← Shift Ketiga

Chapter Twenty Eight

Izin

POV: Ardafa


Sekar membocorkannya hari Kamis, saat sarapan, tanpa sedikit pun terlihat sadar bahwa dia sedang membocorkan sesuatu.

“Kak.”

“Hm.”

“Kalau Kak Vero pindah, tokonya masih yang itu, kan?”

Aku meletakkan gelas.

“Pindah?”

“Iya.”

“Pindah ke mana?”

Sekar mengunyah. Menelan. Mengambil susunya.

“Nggak pindah toko,” katanya. “Pindah jamnya.”

Aku duduk di kursi plastik di dapur rumah petak nomor tiga jam lima pagi dan merasakan seluruh potongan yang selama seminggu tidak mau menyatu tiba-tiba jatuh ke tempatnya dengan bunyi yang keras sekali.

“Sekar.”

“Aku nggak boleh cerita, ya?”

“Kamu udah cerita.”

“Iya.” Dia menusukkan sedotannya. “Tapi kalau aku nggak boleh cerita, harusnya Kak Vero bilang. Kak Vero nggak bilang apa-apa. Yang bilang jangan cerita itu Kak Yoga, dan Kak Yoga bukan siapa-siapa.”


Yang aku rasakan pertama kali bukan lega.

Yang aku rasakan pertama kali adalah panik.

Panik jenis yang sangat spesifik: seseorang sedang menanggung sesuatu untukku, dan aku tidak tahu seberapa berat, dan aku tidak bisa mengambilnya.

Aku sudah setengah berdiri dari kursi sebelum aku sadar aku berdiri.

Ke mana? Ke toko. Untuk apa? Untuk bilang jangan. Untuk bilang biar aku saja. Untuk menghitung ulang seluruh jadwalnya sendiri di kepalaku dan datang membawa solusi yang sudah jadi, seperti yang aku lakukan sejak umur dua puluh tiga tahun.

Aku berdiri di tengah dapurku dengan kunci motor sudah di tangan.

Lalu aku ingat suaranya di telepon.

Aku tahu kamu mau nanya apa dan jawabannya jangan.

Aku menaruh kunci itu kembali di meja.

Dan aku duduk lagi di kursi plastik, dan itu adalah hal paling sulit yang aku lakukan sepanjang minggu itu, dan tidak ada satu orang pun yang melihat aku melakukannya kecuali seorang anak berumur delapan tahun yang sedang sibuk dengan susunya.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak kenapa duduk lagi?”

“Nggak apa-apa.”

“Dua kata.”

“Sekar.”

“Satu kata. Parah banget.”


Aku ke toko jam empat lima puluh seperti biasa.

Dua ketukan. Titik yang sama.

Pintu terbuka.

“Pagi.”

“Pagi.”

Dan aku berdiri di ambang pintu itu selama beberapa detik tanpa masuk, sampai dia memiringkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Sekar cerita.”

Aku melihat wajahnya jatuh sedikit.

“Cerita apa?”

“Soal shift.”

“Astaga.” Dia menutup wajahnya dengan satu tangan. “Anak itu.”

“Vero—”

“Aku belum mau cerita karena belum jelas, Dafa, aku serius, ini masih—”

“Aku nggak nanya.”

Dia berhenti.

“Aku bukan mau nanya,” kataku lagi. “Aku cuma mau bilang aku udah tahu, biar kamu nggak capek nyembunyiin.”

Dia menurunkan tangannya dari wajahnya.

“Kamu nggak mau nyuruh aku berhenti?”

“Mau banget.”

“Dafa—”

“Aku bilang aku mau. Aku nggak bilang aku bakal.”


Aku masuk. Tujuh langkah ke rak roti. Empat langkah ke kulkas. Sebelas langkah ke kasir.

Dan di sepanjang dua puluh dua langkah itu, aku menyusun sesuatu di kepalaku, seperti biasa, karena itu satu-satunya cara aku bisa mengeluarkan kalimat yang panjangnya lebih dari empat kata.

Aku menaruh roti di meja. Susunya di sebelahnya.

“Vero.”

“Hm.”

“Aku mau minta sesuatu.”

Tangannya berhenti di atas mesin kasir.

Berhenti betulan. Dia menoleh ke arahku dengan kecepatan yang tidak wajar.

“Kamu mau apa?”

“Jangan gitu.”

“Kamu belum pernah minta apa-apa dari aku.”

“Aku tahu.”

“Tiga bulan, Dafa. Nol kali.”

