Chapter Three
Teori Nomor Tujuh
POV: Vero
“Vampir,” kata Yoga.
“Nggak.”
“Dengerin dulu.”
“Nggak.”
“Vero.” Dia menaruh kedua tangannya di meja kasir seperti pengacara yang yakin akan menang. “Datang sebelum matahari terbit. Selalu pakai jaket item. Tudung. Kulitnya pucat—”
“Kulitnya nggak pucat.”
“—kulitnya agak pucat, dan dia nggak pernah beli apa-apa selain yang cair dan yang lembek. Roti sama susu. Makanan orang nggak punya gigi buat ngunyah, atau—” dia menunggu, “—makanan orang yang giginya dipake buat hal lain.”
Dari kursi plastik di depan kaca, Pak Herman menyeruput kopinya.
“Teori nomor tujuh,” gumam beliau.
“Delapan, Pak.”
“Yang kurir narkoba dihitung dua kali karena kamu ganti merek narkobanya.”
Yoga terlihat seperti orang yang baru saja diperiksa auditor.
Aku menata ulang rak permen di dekat kasir supaya tanganku ada kerjaan. Bukan karena raknya berantakan. Raknya rapi. Aku merapikan rak yang rapi karena kalau tanganku diam, aku akan mulai memikirkan angka seratus delapan belas lagi, dan kemarin Pak Herman sudah menembakkan angka itu ke udara terbuka dan Yoga belum berhenti menggali sejak saat itu.
“Kamu belum jawab yang kemarin,” kata Yoga.
“Yang mana.”
“Seratus delapan belas.”
“Itu stok mi instan.”
“Stok mi instan kita empat ratus.”
“Yang rasa soto.”
“Yang rasa soto sembilan puluh dua, aku yang input kemarin.” Dia mencondongkan badan. “Vero. Aku ini partner kerjamu. Aku yang nutupin waktu kamu telat gara-gara ban bocor. Aku yang bilang ke Bu Tuti kamu lagi di gudang padahal kamu lagi nangis di toilet gara-gara drama Korea—”
“Itu sekali.”
“Dua kali.”
“Yang kedua itu bukan drama Korea, itu iklan.”
Yoga membuka mulut, lalu menutupnya lagi, karena tidak ada yang bisa dibantah dari kalimat itu dan kami berdua tahu.
Aku melihat jam. Empat lewat empat puluh dua.
Delapan menit.
Dan di sinilah aku harus jujur pada diriku sendiri, walaupun tidak pada Yoga: aku sudah memutuskan sesuatu tadi malam. Aku memutuskannya sambil menatap langit-langit kos, di antara suara kipas angin yang bunyinya seperti orang berdehem, dan aku memutuskannya dengan sangat mantap seperti orang yang tidak akan menyesal.
Sekarang, dengan delapan menit tersisa, kemantapan itu sudah menyusut jadi seukuran koin lima ratus.
“Kamu kenapa?” Yoga menyipit. “Mukamu kayak orang mau lompat dari tebing.”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu ngelap etalase yang sama tiga kali.”
Aku berhenti mengelap.
Empat lewat empat puluh delapan.
“Yoga.”
“Apa.”
“Ke belakang, dong.”
“Kenapa?”
“Ambilin... roti sobek.”
“Roti sobek masih penuh.”
“Ambilin yang di gudang.”
“Yang di gudang belum masuk masa display—”
“Yoga.” Aku menoleh. “Please.”
Dan mungkin karena mukaku memang seperti orang mau lompat dari tebing, dia mengangkat kedua tangan dan mundur ke pintu belakang. Tapi dia mundur sambil mundur, kalau kamu tahu maksudku. Matanya tidak pernah lepas. Dia menghilang di balik pintu dengan kecepatan siput yang sedang mengambil keputusan besar.
Pak Herman tidak ke mana-mana. Beliau tidak akan ke mana-mana. Beliau memegang gelasnya dengan dua tangan dan menatap ke jalan dengan ekspresi orang yang sedang menonton pertandingan tinju dari kursi paling depan dan tidak mau ketinggalan satu pukulan pun.
Jam empat lima puluh.
Ketukan. Dua kali. Titik yang sama, sedikit di atas stiker promo susu yang sudah kedaluwarsa promonya sejak Februari.
Aku menekan tombol.
Dia masuk, dan tudungnya turun, dan rambut depannya berantakan ke satu sisi seperti orang yang tidak sempat melihat cermin — atau tidak punya alasan untuk peduli, yang menurutku lebih mungkin dan entah kenapa jauh lebih tidak adil.
“Pagi,” kataku.
Anggukan.
Selalu anggukan.
Tujuh langkah. Empat langkah. Sebelas langkah.
Roti ditaruh dengan hati-hati seperti barang pecah belah. Susu ditaruh di sampingnya. Uang sudah di tangannya sebelum aku selesai menyebut angka.
“Kantong plastik?”
“Nggak usah.”
Dia memasukkan roti ke saku. Mengambil susunya. Berbalik.
