Chapter Twenty Nine
Ditolak di Baris Ketiga
POV: Vero
Formulir mutasi shift itu satu halaman.
Aku mengisinya tiga kali. Yang pertama karena tulisanku jelek di kolom alasan. Yang kedua karena Bu Tuti bilang kalimatnya “terlalu jujur untuk dokumen resmi”. Yang ketiga jadi.
Kolom alasan, versi final, hasil kerja tiga orang selama empat puluh menit:
Penyesuaian penempatan untuk kebutuhan operasional. Slot kasir pagi tunggal menyebabkan gangguan pelayanan pada jam penerimaan barang (3× seminggu, rata-rata 12 menit tanpa kasir aktif). Diusulkan penambahan personel pada slot pagi dan pemindahan personel terkait ke shift siang.
“Bagus,” kata Bu Tuti. “Ini bahasa manajemen.”
“Ini nggak ada hubungannya sama alasan aslinya, Bu.”
“Justru itu bagus.”
Pak Bagas datang hari Jumat jam sepuluh.
Beliau membaca formulir itu di meja ruang belakang selama tiga menit penuh tanpa berkata apa-apa, dengan tablet di sebelah kanan dan kopi yang tidak beliau sentuh di sebelah kiri.
Aku berdiri. Bu Tuti berdiri. Yoga berdiri di pintu karena tidak diundang tapi juga tidak diusir.
“Datanya bener?” tanya Pak Bagas.
“Bener, Pak,” kata Bu Tuti. “Saya cek CCTV dua minggu.”
“Dua belas menit.”
“Rata-rata.”
Pak Bagas mengangguk.
“Analisisnya bagus,” katanya. “Saya setuju sama masalahnya.”
Aku menahan napas.
“Tapi solusinya nggak bisa.”
Alasannya ada di baris ketiga formulir.
Diusulkan penambahan personel pada slot pagi.
“Penambahan personel itu rekrutmen,” kata Pak Bagas. “Rekrutmen itu bukan wewenang toko. Itu wewenang area. Dan area lagi nggak buka kuota sampai kuartal depan.”
“Kuartal depan itu—”
“Tiga bulan lagi, Bu Tuti.”
Ruangan itu jadi sangat sunyi.
“Kalau nggak ada penambahan,” lanjut beliau, “berarti slot pagi kosong kalau Vero pindah. Dan toko nggak bisa buka tanpa kasir.”
Beliau menutup formulir itu dan menggesernya kembali ke tengah meja.
“Saya nggak nolak masalahnya,” katanya. “Saya nolak yang di baris ketiga. Cari orangnya dulu. Kalau ada orangnya, saya tanda tangan hari itu juga.”
Dan beliau pergi jam setengah sebelas, dan aku berdiri di ruang belakang menatap satu lembar kertas yang sudah aku isi tiga kali.
Aku menangis di gudang jam sebelas.
Aku tidak bangga soal ini. Aku sedang bercerita apa adanya.
Bukan menangis besar. Menangis frustrasi, yang jenisnya jelek karena tidak melegakan apa-apa — cuma bikin mata bengkak dan hidung mampet dan harus cuci muka sebelum kembali ke kasir.
Yoga masuk membawa krat, melihat aku, dan mundur keluar tanpa berkata apa-apa. Empat puluh detik kemudian dia kembali membawa satu bungkus roti keju dan meletakkannya di meja lipat baru — meja yang keempat kakinya utuh — lalu keluar lagi.
Bu Tuti masuk sepuluh menit kemudian.
“Vero.”
“Sebentar, Bu.”
“Nggak apa-apa. Nangis aja dulu.”
Beliau duduk di kursi lipat dan menunggu.
“Tiga bulan, Bu.”
“Iya.”
“Tiga bulan lagi dia udah keburu—” Aku menghapus mataku dengan lengan. “Posisi di kantor itu udah diisi orang lain, Bu. Pasti. Nggak mungkin kosong tiga bulan.”
“Iya.”
“Terus saya harus gimana?”
Bu Tuti menghela napas panjang.
“Ibu nggak tahu,” kata beliau. “Ibu supervisor toko, Vero. Ibu bisa ngatur rak. Ibu nggak bisa ngatur kuota rekrutmen.”
Dan itu jawaban paling jujur yang pernah beliau berikan padaku, dan entah kenapa itu justru membuatku menangis lagi.
Ardafa datang jam dua belas kurang.
Bukan jam empat lima puluh. Bukan pagi. Tengah hari, di bawah matahari, dengan kaus biasa dan rambut yang jelas baru bangun, di jam yang seharusnya dia sedang tidur.
Aku melihatnya dari belakang kasir dan langsung tahu.
“Yoga.”
“Aku nggak ngomong apa-apa.”
“Yoga.”
“Aku ngomong satu hal.” Dia mengangkat satu jari. “Aku bilang ‘dia lagi nggak baik-baik aja’. Itu doang. Itu bukan detail.”
Dia masuk. Berjalan lurus ke kasir. Tidak melihat kiri kanan, seperti biasa, seperti empat bulan yang lalu.
“Kamu harusnya tidur.”
“Iya.”
“Dafa, kamu shift jam tujuh—”
“Iya.”
Dia berdiri di depan mesin kasir dan menatapku, dan aku menatapnya balik dengan mata yang jelas-jelas bengkak dan hidung yang jelas-jelas merah, dan tidak ada satu pun dari kami yang berpura-pura tidak melihat.
