Chapter Eighteen
Kaus yang Kebesaran
POV: Ardafa
Hujan mulai jam sembilan malam dan tidak berhenti.
Bukan hujan yang serius. Hujan yang tidak cukup deras untuk jadi alasan tapi juga tidak cukup ringan untuk diabaikan, dan yang membuat gang di depan rumahku berubah jadi sungai kecil selama tiga jam.
Vero datang jam delapan untuk mengantar sesuatu dari Bu Tuti — kantong plastik berisi baut, kunci pas, dan amplop yang aku tolak dua kali dan akhirnya dia selipkan ke bawah toples gula tanpa bilang, yang mana adalah trik yang aku pakai ke tetangga dan jelas dia sudah mempelajarinya.
Jam sepuluh, hujan masih turun.
Jam sebelas, aku sudah kehabisan argumen.
“Kamu nggak bisa pulang.”
“Aku bisa. Cuma lima menit.”
“Vero, gangnya banjir sebetis.”
“Aku pakai sandal.”
“Kamu pakai sandal jepit yang tapaknya tinggal setengah.”
Dia melihat ke kakinya. “Itu masih sandal.”
Aku masuk ke kamar, mengambil kaus dan celana pendek dari lemari, dan menyerahkannya ke tangannya.
“Kamu tidur di kamar Sekar. Aku di depan.”
“Dafa—”
“Aku shift malem tiga tahun. Aku nggak tidur malem ini juga. Aku libur, tapi badanku nggak tahu itu.”
Dia membuka mulut untuk protes, lalu melihat ke luar jendela, lalu menutup mulutnya lagi.
“Kausmu kegedean.”
“Semua yang kamu pakai kegedean.”
“Itu bukan salahku, itu salah industri konveksi.”
Aku bangun jam lima kurang.
Bukan bangun betulan — badanku cuma menagih jadwal seperti anjing yang tahu jam makan. Aku duduk di kasur lipat di ruang depan selama satu menit dengan mata setengah tertutup, mencoba mengingat kenapa hari ini terasa berbeda.
Lalu aku mencium bau mentega.
Dan mendengar bunyi kompor.
Dan aku berjalan ke dapur dan berhenti di ambang pintu, dan seluruh sisa kantukku hilang dalam satu detik seperti orang menyiram air.
Dia berdiri membelakangi aku di depan kompor.
Kausku sampai ke pertengahan pahanya. Lengannya digulung dua kali di kedua sisi dan tetap kebesaran. Rambutnya diikat asal di belakang dengan jepit kuning yang miring, dan poni yang tidak muat di ikatan itu jatuh ke depan, dan sementara aku berdiri di sana dia mengangkat wajahnya sedikit dan meniupnya karena kedua tangannya sedang memegang spatula dan piring.
Poni itu naik dan jatuh lagi ke tempat yang persis sama.
Aku sudah melihat dia melakukan itu ratusan kali dari jarak sebelas meter, di balik mesin kasir, dengan lampu neon toko dan bau lantai yang baru dipel.
Di dapurku, jam lima pagi, dengan lampu kuning dan bau mentega dan kausku di badannya, hal yang sama itu berhenti jadi kebiasaan lucu dan berubah jadi sesuatu yang membuat dadaku terasa terlalu penuh untuk ukurannya.
Aku menyandarkan bahu ke kusen pintu dan tidak berkata apa-apa selama beberapa detik, karena aku ingin melihatnya sedikit lebih lama sebelum dia tahu aku ada di sana.
Dia menoleh.
“Ih.” Dia langsung menutup kausnya ke bawah dengan satu tangan. “Kamu ngapain berdiri di situ diem-diem?”
“Ngeliatin.”
“Berapa lama?”
“Nggak lama.”
“Dafa.”
“Empat puluh detik.”
“EMPAT PULUH—”
“Kamu ngitung sendiri kalau nggak percaya.”
Dia melempar sarung tangan oven. Meleset lagi. Sarung tangan itu jatuh di tempat yang persis sama dengan lemparan sebelumnya, dan aku memungutnya dan menggantungnya kembali dan tidak berkomentar apa-apa, dan itu justru membuatnya lebih kesal.
Aku duduk di kursi plastik. Dia kembali ke kompor.
“Sekar masih tidur?”
“Masih.”
“Aku bikinin telur.” Dia memecahkan satu di pinggir wajan. “Yang dadar. Yang digulung. Dia mau yang digulung, katanya yang bulet itu ‘terlalu polos’.”
“Dia bilang gitu?”
“Kemarin. Sambil ngeliatin telurnya kayak lagi ngevaluasi.”
Aku tertawa.
Dan dia menoleh cepat waktu aku tertawa — selalu begitu, dari hari pertama, seperti orang yang mengejar sesuatu yang jarang lewat — lalu berbalik lagi ke kompor.
Hening beberapa detik.
Bunyi telur. Hujan sudah berhenti tapi masih ada tetes dari talang. Di kamar sebelah, Sekar bergumam dalam tidurnya seperti biasa.
Lalu, tanpa berbalik, tanpa berhenti menggoreng, dengan nada persis seperti orang membacakan daftar belanja:
“Aku sayang kamu.”
