← Shift Ketiga

Chapter Nine

Kasihan

POV: Vero


Aku memakan roti kejunya.

Bukan hari itu juga. Hari itu aku tidak bisa memakan apa pun karena seluruh sistem pencernaanku sedang sibuk memproses kalimat roti keju kamu numpuk, makan itu, kasihan yang diucapkan seorang laki-laki sambil menggendong adiknya yang demam di punggung.

Aku memakannya besoknya. Dan besoknya lagi.

Dan hari ketiga, waktu Yoga bertanya kenapa aku tiba-tiba doyan roti keju padahal dulu aku bilang rasanya seperti spons yang dikasih janji palsu, aku menjawab, “Karena kasihan.”

Yoga menatapku selama lima detik penuh.

“Kamu sakit.”

“Aku sehat.”

“Kamu makan roti karena kasihan sama rotinya.”

“Iya.”

“Vero.” Dia meletakkan pistol barcode. “Kamu ini kasir. Kamu tahu roti itu benda mati.”

“Semua benda di sini benda mati.”

“Iya, tapi kamu nggak pernah kasihan sama sabun cuci piring.”

“Sabun cuci piring nggak pernah dititipin sama siapa-siapa.”

Yoga membuka mulut, lalu menutupnya lagi, lalu berjalan pergi sambil menggeleng seperti orang yang baru menyerah pada teka-teki silang.


Yang berubah setelah hari Kamis itu bukan pelan-pelan.

Yang berubah adalah semuanya, sekaligus, seperti orang menaikkan sakelar.

Karena sebelumnya aku punya alasan untuk diam: aku tidak tahu siapa dia, aku tidak tahu kenapa dia begitu, dan aku tidak mau jadi kasir yang mengganggu pelanggan. Itu alasan yang bagus. Aku memakainya empat bulan.

Sekarang aku tahu namanya. Aku tahu jam kerjanya. Aku tahu ada anak berumur delapan tahun yang tidak mau sarapan apa pun selain dua benda yang dia beli dariku setiap pagi. Aku tahu dia menyimpan strukku di kaleng di bawah kasur seperti orang yang sedang menabung sesuatu yang tidak bisa dibelanjakan.

Alasanku habis.

Dan ternyata, tanpa alasan, aku ini orang yang sangat, sangat tidak bisa diam.


Jumat.

“Pagi, Ardafa.”

Dia berhenti di tengah pintu. “Pagi.”

“Sekar udah sembuh?”

“Udah.”

“Udah mau makan?”

“Udah.”

“Roti sobek cokelat lagi?”

“Iya.”

“Nggak bosen?”

“Dia nggak bisa bosen.”

Enam kata. Aku menghitungnya sambil mengetik dan hampir salah pencet.

“Kamu udah tidur berapa jam?”

Hening.

“Ardafa.”

“Empat.”

“Empat?”

“Empat setengah.”

“Kamu nambahin setengah biar aku diem.”

Dan dia — laki-laki yang selama seratus dua puluh hari tidak pernah menunjukkan apa pun di wajahnya — mengalihkan pandangan ke rak permen dengan ekspresi seseorang yang baru saja ketahuan.

Aku hampir mati di tempat.


Sabtu.

“Kaleng itu warnanya apa?”

“Nggak ada kaleng.”

“Sekar bilang ada.”

“Sekar delapan tahun.”

“Sekar delapan tahun dan sejauh ini akurasinya seratus persen.”

Dia menaruh roti di meja dengan lebih keras dari biasanya, yang untuk ukuran dia sama saja dengan membanting pintu.

“Merah,” katanya akhirnya.

“Apa?”

“Kalengnya. Merah. Bekas biskuit.”

Aku menekan tombol yang salah dua kali berturut-turut.


Senin.

Aku menaruh sesuatu di sebelah rotinya sebelum dia sempat mengeluarkan uang.

Kopi. Gelas kecil. Dari mesin toko, yang gratis untuk karyawan dan tidak gratis untuk pelanggan, dan aku sudah memutuskan sejak semalam bahwa aku akan menanggung selisihnya dari uangku sendiri dan itu bukan urusan siapa-siapa.

Dia menatap gelas itu.

“Ini apa?”

“Kopi.”

“Aku nggak pesen.”

“Aku tahu.”

“Aku mau tidur habis ini.”

“Kamu bilang tidurnya empat jam.”

“Empat setengah.”

“Ardafa.”

Dia menatapku. Aku menatapnya balik dan tidak menunduk duluan, yang merupakan pencapaian pribadi terbesarku bulan ini.

