← Shift Ketiga

Chapter Five

Stok Roti Sobek

POV: Vero


Bu Tuti datang hari Selasa dengan map plastik dan wajah orang yang sudah menyiapkan pidato di angkot.

“Vero,” katanya, sebelum tasnya sempat diletakkan. “Roti sobek.”

“Kenapa, Bu?”

“Kenapa varian cokelat kita habis terus tapi yang keju numpuk sampai lumutan?” Beliau meletakkan map itu di meja kasir dengan bunyi yang sengaja dibuat penting. “Kemarin manajemen area nanya. Saya bilang, ‘Pak, itu selera warga sini.’ Terus Pak Bagas bilang, ‘Selera nggak sekaku itu, Bu Tuti.’ Saya jawab, ‘Pak, cinta juga nggak sekaku itu tapi orang tetap nikah sama yang itu-itu aja.’”

Yoga menoleh dari rak minuman. “Nyambungnya di mana, Bu?”

“Nyambung, kok. Kamu aja yang otaknya lurus kayak selang.”

Bu Tuti punya kebiasaan menggunakan perumpamaan yang jalurnya tidak pernah sampai ke tujuan, dan yang membuatnya berbahaya adalah beliau mengucapkannya dengan penuh keyakinan sehingga kamu sempat percaya selama dua detik.

“Pokoknya kamu cek. Data enam bulan. Saya mau tahu siapa yang makan roti cokelat sebanyak itu.”

Aku tahu siapa.

Aku tahu persis siapa, dan aku tahu jumlahnya, dan aku tahu jamnya, dan pengetahuan itu duduk di dadaku sepanjang pagi seperti kucing yang tidur di tempat yang salah.


Aku mengerjakan datanya sore itu, di ruang belakang, dengan laptop toko yang kipasnya bunyi seperti pesawat mau lepas landas.

Dan angkanya, ketika keluar, membuatku duduk diam agak lama.

Dua bungkus per hari. Setiap hari. Tanpa putus. Tidak ada satu hari pun yang tiga, tidak ada satu hari pun yang satu. Selalu dua.

Orang yang membeli untuk dirinya sendiri tidak begitu. Orang yang membeli untuk dirinya sendiri akan bosan. Akan ada hari di mana dia ingin yang keju. Akan ada hari di mana dia sedang tidak lapar dan cuma beli satu. Akan ada hari di mana dia lembur dan beli tiga.

Ini bukan pola orang yang lapar.

Ini pola orang yang sedang memenuhi pesanan.

Aku menatap layar dan menyadari satu hal lagi, sesuatu yang seharusnya sudah aku sadari sejak hari kedua puluh: aku tidak pernah, satu kali pun, melihat dia makan.

Empat bulan. Seratus dua puluh pagi. Dia berdiri di depanku sambil memegang roti dan susu, dan tidak pernah sekali pun ada bekas cokelat di sudut bibirnya, tidak pernah sekali pun dia membuka bungkusnya di dalam toko walaupun tokoku punya kursi dan meja dan pemanas air gratis.

Susu stroberi.

Laki-laki dua puluh limaan, badan setinggi rak paling atas, kerja yang jelas berat kalau dilihat dari tangannya.

Susu. Kotak. Stroberi.

Aku menutup laptop.

“Yoga.”

“Hm.”

“Kalau kamu beli sarapan buat diri sendiri, kamu beli apa?”

“Nasi kuning dua bungkus.”

“Kalau tiap hari?”

“Nasi kuning dua bungkus, tapi hari Jumat aku selingi lontong biar hidupku ada dinamikanya.”

“Nah.”

“Nah apa?”

“Nggak apa-apa.”

Yoga menyipit. “Kamu lagi mikirin vampir kita, ya.”

“Dia bukan vampir.”

“Aku udah nggak pakai teori itu, kok. Sekarang teori sembilan: dia atlet lari yang dicoret dari timnas dan sekarang kerja jadi kurir di kota lain—”

“Yoga.”

“—makanya dia lari terus tiap pagi, makanya badannya kayak gitu, makanya dia nggak mau ngomong karena malu—”

Aku meninggalkan ruangan sambil dia masih bicara, karena kalau tidak, dia akan sampai ke teori sepuluh sebelum aku sempat menutup pintu.


Besoknya, jam empat empat puluh delapan, aku melakukan sesuatu yang sangat kecil dan sangat curang.

Aku memindahkan roti sobek cokelat.