Dan detik itu jantungku memutuskan bahwa dia yang akan mengambil alih kemudi, karena mulutku bergerak sebelum otakku sempat mengajukan keberatan.
“Kamu nggak pernah jawab, ya?”
Aku ingin sekali bilang bahwa aku mengucapkannya dengan santai. Ringan. Bercanda. Seperti orang melempar bola pelan-pelan supaya gampang ditangkap.
Tapi tidak. Suaraku keluar terlalu pelan dan terlalu pendek, dan begitu kalimat itu ada di udara, aku langsung ingin menariknya kembali dan menelannya bulat-bulat.
Dia berhenti.
Bukan setengah detik seperti biasa.
Satu.
Punggungnya masih menghadapku. Bahunya naik sedikit, lalu turun. Tangan kirinya mengencang di sekitar kotak susu itu — aku lihat itu, aku betul-betul lihat itu, kotaknya sampai penyok sedikit di bagian atas.
Dua.
Kepalanya bergerak. Sedikit sekali. Seperti orang yang mau menoleh lalu mengubah pikiran di tengah jalan.
Tiga.
Lalu dia keluar.
Pintu menutup pelan seperti biasa, karena pintu ini tidak tahu apa-apa dan tidak peduli.
Aku berdiri di belakang kasir dengan tangan masih di atas mesin, dan wajahku panas dari telinga ke leher, dan aku sangat ingin tenggelam ke dalam laci uang receh.
Pintu belakang terbuka. Yoga keluar tanpa membawa satu bungkus roti pun.
“TIGA DETIK,” teriaknya.
“Kamu ngintip.”
“Aku ngintip dari lubang kunci dan itu TIGA DETIK, Vero, aku hitung pakai jam—”
“Itu nggak berarti apa-apa.”
“Orang yang mau berhenti itu berhenti nol koma lima. Tiga detik itu bukan berhenti, itu mikir.” Yoga menabrak rak permen dalam usahanya sampai ke kasir lebih cepat. “Apa yang kamu bilang? Kamu bilang apa? VERO.”
“Bukan urusanmu.”
“Ini urusanku, aku ini saksi—”
“Kamu saksi dari lubang kunci.”
“Saksi tetap saksi!”
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Vero.”
“Nggak.”
“Vero.”
“Aku bilang nggak.”
“Aku bawain kamu kopi seminggu penuh.”
“Kopi di sini gratis buat karyawan.”
“Aku bawain kamu kopi seminggu penuh sambil senyum.”
Aku menurunkan tangan cukup untuk melihatnya. Yoga sedang berdiri dengan kedua telapak disatukan di depan dada seperti orang meminta hujan turun.
“Aku cuma nanya kenapa dia nggak pernah jawab,” kataku akhirnya.
Yoga berdiri diam selama dua detik penuh.
Lalu dia menghantam meja kasir dengan kedua telapak tangan sekeras yang bisa dilakukan manusia jam lima kurang lima pagi.
“KAMU NEMBAK ORANG.”
“ITU BUKAN NEMBAK—”
“Itu nembak versi kasir!”
Aku menutup wajahku lagi.
Dan dari kursi plastik di depan kaca, tanpa menoleh, tanpa terburu-buru, dengan suara orang yang sudah enam puluh tujuh tahun melihat manusia melakukan hal-hal bodoh dan tidak pernah bosan:
“Kotak susunya penyok.”
Aku mengintip dari sela jari. “Apa, Pak?”
“Anak itu megang susu kotak tiap hari seratus delapan belas hari.” Pak Herman menyeruput. “Baru hari ini penyok.”
Yoga menoleh ke beliau dengan mulut terbuka.
Aku menoleh ke jalan, ke belokan yang sudah kosong.
Dan untuk pertama kalinya dalam empat bulan, aku berpikir bahwa mungkin — mungkin — aku bukan satu-satunya yang menghitung.
- 1 Hari ke Seratus Delapan Belas
- 2 Empat Kata
- 3 Teori Nomor Tujuh reading
- 4 Tiga Detik
- 5 Stok Roti Sobek
- 6 Sebelas Sentimeter
- 7 Arah yang Salah
- 8 Saksi Berumur Delapan Tahun
- 9 Kasihan
- 10 Tanpa Ketukan
- 11 Orang Ini Siapa
- 12 Kursi Plastik Nomor Dua
- 13 Gudang Belakang
- 14 Interogasi Jam Satu Pagi
- 15 Ujian Masuk
- 16 Negosiasi Gagal
- 17 Rekaman Kamera Tiga
- 18 Kaus yang Kebesaran
- 19 Namanya Wulan
- 20 Kue yang Miring
- 21 Kolom Nama Wali
- 22 Delapan Belas Foto
- 23 Kabar Bagus
- 24 Yang Aku Hitung
- 25 Sendirian di Tangga Besi
- 26 Yang Tidak Aku Tahu
- 27 Komite
- 28 Izin
- 29 Ditolak di Baris Ketiga
- 30 Telepon Pertama
- 31 Nama-Nama
- 32 Jam Empat Lima Puluh