Chapter Eleven
Orang Ini Siapa
POV: Vero
Ada satu hal yang tidak ada yang memperingatkanku.
Aku sudah siap untuk banyak hal. Aku sudah siap kalau dia canggung. Aku sudah siap kalau dia butuh waktu. Aku bahkan sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan bahwa setelah semalam berpikir, dia akan datang pagi ini dengan wajah menyesal dan kalimat yang diawali “sebenarnya”.
Yang tidak aku siapkan adalah ini.
Dia tidur.
Itu yang pertama. Aku baru tahu belakangan bahwa hari itu dia libur — jatah libur yang sudah dia tumpuk tiga minggu dan tidak pernah dia ambil — dan dia mengambilnya mendadak, malam itu juga, dengan alasan yang tidak dia jelaskan ke siapa pun di gudang.
Jadi dia tidur dari jam enam pagi sampai jam dua siang. Delapan jam. Untuk pertama kalinya sejak entah kapan.
Dan ternyata Ardafa Pratama yang sudah tidur delapan jam adalah orang yang sama sekali berbeda dari Ardafa Pratama yang tidak tidur dua puluh dua jam.
Aku tahu itu jam tiga sore, waktu aku pulang dari toko dan menemukan seseorang duduk di tembok rendah depan gang kosku.
Kaus abu-abu. Bukan jaket hitam. Rambut basah.
Aku berhenti di tengah trotoar.
“Kamu ngapain di sini?”
“Nungguin kamu.”
“Dari kapan?”
“Setengah jam.”
“Kenapa nggak—” Aku berhenti. “Kamu tahu kos aku di mana?”
“Iya.”
“Dari mana?”
“Kamu pernah bilang lima menit jalan kaki dari toko, gangnya yang ada warung fotokopi.” Dia berdiri. “Cuma ada satu gang yang ada warung fotokopi.”
“Aku bilangnya kapan?”
“Bulan lalu. Ke Yoga. Aku lagi ngantre.”
Aku berdiri di sana dengan tas tergantung di bahu dan mulut terbuka.
“Kamu inget?”
“Aku inget semuanya.”
Dan dia mengucapkannya dengan wajah paling datar yang pernah aku lihat, seperti orang melaporkan cuaca, dan aku harus melihat ke aspal selama tiga detik untuk mengumpulkan diri.
“Kamu kok jadi—” Aku mencari katanya sambil kami jalan. “Kamu kok jadi ngomong.”
“Aku emang ngomong.”
“Kamu nggak pernah ngomong.”
“Aku ngomong tiap hari sama Sekar, sama Raka, sama Pak Sarju.”
“Terus kenapa sama aku nggak?”
Dia berhenti jalan.
Aku berhenti dua langkah kemudian dan menoleh.
“Karena sama mereka aku nggak takut salah ngomong,” katanya.
Aku menatapnya.
“Itu—” Aku menelan. “Itu curang.”
“Apanya?”
“Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu sambil muka kamu kayak lagi ngitung stok.”
“Muka aku emang gini.”
“Ya makanya itu curang!”
Dan dia — dan ini yang membuatku sadar bahwa aku sedang berhadapan dengan masalah besar — mengangkat sudut bibirnya sedikit dan berkata:
“Oh. Kamu nggak kuat.”
“Aku kuat.”
“Telinga kamu merah.”
“Itu panas.”
“Ini jam tiga, mendung.”
“ARDAFA.”
Dia melanjutkan jalan seperti tidak terjadi apa-apa, dan aku menyusul sambil merutuk pada semua yang aku bisa rutuki, termasuk diriku sendiri, termasuk Bu Tuti, termasuk seluruh industri roti.
Kami duduk di warung mi ayam di ujung gang karena aku belum makan sejak pagi dan dia bilang itu masalah.
Warung itu punya Bu Nining, yang mengenal aku sejak bulan pertama pindah, dan yang begitu melihat aku datang bersama seseorang langsung menyeka meja yang tidak kotor sambil melirik enam kali dalam dua puluh detik.
“Ini siapa, Ver?”
“Teman.”
“Teman.”
“Teman, Bu.”
Bu Nining melihat Ardafa dari ujung kepala ke ujung sandal, mengangguk sekali, dan pergi ke belakang sambil bergumam sesuatu yang aku yakin tidak menguntungkan aku.
“Teman,” ulang Ardafa waktu beliau sudah jauh.
“Aku panik.”
“Aku nggak protes.”
“Kamu protes. Cara kamu ngomong ‘teman’ itu protes.”
“Aku bilang satu kata.”
“Satu kata dari kamu itu isinya satu paragraf, Ardafa, aku udah belajar.”
“Kamu makan apa tadi?”
“Roti keju.”
“Doang?”
“Ada kopi.”
“Vero.”
“Aku sibuk.”
“Kamu jaga kasir, bukan jaga tambang.”
“Kamu ngangkat karung semalaman terus tidur empat jam dan kamu berani ngomongin pola makan aku?”
Dia diam.
Aku menunjuk mangkuknya dengan sumpit. “Skakmat.”
“Beda.”