“Bukan buat sekarang,” kataku. “Buat nanti malem. Bawa aja.”

Dan sesuatu terjadi di wajahnya lagi — hal yang sama seperti hari Kamis, yang tidak punya nama, yang membuat dadaku terasa seperti dipencet pelan-pelan.

Dia mengambil gelasnya.

“Berapa?”

“Nggak usah.”

“Vero—”

Dan aku harus berpegangan ke meja, karena itu pertama kalinya dia menyebut namaku, dan dia mengucapkannya seperti orang yang sudah lama menyimpannya dan baru hari ini mengeluarkannya untuk dipakai.

“Nggak usah,” kataku lagi, lebih pelan.


Selasa.

“Kamu nggak pernah jawab, ya, dulu.”

Dia sedang memasukkan roti ke saku. Berhenti.

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku pikir dia akan diam. Aku sudah menyiapkan diri untuk diam, sudah menyiapkan kalimat pengalihan supaya suasananya tidak canggung.

Tapi dia meletakkan tangannya di meja kasir — dua telapak, terbuka, seperti orang yang meletakkan senjata — dan berkata:

“Karena aku capek.”

“Aku tahu.”

“Bukan capek yang itu.” Dia menggosok belakang lehernya. “Capek yang bikin kata-katanya ilang. Aku nyusun jawabannya di jalan. Tiap hari. Pas pintunya kebuka, jawabannya nggak ada.”

“Nyusun jawaban apa?”

“Banyak.”

“Contohnya.”

Dia menatapku.

“‘Kamu udah sarapan belum.’”

“Itu kamu udah bilang.”

“Iya.” Jeda. “Butuh seratus dua puluh dua hari.”

Aku menutup mulutku dengan punggung tangan dan menoleh ke rak rokok, ke arah mana pun yang bukan ke arahnya, karena wajahku panas dan aku tahu leherku sudah merah duluan seperti biasa dan aku tidak mau dia melihatnya.

“Kenapa nggak kamu tulis aja?” kataku ke rak rokok.

“Udah.”

Aku menoleh. “Apa?”

“Aku tulis. Di hape.”

“Kamu—”

“Dua hari sebelum Sekar sakit.”

Dan dia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan, dan membalik layarnya ke arahku selama kira-kira satu setengah detik.

Satu baris. Empat kata.

Lalu layar itu berbalik lagi dan masuk ke saku dan dia sudah berjalan ke pintu seolah tidak baru saja meruntuhkan seluruh kemampuanku berdiri.

“Ardafa.”

Dia berhenti.

“Hati-hati di jalan.”

Dia menoleh.

“Iya,” katanya. “Kamu juga.”

Aku tidak ke mana-mana. Aku kasir. Aku berdiri di sini delapan jam.

Tapi dia mengucapkannya sambil menatapku, dan aku menerimanya seperti orang menerima sesuatu yang mahal.


Malamnya aku duduk di kos dengan kipas angin yang bunyinya seperti orang berdehem, dan melakukan hal yang sudah aku hindari selama seminggu penuh: aku berhenti berpura-pura.

Aku bukan penasaran.

Penasaran itu yang aku rasakan bulan lalu. Penasaran itu bikin kamu ingin tahu jawabannya, dan begitu tahu, selesai.

Aku sudah tahu jawabannya. Semuanya. Nama, kerjaan, adik, kaleng merah bekas biskuit.

Dan aku justru makin parah.

Aku memikirkan cara dia meletakkan roti di meja seperti barang pecah belah. Cara dia melepas tudung tepat setelah melewati pintu, bukan sebelum, bukan sesudah. Cara dia bilang “Sekar nggak bisa bosen” seperti itu fakta alam yang tidak bisa diganggu gugat. Cara dia menyimpan kertas belanja yang tidak ada gunanya sama sekali.

Aku memikirkan bahwa laki-laki itu tidur empat setengah jam sehari dan menyusun seluruh hidupnya di sekitar sarapan seorang anak kecil, dan tidak pernah sekali pun mengeluh, dan bahkan tidak menganggap itu layak diceritakan.

Aku menempelkan wajahku ke bantal dan mengerang.

“Aduh,” kataku ke bantal.

Kipas angin berdehem.

“Aduh, aduh, aduh.”

Besok aku harus masuk jam lima. Besok aku harus berdiri di belakang kasir dan menghadapi orang itu lagi dengan wajah yang harus terlihat normal.

Aku tidur jam sebelas dengan senyum yang tidak bisa aku hapus, dan itu memalukan, dan aku tidak peduli sama sekali.