← Shift Ketiga

Chapter Twelve

Kursi Plastik Nomor Dua

POV: Ardafa


Kencan pertama kami terjadi di kursi plastik depan kaca minimarket, jam setengah enam pagi, dengan menu roti keju dan dua gelas kopi mesin.

Aku ingin mencatat bahwa ini bukan ideku.

“Ini kencan,” katanya, sambil menaruh nampan plastik di antara kami seperti pramusaji di restoran mahal.

“Ini kursi tempat Pak Herman duduk.”

“Pak Herman belum datang.”

“Pak Herman selalu udah datang.”

“Hari ini beliau telat lima menit dan aku akan memanfaatkan lima menit itu semaksimal mungkin.”

Dia duduk di kursi plastik nomor dua, menghadapku, dengan seragam yang kebesaran di bahu dan poni yang sudah jatuh lagi ke matanya walaupun baru sepuluh menit lalu dijepit.

Di luar, langit masih setengah gelap. Lampu jalan masih menyala. Ada satu truk sayur lewat dan bunyinya mengisi seluruh ruangan lalu hilang.

Dan aku duduk di sana memikirkan bahwa aku sudah dua puluh lima tahun dan pernah pergi ke beberapa tempat dan tidak satu pun dari tempat itu yang membuat dadaku sesak seperti kursi plastik di depan kaca ini.

“Kamu kenapa senyum?”

“Nggak.”

“Kamu senyum.”

“Nggak.”

“Ardafa, aku hafal muka kamu dari empat bulan lalu waktu muka kamu belum ada isinya sama sekali. Sekarang ada isinya. Aku bisa baca.”

Aku menggigit roti supaya tidak perlu menjawab.

Kalau harus jujur — dan aku tidak akan jujur, tidak pagi ini, tidak dengan wajah itu sepuluh sentimeter dari wajahku — yang membuatku tersenyum adalah hal yang sangat kecil.

Dia menaruh gelas kopiku lebih dekat ke tanganku daripada tangannya sendiri.

Aku tidak yakin dia sadar melakukannya. Nampan itu diletakkan, gelas dipindahkan sedikit, dua sentimeter, ke arah yang benar. Selesai. Tidak dikatakan, tidak ditunjukkan, tidak akan pernah dia ingat.

Aku menghabiskan sisa hidupku sampai hari itu dengan mengurus orang. Ini pertama kalinya ada yang menggeser gelas untukku.


Dia bertanya banyak sekali pagi itu.

Bukan pertanyaan besar. Justru sebaliknya — pertanyaan yang tidak ada gunanya, yang tidak akan pernah ditanyakan orang yang cuma ingin sopan.

“Kamu tidur miring apa telentang?”

“Telentang.”

“Aku miring. Kanan.”

“Oke.”

“Kamu mandi pagi atau malem?”

“Sore. Sebelum berangkat.”

“Kamu punya sabun berapa jenis?”

“Satu.”

“Satu?”

“Satu sabun. Buat semua.”

Dia meletakkan gelasnya. “Termasuk rambut?”

“Iya.”

“Ardafa.”

“Kenapa.”

“Rambut kamu bagus banget dan kamu cuci pakai sabun mandi.” Dia menatapku dengan ekspresi seseorang yang baru mengetahui ketidakadilan struktural. “Aku pakai tiga produk. Tiga. Rambutku begini.”

“Rambut kamu bagus.”

“Kamu ngomong gitu karena kamu pacarku.”

“Aku ngomong gitu karena aku hafal kamu punya empat jepit rambut dan yang paling bagus yang kuning.”

Dia berhenti bergerak.

“Kamu hafal jepit rambutku?”

“Iya.”

“Ada berapa?”

“Empat. Kuning, ijo muda, yang bunga tapi kelopaknya tinggal empat, sama biru.” Aku menyeruput kopiku. “Yang biru bukan punya kamu.”

“Kok tahu?”

“Cuma dipakai dua kali. Kamu nggak pernah pakai dua kali barang yang kamu suka. Kamu pakai terus sampai rusak.”

Vero meletakkan roti kejunya, menaruh kedua siku di meja, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan tidak bergerak selama sepuluh detik penuh.

“Kamu kenapa?”

“Jangan ngomong dulu.”

“Kenapa?”

“Aku bilang jangan ngomong dulu.”

Aku menunggu.

“Yang biru punya adikku,” katanya dari balik telapak tangan. “Aku ambil waktu pulang kampung. Dia belum tahu.”

