← Shift Ketiga

Chapter Twenty Four

Yang Aku Hitung

POV: Ardafa


Aku menghitungnya untuk pertama kalinya di tangga besi belakang gudang, jam dua pagi, dua hari sebelum dia menanyakannya.

Aku bukan orang yang pintar. Aku ingin mencatat itu dengan jujur. Aku tidak lulus kuliah dan aku tidak bisa menjelaskan hal-hal rumit dengan kalimat yang bagus.

Tapi aku bisa menghitung jadwal. Itu keahlianku. Tiga tahun aku menyusun urutan muat truk di kepalaku sebelum menuliskannya, dan aku belum pernah salah lebih dari sekali.

Jadi malam itu, dengan kaleng minuman dingin di tangan dan surat penawaran terlipat di saku, aku melakukan yang biasa aku lakukan.

Aku menyusun jadwalnya.


Kalau aku ambil.

Berangkat jam tujuh pagi. Kantor jam delapan.

Pulang jam lima sore, sampai rumah jam enam. Masak. Antar Sekar ngaji. Makan bersama. Tidur jam sebelas malam seperti manusia.

Bangun jam enam pagi. Sarapan bersama Sekar — sarapan yang benar, telur, yang digulung, karena yang bulat terlalu polos. Antar dia ke sekolah sendiri, dengan motor, tanpa toples gula.

Sabtu libur. Minggu libur.

Aku menghitung itu semua di tangga besi dan aku sempat merasa ringan selama kira-kira empat puluh detik.

Lalu aku menghitung bagian yang satunya.


Vero.

Masuk jam lima pagi. Berarti berangkat dari kos jam empat lewat.

Selesai jam satu siang. Pulang jam setengah dua. Tidur jam dua siang karena orang yang bangun jam empat pagi harus tidur siang atau dia akan rusak dalam tiga minggu.

Bangun jam lima sore. Jam enam sudah harus makan. Jam sembilan malam sudah harus tidur lagi.

Aku menyusun dua kolom itu berdampingan di kepalaku, seperti menyusun jadwal dua truk yang harus lewat pintu yang sama.

Jam tujuh pagi aku berangkat. Dia sudah di toko dua jam.

Jam satu siang dia pulang. Aku di kantor.

Jam lima sore aku pulang. Dia baru bangun, dan aku baru sampai rumah jam enam, dan jam sembilan dia sudah harus tidur.

Tiga jam. Kalau semua lancar, kalau tidak ada lembur, kalau angkot tidak macet, kalau Sekar tidak ada PR yang harus ditemani.

Tiga jam, dan tiga jam itu adalah tiga jam yang harus dibagi dengan makan, mandi, dan seorang anak berumur delapan tahun yang berhak atas kakaknya.

Dan yang hilang — yang benar-benar hilang, yang tidak bisa diganti dengan apa pun — adalah delapan menit setiap pagi.


Aku ingin menjelaskan sesuatu di sini dengan hati-hati, karena kalau tidak dijelaskan, orang akan mengira aku sedang berlebihan.

Delapan menit itu bukan sekadar bertemu.

Delapan menit itu adalah satu-satunya waktu dalam dua puluh empat jam ketika kami berdua sedang tidak lelah, sedang tidak terburu-buru, dan sedang tidak ada orang lain di ruangan.

Toko belum buka. Yoga belum datang. Bu Tuti belum datang. Sekar masih tidur.

Delapan menit di mana dunia belum mulai dan cuma ada dua orang, satu mesin kasir, dan koin lima ratus.

Itu tempat kami hidup.

Kalau aku ambil posisi itu, aku akan pulang tidur malam seperti manusia, dan aku akan berpapasan dengan pacarku dua kali sehari selama tiga jam yang sudah habis dipakai untuk hal lain.

Kami tidak akan bertemu. Kami akan bersinggungan.

Aku duduk di tangga besi jam dua pagi dan menyadari bahwa selama tiga tahun aku membenci shift ketiga, dan bahwa dalam empat bulan terakhir jam kerja itulah satu-satunya alasan aku punya dia.


Raka menemukanku masih di situ setengah jam kemudian.

“Truk terakhir udah masuk.”

“Iya.”

Dia duduk di anak tangga bawah tanpa diminta.

“Kamu udah kasih jawaban ke Pak Yudi?”

“Belum.”

“Kenapa?”

