Chapter Ten
Tanpa Ketukan
POV: Ardafa
Aku tidak tidur sama sekali malam itu.
Bukan karena kerja. Kerjanya biasa saja — dua truk, selesai jam dua, sisanya cuma menunggu. Aku duduk di tangga besi belakang gudang dari jam dua sampai jam empat dan melakukan satu hal saja: berlatih.
Ada empat versi.
Versi pertama panjang. Menjelaskan semuanya dari awal — kenapa aku diam, kenapa aku menyimpan struk, kenapa aku menabung koin lima ratus. Aku membuangnya karena kalau aku mulai dari awal aku tidak akan pernah sampai ke akhir.
Versi kedua pakai perumpamaan. Aku membuangnya karena aku bukan orang yang bisa memakai perumpamaan tanpa terdengar seperti sedang membaca kartu ucapan.
Versi ketiga aku buang karena diawali dengan kata “sebenarnya”, dan kata “sebenarnya” itu terdengar seperti orang mau minta maaf.
Versi keempat tiga kata.
Raka menemukanku jam tiga lewat, masih duduk di tangga, dan tidak bertanya apa-apa. Dia cuma melempar sekaleng minuman dingin ke pangkuanku dan berkata, “Apa pun itu, jangan mikir lagi. Kamu udah kelamaan mikir. Orang kayak kamu kalau mikir kelamaan jadinya nggak jadi.”
“Aku nggak lagi mikir apa-apa.”
“Dua kata.”
“Itu lima kata.”
“Nadanya dua kata.”
Aku membuka kaleng itu dan tidak menjawab, dan Raka pergi sambil tertawa seperti orang yang sudah tahu dia menang.
Angkot jam empat tiga puluh delapan.
Pak Sarju melihat lewat spion dan langsung menyalakan radio, lalu mematikannya lagi.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa, Pak.”
“Muka kamu kayak orang mau ujian.”
“Iya, Pak.”
“Yang diuji apa?”
Aku tidak menjawab. Pak Sarju mengangguk-angguk sendiri di depan seolah dia mendapat jawaban lengkap.
“Yaudah,” kata beliau. “Yang penting jangan bohong. Bohong itu ongkosnya mahal, dibayarnya belakangan, dan bunganya nggak masuk akal.”
Aku turun di depan terminal dan memberi ongkos lebih. Beliau memasukkannya ke kaleng tanpa menghitung, sesuai kebiasaan, sesuai kepercayaan, sesuai lupa.
Lampu toko sudah menyala.
Aku berdiri di trotoar seberang selama satu menit penuh, yang belum pernah aku lakukan, dan yang membuat kucing oranye itu duduk di sebelahku dengan sikap seseorang yang datang untuk menonton.
Dari sini aku bisa melihat ke dalam.
Dia sedang menata rak permen. Rak permen itu rapi. Rak permen itu selalu rapi. Aku sudah lama tahu bahwa dia merapikan rak yang rapi kalau tangannya perlu kerjaan, dan pengetahuan itu — kecil, tidak berguna, tidak akan pernah tertulis di mana pun — adalah salah satu hal favoritku di dunia.
Poninya jatuh ke mata. Dia meniupnya. Poninya naik dan jatuh lagi ke tempat yang persis sama.
Aku menyeberang.
Jam empat lima puluh.
Dan aku tidak mengetuk.
Aku berdiri di depan pintu kaca itu, di titik yang biasa, dengan tangan di sisi badan, dan menunggu.
Butuh tujuh detik.
Aku melihat dia berbalik dari rak permen dengan gerakan otomatis, sudah setengah jalan ke tombol pintu, sebelum otaknya menyusul dan menyadari bahwa tidak ada ketukan.
Dia berhenti.
Melihat ke pintu.
Melihat aku berdiri di sana.
Dan aku melihat wajahnya berubah dari bingung ke sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat dia berhenti bergerak sama sekali selama dua detik.
Pintu terbuka.
“Kamu nggak ngetuk,” katanya.
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Aku takut kalau ngetuk, aku langsung masuk ke urutannya. Roti, susu, empat belas ribu lima ratus, keluar.” Aku menarik napas. “Terus aku nggak jadi lagi.”
Dia berdiri di ambang pintu tanpa bergerak.
Di belakangnya, jauh di dalam toko, aku sempat melihat sesuatu bergerak di balik rak mi instan. Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya.
“Nggak jadi apa?” tanyanya, dan suaranya keluar hampir tidak ada.
Empat versi. Aku sudah menyusun empat versi dari jam dua pagi. Aku sudah menyusunnya sejak seratus dua puluh delapan hari yang lalu kalau mau dihitung jujur.
Dan berdiri di sini, dengan udara subuh yang dingin dan lampu neon yang jelek dan seorang perempuan berseragam kebesaran yang poninya baru saja jatuh lagi ke matanya, aku sadar tidak ada satu pun dari empat versi itu yang aku butuhkan.
