Chapter Thirty One
Nama-Nama
POV: Vero
Hari terakhirku di shift pagi jatuh hari Sabtu.
Aku tidak memberitahu siapa pun. Bukan karena ingin dramatis — karena aku pikir tidak ada yang perlu tahu. Ini cuma pergantian jam. Aku masih di toko yang sama, dengan mesin kasir yang sama, dengan seragam yang sama.
Yoga membocorkannya hari Kamis ke tiga orang.
Tiga orang itu membocorkannya ke seluruh jalan.
Jam lima lewat sepuluh, Bu Rohmah datang.
Bu Rohmah beli dua bungkus kopi sachet dan satu roti tawar setiap pagi selama dua tahun, selalu bayar pas, selalu bilang “makasih ya, Neng” dengan nada yang sama.
Hari itu beliau menaruh satu kotak plastik di meja kasir.
“Ini apa, Bu?”
“Bikin sendiri.”
“Bu, nggak usah—”
“Sudah, ambil.” Beliau mendorong kotak itu. “Kata Mas Yoga kamu pindah siang.”
“Masih di sini, Bu. Cuma jamnya beda.”
“Ya tapi Ibu ke sininya pagi.”
Dan beliau berkata itu dengan sangat biasa, sambil merapikan tas belanjanya, seperti orang yang menyampaikan informasi cuaca.
Aku membuka kotak itu setelah beliau pergi.
Isinya lemper. Delapan.
Jam enam, Pak Sopian.
Pak Sopian adalah supir angkot jurusan terminal–pasar yang setiap pagi beli satu botol teh dingin dan berdiri di depan kulkas selama dua menit walaupun dia selalu mengambil yang sama.
“Neng.”
“Iya, Pak?”
“Bener pindah?”
“Pindah jam, Pak. Masih di sini.”
Pak Sopian mengangguk. Meletakkan uangnya. Mengambil tehnya.
Lalu berhenti di pintu.
“Neng tahu nggak,” katanya tanpa berbalik, “saya tuh sebenernya nggak suka teh dingin.”
Aku berhenti mengetik.
“Terus kenapa beli, Pak?”
“Ya biar bisa masuk.” Beliau mengangkat bahu. “Rumah saya sepi. Anak-anak udah pada jauh. Saya berangkat jam setengah enam dan sampai malem nggak ada yang manggil nama saya.”
Beliau membuka pintu.
“Di sini ada yang manggil.”
Dan beliau keluar dan naik ke angkotnya dan pergi, dan aku berdiri di belakang mesin kasir selama beberapa detik dengan tangan yang berhenti di tengah udara.
Jam tujuh, tiga anak SMP yang setiap pagi beli satu roti untuk dibagi bertiga.
Jam setengah delapan, Mbak Nur dari salon sebelah yang selalu ngutang seribu dan selalu bayar besoknya.
Jam delapan, Pak Satpam gedung seberang yang namanya Pak Tarno dan yang aku tahu punya tiga anak dan satu cucu dan satu lutut yang sakit kalau hujan.
Jam sembilan, ibu-ibu yang aku tidak tahu namanya, yang selalu beli popok ukuran M, dan yang hari itu beli ukuran L untuk pertama kalinya.
“Udah gede, Bu?”
“Udah, Neng. Cepet banget.”
Dan aku memasukkan popok itu ke kantong dan menyadari bahwa aku sudah dua tahun menonton seorang anak tumbuh dari nomor ukuran di mesin kasir, dan bahwa aku tidak akan pernah melihat anak itu.
Aku menangis dua kali hari itu.
Pertama jam sepuluh, di gudang, selama empat puluh detik, lalu berhenti karena ada pengiriman.
Kedua jam dua belas, dan itu bukan salahku.
Bu Tuti masuk jam dua belas kurang membawa map plastik yang, seperti biasa, tidak pernah beliau buka.
“Vero.”
“Iya, Bu.”
“Kamu tahu nggak Ibu dulu shift apa?”
“Nggak, Bu.”
“Pagi.” Beliau duduk di kursi lipat. “Enam tahun. Toko lama, di dekat stasiun.”
“Terus pindah?”
“Terus jadi supervisor, dan supervisor itu jamnya kantor. Delapan sampai lima.” Beliau melipat tangannya. “Naik jabatan. Gaji naik. Semua orang ngucapin selamat.”
Beliau menatap ke arah rak permen.
“Enam bulan pertama Ibu nangis di angkot,” katanya. “Tiap pagi.”
“Kenapa, Bu?”
“Karena nggak ada yang bilang bahwa yang paling susah dari pindah shift itu bukan jamnya.” Bu Tuti menoleh ke arahku. “Yang paling susah itu kamu jadi orang asing di jam yang dulu kamu punya.”
Aku meletakkan pistol barcode.
“Bu.”
“Iya?”
“Bu Tuti jangan ngomong gitu sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena saya masih ada empat puluh menit lagi dan saya harus ngadepin pelanggan.”
Bu Tuti berdiri, menepuk bahuku sekali, dan berjalan ke ruang belakang.
“Empat puluh menit itu lama, Vero,” kata beliau dari pintu. “Nangis aja dulu tiga.”
