← Shift Ketiga

Chapter Thirteen

Gudang Belakang

POV: Vero


Aku memutuskan bahwa dia harus membayar.

Bukan dendam. Aku bukan orang pendendam. Ini murni soal keadilan.

Selama seratus dua puluh delapan hari aku berdiri di belakang mesin kasir dan mengucapkan empat kata setiap pagi ke punggung seseorang yang tidak pernah menoleh. Aku menandai kalender. Aku memindahkan rak. Aku bangun dua puluh menit lebih pagi untuk mengintip dari balik poster promo seperti orang yang tidak punya harga diri.

Dan sekarang orang itu tiba-tiba jadi manusia yang bisa berkata “sayang” di kursi plastik jam setengah enam pagi dan menghancurkan seluruh hariku dalam satu suku kata.

Tidak. Ini harus ada perhitungannya.


Kesempatannya datang hari Rabu.

Ardafa mengantar sesuatu — kotak kardus kecil, isinya termos, karena aku pernah menyebut satu kali bahwa kopi mesin toko rasanya seperti air rebusan sepatu dan dia jelas-jelas mencatat itu di suatu tempat di dalam kepalanya.

“Ini bekas,” katanya waktu menyerahkannya. “Punya Bapak. Masih bagus.”

“Kamu bawa ini dari rumah? Naik angkot?”

“Iya.”

“Jam empat pagi?”

“Iya.”

“Buat aku?”

Dia melihat ke arah rak rokok. “Buat kopi kamu.”

Dan aku berdiri di sana memegang termos bekas ayahnya dan berpikir bahwa laki-laki ini benar-benar tidak tahu apa yang dia lakukan pada orang.

Toko sedang sepi. Bu Tuti sedang rapat area. Yoga sedang mengangkat krat di depan.

“Sini,” kataku.

“Ke mana?”

“Gudang.”

“Kenapa?”

“Ada yang mau aku tanyain.”

Dia mengikutiku ke belakang, melewati pintu ayun, ke ruangan sempit yang isinya rak besi, tumpukan kardus, dan satu meja lipat yang kaki kirinya diganjal potongan dus.

Aku menutup pintu.

“Kamu nggak pernah jawab, ya, dulu.”

Dia menyandarkan bahu ke rak. “Kita udah bahas ini.”

“Belum selesai.”

“Vero—”

“Seratus dua puluh delapan hari.” Aku melipat tangan. “Aku mau kamu minta maaf.”

“Oke. Maaf.”

“Itu bukan minta maaf.”

“Itu kata ‘maaf’.”

“Itu kata ‘maaf’ yang diucapkan sama orang yang lagi nyari jalan keluar tercepat.”

Dia menatapku.

Dan lalu dia melakukan sesuatu yang benar-benar tidak aku antisipasi: dia mendorong dirinya dari rak, jalan dua langkah, dan berdiri tepat di depanku sampai aku harus mengangkat dagu untuk tetap menatap matanya.

“Kamu mau aku minta maaf gimana?”

“Yang bener.”

“Contohnya.”

“Ya—” Aku mundur setengah langkah dan menabrak meja lipat. “Ya yang ada penjelasannya. Yang ada penyesalannya. Yang—”

“Aku nggak nyesel.”

“APA?”

“Aku nggak nyesel,” katanya, tenang, seperti orang membacakan nomor seri. “Kalau aku jawab dari hari pertama, kamu nggak akan nandain kalender.”

Aku membuka mulut.

Menutupnya.

“Itu—” Suaraku keluar terlalu tinggi. “Itu logika paling jahat yang pernah aku denger.”

“Tapi bener.”

“Nggak bener.”

“Kamu nandain kalender dari hari kelima.”

“ITU BUKAN INTINYA.”

Dia meletakkan kedua tangannya di meja lipat, di kiri dan kanan tubuhku, dan aku menyadari dengan sangat terlambat bahwa aku sudah tidak punya ke mana-mana lagi.

“Terus intinya apa?” katanya.

Aku lupa.

Aku betul-betul lupa. Aku punya seluruh argumen yang tersusun rapi sejak semalam, dengan tiga poin utama dan satu kesimpulan, dan semuanya menguap begitu saja karena laki-laki ini berdiri sepuluh sentimeter dari wajahku dan bernapas seperti orang yang tidak sedang terburu-buru sama sekali.

“Intinya,” kataku, “kamu harus... kamu harus...”

“Hm?”

“Berhenti ngeliatin aku kayak gitu.”

“Kayak gimana?”

“Kayak—” Aku menutup mata. “Kayak gitu.”

Aku merasakan tangannya di pinggangku.

Lalu aku merasakan lantai hilang.

