← Shift Ketiga

Chapter Twenty Two

Delapan Belas Foto

POV: Ardafa


Aku bangun jam tiga sore hari Sabtu dengan rumah yang sudah ramai.

Itu sendiri sudah aneh. Rumah ini tidak pernah ramai jam tiga sore. Jam tiga sore rumah ini adalah tempat paling sunyi di kota, karena aku sedang tidur dan Sekar belum pulang dan tetangga depan sedang bekerja.

Aku keluar kamar dan menemukan dua orang duduk di lantai ruang tamu dengan punggung bersandar ke kaki meja, satu masih memakai kostum gurita yang salah satu tangannya diikat karet gelang, satu lagi memakai rok yang jelas-jelas disetrika terlalu rapi untuk hari Sabtu.

Keduanya menoleh bersamaan.

“Kakak bangun,” kata Sekar.

“Jangan—” Vero menarik lengan Sekar. “Sekar, jangan dulu.”

“Kenapa?”

“Aku mau kasih tahu sendiri.”

“Kak Vero lama.”

“Aku nggak lama, aku lagi nyiapin—”

Dan Sekar sudah berdiri, sudah menyeberangi ruangan, sudah menyerahkan ponsel Vero ke tanganku dengan layar yang sudah menyala.

“Ini Kak Vero yang foto,” katanya. “Ada banyak. Aku udah pilihin yang bagus.”

Di belakangnya, Vero jatuh ke belakang sampai punggungnya menempel penuh ke kaki meja dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku mau kasih lihat langsung,” katanya dari balik telapak tangannya. “Aku udah rencanain di angkot. Aku udah nyusun kalimatnya.”

“Kalimat apa?”

“Nggak jadi. Udah lewat. Terima kasih, Sekar.”

“Sama-sama, Kak Vero.”


Fotonya delapan belas.

Aku menggesernya satu per satu, berdiri di tengah ruangan, tidak duduk, karena aku tidak ingat harus duduk.

Foto pertama: Sekar di gerbang, kostumnya masih rapi, sedang mengangkat kedua tangan gurita ke arah kamera.

Foto keempat: Sekar duduk di kursi paling depan sambil menoleh ke belakang.

Foto ketujuh: buram total. Sekar sedang berlari.

Foto kesembilan: buram lagi.

Foto keempat belas: panggung. Delapan tangan terangkat semua. Mulut terbuka lebar, mata terpejam, nyanyian yang tidak bisa aku dengar dan tidak akan pernah aku dengar.

Aku berhenti di foto itu terlalu lama.

Dua tahun aku datang ke acara seperti ini. Dua tahun aku duduk di kursi tenda dengan mata setengah tertutup, menahan kepala supaya tidak jatuh ke depan, dan setiap kali Sekar menoleh ke belakang aku memaksa wajahku bekerja supaya kelihatan bangun.

Aku tidak pernah melihat anak itu dari depan.

Aku selalu ada di sana, dan aku tidak pernah benar-benar melihat.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak kenapa diem?”

“Nggak apa-apa.”

“Dua kata.”

Aku menggeser ke foto berikutnya supaya tidak perlu menjawab.


Aku baru duduk di foto ketujuh belas.

Bukan duduk di kursi. Duduk di lantai, di sebelah Vero, dengan punggung ke kaki meja, karena kakiku memutuskan itu sendiri.

Vero tidak berkata apa-apa. Dia cuma menggeser sedikit untuk memberi ruang, lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku, dan diam.

Sekar sudah pindah ke depan televisi yang tidak menyala karena antenanya rusak sejak Maret, dan sedang berbicara sendiri dengan salah satu tangan guritanya.

“Kolom nama wali,” kataku.

“Hm?”

“Diisi apa?”

Vero mengangkat kepalanya.

“Kamu tahu dari mana?”

“Sekar cerita. Tadi. Sebelum kamu bangunin aku.”

“Sekar cerita apa aja?”

“Semua.”

“Semua?”

“Sekar delapan tahun,” kataku. “Sekar nggak punya kategori ‘jangan diceritain’.”

Vero menutup matanya dan menghela napas panjang.

“Aku nggak ngeluruskan,” katanya. “Waktu Ibu Rina bilang ‘ibunya Sekar’. Aku nggak bilang bukan.”

“Kenapa?”

“Karena kalau aku luruskan, aku harus jelasin, terus penjelasannya panjang, terus Sekar udah di panggung.”

