← Shift Ketiga

Chapter Seventeen

Rekaman Kamera Tiga

POV: Vero


Kabar itu datang hari Kamis sore lewat grup WhatsApp toko, dalam bentuk satu pesan suara berdurasi empat menit dua belas detik dari Bu Tuti.

Yoga memutarnya lewat speaker.

“...jadi Pak Bagas bilang, kunjungan mendadak. MENDADAK. Padahal mendadak itu artinya nggak diumumkan, kalau diumumkan namanya bukan mendadak, itu namanya janji. Ibu udah bilang gitu ke beliau tapi beliau bilang ini istilah manajemen. Manajemen itu bahasanya beda sama bahasa manusia...”

“Bu, poinnya,” gumam Yoga ke ponsel, walaupun itu rekaman.

“...pokoknya Senin pagi. Jam tujuh. Toko harus bersih, gudang harus rapi, facing produk harus lurus semua, label harga nggak boleh ada yang miring. Kalau ada satu label miring, itu bukan cuma label yang miring, itu integritas kita yang miring.”

Yoga menutup ponselnya.

“Kita mati.”

“Kita nggak mati.”

“Vero. Gudang kita isinya kardus dari zaman sebelum aku masuk kerja.”

Aku melihat ke pintu ayun.

Dia benar.


Kami bekerja Jumat sampai jam sepuluh malam. Sabtu sampai jam sebelas. Minggu, Bu Tuti datang sendiri membawa dua anaknya yang jelas-jelas tidak dibayar dan jelas-jelas tidak diberi pilihan.

Minggu jam sepuluh malam, gudang masih kacau.

Kardus kosong yang belum dilipat. Rak besi baris tiga yang bautnya lepas sejak dua bulan lalu. Tumpukan barang retur yang tidak ada yang tahu harus diapakan karena orang yang tahu sudah resign bulan Februari.

“Besok pagi kita masuk jam tiga,” kata Bu Tuti dengan suara orang yang sudah menyerah pada hidup.

“Bu, jam tiga—”

“Jam tiga, Yoga.”

“Bu, saya tinggal di—”

“IBU JUGA TINGGAL DI SUATU TEMPAT, YOGA.”


Aku sampai jam tiga kurang lima belas.

Bukan karena rajin. Karena tidak bisa tidur, dan karena di kos aku cuma akan menatap langit-langit sambil membayangkan rak besi baris tiga runtuh di depan Pak Bagas.

Rolling door sudah terbuka.

Aku berhenti di trotoar.

Lampu gudang menyala. Dari luar aku bisa melihat cahayanya lewat celah pintu ayun.

Yang pertama muncul di kepalaku adalah maling, yang mana bodoh, karena maling tidak menyalakan lampu dan tidak membuka rolling door setengah.

Yang kedua adalah Bu Tuti.

Aku masuk pelan-pelan, mendorong pintu ayun, dan melihat gudang toko tempatku bekerja selama dua tahun dalam kondisi yang tidak pernah aku lihat seumur hidup.

Kardus kosong: sudah dilipat, diikat, ditumpuk di sudut.

Barang retur: sudah dipisah, dikelompokkan, diberi label tulisan tangan.

Rak besi baris tiga: berdiri lurus.

Dan di depan rak itu, dengan kunci pas di tangan dan kaus yang punggungnya basah, ada seseorang yang sedang mengencangkan baut terakhir.

Aku berdiri di pintu ayun tanpa suara.

Dia belum melihatku. Dia sedang berjongkok, memeriksa kaki rak, menggoyangnya sekali untuk memastikan.

Lalu dia berdiri, mengelap tangan ke celana, melihat sekeliling ruangan sekali — pemeriksaan terakhir, cara orang yang terbiasa serah terima gudang — dan berjalan ke arah pintu belakang.

Bukan ke arahku.

Ke arah keluar.

Dia akan pergi tanpa memberi tahu siapa pun.

“Ardafa.”

Dia berhenti.

Bahunya naik, lalu turun.

Dan waktu dia berbalik, ekspresinya persis seperti anak SD yang tertangkap sedang memindahkan jawaban.


“Kamu ngapain.”

“Lewat.”

“Lewat.”

“Iya.”

“Gudang ini bukan jalan, Dafa.”

Dia menggosok belakang lehernya.

“Kamu jam berapa ke sini?”

“Nggak lama.”

“Jam berapa.”

“Vero—”

“JAM BERAPA.”

“Setengah dua belas.”

Aku menghitung.

Tiga setengah jam. Dia mengangkat kardus, membongkar retur, dan memperbaiki rak besi selama tiga setengah jam, dan dalam empat puluh menit lagi dia harus berangkat ke gudang lain untuk melakukan hal yang persis sama sebagai pekerjaan berbayar.

“Kamu shift jam berapa?”

“Tujuh.”

“Malem tadi kamu shift?”

“...iya.”

“Berarti kamu belum tidur sama sekali.”

Dia tidak menjawab.

“Ardafa Pratama.”

“Kamu stres,” katanya. “Kamu telepon aku semalem dan suaramu—” Dia berhenti. “Kamu nggak cerita apa-apa. Kamu cuma nanya kabar aku terus nutup teleponnya cepet.”

