← Shift Ketiga

Chapter Twenty One

Kolom Nama Wali

POV: Vero


Suratnya diserahkan padaku hari Rabu sore, dilipat empat, agak lembap di sudut karena sudah dibawa di dalam tas sejak Senin.

“Ini apa?”

“Baca.”

Pentas Seni Akhir Semester — Kelas 2B Sabtu, jam 08.00 Setiap murid diharap didampingi satu orang wali.

Aku membacanya dua kali.

“Kakakmu udah tahu?”

“Udah.”

“Terus?”

“Kakak kerja.”

“Sabtu?”

“Kakak kerja tiap malem, terus tidurnya siang.” Sekar menaikkan bahunya ke telinga. “Kalau Sabtu pagi Kakak dateng, nanti Kakak nggak tidur seharian.”

Aku menatap kertas itu.

“Kakakmu bilang gitu?”

“Nggak. Kakak bilang ‘nanti Kakak atur’.” Sekar mengambil kembali suratnya dan melipatnya rapi. “Tiap kali Kakak bilang ‘nanti Kakak atur’, artinya Kakak nggak tidur.”

Anak ini delapan tahun.

“Terus kamu mau aku—”

“Kak Vero libur hari Sabtu?”

“Nggak. Aku shift pagi, selesai jam satu.”

“Oh.” Dia memasukkan surat itu ke tas. “Yaudah.”

Dan dia berkata “yaudah” itu dengan cara yang membuatku ingin menutup toko dan memindahkan seluruh isi hidupku.


Aku menukar shift dengan Yoga.

Prosesnya memakan waktu empat menit dan terdiri dari aku berkata “Yoga” dan Yoga berkata “iya, udah, ambil aja, nggak usah cerita” sambil melambaikan tangan seperti orang mengusir lalat.

“Kamu nggak nanya buat apa?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Karena kalau aku nanya, kamu bakal jelasin, terus aku bakal keinget bahwa hidupku isinya cuma krat minuman.” Dia mengangkat krat. “Aku lagi jaga kesehatan mental.”

Bu Tuti menandatangani formulir tukar shift tanpa membaca isinya.

“Ini buat apa?”

“Acara sekolah, Bu.”

“Acara sekolah siapa?”

“Adiknya... adik pacar saya.”

Bu Tuti meletakkan pulpennya.

“Vero.”

“Iya, Bu.”

“Kamu bilang ‘adik pacar saya’ itu kayak orang ngelaporin barang titipan.” Beliau menyerahkan formulirnya kembali. “Nanti kalau kamu udah lebih berani, kamu ganti sebutannya sendiri.”


Sabtu jam setengah delapan, aku berdiri di depan gerbang SD dengan rok yang aku setrika dua kali dan perut yang bunyinya tidak wajar.

Sekar menemukanku dalam empat detik.

Dia berlari dari arah lapangan dengan kostum yang aku bantu jahit ulang hari Kamis — kostum gurita, karena tentu saja gurita, karena tangannya delapan dan umurnya delapan dan itu bukan kebetulan — dan berhenti tepat di depanku.

Salah satu tangan guritanya sudah lepas jahitannya lagi. Aku berjongkok dan menyimpulnya dengan karet gelang dari dalam tas.

“Kak Vero dateng.”

“Iya.”

“Beneran dateng.”

“Iya, Sekar.”

Dan dia berdiri di situ sambil melihat aku dari bawah ke atas, seperti sedang memeriksa apakah aku asli, lalu menarik tanganku ke arah lapangan tanpa berkata apa-apa lagi.


Kursi wali murid ditata di bawah tenda biru.

Aku duduk di baris ketiga, di antara ibu-ibu yang saling kenal satu sama lain dan yang berhenti bicara selama dua detik waktu aku duduk, cara yang sangat khas dan sangat universal.

Lalu perempuan di sebelahku menoleh.

“Ibunya Sekar, ya?”

Aku membuka mulut.

Dan yang keluar bukan “bukan”.

Yang keluar adalah bunyi yang tidak berarti apa-apa, semacam “ah”, karena otakku sedang sibuk memproses kata “ibunya” dan tidak sempat mengurus mulutku.

“Ibu Rina,” katanya, mengulurkan tangan. “Ibunya Bilqis.”

“...Vero.”

“Baru pertama kali kelihatan, ya.”

“Iya.”