“Itu alasan yang kamu susun sekarang?”

“...iya.”

“Alasan yang aslinya apa?”

Dia diam beberapa detik.

“Aku pengen jadi orang yang duduk di kursi itu,” katanya pelan. “Bukan sekali. Terus.”


Aku menaruh ponsel itu di lantai.

Ada satu hal yang perlu aku catat di sini, karena kalau tidak dicatat aku akan lupa persis bagaimana rasanya.

Selama dua tahun terakhir hidupku disusun seperti jadwal muat truk. Jam tujuh berangkat. Jam setengah lima pulang. Jam lima sarapan Sekar. Jam lima lewat sepuluh tidur. Jam tiga sore bangun, jemput, masak, antar ngaji. Berangkat lagi.

Sistem itu bekerja. Sistem itu bekerja karena aku tidak pernah menambahkan variabel baru.

Dan sekarang ada seseorang di lantai ruang tamuku pada hari Sabtu jam tiga sore, dengan rok yang disetrika dua kali dan karet gelang di tas untuk mengikat tangan gurita yang lepas, yang tidak pernah aku minta untuk datang dan yang datang saja.

Yang menakutkan bukan itu.

Yang menakutkan adalah aku sudah tidak bisa membayangkan jadwal tanpa dia di dalamnya, dan aku baru pacaran tiga minggu, dan orang yang berpikir seperti itu setelah tiga minggu biasanya sedang melakukan kesalahan besar.

Aku memutuskan bahwa aku tidak peduli.

“Vero.”

“Hm.”

“Semester depan ada pentas lagi. Bulan November.”

Dia mengangkat kepalanya dari bahuku.

“Terus?”

“Aku belum tahu shift-ku November gimana.”

“Terus?”

Aku menoleh ke arahnya.

“Kalau aku nggak bisa dateng,” kataku, “kamu mau dateng?”

Dia menatapku.

“Kamu nanya beneran?”

“Iya.”

“Bulan November itu lima bulan lagi.”

“Iya.”

“Kamu nanya aku buat lima bulan lagi.”

“Iya.”

Dan perempuan itu — yang baru saja duduk empat jam di bawah tenda biru, yang menjahit tangan gurita hari Kamis, yang memfoto delapan belas kali dan sebagian besar buram — mulai menangis di lantai ruang tamuku tanpa suara sama sekali.

“Kenapa?”

“Diem.”

“Vero—”

“Aku bilang diem, Dafa.”

Aku diam.

Dia mengusap wajahnya dengan lengan kausnya dan menoleh ke arahku dengan hidung yang sudah merah.

“Aku dateng,” katanya.

“Oke.”

“Aku dateng walaupun kamu bisa dateng.”

“Oke.”

“Aku dateng ke semuanya. Sampai dia SMA. Sampai dia kuliah. Sampai dia bosen.”

Aku mengangkat tanganku ke wajahnya dan menghapus sisa yang belum dia hapus dengan ibu jariku, dan aku tidak berkata apa-apa karena aku tidak punya apa pun yang cukup besar untuk diletakkan di sebelah kalimat itu.

Jadi aku menciumnya di lantai ruang tamu rumah petak nomor tiga, pelan, dengan satu tangan di rahangnya.


“IH.”

Kami berdua menoleh.

Sekar berdiri di depan televisi yang mati dengan satu tangan gurita terangkat seperti orang yang mengajukan keberatan resmi.

“Kak Vero, kita lagi ada tamu.”

“Tamu siapa?”

“Aku.”

“Kamu tinggal di sini, Sekar.”

“Aku tetep tamu kalau lagi nonton.”

“Televisinya mati.”

“Aku nonton pakai imajinasi.”

Vero jatuh ke sisi tubuhku sambil tertawa dan aku harus menahannya dengan satu lengan supaya tidak menghantam lantai.

Dan aku duduk di sana, di lantai, dengan bahu satu ditempeli perempuan yang tertawa dan mata anak berumur delapan tahun yang menatap kami dengan penuh penghakiman, dan aku berpikir — untuk pertama kalinya dengan sadar, dengan kalimat lengkap, tanpa mengganti topik pada diriku sendiri:

Aku nggak mau ini berubah.

Aku belum tahu waktu itu bahwa dua minggu lagi, seseorang akan menawariku sesuatu yang bagus, dan bahwa hal bagus itulah yang akan mengubahnya.