Aku dinaikkan ke meja lipat itu — meja yang kaki kirinya diganjal dus, meja yang bunyinya mengerikan — dalam satu gerakan, seperti orang mengangkat krat minuman, dan aku mengeluarkan bunyi yang akan aku sangkal seumur hidupku.

“Meja ini rusak,” kataku.

“Nggak.”

“Kaki kirinya diganjal!”

“Aku pegangin.”

Dan dia berdiri di antara lututku dengan satu tangan di meja dan satu tangan di pinggangku, dan wajahnya persis sejajar dengan wajahku sekarang, dan seluruh strategiku hancur total.

“Kamu mau aku minta maaf,” katanya.

“Iya.”

“Aku nggak bisa minta maaf buat sesuatu yang bikin kamu jadi punya kalender.” Dia mengangkat tangannya dan menyelipkan poniku ke belakang telinga, pelan, seperti hari itu di gang. “Tapi aku bisa ganti rugi.”

“Ganti rugi gimana?”

“Berapa hari?”

“Seratus dua puluh delapan.”

“Oke.” Dia mengangguk. “Berarti seratus dua puluh delapan kali aku bilang sesuatu ke kamu tiap pagi. Sampai lunas.”

“Bilang apa?”

“Apa aja. Yang harusnya aku bilang dulu.”

Aku menggigit bibir bagian dalam supaya wajahku tidak melakukan hal memalukan.

“Mulai kapan?”

“Sekarang.”

“Sekarang bukan pagi.”

“Vero.”

“Iya?”

Dia mendekat sampai dahinya menyentuh dahiku.

“Aku nggak pernah nggak pengen jawab kamu,” katanya, pelan sekali. “Satu hari pun nggak pernah.”

Dan aku, yang datang ke gudang ini dengan rencana lengkap dan hati yang keras, meleleh total di atas meja lipat yang kaki kirinya diganjal potongan dus.

“Satu,” kataku dengan suara pecah.

“Satu apa?”

“Seratus dua puluh tujuh lagi.”

Dia tertawa — pelan, di dekat wajahku, sampai aku bisa merasakannya — lalu menciumku.

Tanganku sampai ke lehernya. Tangannya masih di pinggangku dan yang satu lagi pindah ke belakang kepalaku, dan meja lipat itu berbunyi seperti benda yang sedang menyesali seluruh keputusan hidupnya.

Ini bukan ciuman kanopi bocor. Yang di kanopi itu hati-hati. Ini bukan.

Aku menarik kerah kausnya dan dia mendekat dan aku bisa merasakan dia tersenyum lagi di tengah-tengah, dan aku memukul bahunya karena itu curang, dan dia tidak berhenti.

Waktu kami berhenti, aku sudah tidak punya tulang.

“Dafa,” kataku.

Dan aku merasakan seluruh tubuhnya berhenti.

Dia menarik wajahnya sedikit. Menatapku.

“Apa?”

“Kenapa?”

“Kamu bilang apa tadi?”

“Dafa.” Aku mengerjap. “Kenapa? Sekar manggil gitu.”

“Iya.”

“Aku nggak boleh?”

“Boleh.” Suaranya berubah. Lebih rendah, lebih pelan, seperti orang yang baru saja diberi sesuatu yang tidak dia minta. “Panggil lagi.”

“Dafa.”

Dia menutup matanya.

“Lagi.”

“Dafa—”

Dan aku tidak sempat menyelesaikannya.


Kami keluar dari gudang tujuh menit kemudian dengan rambutku yang tidak bisa diselamatkan dan kerah seragam yang aku betulkan dua kali.

Yoga sedang berdiri di depan pintu ayun dengan krat di tangan dan ekspresi seorang manusia yang telah kehilangan seluruh keimanannya.

“Meja lipat itu punya toko,” katanya.

“Kami cuma ngobrol.”

“Meja itu bunyinya sampai depan, Vero.”

“Kami ngobrol dengan intens.”

Yoga menaruh krat itu di lantai. Berdiri tegak. Menghirup napas panjang.

“Bu Tuti pulang setengah jam lagi,” katanya. “Aku nggak akan cerita. Tapi aku minta satu hal.”

“Apa?”

“Aku minta kalian ganti mejanya. Meja itu udah cukup menderita.”

Ardafa mengangguk sekali, serius, seperti orang menerima perintah kerja.

“Besok aku bawain.”

“Kamu nggak usah bawa apa-apa,” kataku.

“Aku bawa.”

“Dafa.”

Dan dia berhenti di tengah pintu, dan menoleh, dan menatapku dengan cara yang membuatku menyesal memakai panggilan itu di depan saksi.

Yoga mengangkat kedua tangan dan mundur.

“Aku nggak lihat apa-apa,” katanya. “Aku nggak dengar apa-apa. Aku cuma pegawai. Aku angkat krat.”