Chapter Fifteen
Ujian Masuk
POV: Vero
Rumahnya petak nomor tiga di gang yang cuma muat satu motor.
Aku tahu itu sebelum sampai, karena dia sudah menjelaskannya tiga kali dengan tingkat detail yang tidak wajar — belok kiri setelah warung fotokopi kedua, lewat rumah yang pagarnya biru, kalau ada bau bawang berarti sudah dekat, kalau ada bau sabun berarti kelewatan.
Yang tidak dia jelaskan adalah bahwa akan ada komite penyambutan.
Sekar berdiri di depan pintu.
Berdiri. Bukan duduk, bukan bermain, bukan sedang lewat. Berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung, sandal jepit rapi, rambut dikuncir dua yang jelas dikerjakan sendiri karena tingginya beda tiga sentimeter.
“Kak Vero.”
“Halo, Sekar.”
“Masuk.”
Dia mundur dan membuka pintu lebih lebar, dan ada sesuatu dalam cara dia melakukannya yang membuatku merasa sedang memasuki ruang wawancara kerja.
Ardafa muncul dari dapur dengan tangan basah.
“Sekar, jangan—”
“Kakak ke dapur.”
“Sekar.”
“Kakak. Ke. Dapur.”
Dan laki-laki setinggi seratus delapan puluh sentimeter yang bisa mengangkat karung lima puluh kilo itu menatapku dengan tatapan minta maaf, lalu kembali ke dapur.
Pintu ditutup.
Sekar menunjuk kursi.
“Duduk.”
Aku duduk.
Rumahnya kecil dan sangat rapi dengan cara yang membuat dadaku sakit sedikit.
Bukan rapi mahal. Rapi karena barangnya sedikit. Satu meja, dua kursi plastik, satu lemari yang catnya sudah mengelupas di sudut. Di dinding ada kalender apotek dan satu papan gabus berisi kertas-kertas: jadwal pelajaran, nomor telepon wali kelas, dan satu kertas kecil bertuliskan tanggal-tanggal dengan tulisan tangan orang dewasa yang rapi dan kaku.
Aku memiringkan kepala untuk membacanya.
13 — bayar SPP 15 — kirim ke Ibu 18 — Sekar imunisasi 22 — listrik
Dan di bawahnya, dengan pulpen yang berbeda, tulisan yang jauh lebih baru:
Vero libur — Selasa
Aku harus menoleh ke arah lain selama tiga detik.
“Kak Vero.”
“Iya?”
Sekar menarik kursi satunya, menaikinya, dan duduk berhadapan denganku dengan kedua tangan dilipat di atas meja seperti kepala sekolah.
“Aku mau nanya.”
“Boleh.”
“Kakak suka Kakakku?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku membuka mulut. Menutupnya.
“Ini pertanyaan yang susah, ya.”
“Kalau susah berarti bohong,” kata Sekar. “Kalau beneran suka harusnya gampang.”
Anak ini delapan tahun.
“Oke,” kataku. “Karena dia baik.”
“Semua orang bilang gitu.”
“Karena dia—”
“Bu Ratna juga bilang Kakakku baik. Terus Bu Ratna pinjem uang dan nggak balikin sampai sekarang.”
Aku berhenti.
“Jadi maunya jawaban gimana?”
Sekar mencondongkan badan.
“Yang cuma Kakak yang tahu.”
Aku duduk di kursi plastik itu selama lima detik penuh.
Di dapur, terdengar bunyi air. Ardafa sedang mencuci sesuatu yang aku curiga sudah bersih dari tadi.
“Kakakmu naruh roti di meja kasir kayak roti itu bisa pecah,” kataku.
Sekar mengerjap.
“Tiap hari. Seratus dua puluh delapan hari. Pelan banget, pakai dua tangan, ditaruh lurus.” Aku menggerakkan tanganku di atas meja untuk menunjukkan. “Padahal roti. Kalau jatuh juga nggak kenapa-napa.”
Sekar tidak berkata apa-apa.
“Terus susunya nggak pernah dia masukin ke kantong atau ke saku. Dipegang terus. Sebelas langkah dari kulkas ke kasir, sama jalan pulang, dia pegang.” Aku mengangkat bahu. “Aku dulu nggak ngerti kenapa. Sekarang aku ngerti.”
“Kenapa?”
“Karena kalau penyok, ada yang marah.”
Sekar menoleh ke arah dapur.
Lalu menoleh balik ke aku.
Dan wajahnya — wajah anak berumur delapan tahun yang sedang berusaha keras terlihat tidak terpengaruh — melakukan sesuatu yang gagal total.
“Itu bukan alasan yang bagus,” katanya, dengan suara yang naik satu oktaf.
“Oke.”
“Itu alasan yang jelek banget.”
“Oke.”
“Kakak boleh masuk.”
Dan dia turun dari kursi, berjalan ke pintu dapur, membukanya, dan berteriak:
“KAK, DIA LULUS.”
Sisa sorenya berjalan seperti ini.