Jam satu kurang lima, Pak Herman masih di kursi plastik depan kaca.
Beliau tidak pergi jam sebelas seperti biasa. Beliau duduk di situ sejak jam setengah lima pagi, hampir delapan jam, dengan satu gelas kopi yang sudah dingin sejak lama dan koran yang sudah dibaca sampai halaman iklan baris.
Aku berjalan ke depan dan duduk di kursi sebelahnya.
Kursi nomor dua. Kursi kencan pertamaku.
“Pak.”
“Hm.”
“Bapak nungguin?”
“Nggak.” Beliau melipat korannya. Empat lipatan. “Saya duduk.”
Kami diam beberapa detik. Di luar, matahari sudah tinggi dan jalanan sudah panas dan tidak ada satu pun yang mirip dengan jam empat lima puluh.
“Pak.”
“Hm.”
“Bapak dulu kenapa nggak pernah bilang apa-apa?” kataku. “Empat bulan. Bapak tahu semuanya dari awal. Bapak tahu dia kerja malem, Bapak tahu saya ngitung hari, Bapak tahu susunya penyok.”
“Iya.”
“Kamu nggak pernah jawab, ya, Pak.” Aku menoleh ke arah beliau. “Bapak lihat semuanya dan Bapak diem aja.”
Pak Herman meletakkan gelasnya.
“Nak Vero,” kata beliau. “Kalau saya bilang dari awal, kamu bakal percaya sama saya.”
“Terus?”
“Terus kamu bakal berhenti ngeliat sendiri.”
Beliau mengetuk pinggiran gelasnya sekali dengan kuku.
“Orang tua itu kerjaannya bukan ngasih tahu,” kata beliau. “Kerjaannya nunggu sampai ditanya. Kalau saya kasih tahu duluan, itu bukan bantuan. Itu ngambil.”
Aku menatap ke jalan.
“Bapak besok masih ke sini?”
“Tiap pagi.”
“Saya udah nggak pagi lagi.”
“Saya tahu.” Pak Herman berdiri, merapikan celananya, dan mengambil korannya dari meja. “Tapi saya tetap ke sini, dan Mas Yoga tetap salah bikin kopi, dan saya tetap minum. Itu namanya kebiasaan, bukan kesetiaan. Jangan dibesar-besarkan.”
Beliau berjalan ke pintu.
“Pak Herman.”
Beliau berhenti.
“Makasih, Pak.”
Dan laki-laki berumur enam puluh tujuh tahun itu berdiri di ambang pintu minimarket dengan koran terlipat empat di tangannya, dan tidak berbalik, dan berkata:
“Anak itu berhenti tiga detik di pintu ini. Saya lihat. Saya sudah enam puluh tujuh tahun dan saya belum pernah lihat orang berhenti selama itu untuk sesuatu yang tidak dia inginkan.”
Beliau keluar.
“Hati-hati di jalan, Pak,” kataku ke pintu yang sudah menutup.
Jam satu tepat, aku menyerahkan laci uang ke Yoga.
Kami menghitungnya bersama seperti biasa, dua kali seperti biasa, dan angkanya cocok seperti biasa.
Yoga menutup laci.
“Besok aku jam lima,” katanya.
“Iya.”
“Aku bakal bangun jam empat.”
“Iya.”
“Aku bakal benci hidupku.”
“Iya.”
Dia menatap mesin kasir itu selama beberapa detik.
“Vero.”
“Hm.”
“Kalau ada yang ngetuk pintu jam empat lima puluh,” katanya, “aku harus bukain?”
Aku mengambil tasku dari bawah meja.
“Nggak akan ada,” kataku. “Dia berangkat jam tujuh sekarang.”
“Iya, tapi kalau ada.”
“Yoga.”
“Aku cuma nanya prosedur.”
Aku berjalan ke pintu, lalu berbalik.
“Bukain,” kataku. “Selalu bukain.”
Dan aku keluar dari toko itu jam satu lewat dua menit, di bawah matahari, di jam yang bukan jamku, untuk pertama kalinya dalam dua tahun.
- 1 Hari ke Seratus Delapan Belas
- 2 Empat Kata
- 3 Teori Nomor Tujuh
- 4 Tiga Detik
- 5 Stok Roti Sobek
- 6 Sebelas Sentimeter
- 7 Arah yang Salah
- 8 Saksi Berumur Delapan Tahun
- 9 Kasihan
- 10 Tanpa Ketukan
- 11 Orang Ini Siapa
- 12 Kursi Plastik Nomor Dua
- 13 Gudang Belakang
- 14 Interogasi Jam Satu Pagi
- 15 Ujian Masuk
- 16 Negosiasi Gagal
- 17 Rekaman Kamera Tiga
- 18 Kaus yang Kebesaran
- 19 Namanya Wulan
- 20 Kue yang Miring
- 21 Kolom Nama Wali
- 22 Delapan Belas Foto
- 23 Kabar Bagus
- 24 Yang Aku Hitung
- 25 Sendirian di Tangga Besi
- 26 Yang Tidak Aku Tahu
- 27 Komite
- 28 Izin
- 29 Ditolak di Baris Ketiga
- 30 Telepon Pertama
- 31 Nama-Nama reading
- 32 Jam Empat Lima Puluh