Spatula tetap bergerak. Telur tetap digulung.
Aku duduk di kursi plastik itu dan seluruh sistem tubuhku berhenti beroperasi.
“Vero.”
“Jangan dibales dulu.”
“Kenapa?”
“Aku belum siap denger.” Bahunya naik. “Aku ngomongnya sambil mbelakangin kamu itu ada alasannya, Dafa.”
“Kamu—”
“Aku mau taruh telurnya dulu.”
Dan dia menaruh telur itu ke piring, mematikan kompor, meletakkan spatula, dan berdiri membelakangi aku selama tiga detik penuh dengan kedua tangan bertumpu di meja dapur.
Aku bisa melihat lehernya dari sini.
Merah. Duluan, seperti biasa, sebelum wajahnya sempat menyusul.
Aku berdiri.
Aku berjalan empat langkah dan berhenti di belakangnya dan meletakkan tanganku di kedua sisi meja dapur, di kiri dan kanan tubuhnya, dan dia tidak berbalik.
“Sekarang boleh?”
“Sebentar.”
“Vero.”
“Sebentar.”
Aku menunggu.
Dia menarik napas. Menghembuskannya. Lalu berbalik pelan-pelan sampai punggungnya menempel ke meja dan wajahnya harus menengadah untuk menatapku, dan matanya sudah basah di pinggir dan dia sedang berusaha keras terlihat baik-baik saja dan gagal total.
“Oke,” katanya. “Boleh.”
Aku menunduk sampai dahiku menyentuh dahinya.
“Aku sayang kamu.”
Dia menutup matanya.
“Aku sayang kamu,” kataku lagi, karena satu kali tidak cukup untuk seseorang yang menunggu seratus dua puluh delapan hari untuk bisa mengucapkan satu kalimat. “Dari lama juga.”
“Dari kapan?”
“Jangan dihitung.”
“Kamu yang nyuruh aku jangan ngitung, terus kamu ngitung terus.”
“Iya.”
“Dari kapan, Dafa.”
Aku mengangkat tanganku ke wajahnya. Ibu jariku di pipinya, di bawah mata yang basah itu.
“Dari hari kamu mindahin rotinya,” kataku.
Dan dia mengeluarkan bunyi kecil yang setengah tawa dan setengah bukan, dan menarik kerah kausku, dan aku menciumnya di dapur rumah petak nomor tiga dengan telur dadar yang sudah dingin di piring dan hujan yang sudah berhenti dan seluruh dunia yang tiba-tiba ukurannya sangat kecil dan sangat cukup.
Tanganku turun ke pinggangnya dan mengangkatnya ke atas meja dapur — bukan meja lipat, meja yang benar, yang kakinya empat dan tidak diganjal apa pun — dan dia tertawa di tengah ciuman itu dan aku bisa merasakannya, dan aku tidak berhenti.
Rambutnya lepas dari jepit kuning entah kapan.
Aku tidak akan mengembalikannya.
“Kak.”
Kami membeku.
Sekar berdiri di ambang pintu dapur dengan rambut satu sisi menempel di pipi dan seragam yang kancing atasnya salah lubang.
Vero turun dari meja dengan kecepatan yang tidak seharusnya dimiliki manusia.
“Sekar—”
“Telurnya udah dingin.”
“Sekar, ini—”
“Aku mau yang anget.” Anak itu berjalan ke kursinya, naik, dan duduk. “Kak Vero, bikinin lagi.”
“...oke.”
“Terus Kakak jangan berdiri di situ.”
“Kenapa?”
“Kakak ngalangin kulkas.”
Dan dia mengambil sedotan dari meja, membuka bungkusnya, dan tidak menyinggung apa pun lagi sepanjang pagi itu — tapi jam tujuh, waktu aku mengantarnya ke ujung gang, dia berkata tanpa menoleh:
“Kak.”
“Hm.”
“Aku nggak lihat apa-apa.”
“Sekar—”
“Tapi harganya dua es krim.”
- 1 Hari ke Seratus Delapan Belas
- 2 Empat Kata
- 3 Teori Nomor Tujuh
- 4 Tiga Detik
- 5 Stok Roti Sobek
- 6 Sebelas Sentimeter
- 7 Arah yang Salah
- 8 Saksi Berumur Delapan Tahun
- 9 Kasihan
- 10 Tanpa Ketukan
- 11 Orang Ini Siapa
- 12 Kursi Plastik Nomor Dua
- 13 Gudang Belakang
- 14 Interogasi Jam Satu Pagi
- 15 Ujian Masuk
- 16 Negosiasi Gagal
- 17 Rekaman Kamera Tiga
- 18 Kaus yang Kebesaran reading
- 19 Namanya Wulan
- 20 Kue yang Miring
- 21 Kolom Nama Wali
- 22 Delapan Belas Foto
- 23 Kabar Bagus
- 24 Yang Aku Hitung
- 25 Sendirian di Tangga Besi
- 26 Yang Tidak Aku Tahu
- 27 Komite
- 28 Izin
- 29 Ditolak di Baris Ketiga
- 30 Telepon Pertama
- 31 Nama-Nama
- 32 Jam Empat Lima Puluh