← Shift Ketiga

Chapter Twenty

Kue yang Miring

POV: Ardafa


Aku bukan orang yang bisa membuat kejutan.

Ini bukan kerendahan hati. Ini data. Aku sudah dua puluh lima tahun dan seluruh riwayat kejutanku terdiri dari: satu kali membelikan Sekar sepeda bekas yang ternyata remnya blong, dan satu kali membuatkan Ibu kue ulang tahun yang tidak matang di tengah dan aku tidak sadar sampai dipotong di depan tamu.

Jadi waktu Yoga menyebutkan tanggal 14 di depanku sambil pura-pura membetulkan label harga, aku langsung tahu ini akan berakhir buruk.

“Dia nggak pernah ngerayain,” kata Yoga. “Dua tahun aku kerja bareng, dua kali ulang tahunnya lewat gitu aja. Dia beliin donat buat kita semua terus pulang.”

“Dia yang beliin?”

“Iya.”

“Di hari ulang tahunnya sendiri?”

“Iya.” Yoga menggeser label yang sudah lurus. “Menurut kamu itu normal?”


Rencananya sederhana. Aku menyusunnya seperti menyusun jadwal muat truk.

Satu: kue. Beli di toko kue dekat pasar, pesan H-2, ambil jam empat pagi tanggal 14 sebelum ke toko.

Dua: Sekar. Dia yang bawa lilin. Sudah dilatih tiga kali di rumah.

Tiga: Bu Tuti mematikan lampu utama jam 04.52. Yoga di sakelar cadangan.

Empat: Pak Herman tidak diberi tugas apa pun karena beliau menolak diberi tugas, tapi beliau berjanji akan “duduk di tempat biasa dan tidak merusak apa pun”.

Rencana ini gagal di poin satu, jam empat lewat sepuluh pagi.


Toko kue itu belum buka.

Aku berdiri di depan rolling door yang tertutup dengan kertas pesanan di tangan dan membaca ulang tulisannya tiga kali seperti orang yang berharap huruf-hurufnya berubah.

Pengambilan: 14/—, jam 06.00.

Enam. Bukan empat.

Aku sudah membaca angka itu dua hari lalu dan otakku, yang sudah tiga tahun terbiasa membaca angka gudang di bawah lampu neon jam dua pagi, membacanya sebagai empat.

Aku menelepon nomor yang tertera. Tidak diangkat. Aku mengetuk rolling door. Tidak ada yang keluar.

Jam empat lewat dua puluh, aku berdiri di trotoar depan toko kue yang tutup, dengan lilin di saku jaket, empat puluh menit dari jam 04.50, dan tidak punya kue.


Yang tersedia di kota ini jam empat pagi ada tiga.

Pertama, tukang bubur di ujung gang.

Kedua, warung nasi yang buka jam tiga untuk sopir truk.

Ketiga — dan ini yang aku pilih, dan aku ingin mencatat bahwa aku memilihnya dengan sadar dan dalam kondisi berpikir jernih — minimarket tempat pacarku bekerja.


Aku mengirim pesan ke Yoga jam empat tiga puluh.

Aku: Ada kue di toko? Yoga: kue apa Aku: Kue. Yoga: ada bolu gulung, ada lapis, ada yg bentuk pisang Aku: Yang paling mirip kue ulang tahun. Yoga: dafa Yoga: dafa jangan bilang Aku: Iya. Yoga: ASTAGA

Jam empat empat puluh dua, Yoga menemuiku di pintu belakang dengan sebuah kotak plastik berisi bolu gulung rasa cokelat yang harganya dua puluh tiga ribu lima ratus dan yang, menurut label, diproduksi di kota lain.

“Ini yang paling gede.”

“Oke.”

“Dafa, ini bolu gulung.”

“Aku tahu.”

“Ini bolu gulung dari rak roti. Yang tiap hari dia yang nata.”

“Aku tahu.”

Yoga menatap kotak itu, lalu menatapku.

“Kamu mau kasih dia kue yang dia sendiri yang nata pagi ini?”

Aku berdiri di lorong belakang minimarket dengan lilin di saku dan menyadari, dengan sangat jernih dan sangat terlambat, bahwa ini kemungkinan besar adalah kejutan ulang tahun paling buruk yang pernah dirancang oleh manusia dewasa.

“Iya,” kataku.


Sekar datang jam empat empat puluh delapan, digendong tetangga depan, setengah tidur, memegang kantong plastik berisi lilin angka.

Bu Tuti sudah di posisi sakelar.

Pak Herman sudah duduk di tempat biasa dengan kopi yang belum dibayar.

Dan jam empat lima puluh, aku mengetuk kaca — dua kali, di titik yang sama, sedikit di atas stiker promo susu yang sudah kedaluwarsa promonya sejak Februari — karena hari ini aku ingin dia membuka pintu untukku seperti biasa.

Pintu terbuka.

“Pagi,” katanya.

Lampu mati.

Dan semuanya langsung berantakan.

