← Shift Ketiga

Chapter Six

Sebelas Sentimeter

POV: Ardafa


Aku tidak tidur.

Bukan tidak bisa. Tidak. Aku pulang, menaruh sarapan, mengantar Sekar sampai gang, kembali, merebahkan badan, dan menutup mata seperti orang yang berniat serius.

Dan otakku, yang selama empat bulan terakhir kerjanya cuma mati suri di antara dua shift, tiba-tiba bangun dengan energi seorang anak SD yang kelebihan gula.

Yang dia putar berulang-ulang cuma satu hal.

Tangan.


Begini masalahnya.

Aku sudah lihat tangan itu ratusan kali. Dari jarak satu meter, setiap pagi, mengetik di mesin kasir. Aku tahu bentuknya. Aku tahu kuku jari manisnya lebih pendek dari yang lain karena kebiasaan menggigit yang mungkin sudah lama berhenti tapi meninggalkan bekas. Aku tahu ada memar kecil di punggung tangan kirinya minggu lalu, kemungkinan besar dari krat minuman, dan aku sempat berpikir untuk bertanya, lalu tidak bertanya, seperti biasa.

Melihat itu satu hal.

Menyentuh itu hal yang benar-benar lain.

Tangan itu kecil. Aku tahu itu dari jauh, tapi dari jauh “kecil” cuma informasi. Dari dekat, “kecil” jadi sesuatu yang menempel di telapak tanganku dan tidak mau pergi. Jarinya menyentuh bagian bawah telapakku dan yang aku pikirkan — jam empat lima puluh, di dalam minimarket, dengan koin lima ratus jatuh di antara kami — adalah bahwa seluruh telapak tangannya kemungkinan besar muat di dalam telapak tanganku dengan sisa ruang di pinggirnya.

Dan hangat. Itu yang paling tidak masuk akal. Toko itu dingin. Aku baru berjalan di udara subuh. Tapi tangannya hangat seperti orang yang baru bangun dari selimut, dan selama satu detik penuh aku lupa bahwa aku sedang berdiri di depan mesin kasir dan bukan di suatu tempat yang jauh lebih pribadi.

Aku memutar badan di kasur dan menempelkan lengan ke mata.

Dua puluh lima tahun. Angkat karung lima puluh kilo. Bisa memperbaiki forklift dalam gelap.

Kalah sama sebelas sentimeter tangan orang.

Dan yang lebih parah: aku menghitungnya. Sebelas sentimeter. Aku benar-benar berbaring di kasur jam tujuh pagi dan memperkirakan panjang tangan seseorang berdasarkan satu detik kontak, seperti orang yang mengukur ruangan dengan langkah kaki. Kalau ada yang bisa membaca isi kepalaku hari ini, aku akan dijauhi seluruh RT.


Yang kedua yang tidak mau pergi: dia memindahkan rotinya.

Aku tahu itu bukan instruksi supervisor. Atau — mungkin iya, mungkin memang ada instruksi, aku tidak tahu dan tidak akan pernah bisa membuktikan. Tapi ada cara orang bilang “instruksi supervisor” waktu itu memang instruksi supervisor, dan ada cara orang bilang “instruksi supervisor” sambil tidak berani mengangkat kepala dari mesin kasir.

Dia mengujiku.

Dan aku lulus dengan sangat memalukan, karena aku berdiri di depan rak roti selama dua puluh detik seperti orang yang kehilangan anak di pasar.

Tapi yang membuatku menatap langit-langit sampai jam sebelas siang bukan itu.

Yang membuatku menatap langit-langit adalah kenyataan bahwa dia perlu tahu.

Orang tidak memindahkan rak untuk pelanggan yang tidak dia pikirkan.


Semoga adiknya suka.

Aku bangun jam sebelas dengan kalimat itu masih ada di kepalaku, persis seperti waktu aku menutup mata.

Bagaimana dia tahu.

Aku menghitung mundur. Aku tidak pernah menyebut Sekar. Tidak pernah menyebut apa pun. Aku tidak membawa apa pun yang menunjukkan ada anak kecil di rumahku — tidak ada gantungan kunci, tidak ada tas, tidak ada apa-apa.

