← Shift Ketiga

Chapter Eight

Saksi Berumur Delapan Tahun

POV: Ardafa


Sekar demam hari Kamis.

Bukan demam yang menakutkan — tiga puluh tujuh koma delapan, hidung mampet, suara berubah jadi seperti orang bicara lewat bantal. Tapi cukup untuk tidak sekolah, dan cukup untuk membuat seluruh sistem hariku, yang disusun dengan presisi seorang penjaga gudang, runtuh dalam satu malam.

Tetangga depan yang biasa mengantar sekolah tidak bisa menungguinya. Tetangga belakang kerja di pasar dari jam empat. Ibu ada di kota lain, tujuh jam naik bus, dan meneleponku dua kali dengan nada yang membuatku menyesal mengangkat.

Jadi jam empat pagi, waktu shift-ku selesai, aku pulang dulu, membangunkan anak yang hidungnya mampet, memakaikan jaket, dan membawanya ikut.

“Kita ke mana?”

“Beli sarapan.”

“Aku nggak mau jalan.”

“Kakak gendong.”

“Aku berat.”

“Kamu dua puluh dua kilo.”

“Itu berat.”

Dia naik ke punggungku dan langsung tertidur lagi sebelum kami sampai ujung gang, dengan cara anak kecil tidur yang membuat kepala mereka jadi tiga kali lebih berat dari seharusnya.

Sepanjang jalan aku menyusun rencana.

Masuk. Ambil. Bayar. Keluar. Jangan sampai Sekar bangun.

Aku sudah pernah menyusun rencana pengiriman lima truk dalam satu malam. Aku mengira aku bisa menangani ini.


Ketukan. Dua kali.

Pintu terbuka.

“Pa—”

Dan dia berhenti.

Aku melihat matanya turun dari wajahku ke bahuku, ke kaki kecil yang menggantung di sisi kiri tubuhku, ke kepala yang menempel di leherku.

Dan aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya yang membuat dadaku melakukan hal aneh: bibirnya terbuka sedikit, lalu menutup, lalu sudut matanya melengkung, dan dia menutup mulutnya dengan punggung tangan.

“Astaga,” bisiknya.

“Jangan berisik.”

“Aku bisik-bisik!”

“Kamu bisik-bisik keras.”

Dia menekan bibirnya rapat-rapat dan mundur supaya aku bisa masuk, dan dia melakukannya sambil berjalan mundur sampai menabrak rak permen, dan aku harus menahan senyum sendiri karena dia sudah cukup malu.

Aku menurunkan Sekar ke kursi plastik di depan kaca. Anak itu bergumam, mencari posisi, dan tenggelam lagi.

Ketika aku berdiri lagi, dia sudah ada di sana. Di sampingku. Terlalu dekat untuk seorang kasir dan pelanggan.

Dan dari jarak sedekat ini, di bawah lampu neon yang jelek, aku bisa melihat bahwa poninya hari ini dijepit dengan yang biru — yang cuma muncul dua kali seumur hidup, yang aku curiga bukan miliknya — dan bahwa dia belum sempat merapikan kerah seragamnya, dan bahwa ada tiga bintik kecil di pangkal hidungnya yang tidak pernah bisa aku lihat dari jarak sebelas meter.

Aku sudah mengira dia manis dari jauh.

Dari dekat itu bukan lagi pendapat. Itu masalah.

“Ini adikmu?” bisiknya.

“Iya.”

“Namanya siapa?”

“Sekar.”

“Umur?”

“Delapan.”

“Sakit?”

“Demam dikit.”

Dia mengangguk empat kali dengan sangat cepat, seperti orang yang punya empat puluh pertanyaan lagi dan sedang memutuskan mana yang paling sopan.

Lalu dia berjalan ke belakang kasir, mengambil sesuatu, dan kembali dengan botol air mineral dingin dan handuk kecil bersih yang entah dari mana.

“Buat kompres,” katanya. “Ini punyaku, bersih, kok.”

“Nggak usah—”

“Ardafa.”

Namaku. Dari mulutnya. Untuk pertama kalinya.

Aku berhenti bicara.

“Ambil,” katanya.

Aku mengambilnya.


Aku sedang mengambil roti waktu itu terjadi.

Aku dengar suara kursi plastik bergeser. Lalu suara hidung mampet berbunyi:

“Kak?”

