← Shift Ketiga

Chapter Fourteen

Interogasi Jam Satu Pagi

POV: Ardafa


Gudang jam satu pagi punya suara sendiri.

Kipas industri di langit-langit. Lampu neon yang satu di ujung selalu berkedip dan tidak pernah diganti karena tidak ada yang merasa itu tugasnya. Bunyi kardus digeser di lantai semen. Kalau sepi betul, kamu bisa dengar truk di jalan tol dua kilometer dari sini.

Aku sudah tiga tahun di sini dan tidak pernah menganggap tempat ini menyenangkan atau menyebalkan. Tempat ini cuma ada, seperti hari Senin.

Malam itu Raka menemukanku sedang menyusun krat sambil bersiul.

Dia berhenti berjalan.

“Berhenti.”

“Apa.”

“Kamu barusan bunyi.”

“Aku nggak bunyi.”

“Kamu SIUL, Dafa.” Dia meletakkan clipboard di atas tumpukan. “Tiga tahun. Tiga tahun aku kerja sama kamu dan kamu nggak pernah bunyi selain napas.”

“Kamu ngitung napas aku?”

“Iya! Itu hiburan aku!”


Yang terjadi berikutnya adalah kesalahanku sendiri dan aku tidak akan berpura-pura sebaliknya.

Aku seharusnya diam. Diam itu keahlianku. Aku punya tiga tahun rekam jejak yang sempurna dalam hal tidak menceritakan apa pun kepada siapa pun.

Tapi malam itu aku sudah tidur delapan jam dua hari berturut-turut, dan otakku — yang selama ini terlalu lelah untuk memproduksi kalimat — ternyata punya persediaan yang menumpuk selama bertahun-tahun dan sedang mencari jalan keluar.

Raka menawarkan jalan keluar itu.

“Siapa namanya?”

“Vero.”

Raka duduk di krat.

Dia duduk seperti orang yang tahu ini akan lama, dan dia benar, dan aku tidak menyadarinya sampai empat puluh menit kemudian.


Aku tidak akan menuliskan semuanya di sini.

Sebagian karena aku tidak ingat persis apa saja yang aku katakan. Sebagian lagi karena kalau aku menuliskannya, aku harus mengakui bahwa aku, laki-laki dewasa dua puluh lima tahun, menghabiskan empat puluh menit waktu kerja untuk menjelaskan kepada rekan kerjaku tentang cara seseorang meniup poninya.

Tapi beberapa bagian yang aku ingat:

Aku menjelaskan soal jepit rambut. Keempatnya. Termasuk teori tentang yang biru, yang ternyata benar, dan aku menyebutkan “ternyata benar” itu dengan nada yang menurut Raka “kayak orang menang tender”.

Aku menjelaskan soal kalender pulpen merah. Raka bertanya sejak hari keberapa. Aku bilang kelima. Raka bilang, “Berarti kamu kalah,” dan aku bilang, “Iya,” dan aku mengucapkan “iya” itu dengan cara yang jelas-jelas tidak terdengar seperti kekalahan.

Aku menjelaskan soal dia yang memindahkan rak roti untuk mengujiku. Raka tertawa sampai harus berpegangan ke rak besi.

Aku menjelaskan soal kopi yang dia berikan gratis dan tidak mau dibayar, dan bagaimana aku baru tahu belakangan — dari Yoga, yang sama sekali tidak bisa memegang rahasia — bahwa dia membayarnya sendiri dari uangnya.

Di titik itu Raka berhenti tertawa.

“Ulangi.”

“Apa?”

“Yang kopi.”

“Dia bayarin sendiri. Tiap hari. Sepuluh ribu.”

Raka menatapku lama sekali.

“Kamu harus nikahin orang itu.”

“Kami baru pacaran seminggu.”

“Aku nggak nanya.”

“Raka.”

“Aku serius.” Dia menunjuk aku dengan kaleng. “Kamu tahu berapa banyak orang yang mau ngeluarin sepuluh ribu tiap hari buat orang yang nggak pernah ngomong ke dia?”

“Nggak tahu.”

“Nol. Jawabannya nol.” Dia menyeruput. “Aku pernah pacaran sama orang yang nggak mau minjemin charger.”

“Itu yang kamu ceritain tiap bulan?”

“Itu bukan cerita, itu luka.”


Jam dua, kami istirahat di tangga besi belakang. Raka membawa dua kaleng minuman dingin dan menyerahkan satu tanpa diminta, yang merupakan bentuk kasih sayang tertinggi yang bisa dia ekspresikan.

“Boleh nanya serius?”

