Chapter Four
Tiga Detik
POV: Ardafa
Tiga detik itu begini isinya.
Detik pertama.
Aku dengar kalimatnya dan tubuhku berhenti sebelum aku memutuskan untuk berhenti. Kaki kananku sudah di depan, setengah melangkah, dan berhenti di posisi itu seperti orang yang tiba-tiba lupa cara berjalan.
Yang muncul di kepalaku pertama kali bukan kata. Yang muncul adalah panas — dari tengkuk, naik ke telinga. Dan pikiran yang sangat jelas dan sangat memalukan: dia sadar.
Selama seratus delapan belas hari aku menghibur diri dengan asumsi bahwa aku ini cuma satu dari dua ratus orang yang lewat di depan mesin kasirnya setiap hari. Bahwa keheninganku tidak terdaftar di mana-mana. Bahwa aku bisa datang setiap pagi, mengambil delapan menit dari hidupku, dan pergi tanpa meninggalkan jejak apa pun kecuali struk yang langsung masuk tempat sampah.
Ternyata dia menghitung.
Ternyata aku terdaftar.
Detik kedua.
Jawabannya datang. Semua sekaligus, seperti orang membuka lemari yang isinya terlalu penuh.
Maaf. Bukan karena kamu. Aku baru pulang kerja. Aku selalu pengen jawab. Aku nyusun jawabannya tiap malam sambil natap langit-langit dan tiap pagi ilang. Kamu udah sarapan belum?
Itu yang terakhir. Itu yang sudah aku latih. Itu yang sudah aku putuskan tadi pagi sambil menatap langit-langit, dan itu ada di depan, siap, sudah aku taruh di paling atas seperti uang pas.
Yang perlu aku lakukan cuma menoleh.
Detik ketiga.
Aku tidak menoleh.
Bukan karena aku tidak mau. Ada jarak di dalam kepalaku antara tempat kalimat itu berada dan tempat mulutku bekerja, dan jarak itu biasanya nol, dan setelah dua puluh dua jam tanpa tidur jarak itu jadi sepanjang jalan tol.
Yang aku rasakan cuma tangan kiriku mengencang.
Lalu kaki kananku melanjutkan langkah yang tadi tertunda, dan pintu terbuka, dan aku keluar.
Di trotoar, angin pagi menampar wajahku dan aku sadar dua hal sekaligus: satu, aku baru saja membuang kesempatan terbaik dalam empat bulan. Dua, kotak susu di tanganku penyok.
Aku menatapnya seperti orang menatap barang bukti.
Sekar akan mengamuk.
Kucing oranye itu mengikutiku sampai perempatan, yang belum pernah dia lakukan.
“Apa,” kataku.
Dia duduk di trotoar dan menatapku.
“Aku tahu.”
Dia tetap menatap.
“Kamu nggak usah ikut-ikutan.”
Kucing itu menguap, memutar badan, dan pergi ke arah toko. Ke arah dia. Tentu saja.
Rumah kami petak nomor tiga di gang yang cuma muat satu motor. Kalau tetangga depan menjemur, satu gang jadi bau sabun. Kalau tetangga belakang masak, satu gang jadi bau bawang. Kalau keduanya bersamaan, aku pulang ke rumah yang baunya seperti restoran yang bingung.
Aku membuka pintu jam lima lewat sepuluh.
Ruang depan gelap. Lampu kamar sebelah menyala di bawah pintu — garis kuning tipis di lantai semen.
“Kak?”
“Iya.”
“Kakak telat lima menit.”
“Angkotnya ngetem.”
“Bohong.”
Aku berhenti di depan pintu kamarnya. “Kenapa bohong?”
“Kakak selalu bilang angkotnya ngetem. Angkot nggak pernah ngetem jam segitu. Jalanan kosong.”
Ada anak berumur delapan tahun di balik pintu itu yang kemampuan interogasinya melebihi seluruh atasan yang pernah aku punya.
“Cuci muka sana.”
“Udah.”
“Sikat gigi.”
“Nanti abis makan, Kak, kalau sebelum makan nanti rasa odolnya nempel di roti.”
Dia sudah menjelaskan logika ini padaku dua ratus kali dan setiap kali dia menjelaskannya dengan kesabaran seseorang yang menghadapi orang tua yang tidak bisa diajari.
Aku ke dapur. Menyalakan lampu. Menaruh dua bungkus di piring.
Dua roti sobek cokelat, satu susu stroberi.
Sedotan aku lepas dari plastiknya, aku tusukkan, aku taruh di sisi kanan piring karena kalau di sisi kiri akan ada pertanyaan tentang kenapa di sisi kiri.
Lalu aku menatap kotak susu itu.
Penyok. Di bagian atas, di dekat tutup, bekas empat jari.
Aku memutar kotaknya supaya bagian penyoknya menghadap dinding.
