telat tiga bulan, Mas.”

“Kereta ekonomi, Rat.”

Bu Ratna tertawa lagi, kali ini sedikit lebih nyata. Om Hendra ikut tersenyum. Ketegangan di ruang tamu mengendur sedikit, seperti tali yang dilonggarkan satu simpul.

Sasa melepaskan tanganku.

“Kak Kirana,” katanya, masih tidak benar-benar menatapku. “Bantu aku ambil minum di belakang?”


Kami tidak mengambil minum.

Sasa berjalan melewati dapur, membuka pintu belakang, dan keluar ke halaman sempit yang penuh pot cabai. Tempat yang sama waktu Rendra mengatakan aku nggak punya siapa-siapa yang nunggu aku pulang, di bawah lampu kuning di atas pintu.

Hari ini lampunya belum menyala. Matahari sore masih terang, membuat daun-daun cabai berkilau hijau dan buah-buahnya merah menyala.

Sasa berdiri membelakangiku di antara pot-pot itu.

“Kenapa kamu bohong?” tanyaku.

Suaraku keluar pecah. Aku tidak berusaha menambalnya.

Sasa tidak berbalik.

“Kakak juga mau bohong,” katanya. “Tadi. Kakak berdiri, terus Kakak mau bilang saya yang ambil. Itu bohong juga, Kak.”

“Itu bukan bohong! Itu benar! Aku yang ambil! Di perpustakaan, di rak pesanan, sebelum Rendra datang! Aku yang...”

“Aku tahu.”

Aku berhenti.

Sasa berbalik. Wajahnya basah. Aku tidak tahu kapan ia mulai menangis. Mungkin sejak di ruang tamu. Mungkin sejak tadi pagi. Mungkin sejak pesan oke Kak pukul dua lewat tiga pagi.

“Aku tahu, Kak,” ulangnya. “Aku udah tahu dari lama.”

Dunia di sekelilingku, pot-pot cabai, pagar biru muda, dan langit sore yang terlalu cerah, pelan-pelan kehilangan suaranya.

“Dari... kapan?”

“Dari posko.” Sasa mengusap wajahnya dengan punggung tangan. “Waktu Kakak nangis. Waktu aku datang naik bus empat jam. Kakak nangis di bahuku, terus aku mau ambil tisu buat Kakak. Tisunya di tas Kakak. Aku buka tasnya. Terus aku lihat planner Kakak, dan ada yang nyembul dari halaman belakangnya.” Ia tertawa kecil, tawa yang basah dan patah. “Warna ungu. Sudutnya lecek. Aku kenal, Kak. Aku yang bikin sudutnya lecek. Aku pegang amplop itu lama banget sebelum berani nyelipin ke buku biru. Aku kenal amplopku sendiri.”

Aku tidak bisa bernapas.

Posko. Teras rumah Pak Kades. Tempe dingin yang lembek. Lelucon soal peringkat dua. Kakak nggak kurang apa-apa. Semua itu terjadi setelah Sasa melihat amplopnya di planner-ku.

Ia sudah tahu waktu menyuapiku tempe. Ia sudah tahu waktu menjabat tangan Sasa Tebing dan menyebut dirinya Sasa Tempe. Ia sudah tahu waktu memelukku, mengelus rambutku seperti mengelus kucing oranye di kantin, dan berbisik apa pun yang bilang Kakak kurang, dia salah.

“Kenapa,” kataku. Satu kata itu keluar hampir tanpa suara. “Kenapa kamu nggak bilang?”

Sasa menatapku lama.

“Karena Kakak lagi nangis,” katanya sederhana. “Kakak nangis kayak orang yang nggak pernah nangis. Aku nggak tega, Kak. Aku nggak bisa bilang Kak, kok suratku ada di sini? ke orang yang lagi nangis kayak gitu.”

“Tapi setelahnya. Berminggu-minggu setelahnya. Kamu tetap...”