Bukan jauh. Cuma dari rak baris kedua ke rak baris paling bawah, dua meter ke kanan, di bagian yang biasanya diisi roti tawar. Alasan resminya: penataan ulang sesuai instruksi supervisor. Alasan sebenarnya: aku ingin tahu apa yang terjadi kalau tujuh langkahnya rusak.

Ketukan. Dua kali.

Dia masuk. Melepas tudung.

Berjalan lurus ke rak roti — dan berhenti.

Dari belakang kasir aku melihat bahunya naik. Melihat kepalanya bergerak dari kiri ke kanan, sekali, pelan. Melihat dia mundur setengah langkah dan melihat ke rak yang salah, lalu ke rak yang lain, dengan wajah orang yang sedang mencari kunci di saku yang sudah dia periksa tiga kali.

Dan detik itu aku merasa jahat sekali dan senang sekali secara bersamaan, dan dua perasaan itu ternyata bisa muat dalam satu dada.

Akhirnya dia menemukannya. Di bawah. Dia harus berjongkok.

Waktu dia berdiri lagi, dia melihat ke arahku.

Betul-betul melihat. Bukan lewat. Bukan setengah. Kepalanya terangkat dan matanya ketemu mataku dari jarak sebelas meter, dan aku langsung menunduk ke mesin kasir dan menekan tombol yang tidak perlu ditekan.

Dia sampai di depanku.

“Dipindah,” katanya.

Tiga kata. Rekor baru.

“Iya,” kataku, dengan suara yang aku harap terdengar profesional. “Instruksi supervisor.”

“Oh.”

Dia menaruh dua bungkus roti di meja. Lalu susu.

“Empat belas ribu lima ratus.”

Dan di sinilah semuanya berantakan.

Karena dia mengulurkan uangnya — dan aku, entah kenapa, entah karena tanganku sedang bodoh atau karena otakku sedang sibuk memikirkan kata dipindah, mengulurkan tanganku untuk menerimanya.

Aku tidak pernah melakukan itu. Empat bulan. Dia selalu meletakkan, aku selalu membiarkan.

Jariku menyentuh telapak tangannya.

Bukan senggolan. Bukan setengah detik. Uang itu ada di antara kami dan tanganku ada di bawahnya dan tangannya ada di atasnya dan kami berdua berhenti bergerak seperti dua orang yang tiba-tiba disuruh berpose.

Tangannya kasar di bagian pangkal jari. Hangat. Jauh lebih hangat dari yang aku duga untuk orang yang baru jalan di udara pagi.

Satu detik. Dua.

Dia menarik tangannya.

Aku menarik tanganku.

Uangnya jatuh ke meja dan koin lima ratus itu berputar-putar di atas laminasi dengan bunyi yang, di dalam toko sesunyi ini, terdengar seperti alarm.

Kami berdua menatap koin itu berputar sampai berhenti.

“Maaf,” katanya.

“Nggak apa-apa,” kataku, terlalu cepat.

Aku memasukkan uangnya ke laci tanpa menghitung, yang mana adalah pelanggaran prosedur, dan aku tidak peduli.

“Kantong plastik?”

“Nggak usah.”

Dia memasukkan roti ke saku. Mengambil susunya. Berbalik.

Dan sebelum aku bisa menghentikan diriku sendiri, aku menambahkan satu kalimat lagi ke kalimat yang biasa.

“Hati-hati di jalan.” Jeda. “Semoga adiknya suka.”

Dia berhenti.

Kali ini dia menoleh.

Tidak penuh — cuma sampai aku bisa melihat setengah wajahnya, dan alis yang naik, dan mata yang untuk pertama kalinya dalam seratus dua puluh hari terlihat betul-betul bangun.

“Kamu tahu dari mana?”

Empat kata dari dia. Empat.

Aku membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi.

“Nebak,” kataku.

Dia menatapku dua detik lebih lama.

Lalu — dan ini yang membuatku harus berpegangan ke meja kasir setelah dia pergi — dia tersenyum. Kecil. Sebelah. Tidak sampai satu detik.

“Pinter,” katanya.

Dan keluar.

Yoga menemukanku sepuluh menit kemudian, masih berdiri di posisi yang sama, masih memegang meja.

“Vero?”

“Sebentar.”

“Kamu kenapa?”

“Sebentar.”

Dari kursi plastik di depan kaca, Pak Herman menyeruput kopinya dan tidak berkata apa-apa sama sekali, yang entah kenapa terasa jauh lebih memalukan daripada kalau beliau berkomentar.