Chapter Twenty Five
Sendirian di Tangga Besi
POV: Vero
Aku bertemu Raka secara tidak sengaja, dan aku ingin mencatat itu karena kalau tidak dicatat, kedengarannya seperti aku mencari-cari.
Hari Kamis. Aku mengantar termos Ardafa yang tertinggal di toko — termos bekas ayahnya, yang aku tidak berani titipkan ke siapa pun — dan aku sampai ke pos gudang jam setengah tujuh malam, setengah jam sebelum shift-nya mulai.
Yang ada di pos cuma satu orang. Rambutnya diikat kecil, kausnya seragam gudang, memegang clipboard.
“Cari siapa?”
“Ardafa.”
Dia menurunkan clipboard-nya. Menatapku. Lalu wajahnya berubah jadi wajah orang yang sedang mencocokkan sesuatu.
“Kamu Vero.”
“Iya.”
“Raka.”
Dan dia mengulurkan tangan, dan aku menjabatnya, dan itu seharusnya jadi pertemuan yang biasa saja.
“Dia belum dateng. Biasanya kurang lima menit.”
“Oh. Aku tunggu aja.”
“Duduk.” Dia menggeser kursi plastik. “Kamu jalan kaki dari terminal?”
“Naik angkot.”
“Jauh.”
“Nggak apa-apa.”
Raka duduk di kursi seberang dan meletakkan clipboard-nya, dan ada jeda beberapa detik yang tidak canggung dan tidak nyaman, jeda orang yang sedang memutuskan sesuatu.
“Kamu udah tahu?”
“Tahu apa?”
“Soal Pak Yudi.”
“Tahu.” Aku tersenyum. “Aku seneng banget. Dia belum kasih jawaban, katanya masih mikir—”
Dan aku melihat wajah Raka.
Aku melihat wajahnya berubah dalam waktu kurang dari satu detik, dari ramah jadi sesuatu yang lain sepenuhnya, dan aku tahu — sebelum dia berkata apa-apa, sebelum satu kata pun keluar — bahwa aku baru saja mengatakan sesuatu yang salah.
“Raka.”
“Hm.”
“Dia belum jawab, kan?”
Raka mengambil clipboard-nya kembali dan meletakkannya lagi.
“Aku nggak enak jadi orang yang ngomong.”
“Raka.”
“Vero—”
“Dia udah jawab?”
Hening.
“Hari Senin,” katanya. “Dia tolak hari Senin.”
Ada beberapa detik di mana aku tidak merasakan apa pun.
Aku ingin mencatat itu juga, karena orang selalu mengira reaksi pertama itu marah. Bukan. Reaksi pertamaku adalah kosong, dan di dalam kosong itu ada satu suara kecil yang berkata oh, seperti orang yang baru menyadari dia menaruh kunci di tempat yang salah.
Senin.
Hari Selasa dia mengetuk pintu dengan jeda yang lebih pendek. Hari Rabu aku bertanya dia menghitung apa. Hari Rabu dia bilang nanti aku cerita.
Empat hari.
“Kenapa?”
“Vero, aku—”
“Kenapa dia tolak?”
Raka menghela napas panjang dan menggosok wajahnya dengan kedua tangan, gerakan yang aku kenali, gerakan yang persis sama dengan yang Ardafa lakukan.
“Dia ngitung jadwal kalian,” katanya. “Kalau dia masuk kantor, kalian cuma ketemu tiga jam sehari. Dan yang delapan menit tiap pagi itu ilang.”
Aku duduk di kursi plastik di pos gudang logistik dengan termos di pangkuan.
“Dia ngitungnya di mana?”
“Hah?”
“Kamu bilang dia ngitung. Di mana?”
Raka menunjuk ke belakang, ke arah bangunan gudang, ke tangga besi yang menempel di dindingnya.
“Di situ,” katanya. “Jam dua pagi. Sendirian.”
Aku menunggu di pos sampai jam tujuh kurang lima.
Aku sudah tenang waktu dia datang. Itu yang paling aneh. Aku duduk di kursi plastik itu selama dua puluh menit dan yang aku rasakan bukan panas melainkan sesuatu yang dingin dan sangat jernih, dan aku menyusun kalimatku dengan rapi seperti orang menyusun rak.
Dia muncul di gerbang jam tujuh kurang lima, jaket hitam, tudung dilepas begitu masuk atap, dan berhenti begitu melihatku.
“Vero?”
Aku berdiri.
“Termosmu ketinggalan.”
“Kamu jauh-jauh ke sini buat—”
“Kamu udah nolak.”
Dia berhenti.
Aku melihat seluruh tubuhnya berhenti, cara yang sama seperti hari itu di pintu toko waktu aku bertanya kenapa dia tidak pernah menjawab, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku tidak merasa gemas melihatnya.
“Vero—”
“Hari Senin.” Aku menyerahkan termos itu ke tangannya. “Kamu nolak hari Senin. Sekarang hari Kamis.”