Lilinnya tidak mau menyala karena Sekar sudah memegangnya terlalu lama dan sumbunya patah. Bu Tuti menyalakan senter ponsel dan mengarahkannya ke wajah Vero sehingga bukan seperti perayaan tapi seperti interogasi. Yoga mulai menyanyi di nada yang salah dan Sekar menyusul di nada yang berbeda lagi, dan hasilnya adalah bunyi yang tidak boleh diperdengarkan ke siapa pun.

Dan aku berdiri di tengah toko yang gelap, memegang kotak plastik berisi bolu gulung dua puluh tiga ribu lima ratus yang miring karena kotaknya terlalu sempit.

“Selamat ulang tahun,” kataku.

Vero tidak bergerak.

Senter Bu Tuti masih di wajahnya, jadi aku bisa melihat semuanya dengan sangat jelas: mata yang melebar, mulut yang terbuka sedikit, dan lalu — pelan, seperti sesuatu yang runtuh dari dalam — wajah yang berubah bentuk sepenuhnya.

Dia menangis di tengah tokonya sendiri jam empat lima puluh pagi dengan lampu mati dan senter ponsel di wajahnya.

“Bu, senternya,” bisikku.

“Oh! Maaf.”

Gelap.

Lalu Yoga menyalakan lampu dan semuanya terang lagi dan Vero sedang berdiri di sana dengan kedua tangan menutup mulutnya dan bahu yang naik turun.

“Ini bolu gulung,” katanya, tercekik.

“Iya.”

“Ini dari rak tiga.”

“Iya.”

“Aku yang nata pagi ini.”

“Iya.”

Dan dia menangis lebih keras.


Sekar yang menyelamatkan situasi, seperti biasa, dengan cara yang tidak dia rencanakan.

“Kak Vero jelek banget kalau nangis.”

“SEKAR.”

“Kenapa? Emang jelek.” Anak itu menarik ujung kaus Vero. “Tapi bolunya enak, kok. Aku udah nyobain tadi di rumah.”

Vero berhenti menangis untuk berbalik ke aku.

“Kamu beliin dua?”

“Nggak.”

“Terus—”

“Dia nyobain yang ini,” kataku. “Di lorong belakang. Ujungnya.”

Vero membuka kotak itu.

Salah satu ujung bolu gulungnya sudah hilang sekitar tiga sentimeter, dengan bekas gigitan anak berumur delapan tahun.

Dan perempuan itu tertawa — tertawa sampai harus berpegangan ke rak, sampai Bu Tuti ikut tertawa, sampai Pak Herman menurunkan korannya untuk melihat.


Yang terjadi setelah semua orang pulang aku tidak akan ceritakan dengan detail.

Yang bisa aku catat: toko tutup untuk stock opname setengah jam. Bu Tuti yang mengumumkannya. Bu Tuti juga yang menutup rolling door dari luar sambil berkata “Ibu nggak lihat apa-apa” dengan suara yang bisa didengar dari seberang jalan.

Dan aku, di dalam toko yang lampunya sudah menyala penuh, di depan rak roti yang dia tata sendiri, dengan bolu gulung yang ujungnya sudah digigit di meja kasir.

“Kuenya miring,” katanya.

“Iya.”

“Kamu salah baca jam.”

“Iya.”

“Kamu nyuruh Sekar bangun jam empat.”

“Iya.”

“Dafa.”

“Hm.”

“Ini ulang tahun paling bagus yang pernah aku punya.”

Aku menariknya.

Dan ini bukan seperti di kanopi bocor, dan bukan seperti di gudang belakang, dan bukan seperti di dapur rumahku.

Tangannya naik ke tengkukku dan menarikku turun, dan aku mengangkatnya sampai kakinya lepas dari lantai, dan meja kasir menahan sisanya. Aku merasakan jarinya mencengkeram rambut belakangku dan aku merasakan dia menarik napas lewat hidung karena dia tidak berniat berhenti, dan aku menciumnya seperti orang yang sudah menunggu seratus dua puluh delapan pagi untuk berhenti sopan.

Ada bunyi sesuatu jatuh. Kemungkinan besar pistol barcode.

Aku tidak memeriksanya.

Waktu kami berhenti, dahinya di dadaku dan napasnya tidak teratur dan kedua tangannya masih memegang kausku di depan.

“Toko buka lima menit lagi,” bisiknya.

“Aku tahu.”

“Aku nggak bisa berdiri.”

“Aku tahu.”

“Ini salah kamu.”

“Iya.”

Aku membetulkan jepit kuningnya yang sudah miring parah, menyelipkan poninya ke belakang telinga, dan menunduk untuk mencium keningnya.

“Selamat ulang tahun,” kataku lagi.

Dan waktu aku sampai di pintu, dia sudah kembali ke belakang kasir dengan seragam yang belum sepenuhnya rapi dan wajah yang tidak akan pulih sebelum siang.

“Dafa.”

Aku menoleh.

“Hati-hati di jalan.”

“Iya,” kataku. “Kamu juga.”