← Shift Ketiga

Chapter Twenty Three

Kabar Bagus

POV: Vero


Aku tahu ada sesuatu dari cara dia mengetuk.

Bunyinya sama. Dua kali, titik yang sama, sedikit di atas stiker promo susu yang sudah kedaluwarsa promonya sejak Februari. Tapi jeda antara ketukan pertama dan kedua lebih pendek dari biasanya, dan aku sudah menghabiskan seratus lima puluhan pagi mendengarkan bunyi itu, dan aku hafal ritmenya seperti orang hafal lagu.

Pintu terbuka.

“Pagi.”

“Ada apa?”

Dia berhenti melepas tudungnya.

“Kok tahu ada apa-apa?”

“Ketukanmu beda.”

Dia menatapku selama dua detik dengan ekspresi seseorang yang baru sadar dia sedang berpacaran dengan orang yang mengawasinya sejak lama.

“Aku ditawarin posisi,” katanya.


Ini isi tawarannya, sesuai yang dia ceritakan sambil berdiri di depan mesin kasir dengan roti yang belum dibayar di tangannya.

Kantor pusat logistik, bukan gudang. Bagian koordinasi armada. Yang menawarkan Pak Yudi — suaminya Wulan, yang di bagian ekspedisi, yang menurut Ardafa “orangnya lucu” — karena ada satu posisi kosong dan Pak Yudi sudah tiga tahun melihat Ardafa menyusun jadwal muat truk lebih rapi daripada sistem komputer gudang.

Gaji naik. Bukan dua kali lipat, tapi naik cukup untuk membuat kata “SPP” di papan gabus itu berhenti jadi tanggal yang harus ditandai.

Ada BPJS. Ada tunjangan. Ada cuti yang bisa diambil tanpa harus menabung tiga minggu.

Dan jam kerjanya delapan pagi sampai lima sore, Senin sampai Jumat, dengan Sabtu Minggu libur.

Aku meletakkan pistol barcode.

“Dafa.”

“Hm.”

“Sabtu Minggu libur.”

“Iya.”

“Kamu bisa dateng ke pentas Sekar.”

“Iya.”

“Kamu bisa tidur malem.”

“Iya.”

“Kamu bisa—” Aku menghitung dengan jari, terlalu cepat, tanpa urutan yang masuk akal. “Kamu bisa tidur malem terus bangun pagi kayak orang normal, kamu bisa nganter Sekar sendiri, kamu nggak perlu bayarin bensin tetangga diam-diam pakai toples gula, kamu bisa—”

“Vero.”

“—kamu bisa sakit dan izin, Dafa. Kamu bisa SAKIT.”

Aku berhenti.

Aku baru sadar suaraku sudah naik dan tanganku sudah gemetar, dan aku sedang berdiri di belakang mesin kasir jam empat lima puluh pagi dengan mata yang panas.

Ardafa berdiri di depanku dan tidak berkata apa-apa.

“Aku seneng banget,” kataku, dan suaraku pecah di tengah. “Aku seneng banget, kamu nggak ngerti.”

“Aku ngerti.”

“Kamu nggak ngerti.”

Dan aku keluar dari belakang kasir dan memeluknya di tengah toko yang belum buka, dengan roti yang belum dibayar masih di tangannya dan susu di tangan satunya, dan dia harus menaruh keduanya di rak terdekat sebelum bisa membalas pelukanku.


Aku menceritakannya ke Yoga jam sembilan pagi.

Aku menceritakannya ke Bu Tuti jam sepuluh.

Aku menceritakannya ke Pak Herman jam setengah sebelas walaupun beliau tidak bertanya, dan beliau mendengarkan seluruhnya tanpa menurunkan korannya sampai aku selesai.

Yoga bereaksi paling berlebihan, yang sudah bisa diduga.

“Kantor pusat,” katanya, sambil meletakkan krat dengan gerakan teatrikal. “Berarti dia bakal pakai kemeja.”

“Terus?”

“Vero, kamu belum kebayang. Orang itu tinggi seratus delapan puluh, badannya kayak gitu, dan selama ini dia cuma pakai jaket item yang sama tiap hari.” Yoga menatap kejauhan. “Kalau dia pakai kemeja, kamu bakal jatuh dari kursi.”

“Aku nggak duduk waktu kerja.”

“Kamu bakal cari kursi buat jatuh.”

“Bagus,” kata Bu Tuti dari ruang belakang. “Ibu ikut senang. Anak itu pantes.”

“Kan, Bu.”

“Kapan mulainya?”