Aku mengeluarkan surat penawaran itu dari saku, membukanya, dan menyerahkannya ke Raka.

Dia membacanya. Sampai bawah. Lalu membacanya lagi.

“Dafa, ini bagus.”

“Aku tahu.”

“Ini bagus banget.”

“Aku tahu.”

“BPJS. Cuti. Sabtu Minggu libur.” Dia mengangkat kertas itu. “Kamu tahu berapa lama aku nunggu yang kayak gini?”

“Aku tahu, Raka.”

“Terus kenapa kamu duduk di sini kayak orang kehilangan kambing?”

Aku mengambil kertas itu kembali dan melipatnya empat, dan memasukkannya ke saku.

“Kalau aku ambil ini,” kataku, “aku nggak akan ketemu dia lagi tiap pagi.”

Raka diam.

“Kalian pacaran,” katanya akhirnya. “Kalian bisa ketemu kapan aja.”

“Jam berapa?”

“Ya—” Dia berhenti. “Sore.”

“Jam lima sore dia baru bangun. Jam sembilan dia udah harus tidur. Di antara itu ada Sekar, ada makan, ada mandi, ada dia yang harus nyuci karena dia nggak sempet nyuci hari lain.”

“Sabtu Minggu.”

“Toko buka tiap hari, Raka. Ritel nggak kenal Sabtu.”

Raka mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Terus kamu mau gimana?”

Dan di situlah aku melakukan hal yang, kalau aku jujur, sudah aku putuskan sejak menit kedelapan di tangga besi itu, jauh sebelum aku selesai menghitung.

“Aku tolak.”


“Kamu gila.”

“Mungkin.”

“Dafa, kamu tolak kerjaan bagus buat—”

“Buat delapan menit. Iya.”

Raka berdiri.

Dia berjalan tiga langkah menjauh, berbalik, berjalan tiga langkah kembali, yang merupakan seluruh kosakata tubuhnya untuk kemarahan.

“Kamu udah bilang ke dia?”

“Belum.”

“Kamu bakal bilang?”

“Nanti.”

“Dafa.”

“Nanti, Raka.”

“Kamu nggak akan bilang.”

Aku tidak menjawab.

Raka berdiri di depanku di bawah lampu neon yang berkedip, dan menatapku dengan ekspresi yang belum pernah aku lihat di wajahnya selama tiga tahun.

“Kamu inget yang aku bilang bulan lalu?” katanya. “Soal kamu yang ngurusin orang sampai orangnya nggak pernah dibolehin ngurusin kamu balik?”

“Inget.”

“Ini itu.”

“Ini beda.”

“Ini persis itu, Dafa. Kamu lagi ngambil keputusan gede soal hidup kalian berdua, sendirian, jam dua pagi, di tangga besi.” Dia menunjuk suratnya. “Dan kamu udah mutusin sebelum kamu selesai ngitung.”

Aku membuka mulut untuk membantah.

Aku tidak punya bantahan.


Dua hari kemudian aku sampai di toko jam empat lima puluh dan mengetuk dua kali di titik yang sama.

Pintunya terbuka sebelum aku selesai mengetuk yang kedua.

Dia berdiri membelakangi aku, di depan rak permen yang sudah rapi, dengan tangan yang berhenti di tengah gerakan.

“Dafa,” katanya. “Kamu mau ngitung apa semalem?”

Aku berhenti melangkah.

Ada satu setengah detik di mana aku bisa mengatakan yang sebenarnya.

Aku bisa bilang: aku ngitung jadwal kita, dan hasilnya tiga jam, dan aku nggak mau tiga jam. Aku bisa bilang: aku belum mutusin, ayo kita itung bareng.

Yang aku bilang adalah:

“Nggak apa-apa. Aku udah selesai ngitung.”

Dia berbalik.

“Terus?”

Dan aku menatap perempuan itu — yang poninya jatuh ke matanya, yang tangannya masih memegang sebungkus permen yang tidak perlu dipindahkan, yang tiga hari lalu menangis di depan mesin kasir karena senang aku akan bisa sakit dan izin — dan aku memilih kalimat yang paling gampang.

“Nanti aku cerita,” kataku.

Dia menatapku dua detik lebih lama dari yang nyaman.

Lalu dia mengangguk, dan tersenyum, dan berjalan ke belakang kasir.

“Empat belas ribu lima ratus,” katanya.