“Terus kamu ke sini?”

“Iya.”

“Tanpa bilang?”

“Iya.”

“Kenapa nggak bilang?”

Dan dia menjawab, dengan nada seorang laki-laki yang sedang menjelaskan hal yang menurutnya sangat masuk akal:

“Kalau aku bilang, kamu bakal nyuruh aku pulang.”


Aku menangis di gudang toko jam tiga pagi dan aku tidak akan meminta maaf untuk itu.

Bukan menangis keras. Menangis jenis yang kamu sadari sedang terjadi tiga detik setelah dimulai, waktu ada yang jatuh ke punggung tanganmu dan kamu berpikir lho.

Dia panik. Betul-betul panik. Laki-laki itu bisa mengangkat karung lima puluh kilo dan memperbaiki rak dalam gelap dan langsung kehilangan seluruh kemampuannya begitu ada air mata di ruangan.

“Kamu kenapa—”

“Diem.”

“Vero—”

“Diem.”

Aku menempelkan wajahku ke dadanya, ke kaus yang bau debu dan keringat dan sedikit oli, dan menangis di situ selama kira-kira satu menit sementara tangannya mengambang di udara selama tiga detik sebelum akhirnya turun ke punggungku.

“Kamu nggak boleh gitu terus,” kataku ke kausnya.

“Gitu gimana?”

“Ngelakuin semuanya sendiri terus pergi diem-diem.”

Tangannya berhenti mengusap.

Aku tidak menyadari itu waktu itu. Aku baru menyadarinya berminggu-minggu kemudian, waktu semuanya sudah terjadi dan aku memutar ulang malam ini di kepalaku dan sadar bahwa aku sudah mengatakan seluruh masalahnya di gudang jam tiga pagi, dengan tepat, dalam satu kalimat, dan kami berdua membiarkannya lewat begitu saja.

“Aku bikinin kopi,” katanya.

“Kamu ganti topik.”

“Iya.”


Senin jam tujuh, Pak Bagas datang.

Beliau berjalan mengelilingi toko selama dua puluh menit dengan tablet di tangan dan wajah yang tidak menunjukkan apa pun. Mengecek label. Mengecek suhu kulkas. Membuka pintu ayun.

Dan berhenti di gudang selama hampir lima menit.

Waktu beliau keluar, Bu Tuti sudah dalam posisi siaga penuh.

“Bu Tuti.”

“Iya, Pak.”

“Gudangnya siapa yang ngerjain?”

“Kami bertiga, Pak. Kerja bakti.”

“Rak baris tiga bautnya diganti.”

“Iya, Pak.”

“Yang lama M8. Yang baru M10.” Pak Bagas menatap tabletnya. “Toko nggak punya stok M10.”

Hening.

“Itu—” Bu Tuti melirik aku. “Itu beli sendiri, Pak.”

“Oh.” Pak Bagas mengetik sesuatu. “Kasih tahu ke saya nanti berapa, saya reimburse.”

Dan beliau pergi, dan kami bertiga berdiri di tengah toko selama sepuluh detik penuh tanpa bergerak.

Lalu Bu Tuti berbalik ke arahku.

“Vero.”

“Bu.”

“Siapa yang beli baut.”

“Saya.”

“Vero.”

“Saya, Bu.”

Bu Tuti menatapku selama tiga detik. Lalu berjalan ke ruang belakang tanpa berkata apa-apa.


Beliau memanggilku sepuluh menit kemudian.

Layar CCTV menyala di meja. Kamera tiga. Gudang. Timestamp: 23.34.

Di layar itu, dalam hitam putih dan resolusi yang buruk, seorang laki-laki masuk lewat pintu belakang, berhenti sebentar untuk melihat sekeliling, lalu mulai melipat kardus satu per satu.

Bu Tuti tidak berkata apa-apa selama dua puluh detik.

Lalu beliau menekan tombol jeda.

“Ini yang beli roti cokelat itu, kan.”

“Iya, Bu.”

“Yang kamu kasih kopi gratis tiap pagi dan kamu bayarin pakai uang kamu sendiri, yang kamu kira Ibu nggak tahu selama tiga minggu.”

Aku menunduk.

Bu Tuti menghela napas panjang, melepas kacamatanya, dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Vero.”

“Iya, Bu.”

“Ibu ini udah dua puluh dua tahun kerja di ritel,” katanya. “Ibu udah lihat orang nyuri, orang bohong, orang kabur bawa uang setoran. Ibu udah lihat macem-macem.”

Beliau memasang kacamatanya lagi.

“Ibu belum pernah lihat orang masuk gudang jam setengah dua belas malem buat betulin rak yang bukan urusannya, terus pulang tanpa bilang siapa-siapa.”

“Bu—”

“Bawa dia ke sini hari Jumat. Ibu mau kenalan.” Beliau menutup layar CCTV. “Dan bilang ke dia, bautnya nanti Ibu ganti.”

“Dia nggak akan mau, Bu.”

“Ibu tahu,” kata Bu Tuti. “Makanya Ibu nggak nanya.”