← Shift Ketiga

Chapter Seven

Arah yang Salah

POV: Vero


Aku sampai di toko jam empat lewat lima.

Itu sepuluh menit lebih pagi dari biasanya, yang artinya aku bangun dua puluh menit lebih pagi, yang artinya aku menyetel alarm dengan sengaja tadi malam sambil menyusun alasan yang akan aku pakai kalau ada yang bertanya.

Alasannya: pengecekan tanggal kedaluwarsa rak tiga.

Rak tiga sudah aku cek hari Jumat.

Aku membuka rolling door, menyalakan lampu, menyalakan mesin kopi, dan tidak melakukan satu pun pekerjaan yang seharusnya. Aku berdiri di belakang kaca, di sisi yang tertutup poster promo, dan menatap ke arah terminal.

Ada satu hal yang tidak pernah aku pikirkan selama empat bulan dan sekarang tidak bisa aku berhentikan memikirkannya: dia datang dari arah mana?

Aku selalu melihat dia pergi. Ke kiri, menyeberang, hilang di belokan.

Aku tidak pernah melihat dia datang.

Karena setiap pagi jam empat empat puluh delapan aku sedang merapikan rak permen yang sudah rapi, atau mengelap etalase yang sudah bersih, atau melakukan hal-hal lain yang khusus aku ciptakan supaya kelihatan sibuk waktu dia masuk.

Jam empat lewat dua puluh, angkot pertama lewat. Kosong.

Jam empat lewat tiga puluh, dua tukang bubur mendorong gerobak dari arah yang berlawanan dan berhenti di tengah jalan untuk berdebat tentang sesuatu yang kelihatannya sudah lama.

Jam empat lewat empat puluh, angkot kedua.

Dan dari angkot kedua itu, di depan terminal, laki-laki berjaket hitam turun.

Aku menahan napas seperti orang yang sedang mengintip, karena aku memang sedang mengintip.

Dia berdiri sebentar di trotoar. Merenggangkan bahu — dua kali, ke kanan dan ke kiri, gerakan orang yang badannya sudah menahan sesuatu terlalu lama. Melihat ke jam tangannya. Lalu jalan ke arah toko.

Dan otakku, yang sedang bekerja sangat cepat untuk seseorang yang baru minum setengah gelas air, mencatat satu hal yang salah.

Angkot itu datang dari arah utara.

Rumah orang datang dari arah selatan. Perumahan, kos-kosan, gang-gang. Semua yang namanya “tempat tinggal” di kota ini ada di selatan terminal.

Di utara cuma ada tiga hal: pasar induk yang bukanya jam dua, pabrik es, dan pergudangan.

Aku masih berdiri di balik poster promo waktu ketukan itu datang, dan aku harus lari ke kasir dengan cara yang sangat tidak elegan supaya kelihatan seperti orang yang sudah dari tadi di sana.


“Pagi,” kataku, dengan napas yang tidak sepenuhnya teratur.

Dia melepas tudung.

Dan berhenti.

“Kamu lari?”

Empat kata. Lagi. Dua hari berturut-turut. Aku mulai curiga ada yang rusak di dirinya.

“Nggak.”

“Napas kamu—”

“Aku habis ngangkat kardus.”

“Oh.”

Dia melihat ke sekeliling toko. Tidak ada kardus di mana pun.

Dia tidak berkomentar, tapi dia juga tidak berhenti melihat, dan aku merasa telingaku memanas dari dalam.

Tujuh langkah. Empat langkah. Sebelas langkah. Roti ditaruh hati-hati seperti biasa.

Dan aku, yang sudah menyimpan pertanyaan itu di mulut sejak jam empat lewat empat puluh, tidak sanggup menahannya sampai transaksi selesai.

“Kamu baru pulang, ya?”

Tangannya berhenti di tengah jalan menuju saku celana.

“Bukan berangkat,” lanjutku, dan suaraku terlalu cepat, “kamu baru pulang. Angkot yang kamu naikin itu dari utara. Di utara nggak ada rumah.”

Hening.

Mesin pendingin berbunyi. Di luar, ada motor lewat.

Lalu dia menghela napas — pendek, lewat hidung — dan mengangkat tangan untuk menggosok belakang lehernya, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia terlihat seperti orang yang tertangkap.

“Iya.”

“Kerja apa?”

“Gudang.”