“Setelahnya aku mikir.” Sasa menunduk, menatap pot cabai di dekat kakinya. “Aku mikir terus. Kenapa Kakak ambil suratku? Terus aku inget. Kakak nanya Sasa ada pacar? di kantin. Kakak nanya kamu sering ketemu dia? Kakak nyuruh aku kasih ruang ke Kak Ren.” Ia tersenyum kecil, sedih. “Aku nggak bodoh-bodoh amat, Kak. Aku anak Sastra. Aku bisa baca plot.”

“Terus kenapa kamu nggak marah? Kenapa kamu nggak pergi?” Suaraku naik. Aku tidak bisa menahannya lagi. “Aku ngajak kamu makan siang karena rencana, Sasa! Itu tahap dua! Aku mau ngejauhin kamu dari Rendra! Aku nyuruh kamu kasih ruang supaya kamu berhenti nulis surat! Semua itu rencana! Aku bikin slide! Aku...”

“Aku tahu, Kak.”

“Terus kenapa?!”

Sasa mengangkat kepala.

“Karena Kakak tetap datang tiap Selasa,” katanya.

Aku berhenti.

“Kakak tetap datang,” ulang Sasa pelan. “Tahap dua itu kan cuma perlu beberapa kali, Kak? Buat jadi teman. Tapi Kakak datang tiap Selasa, tiga bulan. Kakak bales lelucon-lelucon aku yang jelek. Kakak bilang tempe kantin delapan dari sepuluh, padahal Kakak pelit nilai. Kakak angkat telepon aku tiap malam waktu KKN, padahal Kakak capek. Kakak kasih aku nomor telepon Kakak dengan nada dering lagu anak-anak, aku tahu, Kak Gio yang cerita, biar Kakak langsung tahu itu aku.”

Ia mengusap air matanya lagi.

“Rencana Kakak mungkin jelek,” katanya. “Tapi Kakak-nya nggak.”

Aku jatuh.

Tidak jatuh dengan cara yang dramatis. Lututku hanya berhenti menopang tubuhku. Pelan-pelan, aku terduduk di tanah berbatu di antara pot-pot cabai, dengan tangan menutup wajah.

Aku tidak menutup mulut. Tanganku menutup mata, supaya aku tidak bisa melihat Sasa yang sedang menangis, tapi tetap bisa mendengar diriku sendiri.

Suara yang keluar dariku tidak bisa kurencanakan dan tidak bisa kutahan. Tangisan yang keras, jelek, dan basah, seperti tangisan anak kecil yang baru jatuh dari sepeda dan akhirnya menyadari lututnya berdarah.

Tangan kecil dan hangat itu melingkar di bahuku.

Sasa berlutut di depanku di atas tanah berbatu, dengan kaus abu-abu dan celana training, tanpa pita. Ia memelukku seperti di teras posko KKN: canggung, erat, dan dengan tangan yang mengelus rambutku pelan dan teratur.

“Kakak nggak kurang apa-apa,” bisiknya di telingaku. “Aku bilang itu di posko, dan aku udah tahu soal surat itu waktu bilangnya. Jadi itu bukan bohong, Kak. Itu yang paling bukan bohong yang pernah aku bilang.”

Aku menangis lebih keras.

“Maaf,” kataku di bahunya. Aku mengulanginya berkali-kali, sampai kata itu kehilangan bentuknya. “Maaf, Sasa. Maaf. Maaf. Makan malammu. Jam sembilan. Tumis cabai. Maaf.”

“Iya, Kak.”

“Kamu harus marah.”

“Aku marah.” Sasa terisak sambil tertawa. “Aku marah banget, Kak. Aku bakal marah seminggu. Mungkin dua minggu.”

“Harusnya lebih lama.”

“Dua minggu,” kata Sasa tegas, masih memelukku. “Setelah itu Kakak harus traktir aku tempe sebulan. Tiap Selasa. Nggak boleh bolos.”

Aku tertawa. Tertawa sambil menangis, kombinasi yang dulu kupikir hanya milik Sasa. Tawa itu keluar dari tempat yang sangat dalam dan sangat sakit, tempat yang belum pernah kubuka sebelumnya.

“Kenapa kamu bohong buat aku?” tanyaku lagi, lebih pelan. “Di depan ayahmu. Di depan Tante.”