“Beda gimana?”
“Aku kalau rusak, cuma aku yang rugi.” Dia menyeruput kuahnya. “Kamu kalau rusak, aku ikut rugi.”
Sumpitku jatuh ke mangkuk.
“Kamu—” Aku menutup mata. “Kamu ini kemarin baru bisa ngomong dua kata.”
“Iya.”
“Terus sekarang kamu ngomong kayak begitu sambil makan mi.”
“Iya.”
“Orang ini siapa.”
“Pacar kamu.”
Dan aku tersedak kuah mi ayam di warung terbuka di depan lima orang asing, dan dia menepuk punggungku dengan sabar, dan aku bisa merasakan dari getaran tangannya bahwa dia sedang menahan tawa dan menikmati ini lebih dari yang seharusnya diizinkan hukum.
Yang membuatku betul-betul kalah terjadi waktu kami jalan pulang.
Gerimis mulai turun — yang bukan hal besar, cuma gerimis yang bisa diabaikan — dan aku sedang bicara tentang Bu Tuti dan rak mi instan dan bagaimana beliau menghabiskan seluruh paginya menjelaskan ke Yoga bahwa yang runtuh itu “murni struktural”.
Lalu aku merasa ada yang menarik tanganku.
Bukan menggandeng. Menarik pelan, sekali, sampai jarak di antara kami hilang.
Aku menoleh dan dia sudah ada di situ, terlalu dekat, dan jalanan gang itu sempit dan basah dan ada ibu-ibu menjemur di lantai dua yang kemungkinan besar sedang menonton.
“Kenapa?” kataku, dan suaraku sudah tidak berfungsi.
Dia mengangkat tangannya dan membetulkan poniku.
Pakai jari. Pelan. Diselipkan ke belakang telinga.
“Aku pengen ngelakuin ini dari bulan Maret,” katanya.
Aku berdiri di gang itu dengan gerimis di kepala dan jantung yang sudah tidak bisa diselamatkan.
“Kamu nggak boleh gitu.”
“Kenapa?”
“Karena aku—” Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. “Karena aku belum siap.”
“Siapin.”
“Kamu—”
“Aku nunggu seratus dua puluh delapan hari,” katanya. “Sekarang giliran kamu yang kewalahan.”
Dan dia melepas tanganku, memasukkan tangannya ke saku, dan melanjutkan jalan seperti orang yang tidak baru saja menghancurkan seseorang di tengah gang.
Aku berdiri di sana selama empat detik penuh.
“ARDAFA PRATAMA.”
“Hm.”
“BALIK SINI.”
“Kamu bilang belum siap.”
“AKU BOHONG.”
Aku dengar dia tertawa. Betul-betul tertawa, keras, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dan bunyinya seperti sesuatu yang sudah lama disimpan di tempat yang salah dan akhirnya dikeluarkan.
Aku mengejarnya sampai ujung gang dan memukul lengannya dan dia membiarkan aku memukulnya, dan lalu dia menangkap tanganku di udara dan menggenggamnya dan tidak melepaskannya sampai kami sampai depan kos.
Tangannya menelan tanganku. Betul-betul menelan. Aku sudah menduga itu, tapi menduga dan mengalami itu ternyata dua olahraga yang berbeda.
Di depan pintu kos, dia berhenti.
“Besok aku masuk lagi.”
“Shift malem?”
“Iya.”
“Berarti besok pagi kamu ke toko.”
“Iya.”
“Jam empat lima puluh?”
Dia menatapku.
“Nggak,” katanya. “Empat empat puluh.”
“Kenapa lebih pagi?”
“Karena sepuluh menit itu kurang.”
Aku menutup pintu kos dengan punggung menempel di baliknya, meluncur turun sampai duduk di lantai, dan menjerit ke dalam bantal yang kebetulan ada di dekat situ.
Kipas angin berdehem.
“DIAM,” kataku ke kipas angin.
- 1 Hari ke Seratus Delapan Belas
- 2 Empat Kata
- 3 Teori Nomor Tujuh
- 4 Tiga Detik
- 5 Stok Roti Sobek
- 6 Sebelas Sentimeter
- 7 Arah yang Salah
- 8 Saksi Berumur Delapan Tahun
- 9 Kasihan
- 10 Tanpa Ketukan
- 11 Orang Ini Siapa reading
- 12 Kursi Plastik Nomor Dua
- 13 Gudang Belakang
- 14 Interogasi Jam Satu Pagi
- 15 Ujian Masuk
- 16 Negosiasi Gagal
- 17 Rekaman Kamera Tiga
- 18 Kaus yang Kebesaran
- 19 Namanya Wulan
- 20 Kue yang Miring
- 21 Kolom Nama Wali
- 22 Delapan Belas Foto
- 23 Kabar Bagus
- 24 Yang Aku Hitung
- 25 Sendirian di Tangga Besi
- 26 Yang Tidak Aku Tahu
- 27 Komite
- 28 Izin
- 29 Ditolak di Baris Ketiga
- 30 Telepon Pertama
- 31 Nama-Nama
- 32 Jam Empat Lima Puluh