“Belum tahu. Dia masih mikir.”

Bu Tuti mengangkat kepalanya dari layar komputer.

“Mikir apa?”

“Ya mikir. Prosedural. Dia orangnya gitu, semua dihitung dulu.”

“Hm.”

Beliau kembali ke layarnya dan tidak berkata apa-apa lagi.

Aku tidak menangkap apa pun dari “hm” itu waktu itu. Aku sedang terlalu sibuk merasa bangga.


Pak Herman menurunkan korannya jam sebelas kurang.

“Nak Vero.”

“Iya, Pak.”

“Kamu shift jam berapa?”

“Lima sampai satu, Pak. Kenapa?”

Beliau melipat korannya. Rapi. Empat lipatan, seperti biasa.

“Anak itu kerjanya nanti jam berapa?”

“Delapan sampai lima, Pak. Kantoran.”

Beliau mengangguk pelan sekali.

“Bukan apa-apa,” kata beliau.

Dan beliau berdiri, membayar kopinya — yang biasanya tidak beliau bayar, yang selalu kami pura-pura tidak terjadi — dan pergi.

Aku menatap uang yang beliau tinggalkan di meja selama beberapa detik.

Lalu ada pelanggan datang dan aku lupa.


Malamnya Ardafa mengirim pesan jam sepuluh, sebelum shift-nya mulai.

Dafa: Udah makan? Aku: Udah. Kamu? Dafa: Udah. Aku: Bohong. Dua kata. Dafa: Itu satu kata. Aku: Berarti lebih parah. Dafa: Aku makan di gudang nanti. Aku: Dafa. Dafa: Iya beneran. Wulan bawa gorengan.

Aku tertawa sendiri di kos.

Aku: Kamu udah jawab Pak Yudi?

Jeda.

Jedanya lama. Aku melihat tulisan “sedang mengetik” muncul, hilang, muncul lagi.

Dafa: Belum. Aku: Kenapa? Dafa: Ada yang harus aku itung dulu. Aku: Itung apa? Dafa: Nanti aku cerita. Aku: Dafa. Dafa: Besok pagi. Dafa: Tidur.

Aku menatap layar itu selama satu menit penuh.

Lalu aku mengetik iya, kamu juga hati-hati, mengirimnya, dan menaruh ponselku di lantai di sebelah kasur.

Ada bagian kecil di dalam diriku yang berkata tanya sekarang.

Aku mengabaikannya, karena aku sedang senang, dan karena orang yang sedang senang punya kebiasaan buruk mengira semua hal akan tetap seperti itu kalau tidak diganggu.

Dan karena — kalau aku jujur, dan aku baru bisa jujur soal ini berminggu-minggu kemudian — aku sudah tahu jawabannya.

Aku sudah menghitungnya di kepalaku dua kali malam itu, dua kolom jadwal berdampingan, dan aku sudah sampai ke angka yang sama dengan yang dia dapat.

Aku cuma belum mau melihatnya.


Aku bangun jam empat dan berjalan ke toko dalam gelap seperti biasa.

Mentega ada di parkiran. Aku memberinya makan hari itu, yang bukan jadwalnya, dan kucing itu memakannya sambil tetap menolak menatapku.

“Dia bakal pindah kerja,” kataku ke kucing itu.

Mentega tidak bereaksi.

“Berarti dia nggak bakal capek terus.”

Kucing itu selesai makan, menjilat kakinya, dan pergi ke bawah mobil.

“Kamu jahat,” kataku. “Aku ngasih kamu makan dua tahun.”

Dari bawah mobil, tidak ada jawaban. Konsisten, setidaknya.

Aku membuka rolling door. Menyalakan lampu, satu per satu, dari belakang ke depan. Menyalakan mesin kopi.

Dan jam empat empat puluh, sambil menata rak permen yang sudah rapi, aku menghitung sesuatu di kepalaku untuk pertama kalinya.

Delapan pagi sampai lima sore.

Aku masuk jam lima pagi, pulang jam satu siang, tidur jam dua, bangun jam lima sore.

Aku menghitungnya sekali. Lalu aku menghitungnya lagi, lebih pelan.

Dan aku berhenti menata rak permen.

Jam empat lima puluh, ketukan itu datang — dua kali, titik yang sama, dengan jeda yang lebih pendek dari biasanya lagi.

Aku menekan tombol pintu tanpa berbalik.

“Dafa,” kataku. “Kamu mau ngitung apa semalem?”

Dan di belakangku, aku dengar dia berhenti melangkah.