Yang dia punya cuma dua bungkus roti dan satu susu stroberi.

Dan dari itu dia menyusun seorang anak.

Aku duduk di tepi kasur dengan kaus yang salah pakai dan menyadari sesuatu yang seharusnya biasa saja tapi entah kenapa membuat dadaku sesak: selama empat bulan aku pikir aku sedang mengamati dia.

Ternyata dia juga sedang mengamati aku.


Jam tiga sore aku menjemput Sekar.

Dia keluar dari gerbang sambil menyeret tas yang beratnya sudah aku protes ke wali kelasnya dua kali tanpa hasil, dan langsung mulai bicara sebelum sampai ke motor.

“Kak, tadi Bilqis nangis gara-gara pensilnya patah, terus Bu Guru bilang jangan nangis buat hal kecil, terus Bilqis bilang buat dia itu nggak kecil, terus Bu Guru diem.” Dia naik ke jok belakang. “Menurut Kakak siapa yang bener?”

“Bilqis.”

“Aku juga bilang gitu!”

“Pegangan.”

Kami jalan pelan karena Sekar tidak suka kalau cepat, dan karena kalau pelan dia bisa terus bicara, dan karena aku suka bagian hari ini lebih dari yang mau aku akui.

Di lampu merah, dia menepuk punggungku.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak hari ini beda.”

“Beda apa.”

“Nggak tahu.” Dia berpikir. “Kakak nyetirnya nggak ngantuk.”

Lampu hijau.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak senyum, ya, tadi pagi?”

Aku hampir menabrak motor di depan.

“Nggak.”

“Bohong. Dua kata lagi.”

“Itu satu kata.”

“Berarti lebih parah!”

Anak ini akan menghancurkan hidupku suatu hari nanti dan dia akan melakukannya sambil makan roti.


Malamnya, di gudang, aku mengangkat krat sampai jam sebelas tanpa merasakan apa-apa di bahu.

Raka — orang yang biasanya menghitung berapa kali aku menghela napas per jam sebagai hiburan pribadi — memperhatikanku dari balik tumpukan.

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu naikin krat dua-dua.”

“Biar cepet.”

“Kamu nggak pernah pengen cepet.” Dia meletakkan clipboard-nya. “Kamu ini orang yang paling nggak buru-buru yang pernah aku kenal. Kamu jalan aja kayak orang yang udah nyerah sama waktu.”

“Makasih.”

“Itu bukan pujian.” Dia menyipit. “Kamu abis ketemu siapa?”

“Nggak siapa-siapa.”

“Dua kata.”

Aku berhenti. “Apa?”

“Nggak, cuma—” Raka mengangkat bahu. “Kamu kalau bohong jawabannya jadi pendek.”

Adikku delapan tahun. Rekan kerjaku dua puluh enam. Keduanya sampai pada kesimpulan yang sama tanpa pernah bertemu. Aku mulai curiga masalahnya ada padaku.

Aku mengangkat krat berikutnya dan tidak menjawab, karena itu keahlianku, dan karena kalau aku menjawab aku harus mulai dari koin lima ratus yang berputar di atas laminasi dan itu akan memakan waktu semalaman.

Tapi jam dua pagi, waktu gudang sepi dan cuma ada bunyi kipas, aku duduk di tangga besi dan mengeluarkan ponsel.

Aku membuka aplikasi catatan. Menulis satu kalimat. Menghapusnya. Menulis lagi.

Kamu udah sarapan belum?

Aku menatap layar itu lama sekali.

Lalu aku menyimpannya, memasukkan ponsel ke saku, dan kembali kerja.

Dua jam lagi.

Dua jam lagi dan pintu itu akan terbuka dan poni itu akan ditiup dan aku akan berdiri di sana seperti orang bodoh dengan uang pas di tangan.

Tapi hari ini — hari ini aku bawa kalimatnya tertulis.

Kalau mulutku gagal lagi, minimal aku punya bukti bahwa aku pernah niat.