“Sampai jam berapa?”

“Setengah lima.”

Aku menghitung di kepala dan hasilnya membuatku berhenti mengetik.

“Berarti kamu berangkatnya—”

“Jam tujuh malem.”

“Terus kamu ke sini jam lima kurang sepuluh.”

“Iya.”

“Terus kamu tidur jam berapa?”

Dia tidak menjawab.

Dan tidak menjawab, dari orang ini, ternyata bisa lebih berisik daripada menjawab.

Aku menatap wajahnya. Betul-betul menatap, untuk pertama kalinya tanpa menunduk duluan. Mata yang merah di sudut. Bayangan di bawahnya yang aku kira pencahayaan toko yang jelek. Rahang yang tidak pernah benar-benar rileks.

Empat bulan aku mengira dia orang yang tidak mau bicara.

“Kamu bukan pendiam,” kataku pelan.

Dia mengangkat kepala.

“Kamu capek.”

Sesuatu berubah di wajahnya. Aku tidak bisa menyebutkan namanya, tapi aku tahu aku melihatnya, dan aku tahu itu bukan sesuatu yang biasa dia tunjukkan ke orang.

“Empat belas ribu lima ratus,” kataku, karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.

Dia mengulurkan uangnya.

Dan kali ini — kali ini aku sengaja.

Aku mengulurkan tangan dan membiarkannya lebih lama dari yang bisa dibilang kecelakaan. Satu detik. Dua. Jarinya di atas jariku dan tidak satu pun dari kami menarik duluan, dan koin lima ratus itu tidak jatuh ke mana-mana kali ini karena aku memegangnya dengan sangat, sangat hati-hati.

“Kantong plastik?” tanyaku.

“Nggak usah.”

“Aku tahu.”

Sudut bibirnya naik.

Dia berbalik, dan berhenti sendiri sebelum aku sempat mengucapkan apa pun, dan menoleh.

“Ardafa,” katanya.

Aku mengerjap. “Apa?”

“Namaku.” Jeda. “Kamu belum pernah nanya.”

Dan dia keluar sebelum aku bisa menyusun satu kata pun, meninggalkan aku berdiri di belakang kasir dengan nama itu di udara dan seluruh wajahku panas.


“ARDAFA,” teriak Yoga dari pintu belakang. “ARDAFA? Itu nama orang tampan. Itu bukan nama kurir gelap.”

“Kamu dengerin dari tadi?”

“Aku pegawai teladan yang kebetulan berdiri di dekat pintu.”

“Kamu ngintip dari lubang kunci lagi.”

“Lubang kuncinya yang menghadap ke sana, bukan salahku.”

Bu Tuti muncul dari ruang belakang dengan map plastik dan langsung berhenti karena bisa mencium ketegangan di ruangan seperti orang mencium gosong.

“Ada apa ini.”

“Vero tahu nama vampirnya, Bu.”

“Vampir apa?”

“Panjang ceritanya, Bu.”

Bu Tuti melihat aku. Melihat Yoga. Melihat jalan di luar. Lalu wajahnya berubah menjadi wajah yang paling aku takuti di dunia ini: wajah perempuan empat puluh delapan tahun yang baru saja menemukan proyek baru.

“Vero,” katanya, dengan suara yang sangat lembut. “Kamu udah punya pacar belum?”

“Bu.”

“Nanya doang.”

“Bu Tuti.”

“Ibu nanya doang, kok. Ibu ini kan cuma supervisor. Ibu nggak ada urusan sama kehidupan pribadi karyawan.” Beliau membuka map plastiknya dan tidak melihat isinya sama sekali. “Cuma ya, kalau roti cokelat habis terus, kan berarti ada permintaan. Permintaan itu harus dilayani. Itu prinsip ritel.”

Dan dari kursi plastik di depan kaca, tanpa menoleh, tanpa terburu-buru, Pak Herman menyeruput kopinya dan berkata:

“Anak itu shift ketiga.”

Kami bertiga menoleh serempak.

“Bapak tahu dari mana?” tanyaku.

“Sepatunya.” Beliau menaruh gelasnya. “Sepatu orang yang berdiri semalaman itu bentuknya beda sama sepatu orang yang baru bangun.”

Lalu beliau berdiri, merapikan celananya, dan berjalan keluar seperti orang yang sudah menyelesaikan tugasnya untuk hari ini.