← Shift Ketiga

Chapter Thirty

Telepon Pertama

POV: Ardafa


Aku menelepon Pak Yudi hari Senin jam sembilan pagi.

Aku ingin mencatat berapa lama aku duduk di kasur sebelum menekan tombolnya, karena angkanya memalukan dan aku sudah memutuskan untuk tidak menyembunyikan apa pun lagi.

Dua puluh dua menit.

Dua puluh dua menit dengan ponsel di tangan dan nomor sudah terbuka di layar, dan aku menyusun kalimat pembuka delapan kali, dan semuanya jelek.

Karena aku belum pernah melakukan ini.

Aku pernah melamar kerja. Aku pernah minta lembur. Aku pernah menegosiasikan harga motor bekas sampai turun tiga ratus ribu.

Aku belum pernah menelepon seseorang untuk meminta sesuatu yang sudah aku tolak sendiri.


“Halo?”

“Pak Yudi. Ini Ardafa.”

“Eh, Dafa! Kenapa? Gudang kenapa?”

“Nggak, Pak. Gudang aman.”

“Terus?”

Dan di situ ada jeda dua detik yang, di dalam kepalaku, panjangnya seperti seminggu.

“Pak,” kataku. “Posisi yang kemarin itu masih ada?”

Hening di ujung sana.

“Yang koordinasi armada?”

“Iya, Pak.”

“Yang kamu tolak.”

“Iya, Pak.”

“Yang kamu tolak dua minggu lalu dan waktu saya tanya kenapa, kamu bilang ‘ada pertimbangan pribadi’ terus kamu diem kayak tembok.”

Aku menutup mata.

“Iya, Pak.”

Dan Pak Yudi tertawa. Keras. Sampai aku harus menjauhkan ponsel dari telinga.

“Wulan!” teriak beliau, jelas ke arah lain, jelas tanpa menutup mikrofon. “WULAN. Anak gudang yang diem itu nelepon.”

Aku dengar suara perempuan dari kejauhan, tidak jelas.

“Iya! Yang itu!” Pak Yudi kembali ke telepon. “Dafa, kamu tahu istri saya bilang apa waktu kamu nolak?”

“Nggak, Pak.”

“Dia bilang, ‘Pak, anak itu pasti nolak buat orang lain, bukan buat dirinya sendiri.’”


Posisinya masih ada.

Bukan karena keberuntungan. Karena tidak ada yang melamar. Karena posisi koordinasi armada di kantor logistik menengah bukan posisi yang diperebutkan orang, dan karena Pak Yudi sudah menahan formulirnya di laci selama dua minggu tanpa memberitahu siapa pun.

“Saya nggak buka lowongan,” kata beliau. “Saya nunggu.”

“Nunggu apa, Pak?”

“Nunggu kamu nelepon.”

“Kalau saya nggak nelepon?”

“Ya saya buka bulan depan.” Beliau menyeruput sesuatu. “Tapi Wulan taruhan lima puluh ribu bahwa kamu bakal nelepon dalam sebulan. Saya taruhan kamu nggak akan nelepon selamanya.”

“Bapak kalah.”

“Saya senang kalah.”


Yang aku lakukan berikutnya adalah hal yang, dua bulan lalu, tidak akan pernah terpikir olehku.

Aku tidak menyelesaikannya sendiri.

Aku menelepon Vero.

Jam sembilan lewat dua puluh, di jam kerjanya, yang seharusnya tidak boleh, dan dia mengangkatnya di dering keempat dengan suara berbisik dari balik rak.

“Dafa? Aku lagi kerja.”

“Aku tahu. Sepuluh detik.”

“Kenapa?”

“Posisinya masih ada.”

Hening.

“...apa?”

“Aku telepon Pak Yudi. Barusan. Posisinya masih ada dan dia nunggu aku.”

“KAMU TELEPON—”

“Vero, kamu lagi kerja.”

“AKU NGGAK PEDULI—” Lalu, lebih pelan, jelas sambil pindah ruangan: “Kamu telepon dia? Kamu? Minta?”

“Iya.”

“Kamu minta sesuatu?”

“Iya.”

“Ke orang?”

“Vero.”

“Aku cuma mau memastikan.”


Sisanya diselesaikan bukan oleh aku.

Aku ingin mencatat itu dengan jelas, karena kalau tidak dicatat, orang akan mengira aku yang menyelamatkan apa pun di sini. Bukan.