“Aku nggak akan lapor.”

“Kamu—” Dia menurunkan tangannya. Wajahnya merah dari leher sampai ke telinga. “Kamu tuh dulu diem empat bulan buat nyimpen semua ini?”

“Iya.”

“Kenapa nggak dikeluarin dikit-dikit?”

“Aku nggak bisa dikit-dikit.”


Pak Herman datang jam lima empat puluh dua.

Beliau melihat kami berdua di kursi plastik. Melihat nampan. Melihat dua gelas kopi. Lalu berjalan ke kursi paling ujung, yang bukan kursinya, dan duduk di sana tanpa berkata apa-apa.

“Pak, maaf—” kata Vero.

“Duduk.”

“Tapi itu kursi—”

“Saya udah enam puluh tujuh tahun. Kursi mana aja sama.” Beliau membuka koran. “Yang beda cuma orangnya.”

Vero menoleh ke aku dengan mata berkaca-kaca dan aku harus menendang kakinya pelan di bawah meja supaya dia tidak menangis di tempat kerja sebelum toko buka.


Yang terjadi kemudian aku salahkan sepenuhnya pada kurang tidur, walaupun aku sudah tidur delapan jam dan alasan itu sudah tidak berlaku.

Vero berdiri untuk mengambil serbet. Waktu kembali, dia berhenti di sebelah kursiku, bukan di seberang.

“Geser.”

“Ini kursi buat satu orang.”

“Geser.”

Dan dia duduk di sisa ruang yang tidak ada, dengan bahu menempel di lenganku, dan seluruh sisi kiri tubuhku berhenti berfungsi sebagai bagian dari sistem saraf yang normal.

Dia mengambil rotiku. Menggigitnya. Mengembalikannya.

“Itu punyaku.”

“Punya kita.”

“Kita baru pacaran dua hari.”

“Dua hari itu lama.” Dia menyandarkan kepalanya ke bahuku, seenaknya, seperti orang yang sudah melakukan itu bertahun-tahun. “Kamu tahu nggak, dua hari itu empat puluh delapan jam.”

“Aku tahu.”

“Kamu nunggu tiga ribu jam.”

“Kamu ngitung?”

“Aku kasir. Aku ngitung terus.”

Rambutnya di bahuku dan baunya seperti sabun yang murah dan aku memutuskan bahwa itu bau favoritku sekarang, dan aku tidak berniat memberitahunya karena dia akan memakainya untuk melawanku.

Aku mengangkat tangan dan meletakkannya di kepalanya. Mengusap sekali, dua kali.

Dia mengeluarkan bunyi kecil yang tidak sepenuhnya manusia.

“Jangan berhenti.”

“Toko buka lima menit lagi.”

“Jangan berhenti.”

“Sayang, toko buka—”

Dan aku berhenti.

Karena kata itu keluar sendiri, dari suatu tempat di dalam diriku yang jelas-jelas sudah menyusunnya lebih dulu tanpa izin, dan begitu ada di udara, kata itu terlalu besar untuk kursi plastik ini.

Vero mengangkat kepalanya.

Sangat pelan.

“Kamu bilang apa?”

Ada dua pilihan.

Pilihan pertama: menariknya kembali. Bilang salah ngomong. Bilang keceplosan. Kembali ke kursi seberang, minum kopi, selamat.

Pilihan kedua adalah yang aku ambil, dan aku mengambilnya karena aku sudah membuang seratus dua puluh delapan hari pada pilihan pertama dan aku sudah muak pada diriku sendiri.

Aku menatap matanya.

“Sayang,” kataku lagi. “Toko buka lima menit lagi.”

Vero menatapku selama satu setengah detik.

Lalu dia berdiri, berjalan ke belakang kasir, berjongkok di balik mesin, dan tidak muncul lagi.

“Vero.”

“Sebentar.”

“Toko buka.”

“SEBENTAR.”

Dari kursi ujung, tanpa menurunkan korannya, Pak Herman berkata:

“Dua menit. Anak itu perlu dua menit.”

Beliau benar. Dua menit kemudian dia berdiri, membetulkan seragamnya, menyalakan lampu papan promo, dan membuka pintu untuk pelanggan pertama seolah tidak terjadi apa-apa — kecuali bahwa wajahnya masih merah sampai jam sembilan pagi, dan Yoga menyinggung itu delapan kali sebelum makan siang.