“Ditolak?”
“Setengah.”
“Setengah gimana?”
Jadi aku menceritakannya. Semuanya, dengan urutan yang berantakan, sambil sesekali berhenti untuk melayani pelanggan yang datang membeli rokok dan pulsa dan satu bungkus mi instan.
Kolom alasan. Data dua belas menit. Baris ketiga. Kuota rekrutmen. Tiga bulan.
Dan sepanjang itu dia berdiri di depan mesin kasir tanpa memotong sekali pun, dan waktu aku selesai, dia diam beberapa detik.
Lalu dia berkata:
“Aku boleh ngomong?”
“Boleh.”
“Aku hampir nyari orang.”
“Apa?”
“Tadi. Di jalan ke sini.” Dia menggosok belakang lehernya. “Aku hampir nyusun daftar di kepala. Siapa yang nganggur, siapa yang bisa masuk jam lima, siapa yang bisa aku telepon.”
Aku meletakkan pistol barcode.
“Terus?”
“Terus aku inget aku udah janji.”
“Kamu bisa aja tetep nyari.”
“Iya.”
“Aku nggak akan tahu.”
“Kamu bakal tahu,” katanya. “Kamu selalu tahu. Itu bukan alasannya.”
“Terus alasannya apa?”
Dan laki-laki itu — di tengah minimarket, jam dua belas siang, di antara pelanggan yang antre beli pulsa, dengan rambut yang belum disisir dan mata yang masih merah karena harusnya sedang tidur — berkata:
“Karena aku jatuh cinta sama kamu.”
Bunyi mesin kasir. Bunyi pintu otomatis. Ada seseorang di belakangnya memegang dua botol air mineral.
“Dafa.”
“Aku ngomongnya jelek banget, ya.”
“Kamu—”
“Ini bukan tempatnya. Aku tahu.”
“DAFA.”
“Aku udah nyusun yang bagus.” Dia mengangkat tangannya sedikit. “Beneran. Aku udah nyusun buat nanti. Ada tempatnya, ada waktunya. Terus aku ke sini dan kamu lagi nangis dan itu semua ilang.”
Bapak-bapak di belakangnya meletakkan dua botol air mineral di meja kasir dengan sangat hati-hati, mundur satu langkah, dan tidak berkata apa-apa.
“Aku jatuh cinta sama kamu,” kata Ardafa lagi. “Dan aku nggak nyari orang, karena kamu minta aku diem, dan itu satu-satunya hal yang pernah kamu minta dari aku.”
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan.
“Veronica.”
Aku berhenti bernapas.
Empat bulan. Nama lengkapku, dari mulutnya, satu kali.
“Aku nggak peduli kamu berhasil apa nggak,” katanya. “Aku cuma nggak mau kamu ngerjain ini sendirian juga.”
Aku keluar dari belakang kasir.
Aku tahu itu pelanggaran prosedur. Aku tahu ada dua botol air mineral yang belum dibayar dan seorang bapak-bapak yang sedang menunggu dan CCTV kamera satu yang menghadap tepat ke arah kami.
Aku tidak peduli.
Aku menabraknya dan dia menangkapku dan aku menangis di kaus abu-abunya di tengah minimarket jam dua belas siang, dan dia memegang belakang kepalaku dengan satu tangan dan tidak berkata apa-apa lagi.
“Aku belum bisa balas,” kataku ke kausnya.
“Nggak usah.”
“Aku mau balas.”
“Nggak usah sekarang.”
“Kamu nggak ngerti, aku—”
“Vero.” Dia menunduk ke telingaku. “Aku udah nunggu seratus dua puluh delapan hari buat ngomong satu kalimat. Aku bisa nunggu lagi.”
Bapak-bapak itu akhirnya membayar air mineralnya ke Yoga.
Dan waktu beliau keluar, aku dengar beliau berkata pada Yoga, dengan nada orang yang sedang menyampaikan informasi penting:
“Mas, itu kasirnya nangis.”
“Iya, Pak.”
“Nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, Pak. Itu bagian yang bagus.”
- 1 Hari ke Seratus Delapan Belas
- 2 Empat Kata
- 3 Teori Nomor Tujuh
- 4 Tiga Detik
- 5 Stok Roti Sobek
- 6 Sebelas Sentimeter
- 7 Arah yang Salah
- 8 Saksi Berumur Delapan Tahun
- 9 Kasihan
- 10 Tanpa Ketukan
- 11 Orang Ini Siapa
- 12 Kursi Plastik Nomor Dua
- 13 Gudang Belakang
- 14 Interogasi Jam Satu Pagi
- 15 Ujian Masuk
- 16 Negosiasi Gagal
- 17 Rekaman Kamera Tiga
- 18 Kaus yang Kebesaran
- 19 Namanya Wulan
- 20 Kue yang Miring
- 21 Kolom Nama Wali
- 22 Delapan Belas Foto
- 23 Kabar Bagus
- 24 Yang Aku Hitung
- 25 Sendirian di Tangga Besi
- 26 Yang Tidak Aku Tahu
- 27 Komite
- 28 Izin
- 29 Ditolak di Baris Ketiga reading
- 30 Telepon Pertama
- 31 Nama-Nama
- 32 Jam Empat Lima Puluh