“Aku mau cerita.”
“Kapan?”
“Aku—”
“Kapan, Dafa? Hari Selasa kamu ketuk pintu terus kamu diem. Hari Rabu aku tanya langsung dan kamu bilang ‘nanti aku cerita’. Kamu udah punya empat pagi.”
Dia memegang termos itu dengan dua tangan dan tidak menjawab.
“Aku nggak marah karena kamu nolak,” kataku.
“Kamu marah.”
“Aku marah. Tapi bukan karena itu.”
Yang terjadi berikutnya bukan pertengkaran besar. Aku ingin ini dicatat dengan jujur juga, karena aku tidak berteriak dan dia tidak berteriak dan tidak ada satu pun barang yang dilempar.
Yang terjadi jauh lebih pelan dari itu.
“Kamu inget malem itu di gudang toko?” kataku. “Jam tiga pagi. Waktu kamu betulin rak dan mau pulang diem-diem.”
“Inget.”
“Aku ngomong apa?”
Dia tidak menjawab.
“Aku bilang kamu nggak boleh gitu terus. Ngelakuin semuanya sendiri terus pergi diem-diem.” Suaraku bergetar sedikit dan aku membencinya. “Terus kamu bilang ‘aku bikinin kopi’.”
“Vero.”
“Aku ngasih kamu jawabannya bulan lalu, Dafa. Aku udah kasih tahu persis apa masalahnya. Dan kamu ganti topik.”
Lampu pos berkedip sekali.
“Aku nggak minta kamu ambil kerjaan itu,” kataku. “Mungkin kamu bener. Mungkin aku bakal ngitung dan dapet angka yang sama. Aku nggak tahu, karena aku nggak pernah dikasih kesempatan buat ngitung.”
“Aku—”
“Kamu duduk di tangga besi jam dua pagi. Sendirian. Ngitung jadwal kita.” Aku menunjuk ke arah bangunan gudang. “Kenapa aku nggak ada di situ?”
Dan dia menjawab — dan jawabannya, aku tahu, adalah jawaban paling jujur yang bisa dia berikan, dan itu yang membuatnya jauh lebih parah:
“Karena aku nggak kepikiran.”
Aku pulang naik angkot jam tujuh lewat.
Dia mengantar sampai gerbang dan aku bilang jangan, dan dia tetap mengantar sampai gerbang, dan kami berdiri di situ selama beberapa detik tanpa satu pun dari kami tahu harus bagaimana.
“Besok pagi aku tetep ke toko,” katanya.
“Iya.”
“Vero.”
“Iya, aku tahu.”
“Aku minta maaf.”
Aku menoleh ke arahnya.
Dan ini bagian yang paling aku sesali, dan aku akan menyesalinya sepanjang minggu itu: yang aku lihat di wajahnya bukan orang yang sedang membela diri. Yang aku lihat adalah orang yang betul-betul bingung, yang tahu dia salah, dan yang tidak tahu di bagian mana.
“Aku tahu kamu minta maaf,” kataku. “Masalahnya kamu nggak tahu maafnya buat apa.”
Angkotnya datang.
Aku naik.
Dan sepanjang jalan pulang aku duduk di bangku belakang sambil memegang tas di pangkuan, memikirkan seorang laki-laki yang duduk sendirian di tangga besi jam dua pagi untuk menghitung dua kolom jadwal, dan yang tidak sekali pun terpikir untuk mengangkat telepon.
Dan yang membuatku ingin menangis di angkot itu bukan marahnya.
Yang membuatku ingin menangis adalah aku tahu persis kenapa dia begitu, dan aku tahu bahwa itu sudah dia lakukan selama dua tahun sebelum aku ada, dan bahwa selama dua tahun itu tidak ada satu orang pun yang menyuruhnya berhenti.
- 1 Hari ke Seratus Delapan Belas
- 2 Empat Kata
- 3 Teori Nomor Tujuh
- 4 Tiga Detik
- 5 Stok Roti Sobek
- 6 Sebelas Sentimeter
- 7 Arah yang Salah
- 8 Saksi Berumur Delapan Tahun
- 9 Kasihan
- 10 Tanpa Ketukan
- 11 Orang Ini Siapa
- 12 Kursi Plastik Nomor Dua
- 13 Gudang Belakang
- 14 Interogasi Jam Satu Pagi
- 15 Ujian Masuk
- 16 Negosiasi Gagal
- 17 Rekaman Kamera Tiga
- 18 Kaus yang Kebesaran
- 19 Namanya Wulan
- 20 Kue yang Miring
- 21 Kolom Nama Wali
- 22 Delapan Belas Foto
- 23 Kabar Bagus
- 24 Yang Aku Hitung
- 25 Sendirian di Tangga Besi reading
- 26 Yang Tidak Aku Tahu
- 27 Komite
- 28 Izin
- 29 Ditolak di Baris Ketiga
- 30 Telepon Pertama
- 31 Nama-Nama
- 32 Jam Empat Lima Puluh