Chapter Two
Empat Kata
POV: Ardafa
Orang mengira aku pendiam.
Aku sudah lama berhenti meluruskan itu, karena meluruskannya butuh kalimat, dan kalimat justru barang yang paling tidak aku punya.
Jam empat lewat tiga puluh, gudang tutup. Aku menandatangani buku serah terima dengan tangan yang sudah tidak sepenuhnya milikku, menyerahkan senter ke shift berikutnya, dan berjalan keluar ke halaman yang bau solar. Dua puluh dua jam. Itu hitungan dari terakhir kali aku memejamkan mata sampai detik ini, dan otakku sudah lama menutup bagian-bagian yang tidak esensial. Bagian yang mati duluan selalu sama: bagian yang bisa bilang iya, aku juga atau makasih, kamu juga hati-hati.
Yang tersisa cuma bagian paling dasar. Kaki melangkah. Mata membaca papan. Tangan menghitung uang.
Dan satu bagian lagi yang seharusnya ikut mati tapi tidak pernah mau.
Angkot pertama lewat jam empat tiga puluh delapan. Pak Sarju yang bawa, dan Pak Sarju punya kebiasaan tidak menagih ongkos sampai penumpangnya turun, yang menurut beliau adalah bentuk kepercayaan dan menurutku adalah bentuk lupa.
“Muka kamu kayak orang abis dijemur,” katanya lewat kaca spion.
“Iya, Pak.”
“Kamu itu masih dua puluh lima. Dua puluh lima tuh mestinya rusaknya belakangan.”
“Iya, Pak.”
“Kalau iya terus, saya ngomong sama tiang listrik aja.”
Aku tidak menjawab lagi, dan Pak Sarju menganggap itu kemenangan, karena beliau langsung menyalakan radio keras-keras dan bernyanyi sumbang sampai perempatan.
Aku turun di depan terminal.
Dari sini ke toko tiga menit jalan kaki. Aku selalu sampai kecepatan. Bukan karena aku terburu-buru — justru sebaliknya, aku tidak punya apa-apa untuk diburu. Aku sampai kecepatan karena tanpa sadar aku berjalan lebih cepat begitu belokan itu kelihatan.
Toko itu belum buka.
Tapi lampunya sudah menyala, dan itu artinya dia sudah di dalam.
Ada satu hal yang tidak pernah aku ceritakan ke siapa pun, dan aku juga tidak akan menceritakannya sekarang, tapi karena tidak ada yang mendengar, biar aku catat saja untuk diriku sendiri: aku hafal jepit rambutnya.
Ada empat. Kuning, hijau muda, satu yang bentuknya bunga tapi kelopaknya tinggal empat, dan satu lagi warna biru yang aku curiga bukan miliknya karena cuma muncul dua kali seumur hidup. Yang paling sering yang kuning. Dia memakainya asal, biasanya miring, dan poninya tetap jatuh ke mata karena jepit itu terlalu kecil untuk tugas sebesar itu.
Dan dia tidak pernah membetulkannya pakai tangan. Dia meniupnya. Bibirnya maju sedikit, sekali embusan pendek, poninya naik lalu jatuh lagi ke tempat yang persis sama. Lalu dia lanjut kerja seolah masalahnya sudah selesai.
Setiap kali dia melakukan itu, sesuatu di dalam dadaku melakukan hal yang tidak masuk akal untuk orang yang tidak tidur dua puluh dua jam.
Aku mengetuk kaca. Dua kali. Titik yang sama, karena kalau aku mengetuk di titik lain aku takut dia tidak sadar itu aku.
Pintu terbuka.
“Pagi,” katanya.
Aku mengangguk.
Pagi. Itu satu kata. Satu kata saja. Aku sudah punya satu kata itu di kepalaku sejak turun dari angkot, aku sudah menaruhnya di depan, sudah aku siapkan seperti orang menyiapkan uang pas — dan begitu pintu terbuka, kata itu hilang. Bukan ragu. Hilang. Seperti ada yang mengambilnya sambil lewat.
Tujuh langkah ke rak roti.
Aku selalu menghitung langkah supaya ada yang bisa dikerjakan otakku selain memikirkan dia dari jarak sebelas meter.
Empat langkah ke kulkas. Susu stroberi baris kedua, yang tanggalnya paling jauh, karena Sekar bisa mendeteksi susu yang tinggal dua hari lagi dari jarak satu ruangan dan menolaknya dengan alasan “rasanya kayak hari Senin”.
Sebelas langkah ke kasir.
