← Shift Ketiga

Chapter Twenty Six

Yang Tidak Aku Tahu

POV: Ardafa


Aku tidak tidur hari Kamis.

Bukan karena kerja. Aku kerja seperti biasa, mengangkat seperti biasa, menandatangani buku serah terima seperti biasa. Aku tidak tidur hari Jumat siang setelah pulang, dan itu bagian yang tidak biasa.

Aku berbaring di kasur selama empat jam dengan mata terbuka, mencoba menemukan bagian yang salah.

Aku menyusun ulang seluruh kejadiannya. Aku bagus dalam menyusun ulang. Itu keahlianku.

Senin: aku menolak. Alasannya masuk akal. Aku bisa membelanya di depan siapa pun.

Selasa sampai Kamis: aku belum bilang.

Dan di situ aku selalu berhenti, karena bagian itu tidak terasa seperti kesalahan.

Aku belum bilang. Orang belum bilang setiap hari. Aku belum bilang ke Ibu soal Sekar yang demam bulan lalu. Aku belum bilang ke Raka soal motor yang remnya blong. Aku belum bilang ke siapa pun tentang hampir semua hal yang terjadi dalam hidupku selama dua tahun terakhir, dan tidak ada satu pun dari mereka yang marah.

Aku berbaring di kasur itu sampai jam dua siang dan sampai pada kesimpulan yang salah: bahwa yang perlu aku lakukan adalah menjelaskan hitungannya dengan lebih baik.


Sabtu pagi aku datang jam empat lima puluh dan mengetuk dua kali.

Pintunya terbuka.

“Pagi.”

“Pagi.”

Tidak ada yang aneh. Itu yang paling membuatku bingung. Dia tidak dingin, tidak sinis, tidak diam-diaman. Dia menyapaku seperti biasa dan menanyakan Sekar seperti biasa dan mengetik di mesin kasir seperti biasa.

Aku mengambil roti. Empat langkah ke kulkas. Sebelas langkah ke kasir.

“Vero.”

“Hm.”

“Aku mau jelasin.”

Dia meletakkan pistol barcode.

“Oke.”

Jadi aku menjelaskan.


Aku menjelaskan dengan rapi. Aku sudah menyusunnya sejak Jumat sore dan aku menyampaikannya seperti aku menyampaikan laporan muat truk.

Dua kolom jadwal. Jam berangkatku, jam masuknya. Jam pulangku, jam tidurnya. Tiga jam yang tersisa, dan ke mana tiga jam itu habis: makan, mandi, mencuci, Sekar.

Aku bahkan menyebutkan hari Sabtu, dan menjelaskan kenapa Sabtu tidak menyelamatkan apa pun karena ritel tidak mengenal Sabtu.

Aku menyelesaikannya dalam empat menit. Aku merasa itu penjelasan yang baik.

Vero mendengarkan seluruhnya tanpa memotong sekali pun.

Lalu dia bertanya:

“Terus?”

“Terus itu hitungannya.”

“Iya, aku ngerti hitungannya.” Dia bersandar ke rak rokok di belakangnya. “Aku nggak nanya hitungannya, Dafa. Aku nanya kenapa aku baru dengar hitungan itu hari ini.”

“Karena—”

Dan aku berhenti.

Karena jawaban yang ada di mulutku adalah karena hasilnya udah jelas, dan bahkan aku bisa mendengar betapa buruknya kalimat itu sebelum keluar.

Dia menunggu.

Dia menunggu dengan sabar, tanpa menolongku, dan aku berdiri di depan mesin kasir dengan susu stroberi di tangan dan menyadari untuk pertama kalinya bahwa aku tidak punya jawaban.

“Aku nggak tahu,” kataku.

“Nah.”

“Vero—”

“Itu jawaban yang bener, Dafa. Itu jawaban pertama yang bener sejak kemarin.”


Dia keluar dari belakang kasir.

“Boleh aku cerita sesuatu?”

“Boleh.”

“Bulan lalu kamu betulin rak gudang jam setengah dua belas malem terus mau pulang diam-diam. Dua minggu sebelum itu kamu nolak kopi yang aku bikinin dan bilang ‘nggak usah’. Bulan sebelumnya kamu bawain aku termos dan waktu aku tanya kamu bawa dari mana, kamu bilang ‘punya Bapak, masih bagus’ terus kamu ganti topik.”

“Itu semua—”

“Aku belum selesai.”

Aku diam.

“Kamu nggak pernah, satu kali pun, minta apa-apa dari aku.” Suaranya tidak naik. Itu yang membuatnya buruk. “Nggak sekali pun. Dalam tiga bulan.”