“Hm.”

“Kamu udah cerita ke dia soal—” Dia mengangkat kaleng ke arah gudang. “Soal ini.”

“Dia tahu aku kerja di sini.”

“Bukan itu.” Raka menyeruput. “Kamu udah cerita soal kamu nggak pernah minta tolong?”

Aku menoleh.

“Apa maksudnya?”

“Dafa.” Dia meletakkan kalengnya di anak tangga. “Tiga tahun lalu kamu kena tipes. Kamu masuk kerja. Aku tanya kenapa nggak izin, kamu bilang nanti nggak ada yang gantiin. Aku bilang aku bisa gantiin. Kamu bilang ‘nggak usah’.”

“Itu udah lama.”

“Terus dua tahun lalu adik kamu masuk IGD malem-malem dan kamu nggak nelepon siapa-siapa. Kamu naik ojek. Jam dua pagi. Kamu baru cerita ke aku tiga minggu kemudian, dan kamu ceritanya kayak orang ngelaporin cuaca.”

Aku tidak menjawab.

“Aku nggak lagi ngomelin kamu,” katanya. “Aku cuma mau bilang: orang kayak kamu itu kalau punya pacar, ada satu hal yang bakal jadi masalah. Dan itu bukan kamu jarang punya waktu.”

“Terus apa?”

“Kamu bakal ngurusin dia sampai dia ngerasa dijagain seumur hidup,” kata Raka. “Terus suatu hari dia bakal sadar bahwa dia nggak pernah sekali pun dibolehin jagain kamu balik.”

Kipas industri berputar di atas kami.

“Dan waktu itu terjadi,” lanjutnya, “dia bakal marah. Dan kamu bakal bingung. Karena menurut kamu kamu nggak ngelakuin apa-apa yang salah.”

Aku menatap kaleng di tanganku.

“Dia bikinin aku kopi,” kataku.

“Nah.”

“Dan aku bilang ‘nggak usah’.”

Raka menepuk bahuku sekali, berdiri, dan mengambil clipboard-nya.

“Truk terakhir jam tiga,” katanya. “Sisanya bukan urusanku.”


Aku memikirkan itu sampai jam empat.

Bukan dengan cemas. Aku belum cukup pintar untuk cemas soal itu waktu itu. Aku memikirkannya seperti orang memikirkan suara aneh di mesin motor: dicatat, disimpan, ditunda.

Yang jauh lebih mendesak di kepalaku adalah bahwa dalam lima puluh menit pintu itu akan terbuka.


Jam empat empat puluh, aku sampai.

Dia sudah menunggu di balik pintu — tidak berpura-pura merapikan rak permen, tidak berpura-pura mengelap etalase. Berdiri saja di sana, tangan di tombol, menungguku menyeberang.

Pintu terbuka sebelum aku sampai trotoar.

“Kamu telat.”

“Aku empat puluh.”

“Kamu bilang empat puluh, sekarang empat puluh satu.”

“Angkotnya—”

“Ngetem. Iya. Sekar bilang alasan itu bohong.”

Aku berhenti di ambang pintu.

“Kamu ngobrol sama adikku?”

“Dia yang nyapa aku duluan waktu dianter tetangga kemarin sore.” Dia menarik lenganku masuk. “Dan dia kasih aku daftar.”

“Daftar apa?”

“Daftar bohong kamu. Ada tujuh. Dia tulis di kertas.”

Aku memejamkan mata.

“Nomor satu, angkot ngetem,” katanya, dan dia jelas sudah menghafalnya. “Nomor dua, ‘Kakak udah makan’. Nomor tiga, ‘nggak capek’. Nomor empat—”

“Cukup.”

“Nomor empat, ‘lagi nggak mikirin apa-apa’.”

Aku membuka mata.

Dia berdiri di depanku dengan tangan di pinggang dan wajah orang yang sudah menang sebelum pertandingan dimulai, dan poninya jatuh ke matanya, dan dia meniupnya, dan poni itu jatuh lagi ke tempat yang sama.

Aku maju satu langkah dan membetulkannya dengan jari.

“Curang,” katanya, suaranya langsung habis.

“Kamu duluan yang bawa daftar.”

“Itu bukan curang, itu riset.”

“Ini juga riset.”

“Riset apa?”

“Riset berapa lama kamu bisa marah kalau aku pegang poni kamu.” Aku melihat jam di dinding. “Sembilan detik. Rekor kemarin dua belas.”

Dan dia memukul dadaku dengan kedua tangan sambil mengeluarkan bunyi yang tidak ada di dalam kamus bahasa Indonesia mana pun.