“Aku suka kamu.”
Dia tidak bergerak.
Aku menunggu tiga detik — dan aku tahu persis berapa lama tiga detik itu, aku pernah menghabiskan tiga detik yang paling mahal dalam hidupku di ambang pintu ini — dan dalam tiga detik itu aku sempat memikirkan seluruh isi kalengku, seluruh isi catatan ponselku, dan bagaimana caranya aku akan tetap membeli roti di sini setiap pagi setelah ini.
Lalu dia bilang:
“Aku juga suka kamu. Dari lama.”
Tanpa jeda. Tanpa hiasan. Tanpa tarik napas dramatis.
Persis seperti dia menyebutkan harga.
Aku mengerjap.
“Dari lama itu—”
“Jangan dihitung.”
“Aku cuma mau tahu—”
“Ardafa.” Dia mengangkat wajahnya, dan matanya basah di pinggir, dan dia sedang tersenyum sampai lesung di pipi kanannya kelihatan penuh. “Aku nyimpen kalender di ruang belakang. Aku tandain pakai pulpen merah. Dari hari kelima.”
Ada beberapa momen dalam hidup di mana seluruh tubuhmu memutuskan sesuatu sebelum kepalamu sempat ikut rapat.
Aku melangkah maju.
Tanganku sampai di pipinya lebih dulu — dan tanganku besar dan kasar dan sama sekali tidak pantas berada di sana, dan dia tidak mundur, dan wajahnya hangat persis seperti tangannya waktu itu.
“Boleh?” kataku.
Dia mengangguk sekali. Cepat. Seperti orang yang takut kesempatannya diambil.
Aku menunduk dan menciumnya.
Di bawah kanopi toko yang bocor di sudut kiri dan menetes ke bahuku dan aku tidak peduli sedikit pun. Bibirnya lebih lembut dari apa pun yang pernah aku sentuh dan tangannya naik ke depan jaketku dan mencengkeram kainnya seperti orang yang perlu pegangan, dan aku merasakan dia tersenyum di tengah-tengah, dan itu — itu yang menghancurkanku.
Aku mundur beberapa senti. Dahiku di dahinya.
“Poni kamu,” kataku.
“Kenapa?”
“Kamu tiup terus. Dari dulu.”
“Terus?”
“Aku suka.”
Dan lehernya merah duluan, seperti biasa, sebelum wajahnya menyusul.
Yang terjadi berikutnya adalah bunyi paling keras yang pernah aku dengar di dalam bangunan komersial.
Rak mi instan — seluruhnya, empat tingkat, kira-kira dua ratus bungkus — runtuh ke lantai toko seperti longsor.
Kami berdua menoleh.
Di antara reruntuhan itu berdiri seorang perempuan berumur empat puluh delapan tahun dengan map plastik di satu tangan, kacamata melorot ke ujung hidung, dan ekspresi seseorang yang baru saja menyaksikan hal paling membahagiakan dalam kariernya.
“Bu Tuti,” kata Vero dengan suara tercekik.
“Ibu lagi ngecek facing produk.”
“Jam segini?”
“Facing produk itu nggak kenal waktu.”
“Bu.”
“Ibu nggak lihat apa-apa.” Beliau membetulkan kacamatanya. “Ibu cuma dengar. Dan yang Ibu dengar itu bagus sekali.”
Dari kursi plastik di depan kaca — di dalam toko yang belum buka, dengan gelas kopi yang belum dibayar — Pak Herman menyeruput dengan tenang.
“Seratus dua puluh delapan,” kata beliau.
Aku dan Vero menoleh serempak.
Beliau tidak menoleh balik.
- 1 Hari ke Seratus Delapan Belas
- 2 Empat Kata
- 3 Teori Nomor Tujuh
- 4 Tiga Detik
- 5 Stok Roti Sobek
- 6 Sebelas Sentimeter
- 7 Arah yang Salah
- 8 Saksi Berumur Delapan Tahun
- 9 Kasihan
- 10 Tanpa Ketukan reading
- 11 Orang Ini Siapa
- 12 Kursi Plastik Nomor Dua
- 13 Gudang Belakang
- 14 Interogasi Jam Satu Pagi
- 15 Ujian Masuk
- 16 Negosiasi Gagal
- 17 Rekaman Kamera Tiga
- 18 Kaus yang Kebesaran
- 19 Namanya Wulan
- 20 Kue yang Miring
- 21 Kolom Nama Wali
- 22 Delapan Belas Foto
- 23 Kabar Bagus
- 24 Yang Aku Hitung
- 25 Sendirian di Tangga Besi
- 26 Yang Tidak Aku Tahu
- 27 Komite
- 28 Izin
- 29 Ditolak di Baris Ketiga
- 30 Telepon Pertama
- 31 Nama-Nama
- 32 Jam Empat Lima Puluh