“Aku nggak butuh apa-apa.”

“Semua orang butuh, Dafa.”

“Aku bisa—”

“Aku tahu kamu bisa.” Dia mengangkat tangannya. “Itu bukan yang aku permasalahin. Aku nggak bilang kamu nggak becus. Kamu paling becus dari semua orang yang aku kenal, itu masalahnya.”

Aku tidak mengerti kalimat itu waktu itu.

Aku ingin mencatat bahwa aku betul-betul tidak mengerti. Aku berdiri di sana dan berpikir dia bilang aku terlalu becus, itu bukan tuduhan.

“Kamu ngurusin aku,” katanya. “Kamu ngurusin Sekar. Kamu ngurusin Ibu kamu di kota lain. Kamu ngurusin tetangga depan pakai uang di bawah toples gula.”

“Terus?”

“Terus aku ngurusin kamu apa?”

Dan di situ sesuatu di dalam kepalaku bergeser.

Bukan langsung terbuka. Cuma bergeser, seperti kardus yang selama ini menutupi sesuatu di rak dan baru bergerak satu senti.

“Kamu bikinin aku kopi,” kataku.

“Kamu nolak.”

“Aku ambil.”

“Kamu ambil setelah aku ngomong tiga kali.”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

“Aku nggak minta banyak,” katanya. “Aku cuma mau ada satu hal, satu aja, yang kamu nggak bisa selesaiin sendiri terus kamu bilang ke aku. Bukan setelah selesai. Waktu masih susah.”


Aku tidak bisa memberikan itu hari itu.

Aku ingin. Aku berdiri di sana dan aku betul-betul ingin, dan aku mencari-cari di dalam kepalaku sesuatu yang bisa aku serahkan — satu masalah, satu hal yang belum selesai, satu apa pun.

Dan yang aku temukan cuma daftar hal yang sudah aku selesaikan.

“Aku nggak punya,” kataku akhirnya.

Dan Vero — yang berdiri di tengah toko dengan seragam kebesaran dan poni yang jatuh ke matanya — menutup matanya dan menghela napas panjang, bukan dengan marah, tapi dengan sesuatu yang lebih mirip lelah.

“Aku tahu,” katanya. “Itu bukan salahmu.”

“Terus salah siapa?”

“Nggak ada.” Dia membuka matanya. “Kamu ngelakuin itu dua tahun sebelum aku ada dan nggak ada satu orang pun yang bilang berhenti. Kamu bahkan nggak tahu itu bisa berhenti.”


Kami baikan sebelum toko buka.

Itu perlu aku catat, karena kalau tidak dicatat orang akan mengira ini berakhir buruk.

Dia yang mendekat duluan. Dia meletakkan dahinya di dadaku dan aku memeluknya dan kami berdiri di tengah toko itu selama mungkin dua menit tanpa berkata apa-apa, dan aku bisa merasakan seluruh badannya turun satu tingkat waktu tanganku sampai di punggungnya.

“Aku nggak mau putus,” katanya ke kausku.

“Aku juga nggak.”

“Aku cuma capek.”

“Aku tahu.”

“Kamu nggak tahu.”

“Aku tahu sekarang,” kataku, dan itu setengah bohong dan kami berdua tahu.

Dia mengangkat wajahnya dan aku menunduk dan menciumnya, dan itu bukan ciuman yang menyelesaikan apa pun. Aku ingin jujur soal itu juga. Itu ciuman dua orang yang sama-sama tahu bahwa masalahnya masih di ruangan yang sama dengan mereka.

Di pintu, dia menahan lengan jaketku.

“Dafa.”

“Hm.”

“Kamu boleh berubah pikiran soal kerjaan itu.”

“Udah aku tolak.”

“Aku tahu.” Dia melepaskan lenganku. “Aku cuma mau kamu tahu bahwa kamu boleh.”

Aku berjalan ke pintu.

“Hati-hati di jalan,” katanya.

Dan aku berhenti di ambang pintu — di titik yang sama dengan tiga detik itu, berbulan-bulan lalu, waktu aku belum tahu namanya — dan menoleh, dan mengangguk, dan keluar.

Aku memikirkan kalimat itu sepanjang jalan pulang.

Aku cuma mau ada satu hal yang kamu nggak bisa selesaiin sendiri.

Dan aku memikirkannya lagi jam tiga sore, dan jam sepuluh malam, dan jam dua pagi di tangga besi yang sama.

Aku tetap tidak menemukan apa pun.

Aku baru menemukannya dua minggu kemudian, dan bukan aku yang menemukannya.