Dari jarak sedekat ini, aku bisa lihat kerah seragamnya lecek di sisi kiri karena kebiasaan dia menyelipkan pulpen di situ. Aku bisa lihat lesung di pipi kanannya — cuma kanan, kirinya tidak punya, dan aku sudah mengecek ini berkali-kali dengan cara yang sangat tidak sopan untuk seorang pelanggan. Aku bisa lihat tangannya waktu mengetik di mesin kasir. Kecil. Betul-betul kecil. Kemarin dia memegang gelas kopi ukuran besar pakai dua tangan seperti tupai memegang biji, dan aku memikirkan itu sampai jam sebelas siang.
“Empat belas ribu lima ratus.”
Uangnya sudah aku siapkan di angkot. Selalu. Termasuk koin lima ratus yang aku kumpulkan dari kembalian di mana-mana sepanjang minggu, aku tabung di kaleng, dan aku ambil satu setiap pagi seperti orang mengambil vitamin. Kalau dia tahu soal kaleng itu dia akan berpikir aku gila. Dia benar.
“Kantong plastik?”
“Nggak usah.”
Dua kata. Aku dapat dua kata hari ini. Kemarin juga dua. Kemarinnya dua.
Aku memasukkan roti ke saku, memegang susunya di tangan kiri karena kalau dimasukkan ke saku juga kotaknya penyok dan Sekar akan menganggap susu penyok sebagai penghinaan pribadi.
Aku berbalik.
Dan di belakangku, seperti setiap hari, dia mengucapkan empat kata itu.
Empat kata. Bukan tiga, bukan lima. Aku sudah menghitungnya sampai ke tingkat yang seharusnya membuat orang khawatir.
Yang membuatnya berbahaya bukan katanya. Orang bilang itu di mana-mana. Kasir bilang itu, satpam bilang itu, mesin self-checkout di mal juga bilang itu pakai suara perempuan yang direkam sepuluh tahun lalu.
Yang membuatnya berbahaya adalah dia mengucapkannya seperti dia betul-betul ingin aku sampai.
Dan aku, laki-laki dewasa berusia dua puluh lima tahun yang bisa mengangkat karung lima puluh kilo dan memperbaiki forklift dalam gelap, berhenti setengah detik di ambang pintu setiap pagi karena tidak tahu harus bagaimana dengan itu.
Di luar, kucing oranye itu berdiri dan menggesek kakiku.
“Nggak usah pamer,” kataku pelan.
Kucing itu menatapku dengan tatapan makhluk yang tahu persis apa yang sedang dia lakukan.
Aku jalan ke halte, dan sepanjang jalan itu aku melakukan kebiasaan buruk yang paling aku benci dari diriku sendiri: aku mengulang adegan tadi dari awal, tapi versi yang benar. Versi di mana aku bilang pagi waktu pintu terbuka. Versi di mana aku bertanya jepit rambutnya yang biru itu dari mana. Versi di mana aku menoleh.
Aku sudah menyutradarai ratusan versi. Semuanya bagus. Semuanya tidak pernah tayang.
Sampai rumah jam lima lewat sepuluh. Roti di piring, susu di meja, sedotan sudah dilepas dari plastiknya karena kalau tidak, akan ada drama.
Aku merebahkan badan di kasur tanpa ganti baju.
Dua puluh dua jam. Harusnya aku langsung mati.
Aku menatap langit-langit selama empat puluh menit, memikirkan empat kata, dan menyusun jawaban.
Iya, makasih. Kamu juga. Nggak jauh, kok. Deket. Kamu udah sarapan belum?
Yang terakhir itu bagus. Yang terakhir itu bahkan bisa jadi pintu.
Besok, kataku pada langit-langit. Besok aku bilang yang terakhir.
Aku sudah bilang “besok” seratus delapan belas kali dan langit-langit ini tidak pernah sekali pun menegurku.
- 1 Hari ke Seratus Delapan Belas
- 2 Empat Kata reading
- 3 Teori Nomor Tujuh
- 4 Tiga Detik
- 5 Stok Roti Sobek
- 6 Sebelas Sentimeter
- 7 Arah yang Salah
- 8 Saksi Berumur Delapan Tahun
- 9 Kasihan
- 10 Tanpa Ketukan
- 11 Orang Ini Siapa
- 12 Kursi Plastik Nomor Dua
- 13 Gudang Belakang
- 14 Interogasi Jam Satu Pagi
- 15 Ujian Masuk
- 16 Negosiasi Gagal
- 17 Rekaman Kamera Tiga
- 18 Kaus yang Kebesaran
- 19 Namanya Wulan
- 20 Kue yang Miring
- 21 Kolom Nama Wali
- 22 Delapan Belas Foto
- 23 Kabar Bagus
- 24 Yang Aku Hitung
- 25 Sendirian di Tangga Besi
- 26 Yang Tidak Aku Tahu
- 27 Komite
- 28 Izin
- 29 Ditolak di Baris Ketiga
- 30 Telepon Pertama
- 31 Nama-Nama
- 32 Jam Empat Lima Puluh