Yoga yang mengajukan diri untuk pindah ke slot pagi. Kali ini serius, tanpa menarik usulannya empat puluh detik kemudian.

“Aku udah mikir tiga hari,” katanya, menurut cerita Vero. “Aku bakal bangun jam empat dan aku bakal benci hidupku. Tapi aku udah tanda tangan.”

Dan waktu Vero bertanya kenapa, Yoga menjawab:

“Karena kamu nggak pernah nanya kenapa waktu aku tukar shift buat pentas anak itu.”

Bu Tuti yang menulis ulang formulirnya. Baris ketiga diganti seluruhnya: bukan penambahan personel, melainkan pemindahan internal. Yoga dari siang ke pagi. Vero dari pagi ke siang. Slot siang yang ditinggal Yoga diisi anak baru yang sudah ada — pegawai paruh waktu yang selama ini cuma dipanggil kalau ada yang cuti, dan yang ternyata sudah tiga bulan berharap dijadikan tetap.

Nol rekrutmen. Nol kuota. Nol wewenang area.

Pak Herman yang menemukannya, dan cara beliau menyampaikannya adalah dengan menaruh satu lembar kertas di meja kasir hari Senin sore, di sebelah gelas kopinya, dan pergi.

Di kertas itu, dengan tulisan tangan orang tua yang miring ke kanan, ada tiga baris:

Anak yang jaga siang, pindahkan ke pagi. Anak yang kadang-kadang dipanggil, jadikan tetap. Tidak ada orang baru. Tidak perlu izin area.

Vero mengejar beliau sampai trotoar dan beliau sudah menyeberang dan tidak menoleh.

Pak Bagas menandatanganinya hari Rabu, di ruang belakang, dalam waktu empat menit.

“Ini yang saya maksud,” kata beliau. “Kalau dari awal begini, kemarin saya udah tanda tangan.”

“Kemarin kami belum kepikiran, Pak,” kata Bu Tuti.

“Yang kepikiran siapa?”

Dan Bu Tuti — yang telah dua puluh dua tahun bekerja di ritel, yang memiliki wewenang penuh atas seluruh jawaban di ruangan itu — menunjuk ke arah kursi plastik di depan kaca, tempat seorang laki-laki berumur enam puluh tujuh tahun sedang membaca koran dan tidak menoleh sama sekali.


Yang berubah untukku dimulai dua minggu kemudian.

Aku: berangkat jam tujuh pagi. Kantor jam delapan. Pulang jam lima. Sabtu Minggu libur.

Vero: masuk jam satu siang. Pulang jam sembilan malam. Tidur jam sebelas seperti manusia. Bangun jam enam.

Dan di antara jam enam dan jam tujuh pagi — satu jam penuh, setiap hari, sebelum kantorku dan jauh sebelum tokonya — ada dapur rumah petak nomor tiga dengan tiga kursi plastik yang akhirnya cukup karena aku membeli satu lagi.

Kami kehilangan delapan menit.

Kami mendapat enam puluh.


Hari terakhir sebelum semuanya berubah, aku masih datang jam empat lima puluh.

Aku mengetuk dua kali di titik yang sama, sedikit di atas stiker promo susu yang sudah kedaluwarsa promonya sejak Februari.

Pintu terbuka.

“Pagi.”

“Pagi.”

Dan aku masuk dan berjalan tujuh langkah ke rak roti, dan empat langkah ke kulkas, dan sebelas langkah ke kasir, dan aku menghitung semuanya untuk terakhir kali.

“Empat belas ribu lima ratus.”

Aku mengulurkan uang pas. Selembar sepuluh ribu, selembar dua ribu, dua lembar seribu, satu koin lima ratus dari kaleng.

Tanganku menyentuh tangannya dan tidak satu pun dari kami menarik duluan.

“Ini yang terakhir,” katanya.

“Buat sekarang.”

“Iya. Buat sekarang.”

Aku memasukkan roti ke saku dan mengambil susunya dengan tangan kiri.

Di pintu, aku berhenti, dan berbalik.

“Vero.”

“Hm.”

“Makasih udah bukain pintu.”

Dia berdiri di belakang mesin kasir dengan poni yang jatuh ke matanya, dan tidak meniupnya kali ini, dan wajahnya sudah basah sebelum dia sempat menahannya.

“Hati-hati di jalan,” katanya.

“Iya,” kataku. “Kamu juga.”