“Aku tahu, Vero.”

Dia meletakkan kedua tangannya di meja kasir dan mencondongkan badan ke depan seperti orang yang tidak mau kehilangan satu kata pun.

“Minta apa?”

Dan aku, laki-laki dua puluh lima tahun yang bisa mengangkat karung lima puluh kilo dan menyusun jadwal muat lima truk dalam satu malam, berdiri di depan mesin kasir dan mengeluarkan permintaan pertamanya dalam tiga bulan.

“Kalau nanti susah,” kataku, “kasih tahu aku.”

Hening.

“Itu doang?”

“Iya.”

“Itu—” Suaranya berubah. “Itu permintaan kamu?”

“Iya.”

“Dafa, itu bukan minta tolong, itu—”

“Aku tahu itu kecil,” kataku. “Aku nggak bisa yang lebih gede. Aku nggak punya yang lebih gede. Aku udah nyari seminggu.”

Aku menggosok belakang leherku.

“Aku nyari satu hal yang belum selesai buat aku kasih ke kamu, dan aku nggak nemu apa-apa. Jadi aku kasih yang ini.” Aku menunjuk ke arahnya, ke mesin kasir, ke seluruh ruangan. “Aku kasih izin. Aku nggak akan ngerebut ini dari kamu. Kamu urus, aku diem. Tapi kalau susah, kamu harus bilang, karena kalau kamu nggak bilang dan aku baru tahu belakangan, aku bakal—”

Aku berhenti.

“Bakal apa?”

“Aku bakal ngerasain persis kayak yang kamu rasain minggu lalu.”

Dan perempuan itu keluar dari belakang kasir dan menabrakku dengan seluruh badannya.


Kami berdiri di tengah toko yang belum buka selama entah berapa lama.

Wajahnya di dadaku dan kedua tangannya melingkar di punggungku dan aku bisa merasakan dia bernapas tidak teratur, dan aku menaruh tanganku di belakang kepalanya dan tidak berkata apa-apa.

“Kamu tahu nggak,” katanya akhirnya, tanpa mengangkat wajahnya, “itu susah banget buat kamu.”

“Iya.”

“Kayak orang nahan napas.”

“Iya.”

“Kamu tahan berapa lama?”

“Sampai kamu selesai.”

Dia mengangkat wajahnya. Matanya merah dan hidungnya merah dan dia sedang tersenyum dengan cara yang tidak bisa aku tanggung dari jarak sedekat ini.

“Kalau lama gimana?”

“Ya lama.”

“Kalau gagal?”

“Ya gagal.”

“Dafa—”

“Vero.” Aku memegang wajahnya dengan kedua tangan. “Aku nggak peduli hasilnya. Aku cuma pengen kamu yang ngerjain.”

Dan aku menciumnya di tengah toko itu, di antara rak permen yang selalu dia rapikan padahal sudah rapi dan rak mi instan yang pernah runtuh karena Bu Tuti, dan dia berjinjit dan menarik kausku di depan dan aku mengangkatnya sedikit sampai kakinya hampir lepas dari lantai.

Bunyi rolling door di belakang kami.

Kami tidak berhenti.

“Ehm,” kata Yoga.

Kami tidak berhenti.

“Toko buka delapan menit lagi.”

Kami tidak berhenti.

“Aku bawa krat,” kata Yoga, ke ruangan, ke tidak seorang pun. “Aku cuma pegawai. Aku angkat krat.”


Di pintu, sebelum keluar, aku berhenti.

“Vero.”

“Hm.”

“Satu lagi.”

“Apa?”

“Kalau kamu udah selesai ngurus,” kataku, “kasih aku giliran.”

Dia menyipit. “Giliran apa?”

“Giliran aku yang ngurus sesuatu buat kamu.” Aku memasukkan susu ke tangan kiri. “Yang kamu nggak boleh larang. Sekali aja.”

“Kamu udah ngurus banyak.”

“Yang kamu tahu,” kataku. “Bukan yang aku diem-diem.”

Dan Vero berdiri di belakang mesin kasir dengan mulut sedikit terbuka, dan waktu aku sudah setengah keluar pintu, dia berteriak:

“DAFA.”

“Hm.”

“KAMU BELAJAR CEPET BANGET, ITU NGGAK ADIL.”

Aku keluar sambil tersenyum, dan Mentega menggesek kakiku di trotoar seperti biasa, dan untuk pertama kalinya dalam seminggu aku pulang ke rumah dengan kepala yang tidak sedang menghitung apa-apa.