“Sini,” kataku dari depan rak. “Bentar.”

“Ini di mana?”

“Toko.”

“Toko yang mana?”

Dan lalu — hening.

Hening yang salah.

Aku berbalik.

Sekar sudah duduk tegak. Rambut satu sisi menempel di pipi. Mata setengah terbuka. Dan dia sedang menatap perempuan di belakang kasir dengan konsentrasi seorang anak berumur delapan tahun yang sedang mencocokkan sesuatu di kepalanya dengan sesuatu di depan matanya.

“Oh,” kata Sekar.

Aku menjatuhkan roti.

“Sekar—”

“Kakak yang jual roti sobek?”

“Iya,” jawab perempuan itu, sebelum aku sempat melakukan apa pun.

“Yang cokelat?”

“Iya.”

“Yang susu stroberi juga?”

“Iya.”

Sekar mengangguk pelan-pelan seperti detektif tua di film.

“Kakakku nyimpen strukmu.”

Dunia berhenti.

“Sekar.”

“Di kaleng. Yang di bawah kasur.”

Sekar.

“Yang ada koin lima ratusnya juga.”

“SEKAR.”

“Kakak kalau bohong ngomongnya dua kata,” Sekar menjelaskan ke perempuan itu, dengan nada seseorang yang sedang membagikan informasi penting demi kebaikan bersama. “Sekarang Kakak ngomong satu kata. Itu artinya parah banget.”

Aku berdiri di antara rak roti dan kasir dengan dua bungkus roti di lantai dan tidak ada satu pun bagian dari pelatihan kerjaku yang menyiapkanku untuk situasi ini.

Aku menoleh ke kasir.

Dia sedang berpegangan ke meja dengan kedua tangan. Wajahnya merah dari leher ke atas — leher duluan, aku memperhatikan itu, lehernya selalu duluan — dan bibirnya ditekan rapat sekali seperti orang yang sedang menahan sesuatu yang besar.

Matanya menemukan mataku.

“Kaleng?” katanya.

“Nggak ada kaleng.”

“Ada,” kata Sekar.

“Kamu diem.”

“Aku sakit, Kak. Orang sakit nggak boleh dibentak.”

Dari kursi plastik di sudut, yang aku sumpah kosong lima menit lalu, terdengar suara seruputan.

“Anak itu benar,” kata Pak Herman.

Aku memungut roti yang jatuh, meletakkannya di meja kasir, dan berdiri di sana seperti orang yang sedang menunggu vonis.

“Jadi,” kata perempuan itu, dan suaranya masih tertahan, “strukku.”

“Bukan strukmu.”

“Struk dari tokoku.”

“Itu beda.”

“Beda gimana?”

“Struk itu punya siapa pun yang megang.”

“Ardafa.” Dia mencondongkan badan sedikit ke meja. “Kamu nyimpen kertas belanja empat bulan.”

“Aku nggak bilang empat bulan.”

“Sekar.”

“Empat bulan,” kata Sekar dari kursi, tanpa membuka mata.

Aku menutup wajahku dengan satu tangan dan menyerah pada seluruh situasi ini.


Aku membayar dengan uang pas, seperti biasa, dan koin lima ratus itu terasa seperti barang bukti di pengadilan.

Dua roti sobek cokelat, satu susu stroberi.

“Empat belas ribu lima ratus,” katanya.

Suaranya bergetar sedikit. Bukan karena sedih.

Aku mengangkat Sekar ke punggung. Anak itu sudah setengah tidur lagi, tugas hidupnya untuk hari ini sudah selesai, jiwanya tenang.

Di pintu, aku berhenti.

Aku sudah berlatih dua hari untuk ini. Kalimatnya ada di catatan ponselku. Aku sudah kehilangan seratus dua puluh dua kesempatan dan aku tidak berniat kehilangan yang ini juga.

Aku menoleh.

“Kamu udah sarapan belum?”

Dia mengerjap.

“Belum.”

“Roti keju kamu numpuk,” kataku. “Makan itu. Kasihan.”

Dan aku keluar sebelum bisa melihat reaksinya, dengan anak dua puluh dua kilo di punggung dan jantung yang berdetak seperti orang habis lari, dan di belakangku aku dengar — samar, lewat pintu yang menutup pelan — suara seseorang menjerit tertahan ke dalam kedua telapak tangannya.