Pintu kamar terbuka. Sekar keluar dengan seragam yang kancing atasnya salah lubang, rambut satu sisi masih menempel di pipi, dan tas yang beratnya sepertinya melebihi berat badannya sendiri.
Dia naik ke kursi. Melihat piring. Melihat susunya.
Memutar kotaknya kembali.
“Ini kenapa?”
“Kepencet.”
“Kepencet sama apa?”
“Sama tangan.”
“Tangan siapa?”
Aku membuka kulkas untuk mencari sesuatu yang tidak aku butuhkan.
“Kak.”
“Minum susunya.”
“Tangan siapa.”
“Sekar.”
“Yaudah,” katanya, dan menusukkan sedotannya, dan minum, dan aku pikir aku selamat.
Lalu dia menurunkan kotaknya dan berkata, dengan mulut masih ada bekas susu di atasnya:
“Kakak kalau bohong itu ngomongnya jadi dua kata.”
Aku menutup kulkas.
“Makan.”
“Dua kata lagi.”
“Sekar.”
“Satu kata! Makin parah!”
Dia tertawa sampai hampir jatuh dari kursi dan aku harus menahan bahunya dengan satu tangan, dan aku tidak bisa tidak tersenyum, dan itu menyebalkan karena itu artinya dia menang.
Aku duduk di kursi seberang dan melihat dia makan.
Ini bagian hari yang selalu aku sisakan tenaganya. Sisanya boleh habis. Boleh aku jadi orang yang cuma bisa mengucapkan dua kata di kasir. Boleh aku jadi orang yang tidak menoleh padahal ditanya. Yang penting bagian ini masih ada isinya.
Delapan menit lagi dia berangkat. Tetangga sebelah yang antar, bareng anaknya, dan aku bayar bensinnya tiap akhir bulan dengan cara menyelipkan uang di bawah toples gula karena kalau diberikan langsung akan ditolak dan akan ada perdebatan panjang tentang harga diri di gang selebar satu motor.
Setelah itu aku tidur sampai jam tiga sore. Bangun. Jemput. Masak. Antar dia ke tempat ngaji. Berangkat kerja jam tujuh.
Itu satu hari. Aku sudah hafal bentuknya seperti hafal jalan pulang.
Yang aneh adalah bagaimana delapan menit di toko itu — delapan menit dari dua puluh empat jam — berhasil menempel di semua sisanya.
“Kak.”
“Hm.”
“Kalau nanti aku kelas tiga, aku boleh sarapan nasi?”
“Boleh.”
“Bohong.”
“Kenapa bohong lagi?”
“Kakak bilang boleh pas aku kelas satu juga.”
“Kamu yang nggak mau.”
Sekar berhenti mengunyah. Berpikir. Lalu mengangguk pelan, menerima kekalahan dengan sportivitas yang tidak dia tunjukkan di area lain mana pun dalam hidupnya.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak ngantuk banget, ya.”
“Nggak.”
“Mata Kakak merah kayak ikan cupang.”
“Makan.”
Dia menghabiskan roti pertama, membuka roti kedua, lalu berhenti dan menoleh ke arahku dengan mata yang tiba-tiba terlalu jeli untuk anak yang seragamnya masih salah kancing.
“Kak, kalau Kakak diem terus, orangnya nanti capek lho.”
Aku menatapnya.
“Orang siapa?”
Sekar mengangkat bahu, menggigit rotinya, dan mengunyah dengan ekspresi seseorang yang tidak berniat menjelaskan apa pun.
Aku duduk di sana dengan mata perih dan kepala kosong dan kotak susu penyok di antara kami, dan aku memikirkan tiga detik itu lagi.
Besok, kataku dalam hati.
Besok aku menoleh.
- 1 Hari ke Seratus Delapan Belas
- 2 Empat Kata
- 3 Teori Nomor Tujuh
- 4 Tiga Detik reading
- 5 Stok Roti Sobek
- 6 Sebelas Sentimeter
- 7 Arah yang Salah
- 8 Saksi Berumur Delapan Tahun
- 9 Kasihan
- 10 Tanpa Ketukan
- 11 Orang Ini Siapa
- 12 Kursi Plastik Nomor Dua
- 13 Gudang Belakang
- 14 Interogasi Jam Satu Pagi
- 15 Ujian Masuk
- 16 Negosiasi Gagal
- 17 Rekaman Kamera Tiga
- 18 Kaus yang Kebesaran
- 19 Namanya Wulan
- 20 Kue yang Miring
- 21 Kolom Nama Wali
- 22 Delapan Belas Foto
- 23 Kabar Bagus
- 24 Yang Aku Hitung
- 25 Sendirian di Tangga Besi
- 26 Yang Tidak Aku Tahu
- 27 Komite
- 28 Izin
- 29 Ditolak di Baris Ketiga
- 30 Telepon Pertama
- 31 Nama-Nama
- 32 Jam Empat Lima Puluh