“Biasanya yang dateng kakaknya.” Ibu Rina menepuk lututku. “Ya udah, bagus, akhirnya ada yang gantian. Kasihan anak muda itu, tiap acara dateng sambil merem-merem.”

Dan dari sana percakapan itu berjalan sendiri tanpa aku sempat menghentikannya.

Bahwa Sekar anaknya pintar tapi terlalu berani. Bahwa Bilqis pernah menangis karena pensilnya patah dan Sekar yang membela di depan Bu Guru. Bahwa kalau ada acara, Sekar selalu duduk paling depan dan selalu menoleh ke belakang setiap lima menit untuk memastikan kakaknya masih ada.

Aku mendengarkan semuanya dengan tangan terlipat di pangkuan dan tidak meluruskan satu pun.

Aku tahu itu salah.

Aku tahu, secara teknis, bahwa aku sedang duduk di kursi yang bukan milikku, mengambil sebutan yang bukan sebutanku, di depan orang-orang yang tidak berbohong pada siapa-siapa.

Aku juga tahu bahwa kalau aku meluruskannya, aku harus menjelaskan apa hubunganku, dan penjelasan itu akan memakan waktu, dan Sekar sedang berdiri di panggung dan sedang mencari-cari ke arah kursi.

Jadi aku mengangkat tanganku dan melambai.

Dan anak berkostum gurita itu menemukanku di baris ketiga, dan berhenti mencari, dan tersenyum lebar sekali sebelum musiknya mulai.


Yang paling parah terjadi setelah acara.

Bu Guru berdiri di depan pintu kelas dengan buku besar dan pulpen, mencatat kehadiran wali satu per satu.

“Sekar Pratama.”

“Hadir,” kata Sekar, walaupun yang ditanya bukan dia.

Bu Guru melihat ke arahku.

“Wali yang hadir?”

Dan aku, yang sudah menyusun kalimat “saya kenalannya” di kepala selama sepuluh menit terakhir, membuka mulut untuk mengucapkannya.

Sekar lebih cepat.

“Kak Vero.”

“Ini—” Bu Guru menyiapkan pulpennya. “Hubungannya apa dengan murid?”

Hening satu detik.

“Keluarga,” kata Sekar.

Bu Guru menulis.

Aku berdiri di situ dan tidak bisa berkata apa-apa, dan waktu Bu Guru berjalan ke murid berikutnya, aku menoleh ke bawah dan Sekar sudah menatap ke depan seperti tidak terjadi apa-apa.

“Sekar.”

“Hm.”

“Kamu tadi bilang keluarga.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Anak itu mengangkat bahu.

“Soalnya kalau aku bilang ‘pacarnya Kakak’, nanti Bu Guru nulisnya lama,” katanya. “Kolomnya kecil.”

Dan dia berjalan ke arah lapangan sambil menyeret salah satu tangan guritanya yang jahitannya sudah lepas, meninggalkan aku berdiri di depan pintu kelas dua B dengan mata yang basah dan tidak ada satu pun tisu di dalam tas.


Aku memfoto Sekar delapan belas kali hari itu.

Delapan belas. Aku menghitungnya di angkot dalam perjalanan pulang, satu per satu, dan sebagian besar buram karena anak itu tidak berhenti bergerak.

Yang paling bagus yang keempat belas: Sekar di atas panggung, tangan gurita terangkat semua, mulut terbuka lebar di tengah nyanyian, dan di belakangnya spanduk yang tulisannya sebagian tertutup kepala anak lain.

Aku menatap foto itu di angkot dan berpikir tentang seorang laki-laki yang sedang tidur di rumah petak nomor tiga setelah shift malam, yang tidak tahu bahwa hari ini adiknya memakai kostum gurita dan menyanyi di baris kedua, dan yang selama dua tahun datang ke acara seperti ini sambil merem-merem karena tidak ada orang lain yang bisa datang.

Aku mengetik pesan.

Menghapusnya.

Mengetik lagi.

Lalu aku menutup ponselku, memasukkannya ke tas, dan memutuskan bahwa foto-foto ini tidak akan aku kirim.

Aku akan menunjukkannya langsung.

Aku ingin melihat wajahnya waktu dia melihatnya, dan aku ingin melihatnya dari jarak dekat, dan aku sudah cukup lama menghabiskan hidupku melihat orang itu dari jarak sebelas meter.