Sasa melepaskan pelukannya sedikit, supaya bisa menatapku. Wajahnya berantakan, hidungnya merah, dan matanya bengkak.

“Karena Kakak udah cukup dihukum,” katanya. “Aku lihat Kakak di posko. Aku lihat Kakak di Pasar Baru, iya, aku lihat Kakak di balik manekin, Kak, rambut Kakak kelihatan di antara melati plastik, terus Kakak pergi sebelum Kak Ren bilang itu cincin buat Ayah sama Tante. Aku lihat muka Kakak waktu Ayah bilang Kak Ren sama aku mau jadi kakak-adik.” Ia tersenyum, basah dan kecil. “Kakak nggak butuh dihukum lagi di depan Ayah. Kakak butuh dimaafin.”

Aku menatapnya dan tidak bisa berkata apa-apa.

“Lagian,” tambah Sasa, mengusap hidungnya dengan lengan kaus, “Ayah sama Tante mau nikah dua minggu lagi. Aku nggak mau ada drama di keluarga baru aku. Aku mau keluarga baru aku semuanya akur. Termasuk Kakak.”

“Aku bukan keluarga kamu.”

“Kakak yang ngasih tempat bumbu,” kata Sasa. “Buat rumah kami. Kakak udah ada di dapur kami, Kak. Di laci cabai.”


Waktu aku akhirnya bisa mengangkat kepala, dengan mata bengkak, pipi basah, dan pita rambut yang entah sejak kapan terlepas, aku melihatnya.

Rendra berdiri di ambang pintu belakang.

Aku tidak tahu sudah berapa lama ia di sana. Ia bersandar di kusen pintu, di bawah lampu yang belum menyala. Tangannya memegang amplop lilac yang ia ambil lagi dari meja di ruang tamu. Wajahnya tidak datar, tidak marah, dan tidak dingin.

Ia menatap Sasa. Lalu ia menatapku.

Ia tidak berkata apa-apa. Aku melihat rahangnya bergerak, bibirnya terbuka dan menutup lagi, seperti orang yang mencari kalimat dan tidak menemukannya di buku mana pun.

Lalu ia berbalik dan masuk kembali ke rumah, pelan, tanpa suara.

Amplop itu masih di tangannya. Masih tertutup. Belum dibuka.

Sasa menatap ambang pintu yang kosong, lalu menatapku.

“Kak Ren belum baca suratnya,” katanya pelan. “Aku tahu dari mukanya.”

“Kenapa?”

Sasa tersenyum kecil dan sedih, lalu memungut pita rambutku dari tanah berbatu dan membersihkannya dari debu.

“Mungkin dia takut,” katanya. “Takut isinya bikin dia nggak bisa marah lagi.”

Ia menyerahkan pita itu padaku.

Aku menggenggamnya. Pita kuning, dari kotak pensil di laci meja belajarku. Aku bahkan tidak ingat kapan memakainya pagi ini. Mungkin tanganku melakukannya sendiri, seperti kakiku yang berjalan sendiri ke Gang Kenari. Mungkin sebagian dari diriku ingin datang ke rumah ini dengan pita, seperti Sasa.

Dari dalam rumah terdengar suara Om Hendra, keras dan ceria, dan jelas sekali dipaksakan.

“Anak-anak! Siapa yang mau bantu lipat suvenir! Pitanya kurang seratus! Kita pakai tali rafia aja!”

Sasa berdiri dan mengulurkan tangan padaku.

Aku menatap tangan itu. Tangan yang kecil, hangat, sedikit kotor karena tanah, dan mengulur ke arahku tanpa syarat apa pun.

Aku mengambilnya.

Kami masuk ke dalam rumah bersama, ke ruang tamu yang penuh buku dan kotak suvenir krem. Om Hendra mengangkat segulung tali rafia hijau dengan wajah penuh harap. Bu Ratna menatap kami berdua dengan mata basah dan senyum yang gemetar.

Kursi kayu di dekat pintu kosong.

Motor matik hitam di depan pagar sudah pergi.