Sekar duduk di sebelahku — bukan di sebelah kakaknya, di sebelahku — dan menceritakan seluruh isi kelas dua SD tanpa jeda selama empat puluh menit. Siapa yang nangis. Siapa yang curang waktu main. Kenapa Bu Guru salah soal Bilqis.
Ardafa membuat teh dan duduk di lantai bersandar ke kaki meja karena kursinya cuma dua, dan waktu aku protes dia bilang “aku emang lebih suka lantai” dengan wajah orang yang jelas-jelas berbohong dan tahu bahwa aku tahu.
Aku menyerahkan gelasku ke tangannya dan duduk di lantai juga.
“Kamu ngapain?”
“Duduk di lantai. Aku emang lebih suka lantai.”
“Vero—”
“Aku emang lebih suka lantai, Dafa.”
Dan dia menghela napas dan menyerah, dan Sekar melihat kami berdua dari atas kursi dengan ekspresi yang jelas-jelas sedang mengarsipkan sesuatu untuk dipakai nanti.
Yang paling manis terjadi jam enam, waktu Sekar sudah masuk kamar untuk mengerjakan PR dan kami berdua duduk di lantai dengan punggung bersandar ke kaki meja.
Kepalaku ada di bahunya. Sudah dari tadi. Sudah lima belas menit dan tidak ada rencana untuk berubah.
“Kertas di papan gabus itu,” kataku.
“Kenapa.”
“Ada namaku.”
Dia diam.
“Dafa.”
“Iya.”
“Kenapa namaku ada di daftar tagihan listrik?”
“Itu bukan daftar tagihan.”
“Terus apa?”
“Daftar hal yang nggak boleh aku lupa.”
Aku mengangkat kepalaku dari bahunya dan menatap sisi wajahnya, yang tetap lurus ke depan, yang telinganya sudah merah.
“Ardafa Pratama.”
“Hm.”
“Kamu nulis hari libur aku di papan gabus.”
“Iya.”
“Pakai pulpen.”
“Iya.”
“Kamu tuh—” Aku memukul lengannya. “Kamu tuh nggak boleh gitu.”
“Aku nggak ngapa-ngapain.”
“Kamu ngelakuin hal-hal kayak gitu terus sambil muka kamu kayak orang lagi ngisi surat jalan!”
Dia menoleh.
Dan menciumku di lantai ruang tamu rumah petak nomor tiga, dengan tangan di rahangku, pelan sekali, dan aku lupa seluruh keluhanku dalam waktu kurang dari dua detik.
Waktu dia mundur, aku masih menutup mata.
“Kamu tuh curang,” bisikku.
“Kamu bilang itu tiap hari.”
“Karena bener tiap hari.”
Jam tujuh dia mengantarku ke ujung gang.
Dia mau mengantar sampai kos. Aku menolak karena dia harus berangkat kerja jam tujuh dan gudang itu arahnya berlawanan, dan kami berdebat tentang ini selama enam menit di depan warung fotokopi sampai ibu penjaga warung ikut berkomentar.
“Yaudah,” katanya akhirnya. “Sampai perempatan.”
“Sampai ujung gang.”
“Perempatan.”
“Dafa.”
Dia berhenti.
Aku sudah tahu sekarang bahwa nama itu adalah tombol, dan aku sudah memutuskan bahwa aku akan menggunakannya tanpa ampun sampai akhir hayatku.
“Ujung gang,” kataku.
“...ujung gang.”
Di ujung gang, aku menepuk dadanya sekali, membetulkan kerah jaketnya yang tidak perlu dibetulkan, dan berkata:
“Hati-hati di jalan.”
Dia menunduk dan mencium keningku.
“Kamu juga.”
Dan aku berjalan pulang lima menit dengan kening yang panas dan senyum yang tidak bisa dihapus, dan waktu aku sampai kos, aku sadar aku sudah tersenyum seperti itu di depan tiga orang tetangga dan satu tukang bakso.
Aku tidak peduli sama sekali.
- 1 Hari ke Seratus Delapan Belas
- 2 Empat Kata
- 3 Teori Nomor Tujuh
- 4 Tiga Detik
- 5 Stok Roti Sobek
- 6 Sebelas Sentimeter
- 7 Arah yang Salah
- 8 Saksi Berumur Delapan Tahun
- 9 Kasihan
- 10 Tanpa Ketukan
- 11 Orang Ini Siapa
- 12 Kursi Plastik Nomor Dua
- 13 Gudang Belakang
- 14 Interogasi Jam Satu Pagi
- 15 Ujian Masuk reading
- 16 Negosiasi Gagal
- 17 Rekaman Kamera Tiga
- 18 Kaus yang Kebesaran
- 19 Namanya Wulan
- 20 Kue yang Miring
- 21 Kolom Nama Wali
- 22 Delapan Belas Foto
- 23 Kabar Bagus
- 24 Yang Aku Hitung
- 25 Sendirian di Tangga Besi
- 26 Yang Tidak Aku Tahu
- 27 Komite
- 28 Izin
- 29 Ditolak di Baris Ketiga
- 30 Telepon Pertama
- 31 Nama-Nama
- 32 Jam Empat Lima Puluh